Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Bunuh Diri Bisa Dicegah

Monday, August 03, 2015 Posted by Lahargo Kembaren No comments
Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Bogor ditemukan bunuh diri di kamarnya. Meskipun saat ini masih diselidiki penyebabnya tetapi diketahui bahwa mahasiswa ini mendapatkan suatu keadaan yang menjadi sumber stresor akhir-akhir ini. Seorang yang melakukan bunuh diri/mencoba bunuh diri sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin mengakhiri hidupnya, mereka sebenarnya ingin penderitaan/konflik yang dialaminya cepat berakhir. Hanya sayangnya bunuh diri yang menjadi pilihan karena seolah tidak ada bantuan lain yang bisa diharapkan. WHO sebagai lembaga kesehatan dunia memperkirakan ada 1 juta orang yang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Setiap kasus bunuh diri sebenarnya memberikan tanda-tanda peringatan yang dapat dikenali sehingga bisa dilakukan pencegahan. 

Tanda-tanda peringatan itu dapat berupa:
1. Berbicara tentang kematian/bunuh diri : “saya berharap tidak dilahirkan”, “mati sepertinya lebih    
    enak”, dll.
2. Mencari benda-benda yang dapat digunakan untuk melakukan bunuh diri seperti senjata api,  
    senjata tajam, tali, dll.
3. Selalu memikirkan hal-hal tentang kekerasan dan kematian, seperti menonton film tentang 
    kematian, menulis puisi sedih tentang kematian, dll
4.  Merasa tidak ada harapan tentang masa depan (madesu=masa depan suram)
5.  Merasa tidak ada jalan keluar, tidak berguna, menjadi beban bagi orang lain
6.  Menarik diri dari lingkungan sosial, tidak masuk kuliah, tidak mau bergaul, beribadah, dll
7. Munculnya perilaku yang tidak baik seperti menggunakan alkohol, narkoba, mengemudi dengan 
    sembrono, seksualitas yang tidak sehat
8. Menurunnya nilai-nila akademik, performance dalam kehidupan sehari hari

Apabila ditemukan tanda-tanda peringatan bunuh diri seperti di atas maka segera lakukan tindakan pencegahan seperti :
1. Lakukan komunikasi dan pendampingan yang intensif untuk memastikan apa yang dikhawatirkan 
   tidak benar
2. Katakan bahwa dia tidak sendirian, ada banyak yang mau dan bersedia membantu
3. Memberikan respon krisis dengan segera sesuai dengan tingkatan level risiko bunuh diri
a.       Rendah        : ada pikiran bunuh diri, tidak ada rencana, tidak mau melakukannya
b.      Sedang         : beberapa kali muncul pikiran bunuh diri, sedikit rencana, tidak mau melakukannya
c.       Tinggi          : sering muncul pikiran bunuh diri, rencana yang jelas, tidak mau melakukannya
d.    Berat              : selalu muncul pikiran bunuh diri, rencana yang jelas dan terus menerus berniat 
                              melakukannya
4. Tawarkan bantuan dan bawa konsultasi ke profesional kesehatan jiwa yang akan memeriksa dan 
     memberikan penatalaksanaan yang sesuai.
5.   Berusaha untuk proaktif untuk menawarkan bantuan ketika muncul ide-ide bunuh diri lagi dengan 
     meninggalkan nomor telepon
6.   Pindahkan benda-benda yang berbahaya yang bisa menjadi alat untuk melakukan bunuh diri

Setiap orang memiliki problema/masalah kehidupannya masing-masing dan kemampuan menghadapinya pun berbeda-beda. Melakukan deteksi dini dan manajemen stres yang baik akan mengurangi risiko terjadinya bunuh diri di kemudian hari. Pengetahuan tentang manajemen stres dan masalah kejiwaan juga penting dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat seperti mahasiswa, pekerja, guru, orang tua, anak, dll. Lakukan pencegahan terhadap bunuh diri karena kehidupan jauh lebih indah ketika kita berguna dan memberi manfaat. Salam sehat jiwa

dr.Lahargo Kembaren ,SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS.Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor

0 comments:

Post a Comment