Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Hidup Bersama Skizofrenia

Monday, October 06, 2014 Posted by Unknown 1 comment

 Pada setiap tanggal 10 Oktober, di seluruh dunia diadakan peringatan hari kesehatan jiwa sedunia (World Mental Health Day). Tahun ini tema yang diangkat adalah “Living with Skizofrenia” (hidup bersama skizofrenia), mencoba mengingatkan kita semua bahwa pasien dengan skizofrenia layak hidup bermartabat dengan kita semua. Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang membuat penderitanya sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan. Saat ini ditemukan bahwa penyebab munculnya gangguan ini adalah adanya ketidakseimbangan zat biokimia di dalam saraf otak penderitanya. Beberapa hal yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan tersebut antara lain adalah : faktor genetik, mereka yang memiliki anggota keluarga yang menderita masalah/gangguan kejiwaan lebih rentan untuk terkena gangguan skizofrenia; adanya penyakit yang berat sebelumnya seperti kejang, penyakit tiroid, riwayat trauma kepala; penggunaan narkoba; situasi kehidupan yang berat yang menjadi stresor secara psikologis seperti adanya kekecewaan, keinginan yang tidak tercapai, kehilangan, dll.

Gangguan skizofrenia ditandai dengan adanya beberapa perubahan dalam sikap, perilaku, dan pikiran dari penderitanya, yaitu : adanya halusinasi (seperti mendengar suara-suara bisikan, melihat bayangan, mencium bau-bau, merasa ada sesuatu di kulitnya, merasa rasa rasa di lidah yang semuanya tida ada sumbernya); adanya waham/delusi (keyakinan/persepsi yang salah seperti : yakin ada yang mau membunuh/berbuat jahat, yakin ada yang memperhatikan, membicarakannya, merasa dirinya adalah sosok yang hebat dan punya kekuatan tertentu, cemburu/curiga yang berlebihan); pembicaraan tidak nyambung/ngaco (yang bersangkutan sulit memahami yang kita bicarakan demikian juga sebaliknya); emosi yang tidak stabil (kadang marah, bisa juga jadi mengisolasi diri, tidak mau bersosialisasi). Semua gejala di atas merupakan akibat dari proses kimiawi yang terjadi di dalam saraf otaknya. Beberapa mitos atau pendapat yang salah di masyarakat yaitu: Skizofrenia adalah penyakit kutukan, akibat santet, guna-guna, kurang iman, dibuat-buat harus mulai diganti dengan pendapat bahwa ini adalah penyakit medis yang bila diterapi dengan cepat dan tepat bisa memberikan kesembuhan yang diharapkan.

Hidup bersama dengan orang dengan skizofrenia bukanlah suatu hal yang tidak mungkin karena setiap pasien memiliki harapan untuk sembuh bila mengikuti strategi terapi yang diberikan. Ada 3 pilar pengobatan skizofrenia yaitu : farmakologi (obat-obatan), psikoterapi (terapi dengan percakapan), dan rehabilitasi (mengembalikan fungsi-fungsi yang sudah hilang). Obat-obatan yang diberikan termasuk ke dalam golongan anti psikotik yaitu obat yang bila digunakan bisa menstabilkan kembali zat kimia di otak penderitanya. Ada 2 golongan obat yang digunakan yaitu generasi lama dan generasi baru yang memiliki manfaat/khasiat yang sama, hanya berbeda pada efek sampingnya. Pemberian obat anti psikotik untuk skizofrenia ini bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu : tablet dan sirup yang diminum, suntik jangka pendek, dan suntik jangka panjang. Psikoterapi adalah suatu bentuk terapi dengan percakapan, pasien-pasien skizofrenia membutuhkan suatu percakapan yang produktif dan konstruktif untuk merubah sudut pandangnya terhadap suatu hal sehingga dia bisa memiliki cara berpikir yang baru dalam menghadapi kehidupan. Rehabilitasi memegang peranan penting dalam terapi skizofrenia karena pasien biasanya memiliki banyak disabilitas yang membuatnya tidak bisa menjalankan kehidupannya dengan baik, kemampuan mengurus diri, berkomunikasi, dan merencanakan sesuatu. Rehabilitasi terdiri dari berbagai upaya program yang memperlengkapi pasien dengan skizofrenia agar mampu kembali ke masyarakat dan berfungsi serta produktif dalam hidupnya. Beberapa terapi seperti latihan keterampilan sosial, latihan vokasional, psikoedukasi, remediasi kognitif, dll akan membuat pasien kembali pada fungsinya yang semula sehingga masa depan yang cerah bisa diraih.

Hidup bersama skizofrenia tidak hanya harapan bagi pasien yang menderita gangguan ini tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat. Mari kita wujudkan bersama hak-hak para penderita skizofrenia dan hidup bersama mereka dalam meraih harapan yang dicita citakan. Salah sehat jiwa


Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)

Ketua SMF Psikiatri RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor 

Jangan Maklum dengan Pikun

Thursday, October 02, 2014 Posted by Unknown No comments

“Dok...orang tua saya sudah pikun tapi sekarang ini banyak perilaku nya yang mengkhawatirkan, seperti sering keluyuran, curiga pada suami, dan marah-marah.” Terdapat suatu pendapat di masyarakat yang cenderung memaklumi bahwa kepikunan adalah suatu hal yang lumrah. Setelah muncul gejala psikologis dan perilaku yang lebih berat, baru pasien dibawa berobat.  Hal ini menyebabkan terjadinya keterlambatan penanganan pasien dengan kepikunan atau di medis disebut dengan demensia.

Usia tua adalah bagian dari periode kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Menjadi tua berarti bertambahnya umur dan mulai berkurangnya fungsi tubuh dan fungsi sosial. Tetapi menjadi tua tidak berarti harus menjadi sakit dan pikun. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk menjadi orang lanjut usia yang sehat. Setiap kita pasti pernah menyaksikan seorang yang sudah lanjut usia menjadi pikun, lupa menaruh barang sehingga menjadi marah karena menganggap ada orang yang menyembunyikan barang yang dicarinya, atau juga sulit untuk mengingat nama orang-orang yang sebenarnya dikenalnya. Bahkan yang paling berat bisa saja orang tua tersebut sulit untuk mengenali benda-benda sekitarnya dan kesulitan mengurus dirinya sendiri.

Demensia / pikun bukan merupakan bagian wajar dari proses menua. Dengan mengetahui gejala dan melakukan penatalaksanaan yang tepat, demensia/pikun dapat dicegah, dihambat, dan disembuhkan sehingga kualitas hidup dapat dipertahankan.  Keberhasilan di bidang kesehatan meningkatkan usia harapan hidup.  Dengan demikian jumlah lansia ( >60tahun) juga akan semakin meningkat jumlahnya. Peningkatan jumlah lansia ini membawa dampak di bidang kesehatan sehingga pola penyakit akan bergeser ke arah penyakit yang berhubungan dengan proses degeneratif otak di antaranya demensia yang di Indonesia popular dengan sebutan pikun.  Keberadaan orang tua yang pikun akan menjadi masalah yang besar terutama dalam perawatan karena penderita ini membutuhkan perawatan paripurna sepanjang hari, hal ini disebabkan pada penderita terjadi gangguan kognitif dan perilaku yang akan memberikan gangguan pada aktivitas harian dan fungsi sosialnya. Selain akan menguras tenaga  dan biaya untuk perawatannya juga menimbulkan stress pada seluruh anggota keluarga.  

Demensia dibagi menjadi demensia alzheimer yang ditandai dengan penurunan fungsi otak yang perlahan dan bertahap, ada juga demensia vaskular yang ditandai dengan penurunan yang cepat dan mendadak dari fungsi otak, dan demensia lainnya. Demensia bila dikenal secara dini dan mendapat penatalaksanaan yang tepat dapat dicegah, dihambat progresifitasnya bahkan disembuhkan pada beberapa keadaan sehingga penderita dapat mempertahankan kualitas hidupnya. Berikut ini adalah gejala-gejala demensia :
·   Mudah menjadi lupa terutama untuk hal yang baru
· Gangguan komunikasi terutama verbal dalam komprehensi, kosa kata, dan keterlambatan mengingat kembali kata yang harus diucapkan
·   Kesulitan dalam melakukan aktivitas harian yang sederhana
·   Kesulitan mengenali tempat dan waktu
·  Penampilan yang memburuk terutama karena tidak memperhatikan kebersihan diri dan berpakaia tidak serasi
·   Kesulitan dalam melakukan penghitu ngan sederhana
·   Salah meletakkan barang dan curiga seseorang telah mencurinya
·   Perubahan perasaan dan perilaku sehingga sering murung, marah-marah, keluyuran, gelisah sampai agresif
·   Perubahan kepribadian
·  Hilang minat dan inisiatif

Orang tua yang memiliki gejala-gejala di atas perlu segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan gejala demensia yang dialaminya. Penanganan yang kemudian diberikan pada orang tua yang mengalami demensia antara lain adalah :
·  Obat-obatan : beberapa obat seperti Donapezil HCl, Rivastigmin dapat menghambat dan memperbaiki demensia yang terjadi
·      Mengatur pola hidup yang sehat : makan makanan bergizi yang sehat, perbanyak makan sayur dan buah, olah raga yang teratur, tidur yang cukup, cara berpikir yang positif dan rasional
·     Melakukan beberapa tips berikut ini :
Tips merawat daya ingat :
o olah raga atau relaksasi teratur (jalan santai, senam jantung/pernapasan, tenis, yoga, meditasi, tai-chi, dll)
o   makan makanan kaya omega 3, antioksidan, serat, biji2an/karbohidrat kompleks
o   sosialisasi (arisan, organisasi RT, perkumpulan keagamaan, dll)
o   membaca (buku, koran)
o   asah otak (TTS, scrabble, catur, kartu)
o   belajar hal baru (bahasa, menjahit/merajut)

·         Tips membantu daya ingat :
o   buat jembatan keledai (kata kunci, asosiasi nama-wajah)
o   selalu letakkan barang (kunci, kacamata) pada satu tempat
o beri tanda di kalender/agenda atau buat catatan yang ditempel di tempat yang sering dilewati (pintu, kulkas) untuk mengingat apa yang akan dilakukan
o   sering mengulang dalam hati hal yang ingin diingat

Demensia/kepikunan bukan suatu hal yang lumrah dan perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang serius.  Jadi jangan maklum dengan pikun! Salam sehat jiwa.

 

Oleh :
Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)
Kepala SMF Psikiatri RS.Marzoeki Mahdi Bogor

Mengenali Tanda – Tanda Stres Dan Penanganannya

Tuesday, September 16, 2014 Posted by Unknown 1 comment

                Kehidupan modern saat ini menuntut segala sesuatu yang lebih cepat yang menyebabkan munculnya berbagai tekanan dalam hidup. Masalah di tempat kerja, kuliah, sekolah dan keluarga yang menuntut suatu penyelesaian menyebabkan seseorang dalam keadaan frustasi dan tertekan sehingga memunculkan berbagai gejala stres.  Sebenarnya stres dalam jumlah yang kecil dan singkat bisa membuat performa kita menjadi lebih baik, contoh: stres dalam tugas di kantor membuat kita lebih giat menyelesaikan sehingga kemampuan dan keterampilan kita menjadi meningkat, stres karena akan menghadapi ujian membuat seorang mahasiswa belajar dengan lebih sungguh dan mengatur waktu sebaik-baiknya. Jadi stres ada 2 bentuk, yang positif (disebut juga eustress) membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik, dan ada juga yang negatif (distress) yang menyebabkan munculnya berbagai masalah psikologis yang menyebabkan terganggunya fungsi dan produktivitas.  Setiap orang akan memberikan respons stres yang berbeda dalam menghadapi stresor yang terjadi dalam hidupnya. Respon stres ini sebenarnya bertujuan menyelamatkan kita, memberikan kita kesiapsiagaan dalam menghadapi suatu tantangan. Pada saat sedang stres, tubuh mengeluarkan berbagai hormon seperti kortisol dan adrenalin yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan kuat, meningkatkan aliran darah, mengencangkan otot-otot, dan menyiagakan seluruh panca indera. Ini semua terjadi bertujuan agar kita siap menghadapi ancaman/tantangan yang ada di depan kita. Ini membuat kita kuat berdiri saat presentasi, membuat kita bisa lebih konsentrasi dalam belajar daripada menonton TV, membuat kita berlari lebih kencang dalam sebuah perlombaan. Jadi sebenarnya stres cukup baik juga ya bagi hidup kita?!
                Tetapi stres ternyata juga bisa berdampak negatif apabila terjadi dalam porsi yang lebih besar dan waktu yang lebih lama. Beberapa gejala stres yang negatif antara lain adalah :
1.       Gejala kognitif           :
a.       Masalah memori
b.      Sulit berkonsentrasi
c.       Membuat keputusan yang buruk
d.      Hanya melihat dari sudut pandang yang negatif
e.      Rasa cemas terhadap berbagai hal yang terus menerus muncul
2.       Gejala fisik                  :
a.       Gatal/nyeri di berbagai bagian tubuh
b.      Diare / sulit buang air besar
c.       Mual dan pusing
d.      Nyeri dada dan jantung berdebar
e.      Hasrat seksual yang menurun
f.        Terasa dingin di ujung jari
3.       Gejala emosi              :
a.       Mood yang labil
b.      Mudah emosi/marah/tersinggung
c.       Gelisah, tidak bisa tenang
d.      Merasa sendirian dan terisolasi
e.      Depresi, sedih, perasaan tidak gembira
4.       Gejala perilaku          :
a.       Nafsu makan meningkat / menurun
b.      Sulit tidur / terlalu banyak tidur
c.       Tidak mau bersosialisasi/bergaul
d.      Menunda-nunda pekerjaan dan tanggung jawab
e.      Menggunakan alkohol, merokok, narkoba untuk mencoba rileks
f.        Perilaku cemas: menggigit kuku, mondar mandir, melirik kiri kanan

Apabila ditemukan gejala-gejala seperti di atas berarti, gejala negatif stres sedang menghinggapi kita. Ini hal yang kurang baik, ada yang tidak pas dengan keseimbangan mental kita dan perlu dilakukan intervensi agar bisa kembali normal. Manajemen stres adalah cara kita menghadapi dan mengelola stresor yang sedang kita hadapi, yang dapat dilakukan dengan cara :
1.    Avoid (hindari) : apabila memungkinkan kita hindari sumber stresor yang menyebabkan kita stres.
2.  Alter (rubah) : apabila kita tidak bisa menghindarinya maka kita bisa coba merubahnya, coba libatkan orang lain dalam menghadapi stresor yang sedang kita hadapi
3.    Adapt (beradaptasi) : Saat stresor tidak bisa dihindari dan dirubah maka kita bisa mengatur respon kita terhadap stresor tersebut ke arah yang lebih positif. Fokus pada hal-hal yang menggembirakan dan menyenangkan dari pekerjaan kita tersebut
4. Accept (terima) : belajar untuk menerima suatu keadaan dalam hidup kita meski itu rasa menyakitkan dan menyedihkan, tetapi itulah bagian warna warni kehidupan kita. Pelajari hikmah yang kita dapatkan dari kejadian ini.

Beberapa tips yang bisa dilakukan dalam mengelola stres adalah :
·     Lakukan relaksasi otot dan mengatur pernafasan sehingga tubuh terasa rileks setiap kali merasa stres
·        Lakukan olah raga yang teratur
·   Makan makanan yang sehat dan bergizi, hindari makanan dengan banyak bumbu penyedap, pengawet dan pewarna yang berlebihan
·       Tidur yang cukup setiap harinya
·      Beribadah dan berdoa akan membuat kita merasa tenang dan jauh dari stres

Mari kita kenali gejala stres dan lakukan manajemen stres yang baik agar hidup tetap bisa berwarna dan ceria. Semangat menjalani hidup dan jauh dari efek negatif stres. Salam sehat jiwa
 


Oleh :
Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)

Kepala SMF Psikiatri RS.Marzoeki Mahdi Bogor  

Menderita Gangguan Kejiwaan Bukanlah Akhir Segalanya

Tuesday, August 26, 2014 Posted by Unknown 2 comments

Pada sebuah pertemuan (kopi darat) Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bogor minggu lalu banyak dari antara peserta pertemuan yang menceritakan bagaimana mereka bisa bangkit dan pulih dari gangguan jiwa yang mereka derita. Acara yang digelar secara rutin di RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor ini merupakan suatu bentuk acara kelompok swabantu masyarakat untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam hal kesehatan jiwa. Gangguan kejiwaan adalah gangguan yang ditandai dengan adanya perubahan pada sikap, pikiran, perilaku dan emosi yang membuat orang yang mengalaminya menjadi terganggu dalam pekerjaan/aktivitas dan relasi sosial dengan orang lain. Gangguan kejiwaan banyak bentuknya, mulai dari yang sangat ringan seperti sulit tidur, sakit kepala, sakit perut  yang disebabkan karena adanya masalah/situasi kehidupan yang sulit, sampai pada gangguan kejiwaan yang berat yang disebut skizofrenia, depresi,  bipolar, dll yang biasanya ditandai dengan adanya gangguan dalam penilaian realitas dan perubahan mood yang mendadak (mood swing).  Setiap gangguan / masalah kejiwaan perlu ditanggapi dengan serius dengan melakukan beberapa langkah di bawah ini :
·    Identifikasi stresor (pencetus) yang dialami, kadang kita tidak menyadari apa yang menyebabkan terjadinya perubahan sikap, perasaan, perilaku dan emosi yang kita rasakan, dengan mengetahui/mengidentifikasinya maka akan lebih mudah selanjutnya kita mencari jalan keluar
·       Lakukan intervensi / penanganan terhadap stresor tersebut, dengan cara mencoba menyelesaikannya, meminta orang lain untuk membantu menyelesaikannya, mengalihkan perhatian kepada hal yang lain dan tidak terlalu fokus pada masalah tersebut.
·      Mencoba lebih santai dan rileks. Stres akan menimbulkan ketegangan pada otot di beberapa bagian tubuh dan ini yang sering menyebabkan munculnya keluhan seperti sakit kepala, sakit perut, berdebar-debar, nafas cepat dan pendek, kesemutan, dll. Relaksasi akan membantu membuat otot-otot tubuh menjadi lebih santai dan rileks sehingga keluhan-keluhan tadi bisa berkurang dan hilang.
·      Melakukan aktivitas yang menyenangkan. Memiliki hobi tertentu merupakan cara menghindari stres, olah raga, memasak, berkebun, dll membuat tubuh kita mengeluarkan endorfin yaitu zat baik bagi tubuh saat kita melakukan aktivitas yang menyenangkan
·   Berkonsultasi pada profesional di bidang kesehatan jiwa seperti psikiater, dokter umum terlatih, perawat jiwa, psikolog, pekerja sosial yang akan memberikan terapi yang dibutuhkan apabila gangguan/masalah kejiwaan yang dihadapi sulit untuk diselesaikan.

Pada acara KPSI di atas banyak mereka yang mengalami gangguan kejiwaan seperti psikotik, skizofrenia dan bipolar sebelumnya tidak bisa berfungsi dalam pekerjaan dan aktivitas sosial. Tetapi dengan berkonsultasi rutin, minum obat teratur, dukungan keluarga dan masyarakat, sebagian besar bisa pulih, sehat, bebas dari gejala dan yang terpenting mulai produktif kembali di keluarga dan masyarakat.
Kekambuhan menjadi suatu hal yang terpenting dipahami pada mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Ada hal-hal tertentu yang perlu dipahami antara lain yaitu konsultasi yang rutin perlu dilakukan untuk melihat perkembangan dari gejala yang dialami meskipun keadaan sudah lebih baik/sehat. Lakukan pola hidup yang sehat seperti makan makanan yang bergizi, menghindari makanan yang mengandung banyak bumbu penyedap, pengawet dan pewarna, pola tidur yang cukup dan teratur, olah raga yang rutin, cara berpikir yang positif dan rasional, tidak terlalu tertutup bila ada masalah, dan ibadah yang teratur. Apabila hal itu dilakukan dengan baik maka kekambuhan bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti. Kota Bogor memiliki tenaga-tenaga kesehatan yang cukup terlatih dalam mendeteksi dan melakukan penanganan terhadap masalah kesehatan jiwa mulai dari kader sampai pada profesional seperti psikiater. Stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) juga harus dihilangkan karena mereka juga memiliki hak dan kesempatan untuk hidup yang layak setelah sehat dan pulih dari gangguan yang diderita.

Jadi, menderita gangguan kejiwaan bukanlah akhir dari segalanya. Ketekunan dan kedisiplinan dalam menjalankan terapi, dukungan keluarga dan masyarakat dan semangat untuk mulai beraktivitas akan membuat masa depan bagi para ODMK bisa tetap cerah. Salam Sehat Jiwa


Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)

Kepala SMF Psikiatri RS. Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Kekerasan Pada Anak Dan Dampaknya

Wednesday, August 13, 2014 Posted by Unknown No comments
Akhir-akhir ini banyak sekali kita saksikan dan dengarkan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang / sekelompok orang pada orang lain. Kekerasan yang dilakukan bisa memiliki banyak alasan dan motivasi tetapi suatu perilaku kekerasan yang dilakukan memiliki suatu dasar pengalaman kekerasan pada masa sebelumnya. Salah satunya adalah pengalaman mengalami perlakuan kekerasan pada masa kecil.   

Kekerasan terhadap anak merupakan semua bentuk tindakan/perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi komersial atau eksploitasi lainnya yang mengakibatkan cidera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab.
     Kekerasan fisik adalah kekerasan yang mengakibatkan cidera fisik nyata ataupun potensial terhadap anak sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi yang layaknya ada dalam kendali orang tua atau orang dalam hubungan posisi tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan.
    Kekerasan seksual adalah pelibatan anak dalam kegiatan seksual, di mana ia sendiri tidak sepenuhnya memahami, atau tidak mampu memberi persetujuan. Kekerasan seksual ditandai dengan adanya aktivitas seksual antara anak dengan orang dewasa atau anak lain. Aktivitas tersebut ditujukan untuk memberikan kepuasan bagi orang tersebut. Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual dalam prostitusi atau pornografi, pemaksaan anak untuk melihat kegiatan seksual, memperlihatkan kemaluan kepada anak untuk tujuan kepuasan seksual, stimulasi seksual, perabaan, memaksa anak untuk memegang kemaluan orang lain, hubungan seksual, perkosaan, hubungan seksual yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan darah (incest) dan sodomi.
     Kekerasan emosional adalah suatu perbuatan terhadap anak yang mengakibatkan atau sangat mungkin akan mengakibatkan gangguan kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Beberapa contoh kekerasan emosional adalah pembatasan gerak, sikap tindak meremehkan anak, mencemarkan, mengkambinghitamkan, mengancam, menakut-nakuti, mendiskriminasi, mengejek, atau menertawakan, atau perlakukan lain yang kasar atau penolakan.
     Penelantaran anak adalah kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya seperti kesehatan, pendidikan, perkembangan emosional, nutrisi, rumah  atau tempat bernaung, dan keadaan hidup yang aman yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau pengasuh. Penelantaran anak dapat mengakibatkan gangguan kesehatan, gangguan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral, dan sosial. Kelalaian di bidang kesehatan seperti penolakan atau penundaan memperoleh layanan kesehatan, tidak memperoleh kecukupan gizi, perawatan medis, mental, gigi, dan pada keadaan lainnya yang bila tidak dilakukan akan dapat mengakibatkan penyakitnya atau gangguan tumbuh kembang. Kelalaian di bidang bidang pendidikan meliputi pembiaran mangkir (membolos) sekolah yang berulang, tidak menyekolahkan pada pendidikan yang wajib diikuti setiap anak, atau kegagalan memenuhi kebutuhan pendidikan yang khusus. Kelalaian di bidang fisik meliputi pengusiran dari rumah atau menolak sekembalinya anak dari kabur dan pengawasan yang tidak memadai. Kelalaian dalam bidang emosional melipti kurangnya perhatian atas kebutuhan kasih sayang, penolakan atau kegagalan memberikan perawatan psikologis, kekerasan terhadap pasangan di hadapan anak dan pembiaran penggunaan rokok, alkohol dan narkoba oleh anak.

DAMPAK KEKERASAN TERHADAP ANAK

            Korban atau kasus anak yang mengalami kekerasan dapat berdampak jangka pendek ataupun jangka panjang.
1.      Jangka pendek. Dampak jangka pendek terutama berhubungan dengan masalah fisik antara lain : lebam, lecet, luka bakar, patah tulang, kerusakan organ, robekan selaput dara, keracunan, gangguan susunan saraf pusat. Di samping itu seringkali terjadi gangguan emosi atau perubahan perilaku seperti pendiam, menangis, dan menyendiri.  
2.     Jangka panjang. Dampak jangka panjang dapat terjadi pada kekerasan fisik, seksual, maupun emosional.
a.     Kekerasan fisik. Kecacatan yang dapat mengganggu fungsi tubuh anggota tubuh
b. Kekerasan seksual. Kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, gangguan /kerusakan organ reproduksi.  
c.  Kekerasan emosional. Tidak percaya diri, hiperaktif, sukar bergaul, rasa malu dan bersalah, cemas, depresi, psikosomatik, gangguan pengendalian diri, suka mengompol, kepribadian ganda, gangguan tidur, psikosis, dan penggunaan napza.


PENANGANAN  KEKERASAN PADA ANAK

Pertama :  Pencegahan. Aktivitas pencegahan ini dapat dilakukan secara bersama dalam bentuk sosialisasi hak-hak anak dan sejumlah peraturan ditengah-tengah kehidupan masyarakat dan keluarga.
Kedua : Deteksi Dini. bagi anak-anak yang rentan terhadap terjadinya kekerasan serta dalam lingkungan keluarga dan masyarakat perlu dilakukan langkah cepat (quick respons) untuk mengevakuasi sementara anak ke tempat yang aman, serta memberikan peringatan dini kepada lingkungan keluarga yang rentan melakukan kekerasan. Artinnya, bagi anak-anak yang rentan terhadap kekerasan sedini mungkin bisa dihindari.
Ketiga :  Intervensi Krisis. Bagi anak-anak yang telah mengalami kekerasan, langkah yang perlu dilakukan melalui pendekatan Intervensi Krisis. Aktivitas ini dilakukan dengan metoda mendampingi korban dan keluarga korban untuk melakukan upaya hukum, dan melakukan terapy terhadap trauma yang diakibatkan oleh tindak kekerasan.

MENGHINDARI KEKERASAN PADA ANAK

Ada beberapa upaya yang patut dilakukan agar kita dapat terhindar dari kekerasan terhadap anak diantaranya adalah :  Hargai anak dan bersikap adil : Ciptakanlah suasana hangat dan penuh kasih sayang di lingkungan anak. Berilah penghargaan bila anak melakukan perbuatan terpuji dan beritahu kesalahannya bila melakukan tindakan tidak baik. Dengan demikian anak belajar menghargai orang lain, terutama orang tuanya.

       Dengarkan keluhan anak. Bila anak berperilaku buruk, seperti melawan, suka memukul atau berbohong, maka pahamilah lebih dahulu perasaaanya dan dengarkanlah penolakan dan keluhannya.
       Ungkapkan dengan jelas ketidaksetujuan anda ketika anak berperilaku tidak baik.
       Hindari ungkapan yang memojokan dan menyalahkan anak. Hindari kata-kata menghardik seperti“Ayo, cepat mandi, mama tidak suka punya anak bau dan pemalas!” 
      Gunakanlah kata-kata mengajak, “Yuk mandi sayang, supaya wangi dan bersih. Setelah itu, kita jalan-jalan”.
       Peringatan lebih awal. Ketika anda ingin anak anda melakukan sesuatu, cobalah ingatkan  lebih awal dan berikan pilihan serta penjelasan. Misalnya, “Nak, sepuluh menit lagi waktunya tidur ya, supaya besok pagi kamu tidak terlambat bangun  dan tidak mengantuk ketika sekolah” .
   Menghindar ketika marah (time out). Ketika anda marah karena perilaku anak, maka menghindarlah seketika dari anak-anak kemudian tenangkanlah diri anda, setelah itu dialogkan dengan anak, mengapa anda marah.
   Berupaya lebih akrab. Binalah hubungan yang lebih hangat dan akrab dengan anak, sehingga anak  menjadi lebih terbuka pada orang tua.
     Jadilah contoh bagi anak dalam menanamkan nilai-nilai moral  dan sosial yang berlaku. Dunia anak adalah dunia yang penuh kegembiraan dan keceriaan, karena itu kekerasan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi  anak-anak. 

 Dr.Lahargo Kembaren, SpKJ

Psikiater RS.Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor    

Gangguan Depresi di Sekitar Kita

Wednesday, August 13, 2014 Posted by Unknown No comments
Pernahkah kita melihat seseorang yang biasanya ceria tiba tiba menjadi murung dan terlihat sedih? Atau seorang anak yang biasanya rajin dan semangat pergi ke sekolah tiba-tiba menjadi malas dan enggan untuk masuk sekolah dan beraktivitas? Orang tua yang memiliki banyak keluhan nyeri di bagian-bagian tubuhnya? Itu semua adalah merupakan gejala gejala dari suatu gangguan yang kita sebut depresi. Saat ini depresi merupakan penyakit global yang menyebabkan seseorang menjadi tidak produktif dalam hidupnya. Depresi juga menyebabkan seseorang ingin melakukan tindakan bunuh diri atau melukai dirinya karena merasa bahwa dirinya tidak memiliki harapan.

Mari kita mengenal gejala gejala depresi ini sejak dini karena apabila bisa ditangani dengan cepat maka depresi bisa cepat pulih dan yang bersangkutan bisa produktif dan menjalankan fungsinya kembali. Gejala depresi yang utama dikenal dengan TRIAS DEPRESI, yaitu :
1.       Mood yang depresif, perasaan sedih, menangis, murung
2.       Kehilangan minat, kegembiraan, dan hobi
3.       Mudah lelah, lesu, seperti tidak bertenaga

Gejala-gejala utama depresi di atas dapat juga disertai dengan gejala-gejala tambahan seperti :
·         Perubahan pada pola tidur, menjadi sulit tidur atau tidurnya terlalu banyak
·         Perubahan pola makan, semakin banyak makan atau tidak nafsu makan
·         Perasaan bersalah/berdosa
·         Perubahan pada pola tingkah laku, menjadi serba lamban dalam mengerjakan segala sesuatu
·         MADESU (masa depan suram), merasa tidak memiliki masa depan
·         Sulit berpikir, konsentrasi dan tidak bisa belajar
·         Merasa sulit untuk membuat keputusan
·         Berulang-ulang memikirkan tentang kematian/ingin bunuh diri
·        Merasakan berbagai keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, mual, nyeri sendi yang tidak pernah           sembuh
·         Mudah tersinggung dan sensitif


Apabila ditemukan gejala gejala seperti di atas selama minimal 2 minggu maka orang tersebut bisa dipastikan menderita depresi.
Depresi disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari faktor keturunan, riwayat depresi sebelumnya, mendapatkan obat-obatan yang diminum rutin yang memicu depresi seperti obat golongan steroid, riwayat penyakit berat dan menahun, permasalahan dalam kehidupan yang tidak didapatkan solusi/jalan keluarnya, keinginan yang tidak tercapai, kehilangan seseorang/sesuatu yang sangat dikasihi, kekecewaan dalam hidup, dll.
Depresi adalah masalah kejiwaan yang dapat ditangani dan disembuhkan, tidak usah khawatir berlebihan. Penanganan gangguan depresi dilakukan dengan melakukan terapi, antara lain:
  • Farmakologi : obat anti depresan memiliki peranan penting dalam memulihkan dengan cepat gejala-gejala depresi karena dalam banyak penelitian ddaptkan bahwa gangguan keseimbangan zat kimia di otaklah yang menyebabkan seseorang mengalami gejala depresi. Meminum obat anti depresan dengan teratur sesuai dosis akan menjamin seseorang lepas dari gejala depresi yang dialaminya
  • Psikoterapi : terapi tanpa menggunakan obat, yang paling umum dilakukan adalah Terapi Pikiran dan Perilaku (CBT=cognitive behaviour therapy), ini adalah terapi yang mengajak seseorang untuk mengenali pikiran-pikiran yang tidak rasional dan menggantinya dengan pikiran yang lebih positif dan rasional
  • Hipnoterapi : terapi ini dilakukan dengan melakukan relaksasi pada seseorang yang kemudian dilanjutkan dengan memberikan sugesti-sugesti positif
  • Dukungan keluarga dan masyarakat :keluarga yang hangat, penuh perhatian dan sering mengajak ngobrol, memotivasi akan membuat orang dengan depresi menjadi lebih baik keadaannya. Demikian juga dengan masyarakat yang tidak memberikan stigma negatif pada penderita depresi akan membuat pasien depresi menjadi cepat pulih

Depresi bisa mengenai siapa saja, anak-anak, remaja, dewasa dan juga orang tua. Depresi juga bisa terjadi pada berbagai lapisan masyarakat baik yang ekonomi rendah/tinggi, pendidikan rendah/tinggi. Tidak usah malu atau rendah diri bila mengalami gejala depresi, segera berkonsultasi kepada tenaga kesehatan profesional di bidang kesehatan jiwa di Puskesmas, RSUD, RS jiwa seperti dokter umum, perawat, atau psikiater untuk mendapatkan pertolongan segera.
Gangguan depresi dapat ditangani dengan cepat bila deteksi dan penanganan juga dilakukan dengan cepat dan tepat. Salam sehat jiwa!

Dr.Lahargo Kembaren, SpKJ

Psikiater RS jiwa Marzoeki Mahdi Bogor

Gangguan Bipolar Membuat Mood Berubah-ubah

Wednesday, August 13, 2014 Posted by Unknown 1 comment
Gangguan bipolar adalah gangguan yang dapat membuat mood seseorang yang normal dapat menjadi sangatekstrim sehingga disebut manik depresif. Orang dengan gangguan bipolar memiliki mood yang tidak menentu(mood swing). Moodnya dapat berayun dari yang paling rendah (depresi) ke yang paling tinggi (mania). Saatsedang depresi, gejala yang terberat adalah risiko melakukan perilaku bunuh diri, sedangkan saat manik, yang terberat adalah perilaku berisiko yang bisa mengganggu dalam pekerjaan, relasi sosial dan masyarakat.   

Apakah Gangguan Bipolar itu ?
Gangguan bipolar (gangguan manik depresi) adalah gangguan biologi yang cukup berat yang mengenai lebih dari 1 % dari populasi. Sebagai manusia kita pernah merasakan berbagai macam bentuk mood yaitu : gembira, sedih, marah,dll. Mood yang tidak nyaman dan perubahan pada mood adalah reaksi yang normal terhadap kehidupan sehari-hari. Tetapi ada perubahan mood yang menimbulkan gangguan pada fungsi sehari-hari, hal ini disebut sebagai gangguan mood. Gangguan mood adalah kondisi medis yang mempengaruhi mood dan apa yang kita rasakan. Terdapat 2 jenis gangguan mood yaitu :
Gangguan unipolar (1 kutub) : gangguan depresi mayor, yaitu mood yang menurun.
Gangguan bipolar (2 kutub) : terdapat mood yang meningkat yang dapat juga disertai
mood yang menurun. Semua gangguan tsb berhubungan dengan perubahan kimiawi di otak. 

Apa Saja Gejala—Gejala Gangguan    Bipolar ?
Gangguan bipolar adalah penyakit di mana perubahan mood terjadi silih berganti. Pada satu waktu moodnya bisa meningkat, kemudian bisa berubah jadi menurun/depresi dan pada saat lain bisa normal. Terdapat 4 jenis  episode mood pada gangguan bipolar :
Mania (episode manik) : Mania dimulai dengan perasaan senang disertai dengan energi yang berlebih, merasa sangat kreatif. Perasaan ini secara cepat berkembang menjadi suatu euphoria (perasaan senang yang sangat berlebihan) atau menjadi sangat irrirable/sensitif. Orang dengan mania biasanya menolak disalahkan dan sering malah marah menyalahkan orang yg menegurnya. Selama satu minggu, terdapat gejala-gejala yang membuat pasien sulit berfungsi dalam hidup sehari-hari:
       Perasaan “tinggi”, euphoria, hebat, penting, mudah tersinggung
       Tidak butuh tidur, punya energi berlebih
       Berbicara sangat cepat sehingga tidak terikuti oleh orang lain
       Memiliki ide-ide yg banyak (racing thought)
       Perhatian gampang teralih/distracted
    Melakukan tindakan yang berbahaya tanpa memikirkan konsekuensinya (contoh: belanja, aktivitas seksual yg tdk sesuai, investasi yg salam,dll)
       Pada keadaan yg berat dapat muncul halusinasi dan waham (keyakinan yang salah)


Hipomania (episode hipomanik) : episode ini lebih ringan dibandingkan episode manik dengan gejala-gejala yang sama tetapi tidak terlalu menyebabkan gangguan. Selama episode hipomanik ini, pasien dapat merasakan mood yang meningkat, merasa lebih baik dari biasanya dan merasa lebih produktif. Episode ini dirasakan sebagai perasaan yang baik dan jarang disadari oleh seseorang sebagai hal yang salah.
Depresi (episode depresi mayor) : Selama episode ini, selama 2 minggu pasien me ngalami gejala-gejala :
       Perasaan sedih dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya diminati
       Kesulitan tidur atau tidur berlebihan
       Kehilangan nafsu makan atau makan jadi terlalu banyak
       Sulit berkonsentrasi atau sulit membuat keputusan
       Merasa jadi lambat atau tidak dapat duduk tenang
       Merasa tidak berharga, merasa bersalah dan memiliki harga diri yang rendah
       Berpikir tentang kematian dan bunuh diri
       Pada keadaan yang berat dapat juga muncul halusinasi dan waham (keyakinan yang salah)

Episode campuran : Dalam satu haru terdapat perubahan mood mulai dari mania dan depresi yang berlangsung bergantian.


Bagaimana Gangguan Bipolar Ditangani ?
       Obat –obatan :
o   Mood stabilizers : Lithium, Divalproex, Karbamazepin, Lamotrigin
o   Anti psikotik : Aripiperazole, Olanzapine, Quetiapine, Risperidone.
o Edukasi : pasien dan keluarga mempelajari mengenai gejala-gejala bipolar dan bagaimana mengatasinya termasuk mencegah komplikasinya
   Psikoterapi : Membantu pasien dan keluarga untuk mengatasi pikiran, perasaan, dan perilaku yang mengganggu. Penekanannya pada deteksi dini gangguan, mengatur aktivitas dan tingkat stress, dan latihan keterampilan mengatasi masalah
       Support Group : Suatu kelompok yang dibentuk untuk mempertahankan keadaan stabil pasien bipolar. Sebuah kelompok yang dapat memberikan pengertian, pemahaman dan membuat pasien bipolar merasa aman, diterima serta memotivasi pasien untuk mengikuti rencana terapi.


Apa yang Dapat Dilakukan Keluarga dan Teman ?
       Memberikan motivasi pada orang dengan gangguan bipolar untuk berobat ke dokter, minum obat teratur dan menghindari alkohol serta obat terlarang
     Lihat dan waspadai gejala-gejala bunuh diri dan segera menghubungi rumah sakit atau kepolisian untuk mendapat pertolongan
       Berbagi tanggung jawab dengan anggota keluarga lainnya untuk mengurangi stress
       Tunjukkan bahwa selalu ada harapan untuk hidup yang lebih baik
       Selalu mencari informasi mengenai gangguan bipolar dan menerapkannya dalam kehidupan



dr.Lahargo Kembaren, SpKJ
Psikiater RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor