Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Menghapus Pasung Bagi Pasien Gangguan Jiwa

Saturday, August 17, 2013 Posted by Lahargo Kembaren 1 comment

Dalam rangka mengisi Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2012, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Sosial dan RS Marzoeki Mahdi Bogor menyelenggarakan acara Safari Bebas Pasung di wilayah Kecamatan Kebon Pedes Sukabumi. Pada acara ini diberikan penjelasan tentang apa itu gangguan jiwa dan bagaimana pengobatannya serta penjelasan bahwa pasien gangguan jiwa tidak perlu dipasung karena ada pengobatan yang bisa memulihkan kondisinya.

Pemasungan merupakan suatu tindakan yang dilakukan terhadap seorang penderita gangguan jiwa yang dirasakan mengganggu ketentraman sekitarnya. Kurangnya pengetahuan keluarga/caregiver tentang skizofrenia, meliputi diagnosis, gejala, penyebab, pengobatan, perjalanan penyakit, dan prognosis penyakit menyebabkan penderita skizofrenia tidak mendapatkan penatalaksanaan yang optimal. Banyak keluarga yang menganggap bahwa gangguan ini disebabkan oleh pengaruh jahat, roh halus, atau akibat guna-guna. Kondisi ini membuat penderita skizofrenia seringkali terlambat dibawa berobat ke dokter atau psikiater karena pada saat awal penderita menunjukkan gangguan, mereka pertama kali dibawa berobat ke pengobatan alternatif, dukun, paranormal, atau orang pintar lainnya. Hasil penelitian Salan (1983) melaporkan bahwa 37,9% penderita gangguan jiwa tidak berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan jiwa saat pertama kali sakit. Penelitian yang dilakukan oleh Hadman dkk (1992) menunjukkan adanya jalur yang panjang sebelum pasien mencapai rumah sakit jiwa. Penelitian tersebut  menyatakan hal tersebut berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai gangguan jiwa.

Gangguan jiwa seperti skizofrenia ditandai dengan ketidakmampuan seseorang dalam membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Keadaan ini ditandai dengan munculnya gangguan persepsi seperti halusinasi (seperti mendengar suara-suara bisikan, melihat bayangan-bayangan, mencium bau-bauan, seperti ada sesuatu di kulit, dan seperti ada rasa tertentu di lidah) dan juga adanya waham (keyakinan yang salah yang tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, seperti merasa ada yang mengikuti, seperti dibicarakan atau diperhatikan orang lain, merasa memiliki kekuatan super, dll). Gejala-gejala tersebut sering sekali membuat pasien yang menderita skizofrenia menunjukkan perilaku yang kacau dan agresif. Hal ini lah yang sering mengganggu ketentraman masyarakat sehingga keluarga memutuskan untuk memasung pasien dengan gangguan skizofrenia ini.

Saat ini pengobatan untuk gangguan jiwa seperti skizofrenia sudah sangat modern. Penelitian membuktikan bahwa ada zat kimia (neurotransmiter) di sistem saraf otak yang terganggu keseimbangannya pada penderita gangguan jiwa dan pengobatan yang tepat bisa memulihkan kondisi ini. Variasi obat untuk gangguan jiwa saat ini sangat banyak pilihannya, mulai dari obat tablet, sirup, suntik jangka pendek dan suntik jangka panjang. Obat-obatan ini bekerja di sistem saraf otak dengan cara menstabilkan zat kimia (neurotransmiter) sehingga pikiran, sikap, dan perilaku penderitanya bisa kembali normal. Selain dengan pengobatan diperlukan juga terapi lainnya seperti terapi pikiran dan perilaku serta rehabilitasi psikiatri untuk memulihkan kondisi orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) ini sehingga mereka bisa kembali produktif dalam hidupnya. Dukungan dari keluarga dan masyarakat sangatlah penting bagi pemulihan orang dengan masalah kejiwaan. Salah satu masalah penting pada penatalaksanaan pasien skizofrenia adalah stigma. Stigma adalah pandangan masyarakat yang negatif terhadap suatu keadaan. Stigma terhadap penyakit skizofrenia merupakan masalah yang cukup memprihatinkan. Skizofrenia masih dianggap sebagai penyakit yang memalukan dan membawa aib bagi keluarganya. Bagi masyarakat, penderita skizofrenia dirasakan sebagai ancaman dan sering membuat resah karena dianggap sering berperilaku yang membahayakan. Hal ini membuat penderita skizofrenia dan keluarganya sering dikucilkan, mengalami isolasi sosial, dan diskriminasi dari masyarakat sekitarnya. Pihak keluarga seringkali tidak bisa menerima perilaku penderita skizofrenia yang menunjukkan gejala positif seperti halusinasi, waham, gangguan pikiran, dan perilaku kacau. Bagi pasien sendiri, ketika harus kembali ke keluarga maupun masyarakat, ia harus menghadapi kenyataan adanya perbedaan sikap dari keluarga terhadap dirinya dibandingkan dengan anggota keluarga yang lainnya. Mereka cenderung mendapat halangan untuk mendapat perlakuan yang layak, kesulitan dalam mencari pekerjaan, dan sebagainya. Tak jarang mereka juga disembunyikan, diisolasi, dan dikucilkan. Kenyataannya, pasien dengan skizofrenia bisa hidup normal seperti yang lainnya dengan minum obat yang rutin dan teratur. Jangan pasung orang dengan masalah kejiwaan, bawa ke psikiater dan obati dengan teratur !

Dr.Lahargo Kembaren,SpKJ
Psikiater RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor




1 comment:

  1. Dr,
    Mohon nasihatnya, bagaimana ya mau memujuk seorang yang punya tanda-tanda skizofrenia/bipolar untuk bertemu psikiater. Patient ini merasakan semua orang akan pergi jauh darinya kalau diketahui dia ada mental problem.

    ReplyDelete