Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Hidup Bersama Skizofrenia

Monday, October 06, 2014 Posted by Unknown 1 comment

 Pada setiap tanggal 10 Oktober, di seluruh dunia diadakan peringatan hari kesehatan jiwa sedunia (World Mental Health Day). Tahun ini tema yang diangkat adalah “Living with Skizofrenia” (hidup bersama skizofrenia), mencoba mengingatkan kita semua bahwa pasien dengan skizofrenia layak hidup bermartabat dengan kita semua. Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang membuat penderitanya sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan. Saat ini ditemukan bahwa penyebab munculnya gangguan ini adalah adanya ketidakseimbangan zat biokimia di dalam saraf otak penderitanya. Beberapa hal yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan tersebut antara lain adalah : faktor genetik, mereka yang memiliki anggota keluarga yang menderita masalah/gangguan kejiwaan lebih rentan untuk terkena gangguan skizofrenia; adanya penyakit yang berat sebelumnya seperti kejang, penyakit tiroid, riwayat trauma kepala; penggunaan narkoba; situasi kehidupan yang berat yang menjadi stresor secara psikologis seperti adanya kekecewaan, keinginan yang tidak tercapai, kehilangan, dll.

Gangguan skizofrenia ditandai dengan adanya beberapa perubahan dalam sikap, perilaku, dan pikiran dari penderitanya, yaitu : adanya halusinasi (seperti mendengar suara-suara bisikan, melihat bayangan, mencium bau-bau, merasa ada sesuatu di kulitnya, merasa rasa rasa di lidah yang semuanya tida ada sumbernya); adanya waham/delusi (keyakinan/persepsi yang salah seperti : yakin ada yang mau membunuh/berbuat jahat, yakin ada yang memperhatikan, membicarakannya, merasa dirinya adalah sosok yang hebat dan punya kekuatan tertentu, cemburu/curiga yang berlebihan); pembicaraan tidak nyambung/ngaco (yang bersangkutan sulit memahami yang kita bicarakan demikian juga sebaliknya); emosi yang tidak stabil (kadang marah, bisa juga jadi mengisolasi diri, tidak mau bersosialisasi). Semua gejala di atas merupakan akibat dari proses kimiawi yang terjadi di dalam saraf otaknya. Beberapa mitos atau pendapat yang salah di masyarakat yaitu: Skizofrenia adalah penyakit kutukan, akibat santet, guna-guna, kurang iman, dibuat-buat harus mulai diganti dengan pendapat bahwa ini adalah penyakit medis yang bila diterapi dengan cepat dan tepat bisa memberikan kesembuhan yang diharapkan.

Hidup bersama dengan orang dengan skizofrenia bukanlah suatu hal yang tidak mungkin karena setiap pasien memiliki harapan untuk sembuh bila mengikuti strategi terapi yang diberikan. Ada 3 pilar pengobatan skizofrenia yaitu : farmakologi (obat-obatan), psikoterapi (terapi dengan percakapan), dan rehabilitasi (mengembalikan fungsi-fungsi yang sudah hilang). Obat-obatan yang diberikan termasuk ke dalam golongan anti psikotik yaitu obat yang bila digunakan bisa menstabilkan kembali zat kimia di otak penderitanya. Ada 2 golongan obat yang digunakan yaitu generasi lama dan generasi baru yang memiliki manfaat/khasiat yang sama, hanya berbeda pada efek sampingnya. Pemberian obat anti psikotik untuk skizofrenia ini bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu : tablet dan sirup yang diminum, suntik jangka pendek, dan suntik jangka panjang. Psikoterapi adalah suatu bentuk terapi dengan percakapan, pasien-pasien skizofrenia membutuhkan suatu percakapan yang produktif dan konstruktif untuk merubah sudut pandangnya terhadap suatu hal sehingga dia bisa memiliki cara berpikir yang baru dalam menghadapi kehidupan. Rehabilitasi memegang peranan penting dalam terapi skizofrenia karena pasien biasanya memiliki banyak disabilitas yang membuatnya tidak bisa menjalankan kehidupannya dengan baik, kemampuan mengurus diri, berkomunikasi, dan merencanakan sesuatu. Rehabilitasi terdiri dari berbagai upaya program yang memperlengkapi pasien dengan skizofrenia agar mampu kembali ke masyarakat dan berfungsi serta produktif dalam hidupnya. Beberapa terapi seperti latihan keterampilan sosial, latihan vokasional, psikoedukasi, remediasi kognitif, dll akan membuat pasien kembali pada fungsinya yang semula sehingga masa depan yang cerah bisa diraih.

Hidup bersama skizofrenia tidak hanya harapan bagi pasien yang menderita gangguan ini tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat. Mari kita wujudkan bersama hak-hak para penderita skizofrenia dan hidup bersama mereka dalam meraih harapan yang dicita citakan. Salah sehat jiwa


Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)

Ketua SMF Psikiatri RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor 

Jangan Maklum dengan Pikun

Thursday, October 02, 2014 Posted by Unknown No comments

“Dok...orang tua saya sudah pikun tapi sekarang ini banyak perilaku nya yang mengkhawatirkan, seperti sering keluyuran, curiga pada suami, dan marah-marah.” Terdapat suatu pendapat di masyarakat yang cenderung memaklumi bahwa kepikunan adalah suatu hal yang lumrah. Setelah muncul gejala psikologis dan perilaku yang lebih berat, baru pasien dibawa berobat.  Hal ini menyebabkan terjadinya keterlambatan penanganan pasien dengan kepikunan atau di medis disebut dengan demensia.

Usia tua adalah bagian dari periode kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Menjadi tua berarti bertambahnya umur dan mulai berkurangnya fungsi tubuh dan fungsi sosial. Tetapi menjadi tua tidak berarti harus menjadi sakit dan pikun. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk menjadi orang lanjut usia yang sehat. Setiap kita pasti pernah menyaksikan seorang yang sudah lanjut usia menjadi pikun, lupa menaruh barang sehingga menjadi marah karena menganggap ada orang yang menyembunyikan barang yang dicarinya, atau juga sulit untuk mengingat nama orang-orang yang sebenarnya dikenalnya. Bahkan yang paling berat bisa saja orang tua tersebut sulit untuk mengenali benda-benda sekitarnya dan kesulitan mengurus dirinya sendiri.

Demensia / pikun bukan merupakan bagian wajar dari proses menua. Dengan mengetahui gejala dan melakukan penatalaksanaan yang tepat, demensia/pikun dapat dicegah, dihambat, dan disembuhkan sehingga kualitas hidup dapat dipertahankan.  Keberhasilan di bidang kesehatan meningkatkan usia harapan hidup.  Dengan demikian jumlah lansia ( >60tahun) juga akan semakin meningkat jumlahnya. Peningkatan jumlah lansia ini membawa dampak di bidang kesehatan sehingga pola penyakit akan bergeser ke arah penyakit yang berhubungan dengan proses degeneratif otak di antaranya demensia yang di Indonesia popular dengan sebutan pikun.  Keberadaan orang tua yang pikun akan menjadi masalah yang besar terutama dalam perawatan karena penderita ini membutuhkan perawatan paripurna sepanjang hari, hal ini disebabkan pada penderita terjadi gangguan kognitif dan perilaku yang akan memberikan gangguan pada aktivitas harian dan fungsi sosialnya. Selain akan menguras tenaga  dan biaya untuk perawatannya juga menimbulkan stress pada seluruh anggota keluarga.  

Demensia dibagi menjadi demensia alzheimer yang ditandai dengan penurunan fungsi otak yang perlahan dan bertahap, ada juga demensia vaskular yang ditandai dengan penurunan yang cepat dan mendadak dari fungsi otak, dan demensia lainnya. Demensia bila dikenal secara dini dan mendapat penatalaksanaan yang tepat dapat dicegah, dihambat progresifitasnya bahkan disembuhkan pada beberapa keadaan sehingga penderita dapat mempertahankan kualitas hidupnya. Berikut ini adalah gejala-gejala demensia :
·   Mudah menjadi lupa terutama untuk hal yang baru
· Gangguan komunikasi terutama verbal dalam komprehensi, kosa kata, dan keterlambatan mengingat kembali kata yang harus diucapkan
·   Kesulitan dalam melakukan aktivitas harian yang sederhana
·   Kesulitan mengenali tempat dan waktu
·  Penampilan yang memburuk terutama karena tidak memperhatikan kebersihan diri dan berpakaia tidak serasi
·   Kesulitan dalam melakukan penghitu ngan sederhana
·   Salah meletakkan barang dan curiga seseorang telah mencurinya
·   Perubahan perasaan dan perilaku sehingga sering murung, marah-marah, keluyuran, gelisah sampai agresif
·   Perubahan kepribadian
·  Hilang minat dan inisiatif

Orang tua yang memiliki gejala-gejala di atas perlu segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan gejala demensia yang dialaminya. Penanganan yang kemudian diberikan pada orang tua yang mengalami demensia antara lain adalah :
·  Obat-obatan : beberapa obat seperti Donapezil HCl, Rivastigmin dapat menghambat dan memperbaiki demensia yang terjadi
·      Mengatur pola hidup yang sehat : makan makanan bergizi yang sehat, perbanyak makan sayur dan buah, olah raga yang teratur, tidur yang cukup, cara berpikir yang positif dan rasional
·     Melakukan beberapa tips berikut ini :
Tips merawat daya ingat :
o olah raga atau relaksasi teratur (jalan santai, senam jantung/pernapasan, tenis, yoga, meditasi, tai-chi, dll)
o   makan makanan kaya omega 3, antioksidan, serat, biji2an/karbohidrat kompleks
o   sosialisasi (arisan, organisasi RT, perkumpulan keagamaan, dll)
o   membaca (buku, koran)
o   asah otak (TTS, scrabble, catur, kartu)
o   belajar hal baru (bahasa, menjahit/merajut)

·         Tips membantu daya ingat :
o   buat jembatan keledai (kata kunci, asosiasi nama-wajah)
o   selalu letakkan barang (kunci, kacamata) pada satu tempat
o beri tanda di kalender/agenda atau buat catatan yang ditempel di tempat yang sering dilewati (pintu, kulkas) untuk mengingat apa yang akan dilakukan
o   sering mengulang dalam hati hal yang ingin diingat

Demensia/kepikunan bukan suatu hal yang lumrah dan perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang serius.  Jadi jangan maklum dengan pikun! Salam sehat jiwa.

 

Oleh :
Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS.Marzoeki Mahdi Bogor