Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Fenomena Begal dan Perilaku Kekerasan

Monday, March 16, 2015 Posted by Lahargo Kembaren No comments
Beberapa perawat di Rumah Sakit bercerita tentang kekhawatiran mereka bila harus pulang dari dinas sore atau mau berangkat dinas malam ke rumah sakit. Mereka khawatir dengan berbagai kejadian begal yang sering beraksi pada malam hari, merampas dan melakukan perilaku kekerasan. Memang saat ini fenomena begal sedang mewabah dan secara langsung pula ini mempengaruhi psikologis masyarakat yang menjadi mudah merasa cemas/khawatir mengenai keamanan. Perilaku kekerasan yang dilakukan oleh beberapa orang di masyarakat bukan hanya begal, ada juga hal hal yang lain seperti perilaku ‘bullying’ di sekolah, tawuran pelajar, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan berbagai masalah kejiwaan yang berujung pada munculnya perilaku kekerasan seperti depresi, skizofrenia, bipolar atau gangguan kepribadian. Perilaku kekerasan merupakan masalah kejiwaan  memerlukan penanganan yang serius karena biasanya memberikan gangguan yang berat dalam pekerjaan, relasi sosial, keluarga dan masalah hukum. Faktor-faktor yang bisa memicu seseorang melakukan perilaku kekerasan antara lain adalah :
  • Penyalahgunaan narkoba yang secara langsung bisa mempengaruhi otak untuk melakukan perilaku kekerasan
  • Gangguan psikologis seperti gangguan kepribadian, gangguan jiwa atau stresor dalam kehidupan lainnya
  • Tontonan/tayangan/bacaan mengenai kekerasan yang membuat toleransi seseorang terhadap perilaku kekerasan menjadi rendah
  • Pola asuh orang tua yang kurang cocok, anak yang terlalu dimanja, kurang diperhatikan dan juga terlalu otoriter bisa memicu perilaku ini
  • Lingkungan sekitar yang kurang aman / kondusif sehingga membuat perilaku kekerasan mudah terjadi
  • Kurangnya kemampuan penyelesaian masalah (problem solving) yang berujung pada penyelesaian dengan kekerasan

Kualitas dan intensitas interaksi antara anggota keluarga akan menentukan apakah seseorang akan mempunyai kecenderungan agresi atau tidak. Bila sejak kecil anak-anak mendapat perlakuan kekerasan, baik melalui kata-kata (verbal) maupun tindakan (perilaku), maka akan membentuk pola kekerasan dalam dirinya. Bila dalam lingkungan keluarga dibina iklim 'assertiveness' yakni keterbukaan, kebersamaan, dialog, sikap empati, maka akan terbentuk pola refleks yang ‘assertive’ bukan pola ‘agressiveness’. Kondisi assertive akan mengurangi terbentuknya sirkuit pendek agresi dan dapat menumbuh kembangkan kecerdasan rasional, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual sebab eksistensi humanisme manusia merupakan hasil interaksi kecerdasan rasional IQ- aspek fisik (organo-biologis)- kecerdasan emosional (EQ) yang merupakan aspek mental (psiko-edukatif)- dan kecerdasan spiritual (SQ).

Diperlukan penanganan yang komprehensif dan terencana dari fenomena perilaku kekerasan ini terutama karena anak-anak sudah banyak yang terlibat dan menjadi pelaku perilaku kekerasan. Kita tentunya tidak ingin anak-anak kita hidup dalam dunia yang penuh dengan kekacauan akibat kekerasan di mana mana, yang sekarang sudah mulai marak terjadi. Pemerintah, profesional di dunia kesehatan, sekolah dan masyarakat harus mulai mengambil peran dalam menjaga mental bangsa kita. Deteksi dini dan penanganan yang cepat untuk setiap perilaku kekerasan diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi efek negatif yang terlalu luas. Peningkatan keterampilan pola asuh yang baik bagi orang tua dan juga pengawasan yang baik di sekolah dengan kurikulum seperti “life skills” sangat dibutuhkan dengan segera.
Perilaku kekerasan dapat dicegah dan ditangani dengan baik bila ada keinginan, pengetahuan dan keterampilan yang cukup akan hal tersebut. Salam sehat jiwa !


Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS. Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

0 comments:

Post a Comment