Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

BUNUH DIRI DI MALL, FENOMENA MASYARAKAT PERKOTAAN

Friday, December 23, 2011 Posted by Unknown No comments



            Kejadian seorang perempuan muda yang loncat di sebuah mall di kota Bogor mengejutkan banyak orang. Peristiwa mengenaskan yang terjadi di tengah keramaian pusat perbelanjaan cukup menyita perhatian warga Bogor. Beberapa jejaring sosial membahas cukup ramai peristiwa ini, bahkan di twitter Indonesia, topik bunuh diri di mall ini ada di peringkat 6 trending topic. Peristiwa ini bukan merupakan peristiwa yang pertama kali terjadi, kita sudah beberapa kali mendengar tentang ini di kota-kota lainnya. WHO (2003) mencatat bahwa terdapat 1 juta orang yang melakukan bunuh diri di dunia ini setiap tahunnya, sehingga setiap 40 detik terdapat satu kasus bunuh diri. Hal ini membuat bunuh diri adalah penyebab utama ketiga kematian di seluruh dunia. Kelompok umur terbanyak yang melakukan bunuh diri adalah umur 15 – 34 tahun.   Bunuh diri adalah percobaan yg dilakukan seseorang untuk mengakhiri emosi, perasaan dan pikiran yg tak dapat ditoleransi lagi ditoleransi lagi. Tindakan ini dilakukan untuk mengatasi nyeri psikologik  dan untuk menurunkan ketegangan yg tak tertahankan. Kematian bukan tujuan utama dari bunuh diri tapi lebih pada berhenti/keluar dari kehidupan.
            Beberapa faktor risiko terjadinya peristiwa bunuh diri adalah :
·       BIOPSIKOSOSIAL :
o   Gangguan Mental  : gangguan mental organik, skizofrenia/psikotik, bipolar, depresi
o   Penyalahgunaan zat
o   Keputusasaan
o   Impulsivitas
o   Riwayat trauma/abuse
o   Menderita penyakit yg berat
o   Percobaan bunuh  diri sebelumnya
o   Riwayat keluarga yg bunuh diri
·       LINGKUNGAN
o   Kehilangan pekerjaan
o   Kehilangan relasi sosial
o   Akses ke alat/zat yg mematikan
·       SOSIOSOSIO—BUDAYABUDAYA
o   Kurangnya suport sosial & merasa terisolir
o   Stigma atau halangan untuk mendapat penanganan
o   Keyakinan agama atau budaya tertentu
o   Terpapar orang lain yg telah melakukan bunuh diri

Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan yang biasanya ditunjukkan oleh mereka yang ingin melakukan tindakan bunuh diri, yaitu :
·    Kata – kata : perkataan, tulisan yang menyatakan secara langsung atau tidak langsung untuk bunuh diri, selalu mengeluhkan dirinya sebagai orang yang jahat dan tidak berguna.
·     Tindakan : mulai menjauh dari teman dan keluarga, ada perubahan pada pola tidur, makan, dan penampilan, nilai-nilai di sekolah yang menurun drastis, tidak berminat lagi pada hobi yang biasa dia sukai, bertingkah laku kasar dan sering marah.
·      Perasaan : merasa putus asa, bersalah, dan malu yang berlebihan, tiba-tiba merasa gembira setelah sebelumnya terlihat depresi.

Faktor spiritual (khususnya religiusitas) individu merupakan salah satu resilience yaitu faktormengurangi resiko psikopatiologi dan selanjutnya berfungsi sebagai faktor protektif terhadap percobaan bunuh diri (Perry, & Azad, 1999). Hal ini menunjukkan bahwa agama dan kepercayaan memegang peranan penting bagi pencegahan seseorang melakukan bunuh diri. 
Perlu juga ada Buku Pegangan untuk Mencegah Bunuh Diri (National Strategy for SuicidePrevention), ini bermanfaat untuk :
·  Untuk meningkatkan kemampuan fasilitas kesehatan primer & professional kesehatan untukmengidentifikasi &menangani mereka yg potensi melakukan bunuh diri.
·     Pertimbangan menggunakan fasilitas kesehatan primer & professional kesehatan:individu yang akan bunuh diri sering kontak dg mereka
·       Dokter umum dan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan primer agar mampu melakukan upaya pencegahan bunuh diri pada pasien gangguan kejiwaan.
Masyarakat juga memegang peranan penting dalam mengidentifikasi tanda-tanda gangguan kejiwaan pada seseorang dan segera membawanya ke fasilitas pelayanan kesehatan jiwa terdekat untuk diberikan penanganan yang cepat dan tepat.  Apabila ditemukan adanya perilaku, sikap, dan pikiran yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada dan mengganggu individu secara sosial maka itu merupakan suatu tanda awal akan adanya suatu gangguan kejiwaan. Dengan penanganan yang cepat dan tepat maka gangguan kejiwaan dapat segera diatasi dan perilaku bunuh diri dapat dicegah.
      Penanganan perilaku bunuh diri adalah :      
·       melakukan identifikasi:
- Gangguan angguan mental/gejala2
- Situasi psikososial yg menekan
- Pola-pola maladaptif yg menetap dari pikiran, emosi dan perilaku, terutama yg berkaitan
dgn cara menghadapi masalah
·       ObatObat-obatan :
- psikosis: atipikal neoroleptik
- depresi: antidepresan antidepresan-SSRI yg aman
·       Psikoterapi
- fokus pd skill building & problem problem-solving:
- terapi perilaku dan kognitif (CBT)
·       Dukungan sosial
sikap suportif dan bila perlu tempat tinggalsementara yg aman, memberi kesempatan pasien mempunyai ruang/waktu pribadi utk memulihkan strategi coping, mendapatkan perspektif yg menguntungkan, dan melihat pilihan-pilihanyg ada selain bunuh diri.

Masyarakat saat ini sangat mudah terguncang jiwanya dan terlalu mudah membuat suatu pilihan yang fatal dan tidak rasional terhadap adanya suatu stresor tertentu. Memperkuat spiritualitas, mental psikologis dan keterampilan menghadapi masalah sejak dini menjadi kunci utama untuk melakukan pencegahan perilaku bunuh diri.

Bagaimana Mengenali dan Mengelola Stres dengan Baik

Friday, December 23, 2011 Posted by Unknown No comments




Apakah stres itu?
Stres adalah reaksi tubuh terhadap setiap situasi yang tidak menyenangkan. Setiap hal dapat menyebabkan stres, sejauh diterima sebagai hal yang tidak menyenangkan. Walaupun demikian, beberapa kejadian yang menimbulkan stres (seperti persaingan ketat dalam olah raga) dapat memacu orang untuk berprestasi lebih baik. Stres adalah situasi yang biasa ditemukan  dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan  proses alamiah dalam upaya manusia menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.

Stres mempengaruhi fisik, emosi dan perilaku kita dan dapat memberikan pengaruh positif atau negatif.
Pengaruh positif: stres dapat memotivasi untuk berbuat lebih baik dan dapat mengantisipasi bila menghadapi stres berikutnya.
Pengaruh negatif: stres dapat menimbulkan perasaan marah, sedih, tertekan dan perasaan hancur yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, percobaan bunuh diri, dan lain-lain.

Apa yang dapat menyebabkan stres?
Banyak orang muda mempunyai sensitifitas yang berlebihan terhadap lingkungan sekitarnya, kejadian-kejadian dan ide-ide serta mengharapkan dapat menjadi yang terbaik. Perjuangan terus-menerus untuk mencapai harapannya, menjadi orang yang pertama atau yang terbaik, atau keduanya, dapat  menimbulkan stres. Tekanan untuk berprestasi melebihi orang lain, bersamaan dengan perasaan berbeda dari orang lain, ragu-ragu, kurang percaya diri dan kebutuhan untuk membuktikan diri mereka sendiri, dapat menguras energi mereka dan menyebabkan stres yang berlebihan.

Apa dampak dari stres?
Stres dapat mengganggu pikiran, mengurangi konsentrasi, dan melemahkan pengambilan keputusan. Hal ini dapat menyebabkan orang sangat sensitif terhadap stres. Stres yang berkepanjangan, dan cara mengatasi stres yang tidak sehat, dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Bagaimana mengelola stres?  
Pengelolaan stres bertujuan untuk menjaga seseorang tetap berada pada keadaan yang sehat dan menyenangkan. Seseorang mempunyai berbagai strategi untuk menghadapi stres, dan strategi yang khusus tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai baik atau buruk. Kegiatan untuk mengelola stres  akan menunjukkan kepada individu bahwa stres yang mereka alami masih dapat mereka kendalikan. Belajar untuk menerapkan teknik-teknik tersebut akan memberikan kepada individu kemampuan yang lebih besar untuk mengendalikan stres dalam kehidupan mereka dan membantu mereka untuk tetap berada pada tingkat stres yang rendah.


PERTANYAAN YANG SERINGKALI DIAJUKAN

1.   Apa yang dimaksud dengan stres? Apakah stres benar-benar ada? Apakah stres sesuatu yang dapat diterangkan secara ilmiah atau  merupakan sesuatu yang hanya bisa dirasakan?
Stres adalah suatu sistem tanda bahaya dari dalam tubuh yang mempersiapkan tubuh untuk bertindak. Stres dapat didefinisikan sebagai suatu reaksi individu terhadap tuntutan atau tekanan yang berasal dari lingkungan atau dari dalam diri sendiri.

Pada saat seseorang stres atau marah, tubuh akan mengeluarkan “hormon cortisol”. Hormon tersebut juga penting untuk dapat berfungsinya hampir semua bagian dari tubuh individu. Kelebihan atau kekurangan hormon itu dapat menyebabkan  berbagai gejala fisik atau keadaan sakit.

Sekresi cortisol akan meningkat sebagai reaksi stres terhadap badan, baik stres fisik (seperti penyakit, trauma, tindakan operasi) atau akibat psikologis. Pada saat cortisol keluar, menyebabkan protein di otot dipecah sehingga asam amino dan dilepaskan di sistem peredaran darah. Asam amino dibutuhkan oleh hati untuk mensintesa glukosa. Pemecahan glukosa menyebabkan lebih banyak energi yang tersedia untuk otak. Cortisol juga dapat melepaskan asam lemak, suatu sumber energi yang berasal dari sel-sel lemak untuk digunakan oleh otot. Semua energi tersebut di atas berguna untuk mempersiapkan individu menghadapi stres.

Bila produksi cortisol berlebihan akan memberikan umpan balik yang negatif pada hipopise dan hipotalamus yang membuat waspadanya sistem lain yang ada di tubuh.

2.   Apa penyebab dan gejala stres?
Penyebab stres meliputi semua kejadian atau seseorang yang dianggap sebagai ancaman terhadap pertahanan diri orang tersebut. Sampai batas tertentu stres itu merupakan sesuatu yang normal dalam kehidupan seseorang, sebagai reaksi terhadap perubahan lingkungan fisik atau sosial yang tak dapat dihindari. Perubahan, baik yang positif maupun negatif dapat menimbulkan stres pada seseorang. Penyakit yang berhubungan dengan stres biasanya disebabkan oleh adanya tuntutan yang berlebihan dan berkepanjangan terhadap diri seseorang.

Gejala yang muncul akibat stres bisa dalam bentuk gangguan fisik ataupun psikologis. Penyakit fisik yang berhubungan dengan stres seperti gangguan yang berkaitan dengan sistem pencernaan (keluhan lambung dan diare), serangan jantung, sakit kepala menahun disebabkan oleh stimulasi yang berlebihan yang berlangsung secara teratur dalam jangka panjang terhadap bagian tertentu dari sistem saraf  yang menggerakkan denyut jantung, tekanan darah dan sistem pencernaan. Kadang-kadang istilah gangguan penyesuaian dipakai untuk masalah yang berkaitan dengan stres, seperti tidak dapat beradaptasi pada situasi tertentu, ketidak mampuan berprestasi, kehilangan minat dan lain-lain.

3.   Apakah latihan fisik dapat membantu mengurangi stres?
Latihan fisik dan kebugaran jasmani berfungsi sebagai bantalan untuk melawan stres sehingga efek negatif terhadap kesehatan fisik dan psikologis seseorang akibat dari kejadian yang menimbulkan stres menjadi berkurang. Terbukti bahwa latihan fisik secara teratur dapat membantu seseorang untuk tetap sehat walaupun menghadapi stres. Jadi latihan fisik bersama dengan dukungan sosial, sikap yang positif, kepribadian dan faktor lain dapat memperbaiki daya tahan terhadap stres.

Orang yang berlatih fisik secara teratur memperlihatkan reaksi yang lebih sehat jika menghadapi stres emosional dibandingkan dengan orang yang tidak berlatih. Semua jenis latihan fisik dapat menangkal stres apabila latihan tersebut dapat membangun perasaan orang itu sehingga dia menjadi percaya diri, efektif dan dapat mengendalikan hidupnya.

4.   Saya mencari stres untuk memacu meningkatkan prestasi akademik. Apakah cara seperti ini akan berpengaruh buruk?
Stres tidak dapat dihindari dalam kehidupan seseorang. Stres tidak selalu berakibat buruk atau merusak seseorang, stres yang ringan misalnya dapat meningkatkan kegiatan dan prestasi seseorang, sehingga orang menjadi kreatif.

Sekalipun secara umum stres dianggap menghasilkan sesuatu yang tidak menyenangkan, tapi stres juga dapat memfasilitasi perkembangan  jiwa yang sehat, sehingga mekanisme pertahanan diri lebih bervariasi dan orang tersebut lebih mampu menghadapi masalah yang berbagai ragam. Istilah “eustres” digunakan untuk reaksi stres yang positif. Kejadian  yang menyenangkanpun dapat menimbulkan stres karena orang harus beradaptasi terhadapnya. Jadi stres dalam derajat tertentu memang diperlukan untuk kesejahteraan kita, karena tanpa adanya stres, kita tidak dapat berfungsi dengan baik. Akan tetapi bila stres berlebihan atau jangka panjang bisa menyebabkan berbagai macam masalah fisik atau psikologik.

5.   Apa yang disebut dengan pertahanan terhadap stres?
Pertahanan terhadap stres meliputi: mengenali sumber stres dalam kehidupan sehari-hari, mengenali bagaimana stres dapat mempengaruhi kita, bersikap sedemikian rupa sehingga dapat mengendalikan stres. Jadi kita harus bertindak untuk menurunkan sumber stres misalnya dengan melakukan perubahan terhadap lingkungan fisik dan gaya hidup kita, atau belajar untuk rileks sehingga ketegangan akibat stres tidak menimbulkan gangguan kesehatan.

6.   Apa dampak dari stres?
Derajat stres yang tinggi bisa membahayakan bagi individu dan orang yang berada di sekitarnya. Dampak stres dapat digolongkan menjadi: dampak terhadap fisik, psikologis dan perilaku.
Dampak terhadap fisik: stres mempunyai efek yang besar terhadap fisik misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung, tukak lambung, radang sendi dan lain-lain.
Efek psikologis: Stres yang berat biasanya diikuti oleh rasa marah, cemas, depresi, gelisah, mudah tersinggung dan tegang. Akibat psikologis dari stres dapat pula menyebabkan penurunan harga diri, kebencian terhadap orangtua atau orang dewasa lain, ketidak mampuan untuk konsentrasi, ketidak mampuan membuat keputusan dan menyebabkan rasa tidak puas. Semua ini dapat membuat prestasi jadi buruk.
Dampak terhadap perilaku: stres yang berlangsung dalam jangka panjang, dapat mempengaruhi perilaku remaja. Akibat stres terhadap perilaku remaja biasanya direfleksikan dalam bentuk gangguan makan (sulit makan atau makan berlebihan), gangguan tidur, merokok, minum alkohol, menyalahgunakan NAPZA, membolos dan lain-lain.

Stres juga mempengaruhi prestasi seseorang. Stres ringan dapat meningkatkan prestasi, sedangkan stres berat dapat memperburuk prestasi.

7.   Bagaimana mengelola stres?
Stres dapat mempengaruhi kesehatan dan prestasi individu. Oleh karena itu stres perlu dikelola atau ditangani secara efektif sehingga dapat mengurangi dampak yang tak diinginkan. Individu bisa menolong dirinya sendiri untuk melakukan hal berikut:
a.    Latihan fisik (dalam bentuk apapun): seperti jalan, joging, berenang, naik sepeda, main games dapat membantu individu melawan stres. Jadi efek samping dari latihan fisik seperti relaksasi, dapat meningkatkan harga diri dan mengalihkan pikirannya sekejap sehingga dia dapat menghadapi stres dengan lebih baik.

b.    Pengendalian perilaku: Mengacu kepada cara mengatur diri sendiri. Melakukan analisa terhadap penyebab dan dampak dari perilakunya sendiri, akan membantu individu untuk dapat mengendalikan diri. Jadi individu harus belajar mengendalikan situasi dan jangan membiarkan dirinya dikendalikan oleh situasi. Salah satu cara untuk menghindari stres adalah menghindari orang atau situasi yang dapat mempengaruhi seseorang yang sedang rawan terhadap stres.

c.    Perbanyak teman dan dukungan sosial: penelitian menunjukkan bahwa remaja membutuhkan dan mendapatkan keuntungan dari dukungan orangtua dan dukungan dari lingkungan. Dukungan tersebut bisa dipakai sebagai suatu strategi untuk mengurangi dampak stres. Dengan demikian kita dapat menjalin hubungan dekat dengan teman dan orang dewasa lain yang berfungsi sebagai pendengar yang baik dan membangun rasa percaya kita.

d.    Konseling: juga merupakan cara lain untuk menangani stres. Jadi melalui konseling, individu dapat mengenali kekuatan, kelemahan dan pola reaksi mereka sehingga individu dapat mengubah perilakunya.

Jangan melabel anak dengan julukan yang buruk !

Friday, December 02, 2011 Posted by Unknown No comments
Setiap anak membutuhkan perasaan dicintai, dihargai, dan diterima. Tetapi sering sekali orang tua menggunakan cara yang salah untuk mendisiplinkan anaknya. Sering sekali orang tua memberikan julukan negatif kepada anak, misalnya Si Dungu, Si Goblok, Si Lelet, Si Biang Kerok, Si Pemalas, Si Pengacau, Si Penipu, dan sebagainya. Dan juga ucapan lain yang mengecilkan arti si anak, misalnya orangtua menyebut anak sebagai “tak berguna”, atau “percuma dilahirkan”. Atau ada juga yang menyebut si anak dengan memberikan kesan bahwa si anak tidak diharapkan, misalnya dengan menyebutnya sebagai “anak pungut” atau “diambil dari rumah sakit” atau “diambil dari tempat sampah” atau menyatakan bahwa “nggak mungkin anak Papa Mama” dan sebagainya. Ada juga yang menganggap anak sebagai sumber kesialan, dengan berkata, “menyesal sudah melahirkan.” Orang tua juga sering melecehkan kemampuan anak, seperti, “Ah, mana mungkin dia bisa?” atau, “Sudahlah, kamu ngerti apa....” atau, “Aku jamin kamu pasti gagal...” Kadang juga lebih halus, “Pengen deh lihat kamu berhasil, tetapi itu mustahil....”
Semua hal di atas dapat berakibat destruktif bagi si anak, dapat menurunkan harga diri dan juga kepercayaan dirinya. Ketika itu terjadi si anak dapat mengalami perilaku yang tidak baik bahkan dapat mengikuti perilaku sesuai dengan julukan yang dia terima dan ini dapat mengganggu hubungannya dengan teman dan lingkungannya dan bisa mempengaruhi prestasi belajarnya. Orang tua yang emosional sering kehilangan kesabarannya dalam mendidik anak dan keluarlah julukan-julukan yang tidak baik bagi si anak. Citra diri yang negatif itu di kemudian hari menyebabkan anak tidak mampu tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Anak akan memiliki rasa malu yang kuat, bersikap ragu-ragu, dan lebih suka menarik diri dari pergaulan.
Pada anak yang lain, citra diri negatif tersebut bahkan dapat membentuknya tumbuh sebagai pribadi pemberontak, kasar, bodoh, jorok, lamban, pengacau, dan sebagainya.
Pendek kata, anak akan menampilkan diri sesuai dengan julukan yang diberikan kepadanya oleh orangtua. Anak-anak itu sangat percaya pada ucapan yang berkali-kali keluar dari mulut ayah ibu mereka.Dengan kata lain, jika kita sebagai orangtua mengharapkan anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang baik, sehat, cerdas, berbudi luhur, tentu kata-kata, sikap, dan perilaku kita pun harus sesuai dengan harapan tersebut. Apabila hal itu telah terjadi yang perlu dilakukan adalah pertama meminta maaf pada si anak dan meyakinkan lagi bahwa sebagai anak dia sangat dicintai.
Mendisiplinkan anak memang menjadi tugas orang tua tetapi kata-kata kasar dan julukan jelek bagi si anak tidak boleh pernah keluar dari mulut orang tua karena dampaknya sangat besar bagi perkembangan anak dan juga psikologisnya. Berteriak ketika marah memang sangat mudah dilakukan tetapi perlu diingat bahwa itu tidak akan memberikan penyelesaian. Apabila kita ingin mendisiplinkan anak lebih baik menggunakan cara yang lain seperti mengambil mainan si anak sampai si anak mengubah perilakunya. Berikan 1 bintang dari kertas padanya setiap dia melakukan perilaku yang baik dan bila sudah terkumpul 5 berikan hadiah padanya. (prinsip token ecconomy). Setelah si anak bisa lebih tenang, peluk dan berikan penjelasan padanya kenapa hal tersebut dilakukan. Kata-kata dapat memberikan dampat negatif dan positif bagi anak, apabila Anda tidak dapat mengontrol emosi, mintalah bantuan pada psikiater untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik


dr.Lahargo Kembaren
l_kembaren@yahoo.com
www.sehatjiwa.blogspot.com

Penilaian Risiko Perilaku Kekerasan

Thursday, December 01, 2011 Posted by Unknown No comments
ABSTRAK

Perilaku kekerasan yang dilakukan oleh pasien gangguan jiwa merupakan suatu masalah psikiatri yang sering sekali dijumpai dalam praktek klinis. Perilaku kekerasan ini membawa berbagai dampak dalam kehidupan pasien, keluarga, dan masyarakat. Beberapa kasus perilaku kekerasan bahkan harus berhubungan dengan kasus hukum dalam hal ini menyangkut aspek psikiatri forensik. Terdapat banyak instrumen yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian terhadap risiko perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa. Klinisi di bidang psikiatri diharapkan memiliki kemampuan untuk melakukan penilaian ini sehingga managemen dan intervensi pasien selanjutnya dapat lebih terarah.



Kata kunci : Perilaku kekerasan, penilaian, risiko

KASUS TARASOFF, CALIFORNIA, 1976.

Seorang mahasiswa pria, Prosenjit Poddar dari University of Berkeley (California) telah bertemu dan jatuh cinta kepada mahasiswa Tarasoff. Namun Tarasoff tidak membalas cintanya, sehingga mengakibatkan Poddar sakit hati dan menderita depresi berat. Ia kemudian sampai menelantarkan studinya dan kesehatannya menjadi menurun. Beberapa bulan kemudian Poddar berobat ke psikolog dari universitas, Dr. Lawrence Moore. Sewaktu menjalani psikoterapi, Poddar mengungkapkan bahwa ia hendak membunuh mahasiswi Tarasoff tersebut. Dr. Moore membahas persoalan itu dengan atasannya Dr. Harvey Powelson, seorang psikiater. Kemudian Dr. Moore menulis suatu surat diagnosis yang memohon agar polisi kampus universitas bertindak untuk menahan Poddar selama 72 jam untuk evaluasi. Polisi universitas telah menahan Poddar namun karena Poddar tampaknya cukup rasional terhadap polisi tersebut dan berjanji akan menghindari Tarasoff sehingga ia kemudian dibebaskan.
Atasan Dr.Moore, Dr.Harvey Powelson, kemudian bahkan memerintahkan agar tidak diambil tindakan lebih lanjut terhadap Poddar dan memerintahkan data datanya dimusnahkan. Tak seorangpun yang memberitahukan Tarasoff akan bahaya yang mengancam dirinya.
Enam minggu kemudian, sewaktu mahasiswi Tarasoff kembali ke kampusnya sehabis liburan, ia dibunuh oleh Poddar secara kejam . Orang tua Tarasoff kemudian menuntut universitas tersebut, polisi kampus, dan para psikoterapis yang dianggap telah berlaku lalai karena tidak memberitahukan kepada Tarasoff akan bahaya pembunuhan yang mengancam dirinya dari Poddar. Pengadilan California beranggapan bahwa apabila seorang terapis berkeyakinan bahwa seorang pasien merupakan ancaman bahaya bagi orang lain maka kewajibannya untuk memberitahukan adanya bahaya tersebut. Kewajiban itu bisa dibebaskan dengan melaporkan kepada polisi atau mengambil tindakan yang secara wajar diperlukan di dalam keadaan demikian. 2,3
Dari kasus ini diperoleh suatu kesimpulan bahwa penting sekali dilakukan penilaian risiko perilaku kekerasan yang muncul pada pasien dengan gangguan jiwa sehingga dapat memberikan keamanan bagi masyarakat sekitar.
PENDAHULUAN

Pada tahun 1960 an hanya sedikit data ilmiah yang tersedia untuk membuat keputusan untuk melepaskan seorang individu dengan gangguan jiwa setelah dia melakukan suatu perilaku kekerasan. Tetapi kemudian hal ini berubah setelah Dr. John Monahan pada tahun 1981 dengan bukunya yang berjudul : Predicting Dangerousness: An Assesment of Clinical Techniques membuat suatu rangkuman mengenai pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan terutama yang berkaitan dengan aspek hukum. 1
Penelitian yang dilakukan selama beberapa dekade telah menghasilkan beberapa alat pertimbangan bahaya yang dapat digunakan untuk menilai risiko perilaku kekerasan. Bila dikombinasikan dengan pemeriksaan klinis maka instrumen pertimbangan bahaya ini memiliki kemampuan yang lebih meningkat terutama bagi kedokteran forensik dalam menilai kemungkinan terjadinya suatu perilaku kekerasan. 1
Perilaku kekerasan merupakan masalah psikiatri yang banyak dijumpai dalam praktek psikiatri dan memerlukan penanganan yang serius karena biasanya memberikan gangguan yang serius dalam pekerjaan, relasi sosial, keluarga dan masalah hukum12,14. Pasien yang berulang kali dirawat karena perilaku kekerasan yang dilakukannya biasanya memiliki riwayat perilaku kekerasan yang berulang, usia muda, memiliki gangguan neurologis, didiagnosis sebagai skizofrenia atau gangguan kepribadian dan biasanya dibawa ke rumah sakit secara paksa. 7 Banyak orang dengan gangguan jiwa tidak berbahaya, meskipun demikian setiap pasien dengan gangguan jiwa baik yang dirawat maupun tidak harus dipertimbangankan potensial melakukan perilaku kekerasan. Beberapa faktor seperti kepatuhan minum obat, setting terapi, dan tipe gangguan jiwa yang muncul perlu dipertimbangkan ketika menentukan kemungkinan berbahayanya seorang pasien. Tingkat berbahayanya seorang pasien yang dirawat dan tidak dirawat berbeda karena pada pasien yang dirawat dilakukan observasi dan dapat segera dilakukan intervensi krisis. Sedangkan pada pasien yang tidak dirawat lebih sulit karena mereka tinggal di komunitas dan memiliki kemampuan koping yang rendah. Bukanlah hal yang tidak mungkin untuk menilai risiko seseorang menjadi berbahaya bagi dirinya dan juga bagi orang lain tetapi faktor-faktor yang yang menentukan hal tersebut perlu dipertimbangkan.3
Saat ini terdapat peningkatan minat untuk menilai perilaku kekerasan pada pasien yang dirawat, terutama pada pasien psikiatri forensik karena keputusan untuk memulangkan pasien memiliki potensial berbahaya bagi orang lain. Banyak penelitian sudah dilakukan untuk menentukan penilaian risiko perilaku kekerasan.17,18 Legislasi dan masalah hukum dalam berbagai konteks membuat seorang klinisi harus mengetahui penilaian dan managemen risiko perilaku kekerasan. Sebagai contoh, seorang klinisi diharapkan memiliki kemampuan untuk menilai apakah sebuah intervensi dibutuhkan untuk melindungi pihak ketiga dari perilaku kekerasan yang akan dilakukan oleh pasien.10,16 Informasi mengenai penilaian risiko juga penting untuk managemen risiko dan rencana intervensi untuk menurunkan risiko tersebut.8,14,15,18


FAKTOR – FAKTOR PREDIKTOR MUNCULNYA PERILAKU KEKERASAN

Instrumen pertimbangan bahaya seperti juga pemeriksaan klinis mempertimbangkan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko munculnya perilaku kekerasan dalam hal beratnya, frekuensi, dan kesegeraannya.

1. Data dasar
 Menunjukkan frekuensi terjadinya perilaku kekerasan yang dilakukan dalam populasi
 Faktor prediktor pertimbangan bahaya yang paling tinggi
 Tidak berhubungan secara spesifik dengan gangguan jiwa
 Dapat terjadi ”over predict”
2. Faktor demografi
 Laki laki lebih banyak melakukan perilaku kekerasan
 Usia muda lebih sering melakukan perilaku kekerasan dibandingkan dengan yang lebih tua
 Pengangguran, status ekonomi yang rendah dan status pendidikan yang rendah berhubungan dengan munculnya perilaku kekerasan18
3. Riwayat perilaku kekerasan sebelumnya
 Salah satu indikator paling kuat dan potensial munculnya perilaku kekerasan di kemudian hari
 Bentuk perilaku kekerasan : selalu penting untuk dipertimbangkan seperti: jenis korban, lingkungan dan konteks
4. Penyalahgunaan zat
 Obat-obatan terlarang dan alkohol merupakan kontribusi utama munculnya perilaku kekerasan baik pada pasien dengan gangguan jiwa maupun yang tidak
 Prevalensi penyalahgunaan zat pada pasien gangguan mental lebih tinggi dibanding dengan populasi umum
 Penyalahgunaan zat faktor risiko penting pada kasus psikotik
5. Diagnosis psikiatri
 Penelitian sebelumnya menghubungkan perilaku kekerasan dengan pasien skizofrenia secara khusus tetapi penelitian lebih lanjut tidak begitu jelas menghubungkan hal ini
 Meskipun demikian didapatkan risiko melakukan perilaku kekerasan tiga kali lipat pada mereka dengan psikosis atau pada penelitian lain adalah meningkat 3 – 10 %. 1,6
 Lebih relevan apabila melihat pada gejala psikiatri daripada diagnosisnya
 Pasien dengan gangguan skizofreniform juga memiliki hubungan yang kuat dengan munculnya perilaku kekerasan. 6

6. Gejala akut psikiatri
a) Manik dan perilaku kekerasan
 Manik adalah gangguan jiwa yang serius
 Memiliki ciri pada meningkatnya mood dan iritabillitas, perasaan grandious dan bentuk pikiran dan perkataan yang cepat
 Dapat berakibat perilaku yang mengancam tetapi biasanya tidak sampai kepada perilaku kekerasan yang berat
b) Depresi dan perilaku kekerasan
 Karakteristik dari depresi mayor adalah perasaan tidak berharga atau bersalah yang tidak sesuai yang disertai dengan pikiran akan kematian
 Perilaku kekerasan biasanya terjadi mengarah pada diri sendiri ataupun mengarah pada orang lain yang punya hubungan dekat dengan pasien1,3
c) Waham dan perilaku kekerasan
 Kepercayaan salah yang menetap yang tidak dapat dijelaskan dan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan, sosial dan budaya pasien
 Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara perilaku kekerasan dan waham
 Khususnya adalah waham bahwa dirinya diancam oleh orang lain dan waham dikendalikan1,3
d) Halusinasi dan perilaku kekerasan
 Persepsi yang salah
 Halusinasi yang menyuruh pasien untuk melakukan sesuatu seperti melakukan perilaku kekerasan dan biasanya intensitasnya lebih meningkat apabila suara yang didengarnya tersebut adalah suara orang yang dikenal.1,3
7. Gangguan kepribadian antisosial
 Memiliki karakter tidak perduli dan melakukan perilaku kekerasan terhadap orang lain
 Biasanya mulai dari usia anak-anak
 Memiliki prevalensi yang tinggi pada populasi penghuni penjara
 Memiliki hubungan yang kuat dengan penyalahgunaan zat
 Merupakan prediktor yang kuat bagi residivis kriminal khususnya residivis perilaku kekerasan4
8. Psikopati
 Ditandai dengan kombinasi antara gangguan kepribadian antisosial dan gangguan kepribadian narsisistik
 Tingkat keparahan dari psikopati diukur secara efektif dengan Hare’s Psychopathy Checklist Revised (PCL-R), angka yang tinggi berhubungan dengan perilaku kekerasan1
9. Gangguan organik dan belajar
 Apabila didapatkan adanya gangguan maka akan meningkatkan risiko munculnya perilaku kekerasan
 Pada epilepsi, perilaku kekerasan yang muncul merupakan akibat dari kejang yang muncul.
 Pada anak dengan ADHD terdapat pola perilaku yang hiperaktif dan impulsif1,4,13
10. Aspek biologi
 Defisit lobus frontalis
 Abnormalitas dari neurotransmiter
 Kerusakan neurologis perinatal
 Perilaku genetik1,4
 Memiliki penampilan yang baik pada tes neuropsikologis “tapping” dan buruk pada pemeriksaan fungsi orbitofrontal.
 Memiliki lebih sedikit tanda lunak neurologis
 Terdapat abnormalitas spesifik pada sistem orbitofrontal, abnormalitas pada sistem amygdala orbitofrontal dan pengurangan volume hipokampus. 11
11. Kelekatan, gangguan mental, dan kriminalitas
 Seorang anak mempelajari suatu hubungan melalui suatu proses yang kompleks dengan pengasuhnya
 Gangguan pada proses kelekatan awal seperti penganiayaan dan pengabaian dapat menyebabkan psikopatologi di kemudian hari dan menimbulkan perilaku kekerasan 1
 Anak dengan gangguan atensi memiliki risiko yang lebih besar untuk munculnya perilaku kekerasan. 6
 Terdapat juga peningkatan risiko perilaku kekerasan pada pasien lelaki dengan skizofrenia yang memiliki masalah pada saat proses kelahiran.6
 Perilaku kekerasan pada masa anak-anak berhubungan dengan munculnya perilaku kekerasan pada saat usia dewasa. 6






PENILAIAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN GANGGUAN JIWA

Menilai risiko dari seorang pasien yang melakukan perilaku kekerasan merupakan hal yang penting dalam praktek psikiatri. Pertama-tama ada sebuah model pertimbangan risiko bahaya (actuarial) yang dikembangkan oleh MacArthur Violence Risk Assesment Study untuk memprediksi kemungkinan munculnya perilaku kekerasan pada pasien yang sudah dipulangkan dari tempat perawatan.5 Kemudian banyak dikembangkan bentuk penilaian risiko dan management oleh profesional kesehatan jiwa. Terdapat 2 metode tradisional dalam membuat suatu keputusan yaitu : klinis dan aktuarial. Metode klinis adalah suatu metode yang informal, impresionistik, keputusan subjektif yang didapatkan berdasarkan keputusan seseorang secara klinis. Metode aktuarial adalah metode formal dengan menggunakan persamaan, formula, grafik atau tabel untuk menilai kemungkinan suatu kejadian. 9,13,19
Beberapa instrumen yang dapat digunakan untuk melakukan penilain risiko perilaku kekerasan antara lain adalah :

Risk Category Adult Instruments Child/Youth Instruments
General Risk / General Recidivism  Level of Service Inventory (LSI-R)
 General Statistical Information on Recidivism (GSIR)
 Youth Level of Service Inventory (YLSI)
 Early Assessment Risk for Boys (EARL-20B)
*for children
 Early Assessment Risk for Girls (EARL-21G)
*for children

Workplace Risk  Workplace Risk Assessment (WRA-20)
 Employee Risk Assessment (ERA-20)

Spousal Violence Risk  Spousal Assault Risk Assessment Guide (SARA)

Violent Risk /
Violent Recidivism  Hare Psychopathy Checklist Revised (PCL-R)
 Historical Clinical Risk -20 (HCR-20)
 Violent Risk Appraisal Guide (VRAG)
 Hare Psychopathy Checklist, Revised - Youth Version
(PCL-R: YV)
 Structured Assessment of Violence Risk for Youth (SAVRY)

Sexual Risk /
Sexual Recidivism  Sex Offender Risk Appraisal Guide (SORAG)
 Sexual Violence Risk-20 (SVR-20)
 Rapid Risk Assessment for Sex Offence Recidivism (RRASOR)
 STATIC-99/ STATIC 2002
 Minnesota Sex Offender Screening Tool - Revised (MnSORT-R)
 Sex Offender Needs Assessment Rating (SONAR)
 Estimate of Risk of Adolescent Sexual Offence Recidivism (ERASOR)




Pengukuran perilaku kekerasan dapat diukur dengan Overt Aggression Scale. 7,13 Dalam OAS ini, perilaku kekerasan dibagi menjadi 4 kategori yaitu:
1. Agresi verbal
2. Agresi fisik terhadap benda
3. Agresi fisik terhadap diri sendiri
4. Agresi fisik terhadap orang lain

Perilaku kekerasan
Agresi verbal
Membuat suara yang keras, berisik, berteriak dengan marah
Berteriak menghina seseorang (misalnya: ”Kamu bodoh!)
Mengutuk dengan kata-kata yang kasar dalam kemarahan membuat suatu ancaman terhadap diri sendiri dan orang lain
Membuat ancaman yang jelas untuk melakukan perilaku kekerasan pada orang lain (misalnya: Aku akan membunuhmu!) atau meminta pertolongan untuk mengontrol diri sendiri
Agresi fisik terhadap benda
Membanting pintu, merobek baju, membuat berantakan
Membanting benda ke bawah, menendang perabotan tanpa menghancurkannya, memberi tanda di dinding
Menghancurkan benda benda, menghancurkan jendela
Menyalakan api, melempar objek dengan cara berbahaya
Agresi fisik terhadap diri sendiri
Mencubit atau mencakar kulit sendiri, memukul diri sendiri, mencabuti rambut (dengan sedikit atau tanpa luka )
Membenturkan kepala, memukulkan tinju pada benda, membanting diri sendiri ke lantai atau benda ( menyakiti diri sendiri tanpa luka yang serius)
Memotong / membuat memar tubuh sendiri sedikit, membakar diri sendiri sedikit
Mutilasi diri, memotong yang dalam, menggigit diri sendiri sampai berdarah, luka pada organ dalam dan fraktur, kehilangan kesadaran, gigi tanggal
Kekerasan fisik terhadap orang lain
Membuat gestur yang mengancam, mengayunkan tangan pada orang lain, menarik baju
Memukul menendang, mendorong, menjambak rambut (tanpa menimbulkan luka pada orang lain)
Menyerang orang lain, menyebabkan luka fisik ringan sampai sedang
Menyerang orang lain, menyebabkan luka fisik yang serius


Intervensi
Tidak ada
Berbicara pada pasien
Observasi yang lebih dekat
Memegang pasien
Memberikan obat oral dengan segera
Memberikan obat suntikan dengan segera
Mengisolasi pasien tanpa seklusi (time out)
Seklusi
Menggunakan restrain
Penanganan luka pada pasien sendiri dengan segera
Penanganan luka pada orang lain dengan segera

Pengukuran yang juga dapat dilakukan dan saat ini mendapatkan perhatian yang cukup besar adalah Historical Clinical Risk Management 20 (HCR-20) yang terdiri dari 20 item yang ditemukan untuk memprediksi perilaku kekerasan yang muncul. Setiap item diberikan nilai 0 (tidak ada), 1 (kemungkinan ada), dan 2 (ada), sehingga nilai tertinggi adalah 40 dan terkecil adalah 0. Semakin tinggi nilai berarti semakin besar risiko perilaku kekerasan. 8

Kode item HCR-20 Skor
H1 Perilaku kekerasan sebelumnya
H2 Usia saat perilaku kekerasan pertama dilakukan
H3 Hubungan relasi yang buruk
H4 Masalah pekerjaan
H5 Penggunaan obat terlarang
H6 Gangguan jiwa
H7 Psikopati
H8 Maladjustment pada usia dini
H9 Gangguan kepribadian
H10 Gagal diberikan supervisi oleh petugas medis
C1 Tidak adanya tilikan
C2 Perilaku negatif
C3 Gejala gangguan jiwa yang aktif
C4 Impulsif
C5 Tidak respon terhadap pengobatan
R1 Rencana management risiko tidak berhasil
R2 Terpapar pada kondisi yang dapat memicu kembali perilaku kekerasan
R3 Dukungan yang kurang
R4 Tidak patuh pada usaha remediasi
R5 stres

Hasil akhir yang diberikan berupa risiko rendah, risiko sedang, dan risiko tinggi sesuai dengan nilai yang diperoleh. Hasil yang didapatkan kemudian mengarah kepada management pasien yang diberikan selanjutnya yaitu, monitoring, terapi, supervisi, dan pendekatan keamanan korban. 9
Diperlukan suatu latihan yang sistematik mengenai penilaian risiko perilaku kekerasan. Karena dengan latihan tersebut akan meningkatkan kemampuan objektif seorang klinisi dalam membuat suatu keputusan yang penting dalam suatu kasus psikiatri forensik.10


ASPEK PSIKIATRI FORENSIK : KERAHASIAAN PASIEN DAN KEWAJIBAN MELINDUNGI CALON KORBAN

Isu dari suatu kewajiban untuk memberikan peringatan pada orang ketiga yang menjadi risiko perilaku kekerasan dari seorang pasien merupakan hal yang mulai diperhatikan berdasarkan kasus Tarasoff. Seorang dokter dihadapkan pada konflik antara kewajiban mereka untuk menjaga kerahasiaan pasien dan tugas untuk melindungi seseorang dari potensial pasien yang berbahaya. Kerahasiaan pasien merupakan kewajiban legal yang secara etik dan profesional harus dipegang oleh seorang dokter untuk tidak membuka apa yang sudah dikomunikasikan dalam hubungan dokter pasien. Seperti pada Sumpah Hipokrates : “ Whatsoever things I see or hear concerning the life of man, in any attendance on the sick or even apart therefrom, which ought not to be voiced about I will keep silent thereon, counting such things to be as sacred secrets ” . Seorang dokter memiliki kewajiban pada pasiennya untuk menjaga privasi pasien dan menolak semua usaha untuk membuka data mengenai pasiennya. Sedangkan berdasarkan Tarasoff rule, seorang dokter memiliki kewajiban untuk melindungi orang ketiga dari kemungkinan bahaya yang ditimbulkan oleh pasiennya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan yaitu :
1. Penilaian
2. Seleksi tindakan yang akan dilakukan
3. Implementasi
Pada saat penilaian digunakan instrumen untuk menilai risiko perilaku kekerasan yang dapat membahayakan orang lain sesuai dengan keadaan gangguan jiwanya. Maka tindakan yang dipilih adalah memasukkannya ke dalam rumah sakit sehingga dapat dilakukan intervensi yang sesuai dengan keadaan penyakit orang tersebut. Apabila calon korban sudah berhasil diidentifikasi dari pasien, misalnya dia ingin membunuh orang tertentu, maka tindakan selanjutnya adalah melakukan terapi pada pasien dan merawat dengan keamanan yang ketat, memberitahu calon korban tentang adanya bahaya tersebut, memberitahu aparat kepolisian setempat, memberitahu keluarga, dan memberitahu orang lain yang dapat memberitahu calon korban. Setiap langkah yang diambil harus didokumentasikan dalam rekam medis pasien. Penilaian risiko perilaku kekerasan dan keberbahayaan pasien menjadi sebuah tugas yang penting yang harus dilakukan oleh seorang psikiater dan kompetensi serta kapabilitas harus dimiliki untuk melakukan penilain tersebut. Pada akhirnya terdapat pergeseran standar dari tugas psikiater yaitu dari menyembuhkan pasien kepada melindungi masyarakat. 20


PENUTUP

Perilaku kekerasan yang dilakukan oleh pasien gangguan jiwa sering sekali berkaitan dengan masalah hukum. Dibutuhkan suatu alat untuk melakukan penilaian mengenai risiko perilaku kekerasan yang akan dilakukan oleh pasien dengan gangguan jiwa ini. Hal ini berguna untuk managemen dan intervensi selanjutnya pada pasien dan juga bagi institusi tempat pasien bekerja, lingkungan keluarga dan masyarakat dan juga bagi institusi hukum. Beberapa alat dapat digunakan untuk melakukan penilaian risiko perilaku kekerasan dan sebaiknya dilakukan pelatihan yang rutin sehingga diharapkan para klinisi di bidang psikiatri memiliki kemampuan untuk menilai perilaku kekerasan pada pasien. Kemampuan untuk melakukan penilaian risiko perilaku kekerasan ini akan bermanfaat ketika berhadapan dengan kasus – kasus psikiatri forensik.