Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Ketika karier istri lebih tinggi dari suami

Friday, November 13, 2009 Posted by Lahargo Kembaren No comments
Seringkali masalah keluarga dipicu oleh masalah keuangan seperti gaji istri yang lebih tinggi dari suami dan ini bisa menjadi salah satu faktor pemicu banyaknya perceraian.dalam kehidupan perkawinan,suami menempati kedudukan tertinggi,sebagai kepala keluarga dan bertugas mencari nafkah.
Untuk menyiasatinya cobalah untuk melakukan kiat dibawah ini :

1.Bersyukur.
Penghasilan istri yang lebih tinggi harus disyukuri sebagai berkah bagi peningkatan kesejahteraan keluarga, sehingga suami tidak perlu minder atau malah menjadi bibit konflik

2.Tetap percaya diri.
Minder tidaknya suami sangat tergantung dari kepribadian suami-istri itu sendiri dan sikap serta perlakuan masing-masing terhadap pasangannya. Bila istri rajin mengomel dan gemar mencerca, suami yang normal pun lama-lama akan minder. Sementara suami yang kurang PD alias tak percaya diri tetap saja dibayangi rasa rendah diri, kendati istrinya sama sekali tak pernah mempersoalkan gajinya yang lebih tinggi.

3.Jangan membandingkan.
Istri jangan membandingkan atau malah memaksakan kesuksesan kita pada suami. Meski boleh jadi kita mengutarakan perbandingan itu untuk memotivasi atau memacu suami agar sama-sama berprestasi. Soalnya, baik istri maupun suami tak dibenarkan berpikir untuk mengubah pasangan, justru yg harus kita kembangkan adalah sikap menerima pasangan apa adanya. Kesediaan menerima pasangan apa adanya bisa menjadi perekat hubungan di antara suami-istri.

4.Saling Terbuka.
Untuk menepis kemungkinan timbulnya konflik spt ini sebaiknya masalah ini dibicarakan sebelum memutuskan untuk menikah.Jikapun kesadaran ini baru muncul setelah menikah,bukan merupakan kesalahan fatal yang tak bisa dikoreksi karena masih bisa dibicarakan dengan suami atau istri.


Kemungkinan munculnya konflik gara-gara istri bergaji lebih tinggi sudah disadari dan dibicarakan sejak awal, bahkan sebelum memutuskan untuk menikah. Dengan begitu masing-masing sudah punya visi bagaimana cara menghadapinya, semisal membuat komitmen-komitmen seputar hal itu. Apalagi bila (calon) istri memang berpendidikan tinggi, memiliki motivasi kuat dan berpeluang maju, sementara karir suami cenderung mentok. Belum lagi kenyataan bahwa wanita kini relatif lebih mudah mencari pekerjaan dibanding pria diberbagai bidang pekerjaan.
Jikapun kesadaran ini baru muncul setelah menikah, pun bukan merupakan kesalahan fatal yang tak bisa dikoreksi karena masih bisa dibicarakan. "Tapi ngomong-nya jangan langsung to the point, meski juga bukan sambil lalu. Melainkan dalam rangka membicarakan hal lain, misal, kala membicarakan pengelolaan pengeluaran." Contoh, "Buat belanja kebutuhan sehari-hari, sebaiknya gaji Mama, deh. Gaji Papa untuk tabungan, kebutuhan mendadak atau keperluan yang membutuhkan dana tak sedikit seperti beli rumah atau kendaraan." Komunikasi yang baik antara suami dan istri akan membuat segalanya menjadi lebih mudah dan ringan.

0 comments:

Post a Comment