Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Sering Berdebar Belum Tentu Sakit Jantung, Bisa Jadi Gangguan Ansietas

Monday, March 23, 2015 Posted by Unknown 4 comments
Kita memiliki organ-organ tubuh yang sangat vital sehingga ketika terjadi suatu hal yang tidak biasa maka kekhawatiran seringkali datang. Organ jantung adalah salah satu bagian tubuh yang sangat penting dalam menjaga kelangsungan hidup kita. Jantung berfungsi mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh dengan cara memompa darah dengan berdenyut sehingga bagian tubuh yang lain bisa berfungsi dengan baik. Gangguan jantung ditandai dengan adanya irama denyut jantung, dada terasa sesak, berat seperti tertindih, nyeri di dada kiri yang menjalar ke lengan kiri dan punggung. Sering berdebar mungkin merupakan tanda adanya suatu gangguan pada jantung sehingga pemeriksaan oleh dokter ahli diperlukan. Tetapi jantung yang sering berdebar belum tentu suatu gangguan jantung yang membahayakan, bisa jadi itu adalah suatu gangguan psikologis yang disebut gangguan ansietas.

Gangguan ansietas/cemas bisa mengenai siapa saja dalam setiap waktu kehidupannya. Pengenalan gejala dan penanganan yang tepat dibutuhkan supaya yang bersangkutan bisa bebas dari keluhan-keluhan yang dirasakannya. Apa saja ciri-ciri seseorang mengalami gangguan ansietas/cemas, selain jantung yang terasa berdebar-debar, keluhan lain yang biasa dirasakan adalah :

Gejala psikologik:
Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati , takut ”gila”, takut kehilangan kontrol dan sebagainya.

Gejala fisik:
Gemetar, berkeringat, kepala terasa ringan, pusing, ketegangan otot, mual, sulit bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di lambung, rasa sesak nafas; rasa sakit dada; kadang-kadang merasa harus menarik nafas dalam; ada sesuatu yang menekan dada; jantung berdebar; mual; vertigo; tremor; kaki dan tangan merasa kesemutan; kaki dan tangan tidak dapat diam ada perasaan harus bergerak terus menerus; kaki merasa lemah, sehingga berjalan dirasakan berat; kadang- kadang ada gagap.

Sensasi fisik yang dirasakan bisa terjadi karena pada gangguan ansietas/cemas ada saraf yang sedang terganggu keseimbangannya. Penyebab dari gangguan keseimbangan pada saraf ini bisa karena adanya trauma kepala, penyakit fisik sebelumnya, stres dalam kehidupan sehari-hari dan penggunaan narkoba.

Hal-hal yang bisa dilakukan ketika seseorang mengalami ansietas antara lain adalah :

  • Melakukan relaksasi, ini akan membuat tubuh yang tadinya tegang karena cemas menjadi lebih rileks dan santai 
  • Melakukan aktivitas-aktivitas yang bisa membuat rileks, yaitu : mendengarkan musik, berolahraga, menonton, ikut kegiatan-kegiatan sosial 
  • Melakukan ibadah/berdoa yang bisa membuat tenang 
  • Melatih berpikir rasional dan positif dalam hidup sehari-hari 
  • Mengatur pola makan dengan mengurangi karbohidrat dan lemak, meningkatkan asupan sayur dan buah serta minum air putih yang sering. Hindari minuman yang bisa memicu ansietas seperti : minuman beralkohol, kopi, teh, minuman energi, soda, dan minuman instant lainnya 
  • Berkonsultasi ke profesional kesehatan jiwa seperti : Psikiater, perawat jiwa atau psikolog untuk mendapatkan terapi yang lebih baik. Obat-obatan seperti obat anti ansietas akan sangat bermanfaat bila diberikan sesuai arahan psikiater dan kontrol secara rutin. Hindari penggunaan obat-obatan tanpa pengawasan ahlinya. 
Sering berdebar belum tentu gangguan jantung, bisa jadi adalah gangguan ansietas yang cukup banyak terjadi. Lakukan deteksi dini dan penanganan yang cepat tepat supaya keluhan-keluhan tersebut bisa segera teratasi dan Anda bisa kembali produktif dalam kehidupan sehari-hari. Salam sehat jiwa!


Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS. Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Fenomena Begal dan Perilaku Kekerasan

Monday, March 16, 2015 Posted by Unknown No comments
Beberapa perawat di Rumah Sakit bercerita tentang kekhawatiran mereka bila harus pulang dari dinas sore atau mau berangkat dinas malam ke rumah sakit. Mereka khawatir dengan berbagai kejadian begal yang sering beraksi pada malam hari, merampas dan melakukan perilaku kekerasan. Memang saat ini fenomena begal sedang mewabah dan secara langsung pula ini mempengaruhi psikologis masyarakat yang menjadi mudah merasa cemas/khawatir mengenai keamanan. Perilaku kekerasan yang dilakukan oleh beberapa orang di masyarakat bukan hanya begal, ada juga hal hal yang lain seperti perilaku ‘bullying’ di sekolah, tawuran pelajar, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan berbagai masalah kejiwaan yang berujung pada munculnya perilaku kekerasan seperti depresi, skizofrenia, bipolar atau gangguan kepribadian. Perilaku kekerasan merupakan masalah kejiwaan  memerlukan penanganan yang serius karena biasanya memberikan gangguan yang berat dalam pekerjaan, relasi sosial, keluarga dan masalah hukum. Faktor-faktor yang bisa memicu seseorang melakukan perilaku kekerasan antara lain adalah :
  • Penyalahgunaan narkoba yang secara langsung bisa mempengaruhi otak untuk melakukan perilaku kekerasan
  • Gangguan psikologis seperti gangguan kepribadian, gangguan jiwa atau stresor dalam kehidupan lainnya
  • Tontonan/tayangan/bacaan mengenai kekerasan yang membuat toleransi seseorang terhadap perilaku kekerasan menjadi rendah
  • Pola asuh orang tua yang kurang cocok, anak yang terlalu dimanja, kurang diperhatikan dan juga terlalu otoriter bisa memicu perilaku ini
  • Lingkungan sekitar yang kurang aman / kondusif sehingga membuat perilaku kekerasan mudah terjadi
  • Kurangnya kemampuan penyelesaian masalah (problem solving) yang berujung pada penyelesaian dengan kekerasan

Kualitas dan intensitas interaksi antara anggota keluarga akan menentukan apakah seseorang akan mempunyai kecenderungan agresi atau tidak. Bila sejak kecil anak-anak mendapat perlakuan kekerasan, baik melalui kata-kata (verbal) maupun tindakan (perilaku), maka akan membentuk pola kekerasan dalam dirinya. Bila dalam lingkungan keluarga dibina iklim 'assertiveness' yakni keterbukaan, kebersamaan, dialog, sikap empati, maka akan terbentuk pola refleks yang ‘assertive’ bukan pola ‘agressiveness’. Kondisi assertive akan mengurangi terbentuknya sirkuit pendek agresi dan dapat menumbuh kembangkan kecerdasan rasional, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual sebab eksistensi humanisme manusia merupakan hasil interaksi kecerdasan rasional IQ- aspek fisik (organo-biologis)- kecerdasan emosional (EQ) yang merupakan aspek mental (psiko-edukatif)- dan kecerdasan spiritual (SQ).

Diperlukan penanganan yang komprehensif dan terencana dari fenomena perilaku kekerasan ini terutama karena anak-anak sudah banyak yang terlibat dan menjadi pelaku perilaku kekerasan. Kita tentunya tidak ingin anak-anak kita hidup dalam dunia yang penuh dengan kekacauan akibat kekerasan di mana mana, yang sekarang sudah mulai marak terjadi. Pemerintah, profesional di dunia kesehatan, sekolah dan masyarakat harus mulai mengambil peran dalam menjaga mental bangsa kita. Deteksi dini dan penanganan yang cepat untuk setiap perilaku kekerasan diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi efek negatif yang terlalu luas. Peningkatan keterampilan pola asuh yang baik bagi orang tua dan juga pengawasan yang baik di sekolah dengan kurikulum seperti “life skills” sangat dibutuhkan dengan segera.
Perilaku kekerasan dapat dicegah dan ditangani dengan baik bila ada keinginan, pengetahuan dan keterampilan yang cukup akan hal tersebut. Salam sehat jiwa !


Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS. Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Kesehatan Seksual dan Kesehatan Jiwa

Wednesday, March 11, 2015 Posted by Unknown No comments
Pada acara Pertemuan Ilmiah Tahunan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Seksologi Indonesia Cabang Bogor pekan lalu terungkap bahwa sering sekali masalah kesehatan seksual membuat mood, perasaan, pikiran seseorang menjadi terganggu yang dampaknya bisa muncul masalah masalah kesehatan jiwa. Demikian juga sebaliknya bahwa banyak masalah kesehatan jiwa yang bisa berakibat terhadap munculnya masalah dalam seksualitas. 
Seksualitas adalah bagian dari kehidupan seseorang yang sangat penting dan mempengaruhi kualitas kehidupannya. Masalah-masalah dalam hal seksualitas secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi keseharian fungsi dan produktivitas dari seseorang. Masalah seksualitas seperti disfungsi ereksi, ejakulasi dini,  nyeri pada saat berhubungan (disparenia), orgasme pada wanita dan pria, dll merupakan masalah seksualitas yang seharusnya bisa mendapatkan penanganan yang baik.  Apabila tidak ditangani dengan baik maka bukan tidak mungkin gangguan – gangguan itu bisa menimbulkan suatu problem dalam rumah tangga yang pada akhirnya menimbulkan masalah baru seperti perceraian, perselingkuhan, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) dan masalah kejiwaan. Tidak jarang mereka yang mengalami masalah seksualitas mencari bantuan dari sumber lain / alternatif yang tidak memiliki dasar ilmiah dalam melakukan terapi. 
Masalah kejiwaan juga seringkali mengakibatkan munculnya masalah seksualitas, yang paling sering adalah depresi. Beberapa gejala depresi seperti mood yang menurun, hilangnya minat terhadap suatu hal termasuk seks, menurunnya energi/gampang lelah ditambah dengan gejala lain seperti perubahan pada pola makan dan pola tidur menimbulkan dampak pada fungsi seksualitas seperti disfungsi ereksi dan ejakulasi dini. Gitlin (1995) mengatakan bahwa 70% orang yang mengalami depresi akan mengalami masalah seksualitas.  Gangguan ejakulasi dini yang sering dialami oleh pria ternyata memiliki dasar psikis pada penyebabnya.Hampir 30 persen pria pernah mengalami gangguan ejakulasi dini ini. Gejalanya adalah ketidakmampuan menahan ejakulasi setelah melakukan hubungan badan kurang dari 1 menit.  Penyebabnya antara lain adalah karena depresi, ansietas/cemas, peristiwa traumatis yang terjadi sebelumnya, hubungan relasi yang kurang baik dan banyaknya stresor dalam kehidupan. Dengan melakukan penanganan yang holistik dari berbagai aspek kehidupan maka gangguan ini dapat diatasi sehingga yang bersangkutan dapat memiliki kembali kesehatan seksual yang optimal dan kesehatan jiwa yang baik sehingga kualitas hidup bisa diraih.    
Masalah seksualitas di kalangan anak dan remaja saat ini pun menjadi perhatian pada acara seminar seksologi ini dan ini yang digaris bawahi oleh walikota Bogor Pak Bima Arya. Tingginya dan semakin meningkatnya angka perilaku seks bebas, pornografi, dll tentunya mengancam masa depan penerus bangsa ini sehingga perlu ada tindakan yang komprehensif dari berbagai bidang untuk mengatasinya.
Masalah kesehatan seksual bukanlah suatu  hal yang tabu untuk dibicarakan dan dikonsultasikan. Semakin cepat hal itu dilakukan maka pemulihan dan kualitas hidup serta keharmonisan keluarga bisa lebih cepat dicapai. Aspek kejiwaan yang berperan pada kesehatan seksual juga  perlu mendapatkan perhatian dan hati – hati terhadap iklan menyesatkan. Salam sehat jiwa!