Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Adiksi dan Gangguan Jiwa

Monday, May 25, 2015 Posted by Unknown No comments
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama dengan pihak kepolisian mengamankan lima anak di bawah umur sebuah Perumahan di Cibubur, Bekasi, Jawa Barat. Mereka diduga ditelantarkan orangtuanya dan ditemukan juga adanya beberapa butir ekstasi di dalam rumah tersebut. Beberapa berita yang dilansir menyebutkan adanya perubahan sikap dan perilaku pada kedua orang tua anak tersebut. Adiksi (ketergantungan narkoba) dan gangguan jiwa memiliki hubungan yang erat. Adiksi sendiri sebenarnya termasuk juga ke dalam gangguan jiwa yang menurut PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa) termasuk ke dalam F1. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Zat Psikoaktif.  Adiksi narkoba secara langsung merubah otak yang menyebabkannya tidak bisa menentukan prioritas dalam kehidupan dan merubah sikap, perilaku, dan cara berpikir. Di sisi yang lain ditemukan juga bahwa orang memakai obat-obat terlarang seperti narkoba adalah untuk mengatasi kondisi psikisnya yang mengalami gangguan. Orang dengan gangguan psikotik, depresi dan cemas mencoba dengan berbagai cara untuk mengatasi gangguan alam perasaan dan pikirannya, dan sering sekali akhirnya jatuh dalam penggunaan narkoba yang dilarang. Ketidaktahuan bagaimana cara mengatasi masalah kejiwaan yang dialaminya inilah yang membuat banyak orang kemudian mencari cara alternatif sendiri-sendiri yang sebenarnya tidak tepat.
Beberapa adiksi yang bisa menimbulkan masalah/gangguan jiwa antara lain adalah :
  • Ganja/mariyuana/’cimenk’/’gelek’ : dapat menimbulkan gangguan psikosis yang ditandai dengan gangguan dalam penilaian realitas, ada halusinasi dan delusi.
  • Ekstasi/amfetamin : merupakan obat stimulan yang dapat menyebabkan munculnya kegelisahan, kebingungan, gangguan pada pola makan dan pola tidur, ansietas dan depresi
  • Heroin/kokain/putaw : dapat menyebabkan perubahan kepribadian, gangguan dalam membuat keputusan, risiko terkena penyakit HIV/AIDS, hepatitis, psikotik, depresi, cemas
  • Alkohol : mengganggu fungsi otak dan keterampilan motorik, meningkatkan risiko penyakit kanker, stroke dan liver, mengganggu hubungan relasi dengan orang lain dan kemampuan kerja
  • Obat batuk/DMP/dextromethorphan/kodein :  dapat menyebabkan efek euforia (senang yang berlebihan), efek disosiatif (merasa bukan dirinya), dan halusinasi
Mereka yang mengalami adiksi perlu mendapatkan bantuan dan rehabilitasi. Melakukan konsultasi yang teratur ke profesional kesehatan jiwa akan sangat membantu mengatasi adiksi yang dialami. Melakukan pencegahan terhadap munculnya adiksi pada berbagai lapisan masyarakat adalah hal terpenting yang dapat dilakukan, antara lain dengan penyuluhan yang berkesinambungan, memperbanyak kegiatan-kegiatan positif di tengah masyarakat dan kegiatan keagamaan. Orang dengan masalah kesehatan jiwa (ODMK) perlu segera mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, hindari terapi terapi alternatif yang tidak berbasis bukti karena hanya akan memperlama gangguan tersebut ditangani. Salam sehat jiwa!


dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS. Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Prostitusi dan Kesehatan Jiwa

Tuesday, May 19, 2015 Posted by Unknown No comments
Beberapa kasus prostitusi yang marak diberitakan sekarang ini membuka mata kita bahwa aktivitas seksual yang ilegal ini tetap menjadi ancaman bagi kehidupan bermasyarakat. Prostitusi online dengan menggunakan berbagai sarana teknologi informasi menjadi suatu tren baru yang memudahkan aktivitas ini berlangsung. Hal ini tentunya menjadi ancaman bagi kehidupan keluarga dan juga bagi masa depan kehidupan anak-anak yang menjadi masa depan bangsa. Prostitusi adalah praktek aktivitas seksual yang dilakukan dengan seseorang yang bukan pasangan resminya dengan meminta bayaran.  Mereka yang menjadi pelaku prostitusi disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari perdagangan manusia, pelecehan seksual sebelumnya, masalah ekonomi, dan yang terakhir ini mulai banyak karena gaya hidup. Menjadi pelaku prostitusi memiliki banyak risiko antara lain risiko penularan penyakit menular seksual seperti sifilis, gonore, dan HIV/AIDS. Risiko untuk terkena berbagai gangguan mental pun bisa terjadi seperti gangguan ansietas, depresi, psikotik dan gangguan stres pasca trauma. Risiko untuk menjadi korban perilaku kekerasan dan pembunuhan juga sudah cukup banyak terjadi.  Menjadi pelanggan prostitusi pun memiliki risiko yang sama untuk terkena berbagai masalah kesehatan fisik dan jiwa seperti di atas.

Saat ini perhatian diarahkan pada banyaknya pelaku prostitusi dari kalangan anak remaja dan pelajar yang masih di bawah umur. Hal ini merupakan suatu fenomena yang harus dicegah, disikapi dengan cepat dan tepat. Hal – hal yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya praktek prostitusi dan risiko-risiko yang mengikutinya antara lain adalah :
  • Pendidikan seksual  terhadap anak-anak sesuai dengan usianya agar anak-anak memiliki pemahaman yang benar tentang organ reproduksinya dan kemudian menjaganya dengan baik
  • Pengawasan dan bimbingan terhadap penggunaan gawai dan media sosial pada anak
  • Penjelasan tentang bahaya pelecehan seksual dan perdagangan manusia dan bagaimana menghadapinya
  • Pola asuh yang baik di setiap keluarga supaya anak merasakan tempat yang nyaman di keluarga sehingga tidak mencari ‘kenyamanan’ lain di luar
  • Hubungan suami istri yang terus menerus ditingkatkan sehingga memperkuat ikatan keluarga dalam menghadapi setiap godaan dari luar
  • Pendidikan keagamaan yang kuat akan menjadi benteng terhadap gangguan seperti di atas
Prostitusi sudah ada sejak jaman dahulu dan selalu memberikan ancaman yang jelas terhadap kehidupan bermasyarakat. Mungkin sulit untuk memberantasnya sampai tuntas tetapi tidak lah terlalu sulit untuk mencegahnya dan memulainya dari keluarga kita. Salam sehat jiwa!

Gangguan Stres Pasca Trauma

Monday, May 04, 2015 Posted by Unknown 1 comment
Bencana alam, perang, dan berbagai peristiwa menakutkan lainnya saat ini sedang terjadi di berbagai belahan dunia. Berbagai peristiwa menakutkan yang mengancam tersebut akan meninggalkan suatu ‘bekas menyakitkan’ dalam hidup seseorang yang mengalaminya. Selain masalah fisik yang dialami, trauma psikologis juga tidak jarang menyebabkan suatu masalah dalam kehidupan.  Trauma secara sederhana dapat diartikan sebagai luka yang sangat menyakitkan. Pengalaman traumatis, secara psikologik berarti pengalaman mental yang mengancam kehidupan, dan melampaui ambang kemampuan rata rata orang untuk menanggungnya. Peristiwa tersebut dapat dialami sendiri atau menyaksikan (terlibat langsung) dalam peristiwa tersebut. Pengalaman traumatis mengakibatkan perubahan yang drastis dalam kehidupan seseorang. Pengalaman traumatis mengubah persepsi seseorang terhadap kehidupannya. Pengalaman traumatis dapat mengubah perilaku dan kehidupan emosi seseorang. Termasuk dalam peristiwa traumatis adalah :
- Bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, banjir, tsunami, kebakaran, dll)
- Kekerasan dalam rumah tangga / sekolah (bullying)
- Penyiksaan
- Pemerkosaan
- Kecelakaan yang mengerikan
- Peristiwa peristiwa yang mengancam kelangsungan hidup

Sekitar 10 – 20% korban bencana akan mengalami gangguan mental bermakna, seperti; Gangguan Stres Pasca Trauma,   Depresi, Gangguan Panik, dan berbagai gangguan Anxietas terkait trauma. Mereka ini membutuhkan pertolongan ahli kesehatan jiwa. Gejala-gejala gangguan stres pasca trauma antara lain adalah :
1.       Re-experiencing (seperti mengalami kembali)
2.       Avoidance (penghindaran)
3.       Hyper-arousal (keterjagaan)

Re-experiencing :
        Terbayang bayang selalu akan pengalaman traumatisnya
        Terganggu mimpi buruk akan pengalaman traumatisnya
        Seperti mengalami kembali peristiwa traumatisnya (flash back)
        Merasakan ketegangan psikologis yang terus menerus bila terapar kejadian yang mengingatkan akan pengalaman traumatisnya

Avoidance :
        Senantiasa berusaha untuk menghindari hal hal yang mengingatkannya pada pengalaman   traumatisnya
        Amnesia psikogenik
        Hilang minat terhadap berbagai aktivitas
        Perilaku menarik diri
        Afek/kehidupan emosi menumpul
        Takut memikirkan masa depan

Hyper-arousal :
        Gangguan tidur
        Mudah marah dan tersinggung
        Sulit berkonsentrasi
        Gampang kaget
        Kewaspadaan berlebihan

Gejala-gejala tambahan lainnya adalah :
        Rasa berdosa dan menyalahkan diri
        Depresi, anxietas, marah, berduka
        Perilaku impulsif (compulsive shopping, eating, changes in sexual behavior)
        Keluhan somatik kronis (sakit kepala, gangguan lambung)
        Perilaku destruktif/menyakiti terhadap diri sendiri
        Perubahan kepribadian

Apabila ditemukan gejala-gejala seperti di atas maka sebaiknya segera dibawa ke profesional kesehatan jiwa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Hal ini penting karena bila dibiarkan terlalu lama maka gangguan stres pasca trauma ini dapat mengganggu lebih jauh aktivitas dan fungsi individu yang mengalaminya. Salam sehat jiwa!



Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS. Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor