Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Jangan Maklum dengan Pikun

Tuesday, August 11, 2015 Posted by Unknown No comments
“Dok...orang tua saya sudah pikun tapi sekarang ini banyak perilaku nya yang mengkhawatirkan, seperti sering keluyuran, curiga pada suami, dan marah-marah.” Terdapat suatu pendapat di masyarakat yang cenderung memaklumi bahwa kepikunan adalah suatu hal yang lumrah. Setelah muncul gejala psikologis dan perilaku yang lebih berat, baru pasien dibawa berobat.  Hal ini menyebabkan terjadinya keterlambatan penanganan pasien dengan kepikunan atau di medis disebut dengan demensia.
Usia tua adalah bagian dari periode kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Menjadi tua berarti bertambahnya umur dan mulai berkurangnya fungsi tubuh dan fungsi sosial. Tetapi menjadi tua tidak berarti harus menjadi sakit dan pikun. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk menjadi orang lanjut usia yang sehat. Setiap kita pasti pernah menyaksikan seorang yang sudah lanjut usia menjadi pikun, lupa menaruh barang sehingga menjadi marah karena menganggap ada orang yang menyembunyikan barang yang dicarinya, atau juga sulit untuk mengingat nama orang-orang yang sebenarnya dikenalnya. Bahkan yang paling berat bisa saja orang tua tersebut sulit untuk mengenali benda-benda sekitarnya dan kesulitan mengurus dirinya sendiri.
Demensia / pikun bukan merupakan bagian wajar dari proses menua. Dengan mengetahui gejala dan melakukan penatalaksanaan yang tepat, demensia/pikun dapat dicegah, dihambat, dan disembuhkan sehingga kualitas hidup dapat dipertahankan.  Keberhasilan di bidang kesehatan meningkatkan usia harapan hidup.  Dengan demikian jumlah lansia ( >60tahun) juga akan semakin meningkat jumlahnya. Peningkatan jumlah lansia ini membawa dampak di bidang kesehatan sehingga pola penyakit akan bergeser ke arah penyakit yang berhubungan dengan proses degeneratif otak di antaranya demensia yang di Indonesia popular dengan sebutan pikun.  Keberadaan orang tua yang pikun akan menjadi masalah yang besar terutama dalam perawatan karena penderita ini membutuhkan perawatan paripurna sepanjang hari, hal ini disebabkan pada penderita terjadi gangguan kognitif dan perilaku yang akan memberikan gangguan pada aktivitas harian dan fungsi sosialnya. Selain akan menguras tenaga  dan biaya untuk perawatannya juga menimbulkan stress pada seluruh anggota keluarga.  Demensia dibagi menjadi demensia alzheimer yang ditandai dengan penurunan fungsi otak yang perlahan dan bertahap, ada juga demensia vaskular yang ditandai dengan penurunan yang cepat dan mendadak dari fungsi otak, dan demensia lainnya.
Demensia bila dikenal secara dini dan mendapat penatalaksanaan yang tepat dapat dicegah, dihambat progresifitasnya bahkan disembuhkan pada beberapa keadaan sehingga penderita dapat mempertahankan kualitas hidupnya. Berikut ini adalah gejala-gejala demensia :
·         Mudah menjadi lupa terutama untuk hal yang baru
·         Gangguan komunikasi terutama verbal dalam komprehensi, kosa kata, dan keterlambatan mengingat kembali kata yang harus diucapkan
·         Kesulitan dalam melakukan aktivitas harian yang sederhana
·         Kesulitan mengenali tempat dan waktu
·         Penampilan yang memburuk terutama karena tidak memperhatikan kebersihan diri dan 
       berpakaian tidak serasi
·         Kesulitan dalam melakukan penghitu ngan sederhana
·         Salah meletakkan barang dan curiga seseorang telah mencurinya
·         Perubahan perasaan dan perilaku sehingga sering murung, marah-marah, keluyuran, gelisah 
       sampai agresif
·         Perubahan kepribadian
·         Hilang minat dan inisiatif

Orang tua yang memiliki gejala-gejala di atas perlu segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan gejala demensia yang dialaminya. Penanganan yang kemudian diberikan pada orang tua yang mengalami demensia antara lain adalah :
·         Obat-obatan : beberapa obat seperti Donapezil HCl, Rivastigmin dapat menghambat dan 
       memperbaiki demensia yang terjadi
·         Mengatur pola hidup yang sehat : makan makanan bergizi yang sehat, perbanyak makan sayur 
       dan buah, olah raga yang teratur, tidur yang cukup, cara berpikir yang positif dan rasional
·         Melakukan beberapa tips berikut ini :

Tips merawat daya ingat :
o   olah raga atau relaksasi teratur (jalan santai, senam jantung/pernapasan, tenis, yoga, meditasi, 
    tai-chi, dll)
o   makan makanan kaya omega 3, antioksidan, serat, biji2an/karbohidrat kompleks
o   sosialisasi (arisan, organisasi RT, perkumpulan keagamaan, dll)
o   membaca (buku, koran)
o   asah otak (TTS, scrabble, catur, kartu)
o   belajar hal baru (bahasa, menjahit/merajut)

·         Tips membantu daya ingat :
o   buat jembatan keledai (kata kunci, asosiasi nama-wajah)
o   selalu letakkan barang (kunci, kacamata) pada satu tempat
o   beri tanda di kalender/agenda atau buat catatan yang ditempel di tempat yang sering dilewati 
    (pintu, kulkas) untuk mengingat apa yang akan dilakukan
o   sering mengulang dalam hati hal yang ingin diingat

Demensia/kepikunan bukan suatu hal yang lumrah dan perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang serius.  Jadi jangan maklum dengan pikun! Salam sehat jiwa.


Oleh :
Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS.Marzoeki Mahdi Bogor 

Bunuh Diri Bisa Dicegah

Monday, August 03, 2015 Posted by Unknown No comments
Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Bogor ditemukan bunuh diri di kamarnya. Meskipun saat ini masih diselidiki penyebabnya tetapi diketahui bahwa mahasiswa ini mendapatkan suatu keadaan yang menjadi sumber stresor akhir-akhir ini. Seorang yang melakukan bunuh diri/mencoba bunuh diri sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin mengakhiri hidupnya, mereka sebenarnya ingin penderitaan/konflik yang dialaminya cepat berakhir. Hanya sayangnya bunuh diri yang menjadi pilihan karena seolah tidak ada bantuan lain yang bisa diharapkan. WHO sebagai lembaga kesehatan dunia memperkirakan ada 1 juta orang yang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Setiap kasus bunuh diri sebenarnya memberikan tanda-tanda peringatan yang dapat dikenali sehingga bisa dilakukan pencegahan. 

Tanda-tanda peringatan itu dapat berupa:
1. Berbicara tentang kematian/bunuh diri : “saya berharap tidak dilahirkan”, “mati sepertinya lebih    
    enak”, dll.
2. Mencari benda-benda yang dapat digunakan untuk melakukan bunuh diri seperti senjata api,  
    senjata tajam, tali, dll.
3. Selalu memikirkan hal-hal tentang kekerasan dan kematian, seperti menonton film tentang 
    kematian, menulis puisi sedih tentang kematian, dll
4.  Merasa tidak ada harapan tentang masa depan (madesu=masa depan suram)
5.  Merasa tidak ada jalan keluar, tidak berguna, menjadi beban bagi orang lain
6.  Menarik diri dari lingkungan sosial, tidak masuk kuliah, tidak mau bergaul, beribadah, dll
7. Munculnya perilaku yang tidak baik seperti menggunakan alkohol, narkoba, mengemudi dengan 
    sembrono, seksualitas yang tidak sehat
8. Menurunnya nilai-nila akademik, performance dalam kehidupan sehari hari

Apabila ditemukan tanda-tanda peringatan bunuh diri seperti di atas maka segera lakukan tindakan pencegahan seperti :
1. Lakukan komunikasi dan pendampingan yang intensif untuk memastikan apa yang dikhawatirkan 
   tidak benar
2. Katakan bahwa dia tidak sendirian, ada banyak yang mau dan bersedia membantu
3. Memberikan respon krisis dengan segera sesuai dengan tingkatan level risiko bunuh diri
a.       Rendah        : ada pikiran bunuh diri, tidak ada rencana, tidak mau melakukannya
b.      Sedang         : beberapa kali muncul pikiran bunuh diri, sedikit rencana, tidak mau melakukannya
c.       Tinggi          : sering muncul pikiran bunuh diri, rencana yang jelas, tidak mau melakukannya
d.    Berat              : selalu muncul pikiran bunuh diri, rencana yang jelas dan terus menerus berniat 
                              melakukannya
4. Tawarkan bantuan dan bawa konsultasi ke profesional kesehatan jiwa yang akan memeriksa dan 
     memberikan penatalaksanaan yang sesuai.
5.   Berusaha untuk proaktif untuk menawarkan bantuan ketika muncul ide-ide bunuh diri lagi dengan 
     meninggalkan nomor telepon
6.   Pindahkan benda-benda yang berbahaya yang bisa menjadi alat untuk melakukan bunuh diri

Setiap orang memiliki problema/masalah kehidupannya masing-masing dan kemampuan menghadapinya pun berbeda-beda. Melakukan deteksi dini dan manajemen stres yang baik akan mengurangi risiko terjadinya bunuh diri di kemudian hari. Pengetahuan tentang manajemen stres dan masalah kejiwaan juga penting dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat seperti mahasiswa, pekerja, guru, orang tua, anak, dll. Lakukan pencegahan terhadap bunuh diri karena kehidupan jauh lebih indah ketika kita berguna dan memberi manfaat. Salam sehat jiwa

dr.Lahargo Kembaren ,SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS.Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor

Anak Menolak Sekolah ? Bisa Jadi Gangguan Cemas Perpisahan !

Saturday, August 01, 2015 Posted by Unknown No comments
Minggu ini adalah masa masa anak baru masuk sekolah setelah menghabiskan waktu liburan yang cukup panjang. Masa masa masuk sekolah bagi anak baru tidak selamanya berjalan lancar, seringkali ditemukan anak yang takut, cemas, khawatir apabila ditinggal oleh orang tua/pengasuhnya. Tidak jarang juga ada anak yang menolak pergi ke sekolah karena alasan yang tidak jelas. Bahkan ada juga yang mengalami keluhan fisik seperti muntah-muntah setiap dibawa ke sekolah. Hal seperti ini tentunya membingungkan orang tua dan dapat menyebabkan si anak menjadi terlambat mendapatkan pendidikannya.  Hal ini disebut gangguan cemas perpisahan.
Gangguan cemas perpisahan adalah berkembangnya kecemasan yang berlebihan dan tidak sesuai yang berhubungan dengan perpisahan dari rumah atau dari seorang individu yang melekat. Gambaran dasar dari gangguan ini adalah kekhawatiran yang berlebihan akan kehilangan atau berpisah secara permanen dengan seseorang yang sangat melekat.  Manifestasi dari kecemasan ini termasuk distres berlebihan yang berulang dan atau keluhan fisik seperti pusing, sakit perut, muntah, keringat dingin  seperti ketika terjadi perpisahan dengan rumah atau figur utama yang melekat dan juga sebagai antisipasi terhadap bakal terjadinya perpisahan. Gangguan cemas perpisahan ini juga bisa terlihat sebagai ketakutan untuk tidur sendirian.  Gangguan cemas perpisahan ini ditemukan 2 – 12 % pada populasi umum dan merupakan gangguan kecemasan yang paling banyak pada anak dan urutan ketiga gangguan pada anak secara umum. Gangguan ini dapat terjadi secara seimbang antara pada anak laki-laki dan perempuan.  Keluhan dirasakan selama 4 minggu atau lebih pada anak usia kurang dari 18 tahun. 

Penyebab dari munculnya gangguan cemas perpisahan ini adalah :
·    Genetik, orang tua yang memiliki gangguan cemas akan lebih rentan memiliki anak dengan gangguan ini
·       Modelling, orang tua yang menunjukkan perilaku cemas yang berlebihan akan ditiru secara sadar dan tidak sadar oleh si anak
·        Pengalaman peristiwa perpisahan yang terjadi sebelumnya
·      Sikap orang tua yang terlalu melindungi anak (over protecting) yang membuat si anak kesulitan mengembangkan keterampilan hidup dan kepercayaan dirinya
·        Sikap orang tua yang marah pada anaknya ketika si anak merasa takut terhadap hal tertentu

Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan cemas perpisahan ini antara lain adalah :
1.      Melatih anak melakukan relaksasi untuk mengurangi ketegangan dan kecemasannya
2. Melatih secara bertahap anak untuk menghadapi kecemasannya dan memberikannya ‘reinforcement’ (seperti pelukan, mainan, pujian, dll) setiap kali si anak berhasil menghadapi situasi yang dikhawatirkannya
3.     Melatih cara berpikir anak dalam melihat situasi/keadaan yang mengkhawatirkannya
4.    Membantu anak menemukan keterampilan yang baru yang dapat meningkatkan kepercayaan diri dan harga dirinya.
5. Apabila gangguan cemas perpisahan ini terasa terlalu berat dan mengganggu, silahkan berkonsultasi dengan psikiater untuk mendapatkan terapi lain yang dapat membantu.

Salam Sehat Jiwa.

dr.Lahargo Kembaren ,SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS.Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor