Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

STOP BULLYING!!!

Thursday, December 13, 2018 Posted by Unknown No comments
Mengenal Bullying
Bullying’ adalah salah satu bentuk perilaku kekerasan yang dengan disengaja dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa kuat/berkuasa dengan tujuan menyakiti atau merugikan seseorang atau sekelompok yang merasa tidak berdaya.‘Bullying’ bisa dilakukan dalam bentuk fisik maupun psikologis. Saat ini, banyak anak dan remaja yang menjadi korban bullying baik secara langsung di sekolah, tempat les, lingkungan maupun melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dll. Penelitian menunjukkan bahwa anak dan remaja yang menjadi korban bullying sangat rentan terhadap masalah yang serius pada kesehatan jiwa, fisik dan akademiknya.
Cook dkk pada tahun 2010 melaporkan bahwa korban ‘bullying’ lebih sering mengalami gejala depresi, menyakiti diri sendiri, pikiran untuk bunuh diri, dan pencapaian akademik yang rendah. Sedang mereka yang melakukan ‘bullying’ juga tidak lepas dari sikap dan perilaku yang kurang baik seperti : perilaku menentang, sering bolos sekolah, merokok dan memakai narkoba serta perilaku kekerasan lainnya. Mereka yang menjadi korban dan pelaku bullying juga sering mengalami sakit kepala, sakit punggung, sakit perut, masalah tidur, nafsu makan menurun dan sering mengompol (Gini & Pozzoli, 2009).
“Bullying” juga merupakan prediktor munculnya gangguan jiwa yang berat lainnya seperti ansietas, depresi dan psikotik. Masa depan generasi penerus menjadi terganggu dengan adanya bullying ini sehingga perlu ada usaha yang taktis dan sistematis untuk melakukan pencegahan dan penanganannya.
Orangtua, komunitas, sekolah, dan profesional di bidang kesehatan jiwa berperan penting dalam melakukan pencegahan dan penanganan masalah ‘bullying’ ini. Komunikasi yang baik dan pola asuh yang tepat yang dilakukan orangtua akan membuat anak dengan leluasa dan nyaman untuk bercerita mengenai hal yang dialaminya sehingga anak tetap bisa tenang menghadapi masalah tersebut.
Banyak anak yang tidak melaporkan bahwa mereka adalah korban perilaku ‘bullying’. Sekolah perlu menerapkan aturan yang tegas untuk mencegah masalah ‘bullying’ ini dengan menerapkan manajemen yang baik terhadap anak yang bertendensi melakukan perilaku agresif. Keluarga dan sekolah perlu melakukan pelatihan dan pendidikan keterampilan hidup (life skills) supaya anak dan remaja memiliki kemampuan dalam mengatasi masalah kehidupa mereka terutama dari teman sebayanya.
Setiap anak yang menjadi korban dan pelaku ‘bullying’ perlu ditangani secara profesional supaya perilaku dan dampak yang ditimbulkan tidak menimbulkan masalah psikologis lanjut di kemudian hari.

Bullying Menyakiti Perasaan Orang Lain
Saat seseorang melakukan bullying, baik secara fisik, verbal, sosial, ataupun cyber maka dia telah menyakiti perasaan orang lain.
Berbagai perasaan yang tidak nyaman yang bisa terjadi pada mereka yang di bully, di antaranya :
- sedih
- takut
- marah
- khawatir
- bingung
- malu
- sendirian
- lelah
- kacau
- gugup
- tidak berani keluar rumah
- tidak aman
- dll

Semua perasaan negatif ini dapat mengganggu aktivitas/kegiatan sehari hari. Mari mengenali teman teman atau orang orang di sekitar kita yg mengalami perasaan tersebut akibat di bully. Mari menjadi temannya dan menolongnya karena perasaan tersebut sungguh tidak enak dan mereka butuh teman yang menenangkan.

Jenis-Jenis Bullying
1. Fisik
Contohnya: memukul, mendorong, menendang, menjambak, mencubit dll
2. Verbal
Contohnya: mengancam, memanggil dengan kata yg tidak baik/kasar, berkomentar yg merendahkan, meledek, menjelek jelekkan, dll
3. Sosial
Contohnya : Menjauhi, memberitahu teman untuk tidak berteman dengannya, tidak diajak bergabung dalam kelompok, menceritakan hal yg buruk, rumor, gosip, dll
4. Cyber
Contohnya: mengata ngatai di media sosial, kata kata kasar, menyindir, dll

Semua jenis bullying tersebut bertujuan untuk menyakiti seseorang.
Berhentilah melakukan bullying karena tidak ada seorang pun yg mau tersakiti.
Mari lawan bullying!

Mengapa Seseorang Melakukan Bullying
Hampir semua pernah mengalami bullying dalam kehidupannya sebelum usia 20 tahun. Akibat yang ditimbulkan sering kali cukup sulit untuk ditangani, baik fisik maupun mental. Perbedaan yang dimiliki oleh seseorang seringkali dijadikan alasan untuk melakukan bullying, gara gara aneh, memiliki kekurangan, kelemahan, dll. Hal ini dipakai oleh pelaku Bullying untuk mengambil kontrol atas diri kita, menciptakan ketidakamanan (insecurity) dengan tujuan menyakiti kita secara fisik dan emosi. Sebagai korban bullying kita mulai menginternalisasikan hal tersebut dan mulai menyalahkan diri sendiri dengan keunikan yg kita miliki.
Tapi tahukah kita bahwa sebenarnya Perilaku Bullying itu lebih disebabkan karena ada Masalah Psikologis pada pelaku Bullying itu sendiri.

Beberapa penelitian menunjukkan, mereka yg melakukan bullying mengalami hal hal berikut ini :
1. Stres dan Trauma
Pelaku bullying mengalami stres dan trauma dalam kehidupan mereka, seperti: kehilangan orang yg mereka kasihi, perceraian orang tua, pengalaman hidup yg tidak baik, kekecewaan, dll. Beberapa orang bisa memberikan respon yang positif atas stres dan trauma yg dialaminya, tetapi mereka yg lain melakukan tindakan agresif seperti bullying sebagai respon mereka menghadapi itu.
2. Perilaku Kekerasan di Sekitar
Perilaku kekerasan baik secara verbal atau fisik mudah ditiru oleh seorang anak yang kemudian menjadi karakter dan kepribadiannya di kemudian hari. Seringnya menyaksikan kekerasan di rumah, lingkungan, film, sinetron, games, dll dapat memicu munculnya perilaku kekerasan seperti bullying ini.
3. Harga Diri Rendah (low self esteem)
Untuk menutupi kekurangan yg dimilikinya maka pelaku bullying melakukan tindakan agresif yg seolah olah menunjukkan bahwa mereka lebih hebat, lebih kuat dan lebih popular. Padahal mereka sebenarnya sedang menutupi atau menghindari perhatian orang lain terhadap kelemahan yg mereka miliki. Harga diri yg rendah memicu munculnya perilaku bullying.
4. Pernah Menjadi Korban Bullying
Menjadi korban bullying pada waktu sebelumnya memicu mereka menjadi pelaku bullying saat ini karena dendam yang dirasakan dan melampiaskannya pada orang lain. Ada juga pikiran bahwa dengan melakukan bullying maka mereka akan terhindar menjadi korban bullying yg sebenarnya dirasakan sangat menyakitkan.
5. Kehidupan di Rumah yang Sulit
Para pelaku bullying mengalami kehidupan di rumah yg sulit seperti kesibukan orang tua, kurang kasih sayang, kurang memiliki waktu bersama, perasaan tertolak dan diabaikan. Percekcokan dalam rumah sering terjadi pada pelaku bullying.

Dengan mengetahui hal ini maka kita menyadari bahwa pelaku bullying tersebut sebenarnya
- ingin menunjukkan mereka tangguh, hebat
- mencoba membuat orang lain menyukai mereka
- berusaha menutupi ketakutan, kekhawatiran mereka
- meniru pelaku bullying yg lain
- mereka tidak bahagia
- mereka tidak nyaman dengan hidup mereka

Marilah kita sama sama juga mendampingi para pelaku bullying ini agar tindakan tersebut tidak terulang lagi dan tidak ada korban bullying berikutnya. Bila diperlukan bawalah pelaku bullying ke profesional kesehatan jiwa seperti Psikiater, perawat jiwa dan psikolog untuk mendapatkan penanganan. Karena bila tidak ditangani dengan baik maka pelaku bullying dapat berkembang menjadi masalah/gangguan kejiwaan dan juga gangguan kepribadian.

Dr.Lahargo Kembaren, SpKJ
Psikiater
RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor
RS. Siloam Bogor

Psikosis Paska Melahirkan

Thursday, December 13, 2018 Posted by Unknown No comments
Pendahuluan
Psikosis paska persalinan adalah merupakan suatu gangguan kejiwaan yang ditandai ketika seorang ibu yang baru melahirkan mengalami kesulitan membedakan mana hal yang nyata dan mana yang tidak nyata. Gangguan ini sangat jarang, terjadi 1-2 kasus per 1000 persalinan. Ini adalah suatu gangguan  serius dan gawat darurat yang memerlukan penanganan segera. Mereka yang mengalami psikosis paska melahirkan biasanya memiliki riwayat gangguan jiwa sebelumnya seperti psikosis, skizofrenia atau bipolar, bisa juga memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan kejiwaan (faktor genetik).

Tanda dan Gejala
Psikosis paska melahirkan memiliki beberapa gejala yang dapat dikenali, diantaranya :
·         Halusinasi, gangguan persepsi panca indra :
o   Merasa mendengar suara-suara, bisikan yang berkomentar, mengajak ngobrol, menyuruh melakukan sesuatu. Pada keadaan yang berat, suara bisikan nya menyuruh untuk melakukan hal yang fatal seperti melukai diri sendiri, bayinya atau orang lain.
o   Melihat bayangan-bayangan, makhluk halus
o   Merasa di badan seperti ada sesuatu yang menempel, menjalar, seperti ada yang menindih, seperti ada binatang
o   Mencium bau bauan yang harus, busuk, bau sampah, kotoran
o   Merasakan di lidahnya seperti ada rasa rasa yang aneh
Semuanya tidak ada pemicu/pencetusnya
·         Delusi / waham, gangguan pada isi pikir, persepsi, keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
o   Waham kejar : merasa seperti ada yang mengejar ngejar, merasa ada yang ingin membunuh dan berbuat jahat sehingga merasa ketakutan, curiga berlebihan
o   Waham rujukan : merasa orang-orang seperti membicarakan dirinya atau memperhatikan dirinya
o   Waham kebesaran : merasa memiliki kehebatan, kekuatan yang tidak dimiliki orang lain, merasa dirinya nabi, Tuhan dan orang yang hebat
o   Waham nihilistik : merasa diri tidak berarti, tidak berguna, tidak layak hidup
·         Mudah tersinggung, sensitif dan gampang marah
·         Bicara tidak nyambung, pembicaraan kacau
·         Gelisah atau banyak diam
·         Menarik diri dari relasi dengan orang lain
·         Sulit tidur

Penyebab
Gangguan Psikosis Paska melahirkan disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia (neurotransmiter) dopamin di saraf otaknya. Hal ini dapat dicetuskan oleh :
·         Faktor genetik, ada riwayat gangguan jiwa sebelumnya atau anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
·         Riwayat sakit yang berat seperti kejang, demam tinggi, gangguan metabolisme, elektrolit dalam tubuh sebelumnya
·         Penggunaan narkoba
·         Trauma kepala, jatuh, terbentuk, kecelakaan sebelumnya
·         Stres kehidupan yang berat seperti keinginan  yang tidak tercapai, kekecewaan, kehilangan seseorang yang dikasihi, kesedihan yang mendalam.

Terapi / Penanganan
Gangguan ini harus cepat ditangani sebelum bertambah berat, segera berkonsultasi ke psikiater untu mendapatkan pertolongan. Terapi yang akan diberikan :
·         Medikasi / obat-obatan :
o   Obat anti psikotik : obat ini akan bekerja pada sel saraf otak sehingga gejala gejala akan berkurang dan hilang. Obat yang diberikan bisa dalam bentuk suntikan, obat tablet, obat tetes atau obat yang mudah larut di lidah.
o   Obat anti cemas : Obat ini bertujuan mengurangi dan menghilangkan kecemasan dan kegelisahan sehingga si ibu bisa istirahat. Pemberiannya dengan obat tablet atau suntikan
o   Mood stabilizer : ini adalah obat yang bertujuan menstabilkan mood yang naik turun sehingga si ibu bisa lebih tenang.
·         Konseling / terapi bicara : Yang diberikan adalah psikoterapi yang bersifat suportif yang bertujuan menguatkan kembali mental si ibu dan memberikan ibu kesempatan untuk menceritakan yang menjadi beban pikiran dan perasaannya.

Apa yang Dapat Dilakukan Keluarga
Ketika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan Psikosis Paska Melahirkan ini, maka harus segera di bawa ke IGD atau psikiater untuk segera mendapatkan pertolongan medis. Ini adalah penyakit medis dan bukan hal yang gaib atau supranatural. Penanganan yang cepat dan tepat akan membantu proses pemulihan. Hal yang bisa dilakukan keluarga yang lain adalah :
·         Memberikan dukungan psikologis dengan banyak mendengarkan, tidak berkonfrontasi, tidak berargumentasi
·         Menjauhkan benda-benda yang berbahaya seperti benda benda yang tajam
·         Menjaga bayi yang baru dilahirkan untuk melindungi dari perilaku agresif ibu yang tidak bisa diperkirakan
·         Memberikan obat-obatan yang diberikan psikiater secara teratur, tepat waktu dan berkelanjutan
·         Memberikan makanan dan minuman yang sehat dan bergizi
·         Mengajak melakukan aktivitas fisik yang ringan akan membantu membuat badan lebih segar dan fit, seperti jalan pagi, senam ringan, dll.

Gangguan psikosis paska melahirkan ini adalah gangguan yang berat sehingga pengenalan gejala yang cepat dan penanganan yang tepat diperlukan untuk pemulihan. Hindari membawanya ke tempat tempat alternatif yang akan memperlambat proses pemulihan.

Depresi Paska Melahirkan

Thursday, December 13, 2018 Posted by Unknown No comments
Pendahuluan
Pada hari-hari dan minggu minggu pertama setelah melahirkan, seorang ibu baru akan merasakan berbagai emosi atau perubahan perasaan. Rasa gembira, bahagia, terkejut  karena memiliki seorang anak yang baru dilahirkan akan bercampur juga dengan perasaan sedih yang tidak nyaman.  Perasaan sedih dan menangis yang dialami oleh seorang ibu baru pada 2 minggu pertama setelah persalinan disebut sebagai ‘baby blues’, ini disebabkan oleh terjadinya perubahan hormon yang mendadak setelah persalinan. Keadaan ‘baby blues’ secara berangsur angsur akan membaik dan seorang ibu akan siap untuk beraktivitas kembali dengan kondisi fisik dan psikis yang sudah membaik. Pada satu dari tujuh orang ibu yang baru melahirkan, perasaan sedih tersebut berlangsung lebih dari 2 minggu dan mulai mengganggu fungsi serta aktivitas sehari-hari. Kondisi ini disebut Depresi Paska Melahirkan (PPD = postpartum depression ).

Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala depresi paska melahirkan sama seperti pada depresi mayor, yaitu :
·        Perasaan sedih, kosong, tidak berdaya yang dirasakan sepanjang hari selama beberapa hari / minggu
·         Menangis tanpa ada sebab yang jelas lebih sering dari biasa
·         Rasa khawatir atau tegang
·         Perasaan tidak menentu, sensitif, mudah tersinggung
·         Terlalu banyak tidur atau sebaliknya tidak bisa tidur meskipun bayinya sedang tertidur
·         Sulit berkonsentrasi, mengingat dan membuat keputusan
·         Marah atau berkata/berbuat kasar
·         Kehilangan minat terhadap sesuatu yang sebelumnya disukai atau menjadi hobi
·      Terdapat berbagai keluhan fisik seperti : gatal, nyeri di badan, sakit kepala berulang, sakit perut dan nyeri otot
·         Makan lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya
·         Menarik diri dari teman dan keluarga
·         Mengalami kesulitan untuk melakukan kelekatan (bonding) dengan bayinya
·         Secara terus menerus meragukan kemampuannya dalam mengurus bayi
·      Terdapat pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya (ini keadaan serius, harus cepat dibawa ke profesional kesehatan jiwa seperti psikiater)

Faktor Penyebab
Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab keadaan ini antara lain adalah :
·     Perubahan hormon yang terjadi setelah persalinan (hormon estrogen dan progesteron yang menurun secara cepat sehingga memicu perubahan mood)
·         Perasaan lelah dan sulit tidur/tidak bisa tidur setelah melahirkan
·         Stres emosional yang dipicu oleh : masalah ekonomi, pekerjaan, anak yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, peristiwa penting kehidupan lainnya
·         Kurangnya dukungan dari keluarga dan orang-orang yang dekat, merasa sendirian
·      Bayi yang dilahirkan adalah bayi berkebutuhan khusus atau menderita penyakit yang sulit ditangani
·         Memiliki anggota keluarga yang memiliki masalah/gangguan kejiwaan (genetik)

Terapi / Penanganan
Apabila terdapat tanda dan gejala depresi paska melahirkan segeralah mencari pertolongan dari profesional kesehatan jiwa seperti : psikiater, psikolog, dokter umum terlatih, perawat jiwa, atau pekerja sosial. Terapi yang akan diberikan adalah
·         Konseling / terapi bicara : membantu mengenali pikiran dan perilaku negatif / distorsi kognitif yang terjadi dan bagaimana merubahnya, membantu mengenali masalah interpersonal dengan orang lain dan bagaimana mengatasinya
·         Medikasi / obat obatan : Obat anti depresan adalah obat yang efektif diberikan pada depresi karena bekerja secara langsung pada zat kimia (neurotransmiter) di dalam saraf otak sehingga gejala depresi dapat berkurang dan hilang. Obat anti depresan bekerja setelah 2 minggu, sebaiknya diminum secara rutin dan berkelanjutan. Setelah gejala depresi membaik maka obat anti depresan akan dikurangi secara bertahap.  Contoh obat anti depresan yang dapat diberikan adalah Sertraline.

Hal Apa yang Dapat Dilakukan Keluarga
Saat mendapatkan ada anggota keluarga yang mengalami depresi paska melahirkan, maka hal-hal dibawah ini perlu dilakukan oleh keluarga :
·         Segera membawa ke psikiater, atau profesional kesehatan jiwa lainnya untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat
·         Melakukan pendampingan lebih intensif, berbicara dari hati ke hati, lebih banyak mendengarkan
·         Memberikan bantuan dalam mengurus bayi yang baru lahir
·         Tidak memberikan tanggapan, komentar negatif tentang keadaan ibu yang baru melahirkan karena gangguan ini bukanlah tanda sebuah kelemahan tetapi suatu penyakit yang perlu diobati
·         Memberikan makanan dan minuman yang sehat dan cukup
·         Mengajak melakukan aktivitas fisik yang ringan akan membantu membuat badan lebih segar dan fit, seperti jalan pagi, senam ringan, dll.

Depresi paska persalinan bisa terjadi pada siapa saja, bahkan seorang ayah pun bisa mengalaminya. Mari kenali gejalanya dan segera berkonsultasi untuk mendapatkan pertolongan. Tidak usah merasa malu dan ragu karena lebih cepat ditangani maka gangguan ini lebih cepat dipulihkan.

dr.Lahargo Kembaren, SpKJ
Psikiater  
RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor
RS. SIloam Bogor