BAGAIMANA MENGATASI ORANG TUA YANG SUDAH PIKUN



BAGAIMANA MENGATASI  ORANG TUA YANG SUDAH PIKUN
Dr.Lahargo Kembaren, SpKJ
Psikiater RS Jiwa Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor


Pada tanggal  28 Juni 2012, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Yayasan Pelita Usila mengadakan seminar Geriatri untuk tenaga kesehatan Puskesmas se-kota Bogor.  Dalam seminar tersebut tercetus bahwa usia lanjut merupakan suatu usia yang memerlukan perhatian khusus dari tenaga kesehatan.  Pada mereka yang berusia lanjut telah terjadi penurunan fungsi dari berbagai organ tubuh termasuk otak. 

Usia lanjut usia adalah suatu periode kehidupan yang ditandai dengan suatu keadaan kehilangan yang progresif dari banyak hal yang sebelumnya membuat hidup menjadi bermakna, antara lain kehilangan :
kesehatan, kecantikan, karir / pekerjaan, finansial,  status, pasangan dan citra diri yang stabil. Ketakutan akan kehilangan kehidupan adalah hal yang lain yang juga menandai kehidupan di usia lanjut.  Ketika kehilangan tersebut kecil / tidak terlalu berat dan terdapat sumber daya yang tinggi pada individu tersebut untuk melakukan koping, kesehatan mental dapat dipertahankan atau bahkan meningkat pada tahun-tahun berikutnya.  Tetapi apabila terjadi sebaliknya maka akan terjadilah suatu krisis yang membutuhkan intervensi dari profesional kedokteran jiwa (psikiater/dokter umum terlatih).  Umur yang tua bukanlah suatu penyakit, hanya saja ada beberapa tipe penyakit dan gangguan yang terjadi dengan frekuensi lebih besar di antara orang lanjut usia.  Penyakit atau gangguan tersebut antara lain adalah: kehilangan pendengaran dan penglihatan, jatuh, penyembuhan luka yang lebih lama, kehilangan gigi, artritis, penyakit kardiovaskular, penurunan aktivitas seksual, dll.  

Pada usial lanjut dapat terjadi suatu gangguan otak yang dikenal dengan demensia atau yang dikenal oleh orang awam sebagai pikun.  Keberhasilan di bidang kesehatan meningkatkan usia harapan hidup.  Dengan demikian jumlah lansia ( >60tahun) juga akan semakin meningkat jumlahnya. Peningkatan jumlah lansia ini membawa dampak di bidang kesehatan sehingga pola penyakit akan bergeser ke arah penyakit yang berhubungan dengan proses degeneratif otak di antaranya demensia yang di Indonesia popular dengan sebutan pikun.  Keberadaan orang tua yang pikun akan menjadi masalah yang besar terutama dalam perawatan karena penderita ini membutuhkan perawatan paripurna sepanjang hari, hal ini disebabkan pada penderita terjadi gangguan kognitif dan perilaku yang akan memberikan gangguan pada aktivitas harian dan fungsi sosialnya. Selain akan menguras tenaga  dan biaya untuk perawatannya juga menimbulkan stress pada seluruh anggota keluarga. Demensia bila dikenal secara dini dan mendapat penatalaksanaan yang tepat dapat dicegah, dihambat progresifitasnya bahkan disembuhkan pada beberapa keadaan sehingga penderita dapat mempertahankan kualitas hidupnya.

Keluhan yang menonjol pada demensia stadium awal adalah gangguan kognitif dengan manifestasi sebagai gangguan memori, gangguan komunikasi, gangguan eksekutif, gangguan praksis, gangguan visuo spasial dan gangguan emosi disertai gangguan perilaku yang pada akhirnya akan me nimbulkan gangguan pada aktivitas harian dan fungsi sosialnya. Pemeriksaan perlu dilakukan bila penderita menunjukkan gejala-gejala:
·         Mudah menjadi lupa terutama untuk hal yang baru
·         Gangguan komunikasi terutama verbal dalam komprehensi, kosa kata, dan keterlambatan mengingat kembali kata yang harus diucapkan
·         Kesulitan dalam melakukan aktivitas harian yang sederhana
·         Kesulitan mengenali tempat dan waktu
·         Penampilan yang memburuk terutama karena tidak memperhatikan kebersihan diri dan berpakaian tidak serasi
·         Kesulitan dalam melakukan penghitu ngan sederhana
·         Salah meletakkan barang dan curiga seseorang telah mencurinya
·         Perubahan perasaan dan perilaku sehingga sering murung, marah-marah, keluyuran, gelisah sampai agresif
·         Perubahan kepribadian
·         Hilang minat dan inisiatif

Pada penderita ini perlu dilakukan pemeriksaan :
·         Pemeriksaan umum
·         Pengkajian fungsi kognitif dan psikiatri
·         Pemeriksaan laboratorium dan radiologis

Penatalaksanaan demensia / kepikunan meliputi farmakologis (obat) dan non farmakologis (tanpa obat), yaitu : Pendekatan farmakologis dan non farmakologis bertujuan untuk :
·         Mempertahankan kualitas hidup dan memanfaatkan kemampuan yang ada secara optimal
·         Menghambat progresifitas penyakit
·         Mengobati gangguan lain yang me- nyertai demensia
·         Membantu keluarga dengan memberikan informasi cara perawatan yang tepat dan menghadapi keadaan penyakitnya secara rea- listis

Farmakologis :
·         Anticholinesterase Inhibitor
o   Target gejala: Gangguan fungsi kognitif (memori, orientasi, fungsi eksekutif), BPSD (apatis, depresi, disinhibisi, ansietas):
-          Donepezil   
-          Galantamin 
-          Rivastigmin
·         NMDA Receptor Antagonism
-          Memantine
·         Antioksidan & Vitamin
-          Asam folat
-          Vitamin E
·         Psikofarmaka sesuai target gejala
-          Antipsikotik, antidepresan, antianxietas, mood stabilizer

Non Farmakologis :
·         Menentukan program aktivitas harian penderita
·         Orientasi realitas
·         Modifikasi perilaku
·         Memberikan informasi dan pelatihan yang benar pada keluarga / pengasuh penderita



ciri ciri demensia
 
Akan sangat melelahkan memang merawat orang tua yang sudah mengalami demensia/kepikunan tetapi dengan kesabaran dan konsultasi dengan profesional di bidangnya maka pekerjaan tersebut akan lebih mudah dilaksanakan.  “Old people are JUST young people trapped inside OLD bodies.”








Gejala Dini Demensia







ciri ciri demensia,ciri ciri demensia,ciri ciri demensia

 

2 comments:

  1. Wow, tulisannya bagus. Wow, keren!! Laporan yang dimuat portal berita iyaa membeberkan bahwa Peneliti berhasil membuat sepatu pintar yang dapat merekam jejak seseorang yang memakainya ke manapun ia pergi. Sepatu ini ditujukan untuk penderita penyakit Alzheimer atau penyakit lupa yang kerap tersesat dan lupa jalan pulang.

    BalasHapus