Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Jangan Maklum dengan Pikun

Tuesday, August 11, 2015 Posted by Unknown No comments
“Dok...orang tua saya sudah pikun tapi sekarang ini banyak perilaku nya yang mengkhawatirkan, seperti sering keluyuran, curiga pada suami, dan marah-marah.” Terdapat suatu pendapat di masyarakat yang cenderung memaklumi bahwa kepikunan adalah suatu hal yang lumrah. Setelah muncul gejala psikologis dan perilaku yang lebih berat, baru pasien dibawa berobat.  Hal ini menyebabkan terjadinya keterlambatan penanganan pasien dengan kepikunan atau di medis disebut dengan demensia.
Usia tua adalah bagian dari periode kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Menjadi tua berarti bertambahnya umur dan mulai berkurangnya fungsi tubuh dan fungsi sosial. Tetapi menjadi tua tidak berarti harus menjadi sakit dan pikun. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk menjadi orang lanjut usia yang sehat. Setiap kita pasti pernah menyaksikan seorang yang sudah lanjut usia menjadi pikun, lupa menaruh barang sehingga menjadi marah karena menganggap ada orang yang menyembunyikan barang yang dicarinya, atau juga sulit untuk mengingat nama orang-orang yang sebenarnya dikenalnya. Bahkan yang paling berat bisa saja orang tua tersebut sulit untuk mengenali benda-benda sekitarnya dan kesulitan mengurus dirinya sendiri.
Demensia / pikun bukan merupakan bagian wajar dari proses menua. Dengan mengetahui gejala dan melakukan penatalaksanaan yang tepat, demensia/pikun dapat dicegah, dihambat, dan disembuhkan sehingga kualitas hidup dapat dipertahankan.  Keberhasilan di bidang kesehatan meningkatkan usia harapan hidup.  Dengan demikian jumlah lansia ( >60tahun) juga akan semakin meningkat jumlahnya. Peningkatan jumlah lansia ini membawa dampak di bidang kesehatan sehingga pola penyakit akan bergeser ke arah penyakit yang berhubungan dengan proses degeneratif otak di antaranya demensia yang di Indonesia popular dengan sebutan pikun.  Keberadaan orang tua yang pikun akan menjadi masalah yang besar terutama dalam perawatan karena penderita ini membutuhkan perawatan paripurna sepanjang hari, hal ini disebabkan pada penderita terjadi gangguan kognitif dan perilaku yang akan memberikan gangguan pada aktivitas harian dan fungsi sosialnya. Selain akan menguras tenaga  dan biaya untuk perawatannya juga menimbulkan stress pada seluruh anggota keluarga.  Demensia dibagi menjadi demensia alzheimer yang ditandai dengan penurunan fungsi otak yang perlahan dan bertahap, ada juga demensia vaskular yang ditandai dengan penurunan yang cepat dan mendadak dari fungsi otak, dan demensia lainnya.
Demensia bila dikenal secara dini dan mendapat penatalaksanaan yang tepat dapat dicegah, dihambat progresifitasnya bahkan disembuhkan pada beberapa keadaan sehingga penderita dapat mempertahankan kualitas hidupnya. Berikut ini adalah gejala-gejala demensia :
·         Mudah menjadi lupa terutama untuk hal yang baru
·         Gangguan komunikasi terutama verbal dalam komprehensi, kosa kata, dan keterlambatan mengingat kembali kata yang harus diucapkan
·         Kesulitan dalam melakukan aktivitas harian yang sederhana
·         Kesulitan mengenali tempat dan waktu
·         Penampilan yang memburuk terutama karena tidak memperhatikan kebersihan diri dan 
       berpakaian tidak serasi
·         Kesulitan dalam melakukan penghitu ngan sederhana
·         Salah meletakkan barang dan curiga seseorang telah mencurinya
·         Perubahan perasaan dan perilaku sehingga sering murung, marah-marah, keluyuran, gelisah 
       sampai agresif
·         Perubahan kepribadian
·         Hilang minat dan inisiatif

Orang tua yang memiliki gejala-gejala di atas perlu segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan gejala demensia yang dialaminya. Penanganan yang kemudian diberikan pada orang tua yang mengalami demensia antara lain adalah :
·         Obat-obatan : beberapa obat seperti Donapezil HCl, Rivastigmin dapat menghambat dan 
       memperbaiki demensia yang terjadi
·         Mengatur pola hidup yang sehat : makan makanan bergizi yang sehat, perbanyak makan sayur 
       dan buah, olah raga yang teratur, tidur yang cukup, cara berpikir yang positif dan rasional
·         Melakukan beberapa tips berikut ini :

Tips merawat daya ingat :
o   olah raga atau relaksasi teratur (jalan santai, senam jantung/pernapasan, tenis, yoga, meditasi, 
    tai-chi, dll)
o   makan makanan kaya omega 3, antioksidan, serat, biji2an/karbohidrat kompleks
o   sosialisasi (arisan, organisasi RT, perkumpulan keagamaan, dll)
o   membaca (buku, koran)
o   asah otak (TTS, scrabble, catur, kartu)
o   belajar hal baru (bahasa, menjahit/merajut)

·         Tips membantu daya ingat :
o   buat jembatan keledai (kata kunci, asosiasi nama-wajah)
o   selalu letakkan barang (kunci, kacamata) pada satu tempat
o   beri tanda di kalender/agenda atau buat catatan yang ditempel di tempat yang sering dilewati 
    (pintu, kulkas) untuk mengingat apa yang akan dilakukan
o   sering mengulang dalam hati hal yang ingin diingat

Demensia/kepikunan bukan suatu hal yang lumrah dan perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang serius.  Jadi jangan maklum dengan pikun! Salam sehat jiwa.


Oleh :
Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS.Marzoeki Mahdi Bogor 

Bunuh Diri Bisa Dicegah

Monday, August 03, 2015 Posted by Unknown No comments
Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Bogor ditemukan bunuh diri di kamarnya. Meskipun saat ini masih diselidiki penyebabnya tetapi diketahui bahwa mahasiswa ini mendapatkan suatu keadaan yang menjadi sumber stresor akhir-akhir ini. Seorang yang melakukan bunuh diri/mencoba bunuh diri sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin mengakhiri hidupnya, mereka sebenarnya ingin penderitaan/konflik yang dialaminya cepat berakhir. Hanya sayangnya bunuh diri yang menjadi pilihan karena seolah tidak ada bantuan lain yang bisa diharapkan. WHO sebagai lembaga kesehatan dunia memperkirakan ada 1 juta orang yang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Setiap kasus bunuh diri sebenarnya memberikan tanda-tanda peringatan yang dapat dikenali sehingga bisa dilakukan pencegahan. 

Tanda-tanda peringatan itu dapat berupa:
1. Berbicara tentang kematian/bunuh diri : “saya berharap tidak dilahirkan”, “mati sepertinya lebih    
    enak”, dll.
2. Mencari benda-benda yang dapat digunakan untuk melakukan bunuh diri seperti senjata api,  
    senjata tajam, tali, dll.
3. Selalu memikirkan hal-hal tentang kekerasan dan kematian, seperti menonton film tentang 
    kematian, menulis puisi sedih tentang kematian, dll
4.  Merasa tidak ada harapan tentang masa depan (madesu=masa depan suram)
5.  Merasa tidak ada jalan keluar, tidak berguna, menjadi beban bagi orang lain
6.  Menarik diri dari lingkungan sosial, tidak masuk kuliah, tidak mau bergaul, beribadah, dll
7. Munculnya perilaku yang tidak baik seperti menggunakan alkohol, narkoba, mengemudi dengan 
    sembrono, seksualitas yang tidak sehat
8. Menurunnya nilai-nila akademik, performance dalam kehidupan sehari hari

Apabila ditemukan tanda-tanda peringatan bunuh diri seperti di atas maka segera lakukan tindakan pencegahan seperti :
1. Lakukan komunikasi dan pendampingan yang intensif untuk memastikan apa yang dikhawatirkan 
   tidak benar
2. Katakan bahwa dia tidak sendirian, ada banyak yang mau dan bersedia membantu
3. Memberikan respon krisis dengan segera sesuai dengan tingkatan level risiko bunuh diri
a.       Rendah        : ada pikiran bunuh diri, tidak ada rencana, tidak mau melakukannya
b.      Sedang         : beberapa kali muncul pikiran bunuh diri, sedikit rencana, tidak mau melakukannya
c.       Tinggi          : sering muncul pikiran bunuh diri, rencana yang jelas, tidak mau melakukannya
d.    Berat              : selalu muncul pikiran bunuh diri, rencana yang jelas dan terus menerus berniat 
                              melakukannya
4. Tawarkan bantuan dan bawa konsultasi ke profesional kesehatan jiwa yang akan memeriksa dan 
     memberikan penatalaksanaan yang sesuai.
5.   Berusaha untuk proaktif untuk menawarkan bantuan ketika muncul ide-ide bunuh diri lagi dengan 
     meninggalkan nomor telepon
6.   Pindahkan benda-benda yang berbahaya yang bisa menjadi alat untuk melakukan bunuh diri

Setiap orang memiliki problema/masalah kehidupannya masing-masing dan kemampuan menghadapinya pun berbeda-beda. Melakukan deteksi dini dan manajemen stres yang baik akan mengurangi risiko terjadinya bunuh diri di kemudian hari. Pengetahuan tentang manajemen stres dan masalah kejiwaan juga penting dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat seperti mahasiswa, pekerja, guru, orang tua, anak, dll. Lakukan pencegahan terhadap bunuh diri karena kehidupan jauh lebih indah ketika kita berguna dan memberi manfaat. Salam sehat jiwa

dr.Lahargo Kembaren ,SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS.Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor

Anak Menolak Sekolah ? Bisa Jadi Gangguan Cemas Perpisahan !

Saturday, August 01, 2015 Posted by Unknown No comments
Minggu ini adalah masa masa anak baru masuk sekolah setelah menghabiskan waktu liburan yang cukup panjang. Masa masa masuk sekolah bagi anak baru tidak selamanya berjalan lancar, seringkali ditemukan anak yang takut, cemas, khawatir apabila ditinggal oleh orang tua/pengasuhnya. Tidak jarang juga ada anak yang menolak pergi ke sekolah karena alasan yang tidak jelas. Bahkan ada juga yang mengalami keluhan fisik seperti muntah-muntah setiap dibawa ke sekolah. Hal seperti ini tentunya membingungkan orang tua dan dapat menyebabkan si anak menjadi terlambat mendapatkan pendidikannya.  Hal ini disebut gangguan cemas perpisahan.
Gangguan cemas perpisahan adalah berkembangnya kecemasan yang berlebihan dan tidak sesuai yang berhubungan dengan perpisahan dari rumah atau dari seorang individu yang melekat. Gambaran dasar dari gangguan ini adalah kekhawatiran yang berlebihan akan kehilangan atau berpisah secara permanen dengan seseorang yang sangat melekat.  Manifestasi dari kecemasan ini termasuk distres berlebihan yang berulang dan atau keluhan fisik seperti pusing, sakit perut, muntah, keringat dingin  seperti ketika terjadi perpisahan dengan rumah atau figur utama yang melekat dan juga sebagai antisipasi terhadap bakal terjadinya perpisahan. Gangguan cemas perpisahan ini juga bisa terlihat sebagai ketakutan untuk tidur sendirian.  Gangguan cemas perpisahan ini ditemukan 2 – 12 % pada populasi umum dan merupakan gangguan kecemasan yang paling banyak pada anak dan urutan ketiga gangguan pada anak secara umum. Gangguan ini dapat terjadi secara seimbang antara pada anak laki-laki dan perempuan.  Keluhan dirasakan selama 4 minggu atau lebih pada anak usia kurang dari 18 tahun. 

Penyebab dari munculnya gangguan cemas perpisahan ini adalah :
·    Genetik, orang tua yang memiliki gangguan cemas akan lebih rentan memiliki anak dengan gangguan ini
·       Modelling, orang tua yang menunjukkan perilaku cemas yang berlebihan akan ditiru secara sadar dan tidak sadar oleh si anak
·        Pengalaman peristiwa perpisahan yang terjadi sebelumnya
·      Sikap orang tua yang terlalu melindungi anak (over protecting) yang membuat si anak kesulitan mengembangkan keterampilan hidup dan kepercayaan dirinya
·        Sikap orang tua yang marah pada anaknya ketika si anak merasa takut terhadap hal tertentu

Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan cemas perpisahan ini antara lain adalah :
1.      Melatih anak melakukan relaksasi untuk mengurangi ketegangan dan kecemasannya
2. Melatih secara bertahap anak untuk menghadapi kecemasannya dan memberikannya ‘reinforcement’ (seperti pelukan, mainan, pujian, dll) setiap kali si anak berhasil menghadapi situasi yang dikhawatirkannya
3.     Melatih cara berpikir anak dalam melihat situasi/keadaan yang mengkhawatirkannya
4.    Membantu anak menemukan keterampilan yang baru yang dapat meningkatkan kepercayaan diri dan harga dirinya.
5. Apabila gangguan cemas perpisahan ini terasa terlalu berat dan mengganggu, silahkan berkonsultasi dengan psikiater untuk mendapatkan terapi lain yang dapat membantu.

Salam Sehat Jiwa.

dr.Lahargo Kembaren ,SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS.Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor

MANFAAT PUASA BAGI KESEHATAN JIWA

Tuesday, July 21, 2015 Posted by Unknown No comments
Bulan ini adalah bulan Ramadhan di mana seluruh umat muslim melakukan puasa. Puasa yang dilakukan adalah menahan hawa nafsu, serta menahan lapar dan haus. Tidak jarang juga ada mereka yang non muslim ikut juga berpuasa untuk menghargai mereka yang berpuasa atau karena keadaan.  Bila dikaji lebih mendalam, inti dari puasa adalah pengendalian diri. Orang yang sehat jiwanya adalah orang yang mampu menguasai dan mengendalikan diri terhadap dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya maupun yang datang dari luar. Jadi sebenarnya dengan melakukan puasa kita sedang melatih diri kita untuk mencapai kesehatan jiwa yang optimal.      

Setiap orang pasti akan menghadapi keadaan sulit yang tidak diharapkan pada setiap fase kehidupannya. Dengan kesehatan jiwa yang optimal maka orang tersebut akan mampu menghadapi keadaan tersebut dan bisa tetap produktif dan berfungsi dengan baik dalam kehidupannya. Tetapi apabila stres tersebut terlalu berat dan kemampuan mentalnya kurang maka orang tersebut dapat mengalami gangguan jiwa seperti gangguan depresi, gangguan cemas dan gangguan psikotik. Puasa merupakan suatu sarana untuk detoksifikasi jiwa karena dengan dengan melakukan puasa maka orang tersebut memiliki kekuatan ego yang besar untuk mengendalikan dirinya.    Allan Cott, M.D., seorang ahli dari  AS menjelaskan bahwa manfaat  puasa adalah :
1. Membuat tubuh menjadi  lebih baik secara fisik dan mental.
2. Membuat tubuh menjadi  lebih muda dan segar
3. Membersihkan badan.
4. Menurunkan tekanan darah dan kadar lemak.
5. Lebih mampu mengendalikan seks.
6. Membuat badan sehat dengan  sendirinya.
7. Mengendorkan ketegangan jiwa.
8. Menajamkan fungsi indrawi.
9. Memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri.
10. Memperlambat proses penuaan.

Beberapa perilaku yang terbentuk pada masa-masa puasa seperti menahan diri untuk tidak marah (anger management), menahan diri untuk tidak merokok, menahan diri untuk tidak melakukan perilaku pornografi, dll adalah suatu hal yang baik.  Seperti kita ketahui bahwa perilaku-perilaku tersebut memberikan dampak negatif bagi kesehatan fisik dan jiwa maka puasa dapat dijadikan suatu momentum untuk benar-benar melakukan perubahan perilaku yang mendasar dan terus menerus.  Diharapkan dengan terjadinya suatu perubahan perilaku negatif menjadi perilaku yang positif maka kesehatan fisik dan jiwa lebih dapat ditingkatkan.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Salam sehat jiwa !


Dr.Lahargo Kembaren,SpKJ
Psikiater RS.Jiwa Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Kekerasan Pada Anak Dan Dampaknya

Monday, June 22, 2015 Posted by Unknown No comments
Akhir-akhir ini banyak sekali kita saksikan dan dengarkan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang / sekelompok orang pada orang lain. Kekerasan yang dilakukan bisa memiliki banyak alasan dan motivasi tetapi suatu perilaku kekerasan yang dilakukan memiliki suatu dasar pengalaman kekerasan pada masa sebelumnya. Salah satunya adalah pengalaman mengalami perlakuan kekerasan pada masa kecil.   

Kekerasan terhadap anak merupakan semua bentuk tindakan/perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi komersial atau eksploitasi lainnya yang mengakibatkan cidera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab.
       Kekerasan fisik adalah kekerasan yang mengakibatkan cidera fisik nyata ataupun potensial terhadap anak sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi yang layaknya ada dalam kendali orang tua atau orang dalam hubungan posisi tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan.
       Kekerasan seksual adalah pelibatan anak dalam kegiatan seksual, di mana ia sendiri tidak sepenuhnya memahami, atau tidak mampu memberi persetujuan. Kekerasan seksual ditandai dengan adanya aktivitas seksual antara anak dengan orang dewasa atau anak lain. Aktivitas tersebut ditujukan untuk memberikan kepuasan bagi orang tersebut. Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual dalam prostitusi atau pornografi, pemaksaan anak untuk melihat kegiatan seksual, memperlihatkan kemaluan kepada anak untuk tujuan kepuasan seksual, stimulasi seksual, perabaan, memaksa anak untuk memegang kemaluan orang lain, hubungan seksual, perkosaan, hubungan seksual yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan darah (incest) dan sodomi.
       Kekerasan emosional adalah suatu perbuatan terhadap anak yang mengakibatkan atau sangat mungkin akan mengakibatkan gangguan kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Beberapa contoh kekerasan emosional adalah pembatasan gerak, sikap tindak meremehkan anak, mencemarkan, mengkambinghitamkan, mengancam, menakut-nakuti, mendiskriminasi, mengejek, atau menertawakan, atau perlakukan lain yang kasar atau penolakan.
       Penelantaran anak adalah kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya seperti kesehatan, pendidikan, perkembangan emosional, nutrisi, rumah  atau tempat bernaung, dan keadaan hidup yang aman yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau pengasuh.  

DAMPAK KEKERASAN TERHADAP ANAK

            Korban atau kasus anak yang mengalami kekerasan dapat berdampak jangka pendek ataupun jangka panjang.
1.      Jangka pendek. Dampak jangka pendek terutama berhubungan dengan masalah fisik antara lain : lebam, lecet, luka bakar, patah tulang, kerusakan organ, robekan selaput dara, keracunan, gangguan susunan saraf pusat. Di samping itu seringkali terjadi gangguan emosi atau perubahan perilaku seperti pendiam, menangis, dan menyendiri.  
2.      Jangka panjang. Dampak jangka panjang dapat terjadi pada kekerasan fisik, seksual, maupun emosional.
a.       Kekerasan fisik. Kecacatan yang dapat mengganggu fungsi tubuh anggota tubuh
b.      Kekerasan seksual. Kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, gangguan /kerusakan organ reproduksi.  
c.       Kekerasan emosional. Tidak percaya diri, hiperaktif, sukar bergaul, rasa malu dan bersalah, cemas, depresi, psikosomatik, gangguan pengendalian diri, suka mengompol, kepribadian ganda, gangguan tidur, psikosis, dan penggunaan napza.



PENANGANAN  KEKERASAN PADA ANAK

Pertama :  Pencegahan. Aktivitas pencegahan ini dapat dilakukan secara bersama dalam bentuk sosialisasi hak-hak anak dan sejumlah peraturan ditengah-tengah kehidupan masyarakat dan keluarga.
Kedua : Deteksi Dini. bagi anak-anak yang rentan terhadap terjadinya kekerasan serta dalam lingkungan keluarga dan masyarakat perlu dilakukan langkah cepat (quick respons) untuk mengevakuasi sementara anak ke tempat yang aman, serta memberikan peringatan dini kepada lingkungan keluarga yang rentan melakukan kekerasan. Artinnya, bagi anak-anak yang rentan terhadap kekerasan sedini mungkin bisa dihindari.
Ketiga :  Intervensi Krisis. Bagi anak-anak yang telah mengalami kekerasan, langkah yang perlu dilakukan melalui pendekatan Intervensi Krisis. Aktivitas ini dilakukan dengan metoda mendampingi korban dan keluarga korban untuk melakukan upaya hukum, dan melakukan terapy terhadap trauma yang diakibatkan oleh tindak kekerasan.



MENGHINDARI KEKERASAN PADA ANAK

            Ada beberapa upaya yang patut dilakukan agar kita dapat terhindar dari kekerasan terhadap anak diantaranya adalah :  Hargai anak dan bersikap adil : Ciptakanlah suasana hangat dan penuh kasih sayang di lingkungan anak. Berilah penghargaan bila anak melakukan perbuatan terpuji dan beritahu kesalahannya bila melakukan tindakan tidak baik. Dengan demikian anak belajar menghargai orang lain, terutama orang tuanya.

       Dengarkan keluhan anak. Bila anak berperilaku buruk, seperti melawan, suka memukul atau berbohong, maka pahamilah lebih dahulu perasaaanya dan dengarkanlah penolakan dan keluhannya.
       Ungkapkan dengan jelas ketidaksetujuan anda ketika anak berperilaku tidak baik.
       Hindari ungkapan yang memojokan dan menyalahkan anak. Hindari kata-kata menghardik seperti“Ayo, cepat mandi, mama tidak suka punya anak bau dan pemalas!” 
       Gunakanlah kata-kata mengajak, “Yuk mandi sayang, supaya wangi dan bersih. Setelah itu, kita jalan-jalan”.
       Peringatan lebih awal. Ketika anda ingin anak anda melakukan sesuatu, cobalah ingatkan  lebih awal dan berikan pilihan serta penjelasan. Misalnya, “Nak, sepuluh menit lagi waktunya tidur ya, supaya besok pagi kamu tidak terlambat bangun  dan tidak mengantuk ketika sekolah” .
       Menghindar ketika marah (time out). Ketika anda marah karena perilaku anak, maka menghindarlah seketika dari anak-anak kemudian tenangkanlah diri anda, setelah itu dialogkan dengan anak, mengapa anda marah.
       Berupaya lebih akrab. Binalah hubungan yang lebih hangat dan akrab dengan anak, sehingga anak  menjadi lebih terbuka pada orang tua.
       Jadilah contoh bagi anak dalam menanamkan nilai-nilai moral  dan sosial yang berlaku. Dunia anak adalah dunia yang penuh kegembiraan dan keceriaan, karena itu kekerasan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi  anak-anak. 



dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Ketua SMF Psikiatri RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor



    

Stop Stigma terhadap Orang dengan Skizofrenia

Monday, June 01, 2015 Posted by Unknown No comments
Orang dengan Skizofrenia (ODS) adalah orang yang memiliki gangguan dalam menilai realitas.  Gejala-gejala dari gangguan ini antara lain adalah adanya halusinasi (mendengar ada suara bisikan, melihat bayangan, merasa di kulitnya ada rasa tertentu, mencium bau bauan, merasa di lidahnya ada rasa tertentu, yang semuanya tidak ada sumbernya), adanya waham (ide/persepsi/keyakinan yang salah yang tidak sesuai dengan kenyataan, seperti merasa ada yang mengejar-ngejar, membunuh, berbuat jahat, seperti ada yang memperhatikan, diomongin, merasa dirinya adalah seseorang yang punya kekuatan tertentu. Gangguan skizofrenia ini disebabkan oleh banyak faktor yang berujung pada ketidakstabilan zat kimia (neurotransmiter) di dalam saraf otak. Faktor penyebabnya adalah berbagai peristiwa dari dalam kandungan sampai usia saat ini yang bisa mempengaruhi saraf otak, seperti : keturunan/genetik, adanya masalah fisik dan psikologis pada ibu yang sedang mengandung bayinya, riwayat trauma kepala, pernah panas tinggi, kejang/gangguan saraf, dan peristiwa kehidupan yang traumatik seperti keinginan yang tidak tercapai, kekecewaan, kesedihan yang mendalam, kehilangan seseorang/sesuatu yang disayang.  Ada perubahan pada saraf itulah yang memicu munculnya perubahan pada sikap, perilaku, perasaan/emosi dan kepribadian. 

Saat ini pengobatan untuk gangguan Skizofrenia ini sudah sangat baik, obat-obatan yang ada secara superior dapat segera mengurangi dan menghilangkan gejala-gejala yang ada. Psikoterapi (terapi bicara) yang diberikan oleh profesional kesehatan jiwa juga dengan bertahap akan dapat merubah cara pandang orang dengan skizofrenia dalam menghadapi masalah kehidupannya. Apabila gangguan jiwanya berat maka modalitas terapi seperti rehabilitasi psikososial akan mengembalikan secara optimal fungsi dan produktivitas dari orang dengan skizofrenia.
Sayangnya masyarakat masih melakukan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan skizofrenia. Stigma adalah sikap atau persepsi negatif masyarakat tentang seseorang yang masuk kelompok khusus. Pemberitaan media dan sinetron-sinetron yang menyudutkan orang dengan gangguan jiwa seperti skizofrenia membentuk kerangka pikir negatif dari sebagian besar masyarakat bahwa gangguan ini adalah gangguan yang aneh dan membahayakan. Padahal banyak sekali orang dengan skizofrenia yang dapat pulih (recovery) bisa kembali berfungsi dan produktif di masyarakat, bisa kembali kuliah, bekerja, dan beraktivitas seperti biasa. Tidak satu orang pun dari mereka yang menghendaki untuk mendapatkan gangguan tersebut. Keluarga juga sudah berusaha dengan berbagai upaya, sayangnya stigma dan diskriminasi membuat pemulihan mereka menjadi terhambat.

Mari bersama-sama kita dukung pemulihan orang dengan skizofrenia dengan cara menerima mereka apa adanya dan menyediakan diri untuk saling berbagi karena mereka pun bagian dari komunitas kita. Stop stigma terhadap orang dengan skizofrenia. Salam sehat jiwa! 
dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Ketua SMF Psikiatri RS Jiwa Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Adiksi dan Gangguan Jiwa

Monday, May 25, 2015 Posted by Unknown No comments
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama dengan pihak kepolisian mengamankan lima anak di bawah umur sebuah Perumahan di Cibubur, Bekasi, Jawa Barat. Mereka diduga ditelantarkan orangtuanya dan ditemukan juga adanya beberapa butir ekstasi di dalam rumah tersebut. Beberapa berita yang dilansir menyebutkan adanya perubahan sikap dan perilaku pada kedua orang tua anak tersebut. Adiksi (ketergantungan narkoba) dan gangguan jiwa memiliki hubungan yang erat. Adiksi sendiri sebenarnya termasuk juga ke dalam gangguan jiwa yang menurut PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa) termasuk ke dalam F1. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Zat Psikoaktif.  Adiksi narkoba secara langsung merubah otak yang menyebabkannya tidak bisa menentukan prioritas dalam kehidupan dan merubah sikap, perilaku, dan cara berpikir. Di sisi yang lain ditemukan juga bahwa orang memakai obat-obat terlarang seperti narkoba adalah untuk mengatasi kondisi psikisnya yang mengalami gangguan. Orang dengan gangguan psikotik, depresi dan cemas mencoba dengan berbagai cara untuk mengatasi gangguan alam perasaan dan pikirannya, dan sering sekali akhirnya jatuh dalam penggunaan narkoba yang dilarang. Ketidaktahuan bagaimana cara mengatasi masalah kejiwaan yang dialaminya inilah yang membuat banyak orang kemudian mencari cara alternatif sendiri-sendiri yang sebenarnya tidak tepat.
Beberapa adiksi yang bisa menimbulkan masalah/gangguan jiwa antara lain adalah :
  • Ganja/mariyuana/’cimenk’/’gelek’ : dapat menimbulkan gangguan psikosis yang ditandai dengan gangguan dalam penilaian realitas, ada halusinasi dan delusi.
  • Ekstasi/amfetamin : merupakan obat stimulan yang dapat menyebabkan munculnya kegelisahan, kebingungan, gangguan pada pola makan dan pola tidur, ansietas dan depresi
  • Heroin/kokain/putaw : dapat menyebabkan perubahan kepribadian, gangguan dalam membuat keputusan, risiko terkena penyakit HIV/AIDS, hepatitis, psikotik, depresi, cemas
  • Alkohol : mengganggu fungsi otak dan keterampilan motorik, meningkatkan risiko penyakit kanker, stroke dan liver, mengganggu hubungan relasi dengan orang lain dan kemampuan kerja
  • Obat batuk/DMP/dextromethorphan/kodein :  dapat menyebabkan efek euforia (senang yang berlebihan), efek disosiatif (merasa bukan dirinya), dan halusinasi
Mereka yang mengalami adiksi perlu mendapatkan bantuan dan rehabilitasi. Melakukan konsultasi yang teratur ke profesional kesehatan jiwa akan sangat membantu mengatasi adiksi yang dialami. Melakukan pencegahan terhadap munculnya adiksi pada berbagai lapisan masyarakat adalah hal terpenting yang dapat dilakukan, antara lain dengan penyuluhan yang berkesinambungan, memperbanyak kegiatan-kegiatan positif di tengah masyarakat dan kegiatan keagamaan. Orang dengan masalah kesehatan jiwa (ODMK) perlu segera mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, hindari terapi terapi alternatif yang tidak berbasis bukti karena hanya akan memperlama gangguan tersebut ditangani. Salam sehat jiwa!


dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS. Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Prostitusi dan Kesehatan Jiwa

Tuesday, May 19, 2015 Posted by Unknown No comments
Beberapa kasus prostitusi yang marak diberitakan sekarang ini membuka mata kita bahwa aktivitas seksual yang ilegal ini tetap menjadi ancaman bagi kehidupan bermasyarakat. Prostitusi online dengan menggunakan berbagai sarana teknologi informasi menjadi suatu tren baru yang memudahkan aktivitas ini berlangsung. Hal ini tentunya menjadi ancaman bagi kehidupan keluarga dan juga bagi masa depan kehidupan anak-anak yang menjadi masa depan bangsa. Prostitusi adalah praktek aktivitas seksual yang dilakukan dengan seseorang yang bukan pasangan resminya dengan meminta bayaran.  Mereka yang menjadi pelaku prostitusi disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari perdagangan manusia, pelecehan seksual sebelumnya, masalah ekonomi, dan yang terakhir ini mulai banyak karena gaya hidup. Menjadi pelaku prostitusi memiliki banyak risiko antara lain risiko penularan penyakit menular seksual seperti sifilis, gonore, dan HIV/AIDS. Risiko untuk terkena berbagai gangguan mental pun bisa terjadi seperti gangguan ansietas, depresi, psikotik dan gangguan stres pasca trauma. Risiko untuk menjadi korban perilaku kekerasan dan pembunuhan juga sudah cukup banyak terjadi.  Menjadi pelanggan prostitusi pun memiliki risiko yang sama untuk terkena berbagai masalah kesehatan fisik dan jiwa seperti di atas.

Saat ini perhatian diarahkan pada banyaknya pelaku prostitusi dari kalangan anak remaja dan pelajar yang masih di bawah umur. Hal ini merupakan suatu fenomena yang harus dicegah, disikapi dengan cepat dan tepat. Hal – hal yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya praktek prostitusi dan risiko-risiko yang mengikutinya antara lain adalah :
  • Pendidikan seksual  terhadap anak-anak sesuai dengan usianya agar anak-anak memiliki pemahaman yang benar tentang organ reproduksinya dan kemudian menjaganya dengan baik
  • Pengawasan dan bimbingan terhadap penggunaan gawai dan media sosial pada anak
  • Penjelasan tentang bahaya pelecehan seksual dan perdagangan manusia dan bagaimana menghadapinya
  • Pola asuh yang baik di setiap keluarga supaya anak merasakan tempat yang nyaman di keluarga sehingga tidak mencari ‘kenyamanan’ lain di luar
  • Hubungan suami istri yang terus menerus ditingkatkan sehingga memperkuat ikatan keluarga dalam menghadapi setiap godaan dari luar
  • Pendidikan keagamaan yang kuat akan menjadi benteng terhadap gangguan seperti di atas
Prostitusi sudah ada sejak jaman dahulu dan selalu memberikan ancaman yang jelas terhadap kehidupan bermasyarakat. Mungkin sulit untuk memberantasnya sampai tuntas tetapi tidak lah terlalu sulit untuk mencegahnya dan memulainya dari keluarga kita. Salam sehat jiwa!

Gangguan Stres Pasca Trauma

Monday, May 04, 2015 Posted by Unknown 1 comment
Bencana alam, perang, dan berbagai peristiwa menakutkan lainnya saat ini sedang terjadi di berbagai belahan dunia. Berbagai peristiwa menakutkan yang mengancam tersebut akan meninggalkan suatu ‘bekas menyakitkan’ dalam hidup seseorang yang mengalaminya. Selain masalah fisik yang dialami, trauma psikologis juga tidak jarang menyebabkan suatu masalah dalam kehidupan.  Trauma secara sederhana dapat diartikan sebagai luka yang sangat menyakitkan. Pengalaman traumatis, secara psikologik berarti pengalaman mental yang mengancam kehidupan, dan melampaui ambang kemampuan rata rata orang untuk menanggungnya. Peristiwa tersebut dapat dialami sendiri atau menyaksikan (terlibat langsung) dalam peristiwa tersebut. Pengalaman traumatis mengakibatkan perubahan yang drastis dalam kehidupan seseorang. Pengalaman traumatis mengubah persepsi seseorang terhadap kehidupannya. Pengalaman traumatis dapat mengubah perilaku dan kehidupan emosi seseorang. Termasuk dalam peristiwa traumatis adalah :
- Bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, banjir, tsunami, kebakaran, dll)
- Kekerasan dalam rumah tangga / sekolah (bullying)
- Penyiksaan
- Pemerkosaan
- Kecelakaan yang mengerikan
- Peristiwa peristiwa yang mengancam kelangsungan hidup

Sekitar 10 – 20% korban bencana akan mengalami gangguan mental bermakna, seperti; Gangguan Stres Pasca Trauma,   Depresi, Gangguan Panik, dan berbagai gangguan Anxietas terkait trauma. Mereka ini membutuhkan pertolongan ahli kesehatan jiwa. Gejala-gejala gangguan stres pasca trauma antara lain adalah :
1.       Re-experiencing (seperti mengalami kembali)
2.       Avoidance (penghindaran)
3.       Hyper-arousal (keterjagaan)

Re-experiencing :
        Terbayang bayang selalu akan pengalaman traumatisnya
        Terganggu mimpi buruk akan pengalaman traumatisnya
        Seperti mengalami kembali peristiwa traumatisnya (flash back)
        Merasakan ketegangan psikologis yang terus menerus bila terapar kejadian yang mengingatkan akan pengalaman traumatisnya

Avoidance :
        Senantiasa berusaha untuk menghindari hal hal yang mengingatkannya pada pengalaman   traumatisnya
        Amnesia psikogenik
        Hilang minat terhadap berbagai aktivitas
        Perilaku menarik diri
        Afek/kehidupan emosi menumpul
        Takut memikirkan masa depan

Hyper-arousal :
        Gangguan tidur
        Mudah marah dan tersinggung
        Sulit berkonsentrasi
        Gampang kaget
        Kewaspadaan berlebihan

Gejala-gejala tambahan lainnya adalah :
        Rasa berdosa dan menyalahkan diri
        Depresi, anxietas, marah, berduka
        Perilaku impulsif (compulsive shopping, eating, changes in sexual behavior)
        Keluhan somatik kronis (sakit kepala, gangguan lambung)
        Perilaku destruktif/menyakiti terhadap diri sendiri
        Perubahan kepribadian

Apabila ditemukan gejala-gejala seperti di atas maka sebaiknya segera dibawa ke profesional kesehatan jiwa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Hal ini penting karena bila dibiarkan terlalu lama maka gangguan stres pasca trauma ini dapat mengganggu lebih jauh aktivitas dan fungsi individu yang mengalaminya. Salam sehat jiwa!



Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS. Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Mudahnya Obat Keras Didapat dan Bahayanya bagi Anak Muda

Monday, April 27, 2015 Posted by Unknown 1 comment
Baru-baru ini terungkap adanya apotek di beberapa wilayah yang menjual obat-obatan keras tanpa resep dokter. Terungkap pula bahwa obat-obatan ini banyak dibeli dan dikonsumsi oleh anak muda. Beberapa obat yang dijual bebas tersebut antara lain adalah : Tramadol, Triheksifenidil (Trihex), dan Dextrometorphan (DMP). Obat-obatan tersebut sejatinya adalah obat-obatan keras yang harus dikontrol oleh seorang dokter dalam penggunaannya. Saraf otak adalah target utama obat-obatan tersebut, Tramadol adalah obat sakit kepala yang bekerja di saraf otak, Triheksifenidil adalah obat anti parkinson yang juga bekerja di saraf otak, sedangkan dextrometorphan adalah obat batuk anti tusif yang juga bekerja di saraf otak. Penggunaan obat ini harus hati hati karena apabila berlebihan atau dalam jangka waktu panjang akan mengakibatkan kerusakan pada saraf otak. Gangguan pada sikap, perilaku, emosi dan persepsi bisa terjadi pada penggunaan jangka panjang yang tidak terkontrol. Penggunanya bisa mengalami gangguan penilaian realitas, gangguan pada pola tidur,gangguan saluran pencernaan, gangguan memori, dan kesulitan dalam membuat keputusan.
Pengguna biasanya mencari efek menenangkan dari obat tersebut. Ketidaktahuan akan efek samping dari obat ini mengakibatkan penggunaannya yang marak di kalangan anak muda. Stres kehidupan yang cukup tinggi dan penyelesaian masalah secara instan sepertinya menjadi tren di kalangan anak muda sekarang. Jalan keluar secara singkat seperti itu membuat mental para anak muda menjadi lemah, mereka dengan mudah lari dari masalah meskipun masalah tersebut tidak terselesaikan. Pengaruh dari teman sebaya menjadi sangat vital dalam penggunaan obat-obatan penenang tersebut, remaja dan anak muda sangat mudah dipengaruhi oleh teman sebayanya ketika pada saat yang sama peran orang tua seolah olah hilang dalam kehidupannya.

Obat-obatan lain seperti golongan alprazolam pun saat ini marak sekali penjualannya di media sosial dan internet. Ini memudahkan akses anak muda dalam mendapatkan obat berbahaya ini. Ditambah lagi dengan kurangnya pengawasan dari pihak terkait seperti sekolah, kampus, orang tua dan pemerintah. Kemudahan anak muda dalam mendapatkan obat berbahaya ditambah dengan kurangnya pengawasan yang baik menjadikan Indonesia benar benar dalam keadaan darurat narkoba saat ini.
Semua pihak perlu menyikapi keadaan darurat ini dengan cepat dan tepat. Pengawasan   perlu ditingkatkan diiringi dengan penyuluhan yang terus menerus bagi anak muda di bangku sekolah dan kuliah tentang bahaya dari narkoba. Kegiatan-kegiatan positif seperti kegiatan olah raga, seni, dan keagamaan perlu semakin diperbanyak bagi anak muda. Jangan sampai generasi penerus kita menjadi generasi yang rusak karena narkoba, lawan dan hadapi! Salam sehat jiwa.



Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS. Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor