Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

WASPADAI GEJALA TRAUMA SETELAH BENCANA

Friday, November 13, 2009 Posted by Lahargo Kembaren No comments
Gempa yang baru saja mengguncang Sumatera Barat dan juga bencana bencana lain yang terjadi di Indonesia memberikan dampak penderitaan yang begitu besar bagi yang mengalaminya. Bukan hanya kerugian fisik dan material tetapi terlebih harus diwaspadai munculnya gangguan trauma akibat bencana ini. Trauma secara sederhana dapat diartikan sebagai luka yang sangat menyakitkan. Pengalaman Traumatis, secara psikologik berarti pengalaman mental yang mengancam kehidupan, dan melampaui ambang kemampuan rata rata orang untuk menanggungnya. Peristiwa tersebut dapat dialami sendiri atau menyaksikan (terlibat langsung) dalam peristiwa tersebut. Pengalaman traumatis mengakibatkan perubahan yang drastis dalam kehidupan seseorang. Pengalaman traumatis mengubah persepsi seseorang terhadap kehidupannya. Pengalaman traumatis dapat mengubah perilaku dan kehidupan emosi seseorang. Reaksi individu dalam menghadapi pengalaman traumatis berbeda beda tergantung dari berbagai faktor yaitu:
- Berat dan jenis paparan trauma
- Ciri Kepribadian
- Dukungan dari keluarga
- Respons komunitas/budaya
Seseorang yang mengalami peristiwa traumatis, kehilangan dan duka cita yang luar biasa, menurut Kubler Rose akan melampau beberapa pentahapan respons mental, yaitu:
1. Keterkejutan dan penyangkalan
2. Kemarahan
3. Tawar menawar
4. Keputusasaan
5. Penerimaan
Termasuk dalam peristiwa traumatis adalah:
- Bencana alam (gempa bumi, banjir, tsunami, dll)
- Konflik berkekerasan
- Penyiksaan
- Pemerkosaan
- Kecelakaan yang mengerikan
- Peristiwa peristiwa yang mengancam kelangsungan hidup

Peristiwa peristiwa traumatik yang mengerikan dan mengancam kelangsungan hidup merupakan pengalaman traumatis yang menimbulkan distres dan gejala gejala pasca trauma. Perubahan berbagai aspek kehidupan, kerusakan harta benda, kehilangan orang orang yang dicintai, membutuhkan daya adaptasi yang luar biasa. Guncangan psikososial yang dialami sebagian besar dari masyarakat korban bencana/peristiwa traumatis bersifat sementara dan akan pulih secara alamiah dalam waktu yang singkat.
Gejala gejala distres mental yang muncul, seperti ketakutan, gangguan tidur, mimpi buruk, siaga berlebihan, panik, berduka, dsb. Adalah respon psikologik yang “normal” terhadap peristiwa yang “sangat tidak normal”.

Sekitar 10 – 20% korban bencana akan mengalami gangguan mental bermakna, seperti; Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD), Depresi, Gangguan Panik, dan berbagai gangguan Anxietas terkait trauma. Mereka ini membutuhkan pertolongan ahli kesehatan jiwa. Gejala-gejala PTSD antara lain :
 Re-experiencing (seperti mengalami kembali)
 Avoidance (penghindaran)
 Hyper-arousal (keterjagaan)

Re-experiencing :
• Terbayang bayang selalu akan pengalaman traumatisnya
• Terganggu mimpi buruk akan pengalaman traumatisnya
• Seperti mengalami kembali peristiwa traumatisnya(flash back)
• Merasakan ketegangan psikologis yang terus menerus bila terapar kejadian yang mengingatkan akan pengalaman traumatisnya
Avoidance :
• Senantiasa berusaha untuk menghindari hal hal yang mengingatkannya pada pengalaman traumatisnya
• Amnesia psikogenik
• Hilang minat terhadap berbagai aktivitas
• Perilaku menarik diri
• Afek/kehidupan emosi menumpul
• Takut memikirkan masa depan
Hyper-arousal :
• Gangguan tidur
• Mudah marah dan tersinggung
• Sulit berkonsentrasi
• Gampang kaget
• Kewaspadaan berlebihan
Gejala-gejala tambahan lainnya adalah :
• Rasa berdosa dan menyalahkan diri
• Depresi, anxietas, marah, berduka
• Perilaku impulsif (compulsive shopping, eating, changes in sexual behavior)
• Keluhan somatik kronis (sakit kepala, gangguan lambung)
• Perilaku destruktif terhadap diri sendiri
• Perubahan kepribadian

Prinsip dalam pemulihan trauma :
• Mengundang memori traumatik dan menghadapi respons emosi yang muncul
• Melakukan koreksi terhadap pemikiran yang salah tentang persepsi diri dan kehidupannya
• Belajar menghadapi memori yang ditakutinya
• Membedakan antara memori yang menakutkan dan keberbahayaan

0 comments:

Post a Comment