Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Sering curiga menjadi awal suatu gejala psikotik / skizofrenia

Saturday, August 17, 2013 Posted by Lahargo Kembaren No comments


Sering curiga menjadi awal suatu gejala psikotik / skizofrenia


Seorang teman berkonsultasi via facebook menceritakan bahwa ada sahabatnya yang sejak duduk di bangku kuliah sering merasa grogi dan cemas karena merasa orang-orang di sekelilingnya memperhatikan dirinya, menertawakannya, dan membicarakan dirinya. Ini membuat dia menjadi salah tingkah dan menjadi takut untuk masuk kuliah. Ini sudah berlangsung cukup lama sehingga mengganggu kuliah dan sosialisasinya dengan orang-orang sekitar. Kondisi seperti ini memerlukan konsultasi lebih lanjut untuk memastikan gejalannya masuk gangguan psikiatri atau tidak. Bila kita mencermati kondisi masyarakat kita sekarang ini betapa kita sedang hidup dalam masyarakat yang penuh dengan rasa curiga yang tidak beralasan. Beberapa pasien yang mengalami kejadian seperti ini akan merasa khawatir, takut, dan  cemas yang sangat menggangu padahal sebenarnya sumber ketakutannya tersebut tidak beralasan dan tidak bisa  dibuktikan. Ini adalah suatu gejala yang kita sebut sebagai waham rujukan (ideas of refference) yaitu suatu keyakinan yang salah tentang suatu hal yang dipegang teguh padahal tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi dan tidak sesuai dengan latar belakang budaya, sosial, dan agamanya.  Waham rujukan merupakan suatu gejala psikiatri yang masuk ke dalam kelompok gangguan psikotik yaitu suatu penyakit kejiwaan yang ditandai dengan hilangnya kemampuan untuk membedakan realitas, yang bersangkutan tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak nyata (real vs unreal) dan ini menyebabkan kebingungan yang luar biasa pada mereka yang mengalaminya. Gangguan psikotik ini biasanya juga disertai dengan munculnya halusinasi yaitu gangguan persepsi panca indra dimana yang bersangkutan merasa seperti ada bisikan-bisikan yang tidak jelas sumbernya, mendengar suara-suara, melihat bayangan, mencium bau-bauan yang tidak ada sumbernya, dan merasa di badannya seperti ada sesuatu yang mengganggu. Gangguan psikotik adalah suatu penyakit otak yang disebabkan karena terjadi ketidakseimbangan zat kimia (neurotransmiter) di dalam otak yang menyebabkan saraf-saraf di otak terganggu dan terjadi salah persepsi.
                Penyebab gangguan psikotik ini macam-macam, mulai dari sejak dalam kandungan, apabila seorang ibu yang sedang mengandung dalam keadaan stres secara fisik dan mental maka anak yang dikandungnya menjadi lebih rentan untuk mengalami gangguan psikotik ini. Pada masa perkembangan juga banyak faktor yang bisa mempengaruhi seseorang bisa mengalami gangguan psikotik yaitu adanya penyakit seperti kejang demam, jatuh terbentur kepala, kurang gizi dan trauma psikologis dapat membuat seseorang menjadi lebih rentan mengalami gangguan ini. Pada usia dewasa, pemakaian narkoba/napza membuat otak menjadi terganggu dan mudah terserang gangguan psikotik ini. Termasuk adanya stres yang berat yang dialami seperti keinginan yang tidak tercapai, kesedihan yang mendalam, tekanan yang berat, kehilangan seseorang/sesuatu yang sangat disayangi dan konflik yang berkepanjangan dapat membuat orang menjadi lebih mudah untuk jatuh pada gangguan psikotik. 
Apabila ditemukan adanya gejala-gejala terlalu mudah dan sering curiga, tidak aman dan ada halusinasi disertai dengan adanya suatu stres yang berat maka akan sangat baik bila mengambil waktu untuk rileks untuk beberapa saat, meredakan ketegangan yang dialami, melakukan kegiatan-kegiatan/hobi yang disenangi, memanjakan diri (‘me time’). Ini akan membuat tubuh kita lebih rileks dan otak kita juga bisa istirahat sejenak. Tetapi apabila gejala ini menetap maka konsultasi ke psikiater adalah pilihan terbaik karena semakin cepat ditangani maka gangguan psikotik ini lebih cepat untuk pulih. Psikiater akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti wawancara mendalam, tes psikologis termasuk beberapa pemeriksaan laboratorium dan radiologi bila diperlukan. Terapi nonfarmakologi seperti psikoterapi suportif atau terapi kognitif dan perilaku (CBT=cognitive behaviour therapy) akan diberikan. Obat-obatan anti psikotik akan sangat membantu menetralkan kembali gangguan keseimbangan zat kimia di dalam otak. Melakukan pencegahan dengan terus mengembangkan cara pikir yang positif, pola hidup sehat, olah raga yang cukup, makan makanan yang seimbang gizinya dan memperbanyak kegiatan sosial akan membantu kita terhindar dari gangguan psikotik ini. Salam sehat jiwa!


Dr.Lahargo Kembaren, SpKJ
Psikiater RS Jiwa Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

0 comments:

Post a Comment