Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Waspada Stres pada Anak Menjelang Ujian Nasional

Thursday, February 19, 2015 Posted by Unknown No comments
Menjelang ujian nasional seperti sekarang ini, setiap anak menghadapi situasi yang bisa membuatnya stres. Rasa khawatir menjelang ujian dan saat menunggu pengumuman membuat sisi psikologis anak juga mengalami ujian. Setiap anak dan orang tua bahkan juga guru memiliki harapan yang tinggi pada pencapaian akademik seorang anak. Tidak tercapainya harapan yang diinginkan seringkali berujung pada munculnya stres pada anak. Stres adalah reaksi tubuh terhadap setiap situasi yang  tidak menyenangkan, biasa ditemukan  dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah proses alamiah dalam upaya manusia menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. 

Beberapa tanda dan gejala stres pada anak antara lain adalah :
1.       Gejala kognitif
a.       Masalah memori
b.      Sulit berkonsentrasi
c.       Membuat keputusan yang buruk
d.      Hanya melihat dari sudut pandang yang negatif
e.      Rasa cemas terhadap berbagai hal yang terus menerus muncul
2.       Gejala fisik
a.       Gatal/nyeri di berbagai bagian tubuh
b.      Diare / sulit buang air besar
c.       Mual dan pusing
d.      Nyeri dada dan jantung berdebar
e.      Terasa dingin di ujung jari
3.       Gejala emosi
a.       Mood yang labil
b.      Mudah emosi/marah/tersinggung
c.       Gelisah, tidak bisa tenang
d.      Merasa sendirian dan terisolasi
e.      Depresi, sedih, perasaan tidak gembira
4.       Gejala perilaku
a.       Nafsu makan meningkat / menurun
b.      Sulit tidur / terlalu banyak tidur
c.       Tidak mau bersosialisasi/bergaul
d.      Menunda-nunda pekerjaan dan tanggung jawab
e.      Menggunakan alkohol, merokok, narkoba untuk mencoba rileks
f.        Perilaku cemas: menggigit kuku, mondar mandir, melirik kiri kanan
Apabila ditemukan gejala-gejala di atas maka sesegera mungkin dilakukan manajemen stres untuk anak karena bila tidak maka anak bisa jatuh pada masalah kejiwaan yang lebih lanjut. Manajemen stres yang dapat dilakukan antara lain adalah :
1. Mendorong anak untuk menghadapi masalah/stresor yang dihadapinya dengan selalu mendampinginya dan bukan lari dari masalah/stresor tersebut
2.   Menceritakan pada anak bahwa tidak masalah menjadi tidak sempurna dan tidak harus seperti anak yang lain dalam pencapaian prestasi
3.     Selalu fokus pada hal yang positif pada diri si anak dan berhenti memberikannya label negatif
4.  Memberikan anak waktu yang terjadwal untuk bersantai/rekreasi seperti berolahraga, bermain secara fisik di lapangan, dll
5.    Anak belajar dari perilaku orang tuanya saat menghadapi stres, jadi marilah orang tua pun belajar dan mempraktekkan manajemen stres yang baik
6.   Berikan anak penghargaan dari setiap pencapaian yang diraihnya. Hal itu bisa berupa pelukan, pujian, hadiah kecil, dll
7.   Pastikan waktu tidur anak cukup setiap harinya meskipun itu waktu tidur. Ini akan memastikan anak memiliki waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisi tubuhnya
8.  Dengarkan apa yang menjadi masalah dengan anak dan bantu dia dalam mencari pemecahan masalah tersebut. (ingat, bukan kita yang memecahkannya tapi kita membantu anak mencari pemecahan yang terbaik)
9.     Latih anak melakukan relaksasi untuk bisa membuatnya tetap tenang dan bebas dari stres
10.  Memberikan pilihan pilihan alternatif bila hal yang diharapkan tidak tercapai.


Selalu berikan semangat pada anak dalam menghadapi ujian nasional dan dampingi terus dalam menjalaninya dan dalam menerima hasilnya. Salam sehat jiwa!

Oleh: 

Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Ketua SMF Psikiatri RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Stop ‘Bullying’ untuk Masa Depan Generasi Penerus

Monday, February 09, 2015 Posted by Unknown , No comments
‘Bullying’ adalah salah satu bentuk perilaku kekerasan yang dengan disengaja dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa kuat/berkuasa dengan tujuan menyakiti atau merugikan seseorang atau sekelompok yang merasa tidak berdaya. ‘Bullying’ bisa dilakukan dalam bentuk fisik maupun psikologis. Saat ini banyak anak dan remaja yang menjadi korban bullying baik secara langsung di sekolah, tempat les, lingkungan maupun melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dll. Penelitian menunjukkan bahwa anak dan remaja yang menjadi korban bullying sangat rentan terhadap masalah yang serius pada kesehatan jiwa, fisik dan akademiknya. Cook dkk pada tahun 2010 melaporkan bahwa  korban ‘bullying’ lebih sering mengalami gejala depresi, menyakiti diri sendiri, pikiran untuk bunuh diri, dan pencapaian akademik yang rendah. Sedang mereka yang melakukan ‘bullying’ juga tidak lepas dari sikap dan perilaku yang kurang baik seperti : perilaku menentang, sering bolos sekolah, merokok dan memakai narkoba serta perilaku kekerasan lainnya. Mereka yang menjadi korban dan pelaku bullying juga sering mengalami sakit kepala, sakit punggung, sakit perut, masalah tidur, nafsu makan menurun dan sering mengompol (Gini & Pozzoli, 2009).  “Bullying” juga merupakan prediktor munculnya gangguan jiwa yang berat lainnya seperti ansietas, depresi dan psikotik. Masa depan generasi penerus menjadi terganggu dengan adanya bullying ini sehingga perlu ada usaha yang taktis dan sistematis untuk melakukan pencegahan dan penanganannya.

Orang tua, komunitas, sekolah, dan profesional di bidang kesehatan jiwa berperan penting dalam melakukan pencegahan dan penanganan masalah ‘bullying’ ini. Komunikasi yang baik dan pola asuh yang tepat yang dilakukan orang tua akan membuat anak dengan leluasa dan nyaman untuk bercerita mengenai hal yang dialaminya sehingga anak tetap bisa tenang menghadapi masalah tersebut. Banyak anak yang tidak melaporkan bahwa mereka adalah korban perilaku ‘bullying’.  Sekolah perlu menerapkan aturan yang tegas untuk mencegah masalah ‘bullying’ ini dengan menerapkan manajemen yang baik terhadap anak yang bertendensi melakukan perilaku agresif. Keluarga dan sekolah perlu melakukan pelatihan dan pendidikan keterampilan hidup (life skills) supaya anak dan remaja memiliki kemampuan dalam mengatasi masalah kehidupa mereka terutama dari teman sebayanya. Setiap anak yang menjadi korban dan pelaku ‘bullying’ perlu ditangani secara profesional supaya perilaku dan dampak yang ditimbulkan tidak menimbulkan masalah psikologis lanjut di kemudian hari. 

Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Ketua SMF Psikiatri RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor