Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Disangka Sakit Jantung ternyata Serangan Panik

Saturday, August 17, 2013 Posted by Lahargo Kembaren 4 comments


Disangka Sakit Jantung ternyata Serangan Panik


Kecemasan merupakan suatu kondisi yang dapat dialami oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya kita mengalami kondisi cemas ketika menghadapi hal-hal di luar rutinitas atau kebiasaan aktivitas sehari-hari, atau ketika menghadapi sesuatu yang datang tiba-tiba, misalnya menghadapi ujian, pindah tempat pekerjaan, pindah rumah, atau menghadapi perubahan suasana lainnya.
Cemas dapat merupakan suatu kondisi yang wajar namun dapat pula merupakan kondisi yang tidak wajar, yaitu merupakan suatu tanda dan/atau gejala dari suatu penyakit. Kondisi cemas dikatakan wajar apabila dapat ditoleransi oleh individu yang mengalami, dalam arti cemas itu akan hilang dengan sendirinya bila peristiwa atau kondisi yang mencetuskannya telah berlalu atau telah diselesaikan. Bila peristiwa yang mencetuskan telah berlalu namun individu masih merasakan kecemasan yang berlebihan dan mengganggu aktivitasnya sehari-hari,  maka kecemasan tersebut merupakan kecemasan yang tidak wajar. Kecemasan yang tidak wajar itu disebut sebagai gangguan cemas atau gangguan ansietas (anxiety disorder). Terdapat beberapa jenis gangguan cemas, antara lain gangguan panik, gangguan cemas menyeluruh dsb.  
 Usia produktif – yaitu dewasa muda hingga usia pertengahan - merupakan periode saat seseorang merintis dan menapak masa depan, berkarya secara optimal dalam bidangnya, serta berbuat sebanyak mungkin untuk keluarga dan masyarakat. Pada masa tersebut pada umumnya seseorang mempunyai keyakinan akan kemampuannya serta memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Namun, apabila pada periode ini seseorang mengalami kondisi kesehatan yang tidak optimal, tentu membuat individu tersebut menjadi sangat khawatir dan risau, baik mengenai kesehatannya, karier maupun dampaknya bagi keluarga, serta tentu bagi masa depannya
Salah satu kondisi yang membuat seorang individu merasa tidak nyaman dan menjadi khawatir itu adalah kondisi cemas yang tidak wajar. Di antara  beberapa gangguan cemas, sebagaimana telah disebutkan di atas, gangguan panik merupakan gangguan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Dari penelitian diketahui bahwa di negara-negara Barat, Gangguan Panik dialami oleh lebih kurang 1,7% dari populasi orang dewasa. Angka kejadian sepanjang hidup gangguan panik dilaporkan 1.5% sampai 5%, sedangkan serangan panik sebanyak 3% sampai 5.6%.  Di Indonesia belum dilakukan studi epidemilogi yang dapat menggambarkan berapa jumlah saudara kita yang mengalami gangguan panik tersebut., namun para profesional merasakan adanya peningkatan jumlah kasus yang datang minta pertolongan
Kondisi cemas pada gangguan panik biasanya terjadi secara tiba-tiba, dapat meningkat hingga sangat tinggi disertai gejala-gejala yang mirip gangguan jantung, yaitu rasa nyeri di dada, berdebar-debar, keringat dingin, hingga merasa seperti tercekik. Hal ini dialami tidak terbatas pada situasi atau rangkaian kejadian tertentu dan biasanya tidak terduga sebelumnya.
              Kondisi ini dapat berulang sehingga membuat individu yang mengalaminya menjadi sangat khawatir bahwa ia akan mengalami lagi keadaan tersebut. Hal itu membuatnya berulangkali berusaha mencari pertolongan dengan pergi ke rumah-rumah sakit terdekat. Bila hal ini tidak diatasi segera, kemungkinan dapat menjadi kondisi yang menahun dan tentu akan berakibat buruk bagi individu yang mengalami, yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap keluarga serta lingkungan terdekatnya.

            Gangguan panik merupakan suatu fenomena psikologik berupa serangan cemas yang berat, yang datang tiba-tiba, disertai dengan gejala-gejala penyerta seperti denyut jantung dan nadi menjadi cepat, jantung berdebar-debar, rasa kesemutan, keringat dingin serta wajah memerah. Serangan cemas tersebut sering tidak didahului oleh peristiwa atau pemicu tertentu dan tidak diduga akan dialami sebelumnya. Serangan cemas ini biasanya berat namun singkat (dari beberapa menit hingga jam). Serangan cemas tersebut disebut sebagai serangan panik. Bila serangan panik dialami berulang kali (setidaknya dalam satu bulan) dan individu sudah diperiksa secara medis namun tidak ditemukan adanya kelainan fisik serta gangguan jiwa lainnya, maka ia dikatakan mengalami ”gangguan panik”.
            Sebetulnya serangan panik dapat dijumpai pada pelbagai gangguan jiwa lain, seperti depresi, gangguan stres akut, dll, namun biasanya serangan tersebut hanya satu kali  untuk jangka waktu tertentu (misalnya satu kali dalam beberapa bulan atau satu tahun bahkan mungkin hanya satu kali seumur hidup). Pada gangguan panik, serangan ini berulang untuk sedikitnya lebih dari satu kali dalam sebulan. Biasanya individu mempunyai rasa khawatir bahwa ia akan mengalami serangan itu kembali (disebut sebagai cemas antisipasi, atau anticipatory anxiety) 

            Gejala yang menonjol berbeda-beda pada setiap orang. Biasanya timbulnya mendadak, dalam bentuk berdebar-debar, denyut jantung dan nadi menjadi lebih cepat, nyeri dada, pusing kepala, berkeringat berlebihan, pernafasan menjadi lebih cepat dan pendek, kesemutan yang menjalar dari kaki hingga kepala, rasa seperti tercekik, ada perasaan tidak nyata (merasa tubuhnya berbeda atau merasa sekitarnya berubah). Gejala tambahannya berupa takut mati, takut kehilangan kendali atau takut menjadi tidak waras. Setiap serangan biasanya berlangsung beberapa menit, namun kadang bisa lebih lama, bisa sampai setengah atau satu jam. Sering juga disertai rasa khawatir akan mengalami serangan itu kembali, mengakibatkan individu merasa tidak nyaman, khawatir dan was-was.
              Timbulnya serangan panik tidak terbatas pada situasi atau rangkaian kejadian tertentu dan tidak terduga akan dialami sebelumnya. Serangan panik terjadi pada keadaan-keadaan yang sebenarnya secara nyata tidak berbahaya. Di luar serangan panik, individu relatif tenang, tidak mengalami tanda dan gejala apapun, dan biasanya dapat tetap beraktivitas seperti biasa Penting diketahui juga bahwa meningkatnya denyut nadi dan pernafasan yang tidak stabil bisa timbul tanpa terjadi serangan panik. 

            Bila serangan panik telah dialami berulang kali, pada individu tertentu dapat mengalami ketakutan akan kesendirian, khawatir bahwa bila serangan itu datang kembali pada saat ia sedang seorang diri, maka ia akan berada dalam keadaan bahaya, akibatnya ia kemudian menjadi takut ke luar rumah, ingin selalu ditemani bila ke luar rumah, terlebih dalam situasi yang menurutnya tidak dapat atau tidak ada akses untuk melarikan diri bila serangan panik itu  muncul. Keadaan ini disebut sebagai agorafobia. Sebagian individu mengalami gangguan panik tanpa disertai agorafobia, sehingga ia tidak selalu minta ditemani bila ke luar rumah dan masih berani bepergian seorang diri serta mampu beraktivitas seperti biasa. 




            Gangguan ini biasanya dimulai pada akhir masa remaja, awal masa dewasa atau pada usia pertengahan. Awitannya sering dihubungkan dengan banyaknya kondisi stres yang dialami seseorang, walaupun pada umumnya tidak dipicu oleh stres atau peristiwa kehidupan lainnya.
Gangguan panik sering berlangsung menahun, sangat bervariasi pada tiap individu. Dalam jangka panjang, 30-40% penderita tidak lagi mengalami serangan panik, 50% mengalami gejala ringan sehingga tidak memengaruhi kehidupannya, sedangkan sisanya masih mengalami gejala yang bermakna.
Pada saat serangan pertama atau kedua, individu sering mengabaikannya dan baru menyadari setelah menjadi sering dialami dan gejalanya menjadi lebih berat. Hal ini juga dapat dipacu oleh konsumsi kafein dan rokok yang berlebihan.

Penanganan gangguan panik dilakukan di poliklinik jiwa (psikiatri) oleh seorang psikiater. Terapi yang diberikan meliputi terapi farmakologi (obat) berupa obat anti depresan seperti golongan fluoksetin, sertralin, escitalopram dan golongan benzodiazepine seperti alprazolam, clobazam, clonazepam. Terapi non farmakologi seperti terapi pikiran dan perilaku (CBT=cognitive behaviour therapy), relaksasi, dan hipnoterapi juga diberikan untuk mempercepat pemulihan.



Dr.Lahargo Kembaren,SpKJ
Psikiater Poliklinik Eksekutif
RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

4 comments:

  1. Saya mengalami gejala tersebut Dok, dada berdebar, kadang agak nyeri (panas) kadang di kiri kadang agak di kanan, telapak tangan berkeringat, sy sudah periksa ke Spesialis Jantung, sudah EKG, Rontgen, Treadmill hasilnya baik semua, cuma detaknya saja yang agak cepat. Nafas biasa (tidak sesak). Gangguan kadang datang, kadang nggak.

    Mungkin ada saran, Dok?

    Terima Kasih

    Pamuko, Jogja

    ReplyDelete
  2. Saya juga sering mengalami gejala seperti itu, setelah saya periksa ternyata bukan gejala penyakit jantung. Setelah membaca artikel diatas, saya jadi lebih tau gimana cara ngebedain panik sama sakit jantung. Terimakaish pak atas pencerahannya.

    ReplyDelete
  3. saya Mengalami Itu semua Dok,tapi Dalam 3 sampai 4 minggu ini, saya mengalami gejala Serangan Panik Itu lebih dari 4/5 Kali? Apakah itu masih bisa di sebut serangan ke?

    ReplyDelete
  4. kadang saya insom dok,,, apakah serangan panik bisa sembuh dengan sendirinya dok ??

    ReplyDelete