Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Agresivitas pada Gangguan Jiwa

Saturday, August 17, 2013 Posted by Lahargo Kembaren No comments


Agresivitas pada Gangguan Jiwa


Beberapa hari terakhir ini kita dikejutkan dengan berita-berita mengenai perilaku kekerasan, agresivitas yang dilakukan oleh sesorang terhadap orang lain bahkan orang terdekatnya. Seorang anak yang membunuh ibu kandungnya, seorang kakek yang membunuh cucunya sendiri, seorang ibu yang membunuh anak tetangganya, dll. Berita ini tentunya membuat kita berpikir bahwa orang yang melakukannya pastilah menderita gangguan kejiwaan dan seringkali memang demikian. Tetapi hal yang perlu dipahami adalah bahwa tidak semua orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) melakukan perilaku kekerasan/agresivitas ini.

Kondisi psikiatri yang paling sering berhubungan dengan prilaku kekerasan adalah gangguan psikotik seperti skizofrenia dan mania ( terutama pada pasien paranoid atau yang mengalami halusinasi tipe “commanding” ), intoksikasi alkohol dan obat-obatan, putus alkohol dan obat hipnotik sedatif, kegelisahan katatonik, depresi yang teragitasi, gangguan kepribadian yang ditandai dengan kemarahan dan pengontrolan impuls yang buruk ( contohnya gangguan kepribadian ambang dan antisosial ), dan gangguan organik ( terutama yang menyangkut keterlibatan lobus frontal dan temporal).

Diagnosis yang berhubungan dengan prilaku kekerasan :

1.            Gangguan psikotik
a.            Skizofrenia ( terutama paranoid dan katatonik )
b.            Mania
c.             Gangguan paranoid
d.            Psikosis post partum
2.            Gangguan mental organik
a.            Delirium
b.            Intoksikasi atau putus obat
3.            Gangguan kepribadian
a.            Antisosial
b.            Paranoid
4.            Masalah situasional
a.            Pertengkaran dalam rumah tangga ( kekerasan oleh pasangan )
b.            Penganiayaan anak
5.            Gangguan otak
a.            gangguan epilepsi
b.            kerusakan struktural ( akibat trauma atau ensefalitis )
c.             Retardasi mental dan disfungsi minimal otak

Faktor resiko lain dari perilaku kekerasan termasuk pernyataan keinginan, rencana yang spesifik, ketersediaan alat untuk melakukan prilaku kekerasan, laki – laki, usia muda ( 15 – 24 tahun ), status ekonomi yang rendah, sistem dukungan sosial yang buruk, riwayat perilaku kekerasan sebelumnya, sikap antisosial, pengontrolan impuls yang jelek, riwayat percobaan bunuh diri, stresor yang baru. Riwayat perilaku kekerasan sebelumnya merupakan prediktor terbaik dari prilaku kekerasan. Faktor tambahan lainnya adalah : riwayat sebagai korban prilaku kekerasan pada masa kecil, triad riwayat masa kecil yaitu: ngompol, membakar, kejam terhadap binatang, catatan kriminal, bertugas sebagai polisi atau ABRI, mengemudi ugal-ugalan, riwayat keluarga dengan perilaku kekerasan.

Seseorang yang melakukan perilaku kekerasan harus mendapatkan penanganan yang cepat dan seksama agar tidak muncul korban akibat perilaku kekerasan yang dilakukannya. Penanganan ini dimulai dengan menilai adakah gangguan psikiatri yang terjadi pada orang tersebut dengan cara melakukan wawancara terstruktur dan penilaian dengan pemeriksaan psikologi seperti MMPI/TKMI. Setelah diagnosis ditegakkan maka baru dapat diberikat terapi yang sesuai, pada mereka yang mengalami gangguan psikotik/skizofrenia maka dapat diberikan obat anti psikotik, pada mereka yang mengalami gangguan bipolar maka dapat diberikan obat mood stabilizer dan pada gangguan depresi dapat diberikan obat anti depresan. Perilaku kekerasan yang dilakukan oleh orang tua bisa jadi karena penyakit demensia (kepikunan) sehingga pemberian obat anti demensia dapat diberikan. Selain obat-obatan, terapi seperti terapi kognitif dan perilaku juga dapat diberikan.

Penting juga kita memberikan perhatian khusus pada pola asuh pada anak-anak karena apabila pola asuh yang diterapkan adalah pola asuh yang disertai dengan kekerasan maka si anak akan melakukan peniruan terhadap perilaku tersebut. Demikian juga penting kita memperhatikan keseharian si anak, seperti game kekerasan yang dimainkannya, film-film yang bergenre kekerasan, ini semua juga bisa mempengaruhi seorang anak menjadi anak yang suka menentang dan melakukan perilaku kekerasan.
Perilaku kekerasan ini dapat dilakukan oleh semua orang mulai dari anak-anak sampai orang lanjut usia, kenali gangguan dan perilaku nya dan berikan terapi yang tepat. Perilaku kekerasan harus mendapatkan penanganan yang serius dari semua pihak.


Dr.Lahargo Kembaren,SpKJ
Psikiater RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor

0 comments:

Post a Comment