Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

"The Marriage Creed"

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Comfort each other. . .
Provide a refuge and sanctuary for each other from the chill winds of the world. Your marriage is a hearth, from whence comes the peace, harmony, and warmth of soul and spirit.

Caress as you would be caressed. . .
Warm your loved one's body with your healing touch. Remember that as babies can die with lack of touching,so can marriages wither from lack of closeness.

Be a friend and partner. . .
Friendship can be a peaceful island, separate and apart, in a world of turmoil and strife. Reflect upon the tranquility of the many future years you can share with a true friend, and beware of becoming battling enemies under the same roof.

Be open with each other. . .
Bind not yourselves in the secretness that caused suspicion and doubt. Trust and reveal yourselves to each other, even as the budding rose opens to reveal its fragrance and beauty.

Listen to each other. . .
And hear not only words, but also the non-language of tone, mood and expression. Learn to listen to understand rather than listening to argue.

Respect each other's rights. . .
Remember that each is a person of flesh and blood, entitled to his or her own choices and mistakes. Each owns himself, and has the right to equality.

Allow the other to be an individual. . .
Seek not to create for each other a new mold that can only fit with much discomfort and pain. Accept the other as they are, as you would have yourself accepted.

Give each other approval. . .
Remember criticism divides, while compliments encourage confidence in the other. Hasten not to point out the other's mistakes, for each will soon discover his own.

Cherish your union. . .
Let no one come between your togetherness, not child, not friend, nor worldly goods. Yet maintain enough separateness to allow each other his or her own unique oneness.

Love one another. . .
Love is your river of life-- your eternal source of recreating yourselves. Above all else -- love one another

Psikoterapi Suportif

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Tujuan :
• Menguatkan daya tahan mental yang telah dimilikinya
• Mengembangkan mekanisme daya tahan mental yang baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan fungsi pengontrolan diri
• Meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan

Ventilasi
• Suatu bentuk psikoterapi suportif yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pasien untuk mengemukakan isi hatinya dan sebagai hasilnya ia akan merasa lega serta keluhannya akan berkurang
• Sikap terapis : menjadi pendengar yang baik dan penuh pengertian
• Topik pembicaraan : permasalahan yang menjadi stres yang utama

Persuasi
• Suatu bentuk psikoterapi suportif yang dilakukan dengan menerangkan secara masuk akal tentang gejala-gejala penyakitnya yang timbul akibat cara berpikir, perasaan, dan sikapnya terhadap masalah yang dihadapinya.
• Sikap terapis :
o terapis berusaha membangun, mengubah, dan menguatkan impuls tertentu serta membebaskannya dari impuls yang mengganggu secara masuk akal dan sesuai dengan hati nurani
o Berusaha meyakinkan pasien dengan alasan yang masuk akal bahwa gejalanya akan hilang
• Topik pembicaraan : ide dan kebiasaaan pasien yang mengarah pada terjadinya gejala

Reassurance
• Suatu bentuk psikoterapi suportif yang berusaha meyakinkan kembali kemampuan pasien bahwa ia sanggup mengatasi masalah yang dihadapinya
• Sikap terapis : meyakinkan secara tegas dengan menunjukkan hasil-hasil yang telah dicapai pasien
• Topik pembicaraan : pengalaman pasien yang berhasil nyata

Sugestif
• Suatu bentuk psikoterapi suportif yang berusaha menanamkan kepercayaan pada pasien bahwa gejala-gejala gangguannya akan hilang
• Sikap terapis : meyakinkan dengan tegas bahwa gejala pasien pasti hilang
• Topik pembicaraan : gejala-gejala bukan karena kerusakan organik/fisik dan timbulnya gejala-gejala tersebut adalah tidak logis

Bimbingan
• Suatu bentuk psikoterapi suportif yang memberi nasihat dengan penuh wibawa dan pengertian
• Sikap terapis : menyampaikan nasihat dengan penuh wibawa dan pengertian
• Topik pembicaraan : cara hubungan antar manusia, cara berkomunikasi, dan cara bekerja serta belajar yang baik

Penyuluhan
• Penyuluhan atau konseling adalah psikoterapi suportif yang membantu pasien mengerti dirinya sendiri secara lebih baik agar ia dapat mengatasi permasalahannya dan dapat menyesuaikan diri
• Sikap terapis : menyampaikan secara halus dan penuh kearifan
• Topik pembicaraan : masalah pendidikan, pekerjaan, pernikahan, dan pribadi

Perilaku Kekerasan pada Pasien Gangguan Jiwa

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown 1 comment
 Perilaku Kekerasan pada Pasien Gangguan Jiwa

dr.Lahargo Kembaren, SpKJ


ABSTRAK

Prilaku kekerasan merupakan suatu kedaruratan gangguan jiwa yang perlu mendapatkan tatalaksana segera. Banyak etiologi yang menjadi penyebab munculnya prilaku kekerasan. Penatalaksanaan pasien dengan prilaku kekerasan harus sistematis dan seksama untuk meminimalkan resiko-resiko yang bisa terjadi. Penatalaksanaan dengan menggunakan psikofarmaka dalam menangani pasien dengan prilaku kekerasan banyak dilakukan.

Keywords : prilaku kekerasan, gangguan jiwa, penatalaksanaan

PENDAHULUAN

Prilaku kekerasan merupakan masalah kesehatan yang masyarakat yang penting. Di Amerika Serikat, homicide merupakan penyebab kematian ke-13 pada tahun 1997. Beberapa diagnosis psikiatri termasuk gangguan mood, penyalahgunaan zat dan psikosis berhubungan dengan peningkatan prilaku kekerasan. Pada pertemuan APA para ahli menfokuskan hubungan antara prilaku kekerasan dengan gangguan psikiatri.1
Prilaku kekerasan adalah suatu bentuk penyerangan fisik yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Apabila hal itu dilakukan secara langsung kepada diri sendiri, hal itu disebut mutilasi diri sendiri atau prilaku bunuh diri. Prilaku kekerasan dapat terjadi pada gangguan psikiatri dan dapat juga terjadi pada orang normal yang tidak dapat mengatasi tekanan hidup. Prilaku kekerasan sering sekali menjadi sebab seseorang dibawa ke unit gawat darurat psikiatri. Dokter dan perawat harus tahu bagaimana prosedur yang cepat untuk mengatasi keadaan ini. Prosedur ini meliputi intervensi prilaku, farmakologi, dan psikososial. 2,6
Kata-kata seperti agresi, violence ( kekerasan ), kejahatan, sikap bermusuhan banyak ditemukan dalam literatur. Agresi digunakan untuk manusia dan hewan. Pada manusia, agresi bisa menunjukkan agresi verbal, agresi fisik terhadap benda, atau agresi fisik terhadap orang.Tindakan agresi pada diri sendiri disebut mutilasi sendiri, tindakan bunuh diri juga dimasukkan ke dalam definisi ini. Keadaan prilaku kekerasan hanya digunakan untuk menggambarkan prilaku manusia yang menunjukkan agresi fisik yang dilakukan seseorang terhadap orang lain. Kejahatan didefinisikan sebagai prilaku kekerasan yang intens dilakukan dan melawan hukum. Hostility ( sikap bermusuhan ) adalah suatu definisi yang lebih renggang untuk agresi, iritabilitas, kecurigaan, tidak kooperatif, dan kecemburuan.4

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO PRILAKU KEKERASAN 2,3,5

Kondisi psikiatri yang paling sering berhubungan dengan prilaku kekerasan adalah gangguan psikotik seperti skizofrenia dan mania ( terutama pada pasien paranoid atau yang mengalami halusinasi tipe “commanding” ), intoksikasi alkohol dan obat-obatan, putus alkohol dan obat hipnotik sedatif, kegelisahan katatonik, depresi yang teragitasi, gangguan kepribadian yang ditandai dengan kemarahan dan pengontrolan impuls yang buruk ( contohnya gangguan kepribadian ambang dan antisosial ), dan gangguan organik ( terutama yang menyangkut keterlibatan lobus frontal dan temporal).

Diagnosis yang berhubungan dengan prilaku kekerasan :

1. Gangguan psikotik
a. Skizofrenia ( terutama paranoid dan katatonik )
b. Mania
c. Gangguan paranoid
d. Psikosis post partum

2. Gangguan mental organik
a. Delirium
b. Intoksikasi atau putus obat

3. Gangguan kepribadian
a. Antisosial
b. Paranoid

4. Masalah situasional
a. Pertengkaran dalam rumah tangga ( kekerasan oleh pasangan )
b. Penganiayaan anak
c. “ Homosexual panic “

5. Gangguan otak
a. gangguan epilepsi
b. kerusakan struktural ( akibat trauma atau ensefalitis )
c. Retardasi mental dan disfungsi minimal otak


HUBUNGAN GANGGUAN JIWA DENGAN PRILAKU KEKERASAN

Gangguan kepribadian dan Agresi Impulsif

Karena agresi impulsif memainkan peranan yang besar terhadap insidens prilaku kekerasan maka mengetahui hubungan antara prilaku dengan gangguan kepribadian sangatlah penting. Determinan dari agresi impulsif menyangkut transmisi genetik, pengaruh lingkungan, dan kondisi biologik yang abnormal. Studi yang dilakukan mengenai transmisi agresi impulsi pada keluarga menunjukkan bahwa agresi impulsif lebih bersifat diturunkan daripada gangguan kepribadian saja. Studi yang dilakukan pada individu dengan keluarga yang memiliki gangguan eksplosif yang intermiten menunjukkan bahwa gangguan psikiatri lain seperti penyelahgunaan zat, gangguan mood muncul pada kluster ini. Faktor lingkungan yang berpengaruh pada resiko agresif impulsif adalah pengalaman atau menyaksikan prilaku kekerasan pada saat anak-anak. Agresi impulsif dapat terlihat pada individu dengan gangguan kepribadian paranoid (20%), ambang (23%), obsesif kompulsif (21%), narsisistik (13%), antisosial (10%).
Cocarro menunjukkan bahwa terdapat hubungan terbalik antara beberapa pengukuran fungsi serotonin dengan agresif impulsif pada individu dengan gangguan kepribadian. Kadar vasopresin pada CSF berkorelasi positif dengan agresif impulsif, sedangkan vasopresin sendiri memiliki korelasi terbalik dengan fungsi serotonin. PET scan menunjukkan bahwa individu dengan gangguan eksplosif intermiten memiliki aktivitas serotonin yang lebih rendah di daerah korteks orbital - frontal dibandingkan yang normal.
Beberapa studi menunjukkan adanya disregulasi pada sistem serotonin yang memainkan peranan penting pada agresif impulsif. 5-HIAA CSF yang merupakan metabolit utama serotonin menurun pada individu dengan riwayat agresif impulsif dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita akibat agresif impulsif dan juga pada orang normal.
Beberapa jenis obat telah diteliti sebagai terapi pada agresif impulsif. Obat seperti lithium dan fenitoin setelah diteliti ternyata dapat mengurangi agresif impulsif pada para tahanan. Carbamazepine dapat menurunkan agresif impulsif pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang, demikian juga dengan Amitriptilin. Studi sekarang ini memfokuskan pada penggunaan serotonin reuptake inhibitor pada terapi agresif impulsif yang terjadi pada berbagai gangguan jiwa. Cocarro dalam penelitiannya menunjukkan efek positif yang ditunjukkan pada pemberian fluoxetine pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang.

Depresi dan Prilaku kekerasan

Depresi dan prilaku kekerasan berhubungan bermakna dengan iritabilitas yang ditunjukkan dalam suatu studi bahwa 37 % pasien depresi mengalami iritabilitas. Keadaan iritabilitas ini yang kemudian dapat menjadi prilaku kekerasan dan kemarahan. Dibandingkan dengan konrol, pasien dengan major depressive disorder yang dirawat di luar mengalami tingkat prilaku kekerasan yang lebih banyak. Dari penelitian didapatkan bahwa 38 – 44 % pasien dengan major depressive disorder dilaporkan melakukan prilaku kekerasan. Pasien dengan MDD yang melakukan prilaku kekerasan banyak ditemukan pada pasien yang mengalami gangguan kepribadian. Pada individu dengan MDD yang melakukan prilaku kekerasan, terdapat tanda-tanda otonomik yang menyertai seperti : takikardi, ‘hot flashes’, dan berkeringat. Lebih dari 90 % pasien MDD yang melakukan prilaku kekerasan melaporkan penyesalan dan merasa bersalah setelah melakukan kekerasan / kemarahan tersebut. Dilaporkan 60 % pasien melakukan penyerangan kepada individu lain secara fisik dan verbal dan 30 % melempar atau merusak benda. Beberapa studi melaporkan bahwa agresi yang terjadi berhubungan dengan menurunnya fungsi serotonin. Terdapat disregulasi dari neurotransmisi serotonin pada pasien MDD yang melakukan prilaku kekerasan dibanding dengan pasien MDD saja. 1
Beberapa penelitian yang dilakukan melaporkan bahwa obat antidepresan khususnya serotonin reuptake inhibitor efektif untuk mengurangi prilaku kekerasan. Respon terhadap depresi yang ditunjukkan oleh obat ini sama baik depresi yang disertai prilaku kekerasan maupun yang tanpa prilaku kekerasan. Individu dengan depresi tanpa prilaku kekerasan yang diberikan terapi dengan fluoxetine atau sertraline mengurangi resiko terjadinya prilaku kekerasan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa serotonin reupake inhibitor aman digunakan dan menunjukkan perbaikan pada terapi prilaku kekerasan.1

Skizofrenia dengan prilaku kekerasan

Pasien dengan skizofrenia yang hidup di komunitas biasanya tidak akan jatuh pada kategori prilaku kekerasan yang persisten tetapi mereka dapat menunjukkan prilaku kekerasan dan agresif yang akut. Hal ini mungkin merupakan dekompensasi akut sekunder pada ketidakpatuhan pasien minum obat. Dekompensasi juga dapat berhubungan dengan kegagalan regimen pengobatan. Gambaran klinis seperti halusinasi commanding mengalami perburukan. Penelitian melaporkan bahwa 24 – 44% prilaku kekerasan dilakukan oleh individu dengan skizofrenia selama fase akut dalam penyakitnya. Kadar neuroleptik dalam darah berkorelasi terbalik dengan kejadian berbahaya pada pasien skizofrenia yang dirawat. 4
Banyak penelitian yang menyelidiki efektifitas dari obat antipsikotik terbaru dalam menurunkan prilaku kekerasan pada pasien yang dirawat. Banyak penelitian yang melaporkan terdapat pengurangan tindakan seklusi dan restraint sejak diperkenalkannya clozapine. Perbandingan yang sama juga terdapat pada penggunaan risperidone yang mengurangi serangan fisik, seklusi dan restraint. Pada suatu studi dibandingkan terapi dengan haloperidol, risperidone, dan plasebo yang menunjukkan bahwa penggunaan risperidone menurunkan prilaku kekerasan dua kali lebih besar dibandingkan dengan haloperidol dan plasebo. Olanzapine dapat mengurangi prilaku agresi pada pasien dengan mania akut dan juga pada pasien dengan skizofrenia. Chengappa melaporkan bahwa penggunaan quetiapine menurunkan prilaku kekerasan pada pasien yang lebih tua dibandingkan dengan obat antipsikosis yang lama. 1

Prilaku kekerasan dan penyalahgunaan zat

Hubungan antara prilaku kekerasan, penyalahgunaan zat dan agresi cukup kompleks. Intoksikasi yang disebabkan oleh bermacam-macam zat berhubungan dengan prilaku kekerasan dan keadaan neurokimia yang abnormal membuat seorang individu memiliki faktor resiko untuk timbulnya prilaku kekerasan yang juga meningkatkan resiko penyalahgunaan zat. Penelitian yang dilakukan menunjukkan 40% - 80% prilaku kekerasan yang terjadi berhubungan dengan penyalahgunaan obat dan alkohol. Setengah dari prilaku kekerasan yang melakukan tindakan kriminal yang ditangkap oleh polisi di USA menunjukkan hasil urin yang positif untuk penyalahgunaan obat. Penyalahgunaan zat di rumah menjadi faktor prediktor yang kuat untuk timbulnya kekerasan domestik. Disregulasi dari sistem serotonin menjadi faktor penyebab munculnya agresi dan prilaku kekerasan, di mana sistem serotonin ini juga termasuk dalam gangguan penyalahgunaan zat, terutama alkohol. Alkohol mengurangi sintesis serotonin, penurunan serotonin ini menyebabkan munculnya prilaku kekerasan.1
Faktor resiko lain dari prilaku kekerasan termasuk pernyataan keinginan, rencana yang spesifik, ketersediaan alat untuk melakukan prilaku kekerasan, laki – laki, usia muda ( 15 – 24 tahun ), status ekonomi yang rendah, sistem dukungan sosial yang buruk, riwayat prilaku kekerasan sebelumnya, sikap antisosial, pengontrolan impuls yang jelek, riwayat percobaan bunuh diri, stresor yang baru. Riwayat prilaku kekerasan sebelumnya merupakan prediktor terbaik dari prilaku kekerasan. Faktor tambahan lainnya adalah : riwayat sebagai korban prilaku kekerasan pada masa kecil, triad riwayat masa kecil yaitu : ngompol, membakar, kejam terhadap binatang, catatan kriminal, bertugas sebagai polisi atau ABRI, mengemudi ugal-ugalan, riwayat keluarga dengan prilaku kekerasan. Tujuan pertama dari penanganan pasien dengan potensial terjadinya prilaku kekerasan adalah pencegahan terjadinya prilaku kekerasan yang segera. Tujuan selanjutnya adalah membuat diagnosis yang akan mengarahkan pada rencana terapi yang akan dilakukan.2

WAWANCARA DAN PROTOKOL PSIKOTERAPETIK 2

Bersikap suportif dan tidak mengancam pada pasien yang potensial prilaku kekerasan. Tetapi harus tegas dan batasan yang jelas yang bila perlu bisa dilakukan “restraint” fisik. Tentukan batasan yang ditawarkan dengan pilihan ( contoh, obat atau “restraint”) daripada perintah yang provokatif seperti : “ Minum obat ini sekarang !” Katakan pada pasien bahwa tindakan kekerasan tidak dapt diterima. Yakinkan pasien bahwa keadaan mereka aman. Tunjukkan sifat yang tenang dan terkontrol. Tawarkan pada pasien obat-obatan yang dapat membuat mereka tenang.

EVALUASI & MANAGEMENT PASIEN DENGAN PRILAKU KEKERASAN 2,7

1. Lindungi diri. Anggaplah selalu bahwa prilaku kekerasan adalah kemungkinan dan jangan biarkan diri kita terkejut dengan prilaku kekerasan yang tiba-tiba. Jangan pernah melakukan wawancara dengan pasien yang bersenjata. Pasien harus menyerahkan senjatanya pada petugas keamanan. Cobalah mencari tahu lebih banyak kemungkinan tentang pasien sebelum memulai wawancara. Jangan pernah melakukan wawancara pada pasien yang potensial prilaku kekerasan sendirian atau di ruangan tertutup. Jangan lupa untuk melepas dasi, kalung, dan asesoris pakaian atau perhiasan yang digunakan yang bisa ditarik atau diambil oleh pasien. Tetaplah berada di dalam jangkauan penglihatan staf yang lain. Serahkan tugas melakukan pengekangan fisik pada perawat yang terlatih. Jangan berikan kepada pasien akses untuk memasuki ruangan dimana ada alat/senjata yang bisa digunakan seperti ruangan terapi. Jangan duduk terlalu dekat dengan pasien paranoid yang sewaktu waktu dapat merasa terancam. Jagalah jarak dengan pasien yang potensial prilaku kekerasan paling dekat sepanjang lengan. Jangan pernah menantang atau konfrontasi dengan pasien yang psikotik. Tetap waspada dengan tanda – tanda prilaku kekerasan yang akan terjadi. Selalu pikirkan jalan yang akan dilalui untuk meloloskan diri dengan cepat apabila pasien melakukan penyerangan. Jangan pernah membelakangi pasien.
2. Tanda-tanda dari prilaku kekerasan yang akan terjadi termasuk : prilaku kekerasan yang terjadi sekarang terhadap orang lain atau benda, merapatkan gigi dan mengepalkan tinju, ancaman verbal, senjata atau benda yang kemungkinan dapat digunakan sebagai senjata ( seperti garpu, pemecah es, asbak ), agitasi psikomotor, intoksikasi alkohol dan obat, waham paranoid, halusinasi bentuk “commanding”
3. Yakinkan bahwa perawat telah siap melakukan pengekangan fisik yang aman terhadap pasien. Panggillah anggota staf yang lain sebelum prilaku kekerasan yang terjadi menghebat. Sering sekali dengan menghadirkan banyak anggota staf di ruangan dapat mencegah terjadinya prilaku kekerasan ( Show of force).
4. Pengekangan fisik hanya dilakukan oleh petugas yang terlatih. Dengan pasien yang dicurigai intoksikasi phencyclidine (PCP), pengekangan fisik terutama daerah tungkai harus dihindari. Biasanya obat benzodiazepin dan anti psikotik diberikan dengan segera setelah dilakukan pengekangan fisik untuk memberikan pengekangan secara kimiawi, tetapi pilihan obat tergantung kepada diagnosis. Sediakan suatu lingkungan yang memiliki stimulus yang minimal.
5. Buatlah evaluasi diagnostik yang pasti, termasuk tanda vital, pemeriksaan fisik, riwayat psikiatri sebelumnya. Evaluasi kemungkinan pasien melakukan tindakan bunuh diri. Buat rencana terapi untuk managemen kemungkinan terjadi prilaku kekerasan lanjutan. Tanda-tanda vital yang meningkat menunjukkan kemungkinan adanya withdrawl akibat alkohol atau obat hipnotik sedatif.
6. Coba gali lebih dalam intervensi sosial yang mungkin dapat dilakukan untuk mengurangi resiko prilaku kekerasan. Apabila prilaku kekerasan berhubungan dengan situasi spesifik atau orang, cobalah untuk memisahkan pasien dari situasi dan orang tersebut. Coba untuk melakukan intervensi keluarga dan manipulasi lingkungan lainnya. Apakah pasien akan tetap potensial prilaku kekerasan apabila dia tinggal bersama dengan keluarganya?
7. Merawat pasien perlu dilakukan untuk menahan dan mencegah pasien melakukan prilaku kekerasan. Observasi yang terus menerus harus dilakukan bahkan pada pasien yang dirawat di sel isolasi yang terkunci.
8. Apabila tindakan psikiatri tidak membantu, kita dapat melibatkan polisi atau aparat lainnya.
9. Calon korban kekerasan harus diberikan peringatan tentang bahaya yang masih mungkin terjadi apabila pasien tidak dirawat.

TERAPI PSIKOFARMAKA UNTUK PRILAKU KEKERASAN 3

Obat – obatan sering digunakan untuk mengatasi prilaku kekerasan dan strategi pengobatan psikofarmakologi yang sekarang memasukkan pengobatan terhadap prilaku kekerasan sebagai salah satu sindrom yang khusus. Tujuan dari terapi kasus yang akut adalah untuk menenangkan pasien sedangkan tujuan terapi kasus yang kronis adalah mengurangi frekuensi dan intensitas setiap episode prilaku kekerasan. Pengobatan jangka panjang dilakukan apabila ada penyakit yang mendasarinya. Pengobatan tambahan mungkin diperlukan apabila pendekatan terapi yang standar tidak efektif. Setiap pasien yang melakukan prilaku kekerasan harus diberikan pengobatan sesegera mungkin. Pilihan pengobatan tergantung pada beberapa faktor, sangat tergantung pada riwayat dan pemeriksaan pasien, meskipun mungkin hanya sedikit waktu yang tersedia untuk memeriksa pasien karena pasien sangat berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain. Kondisi medis ( infeksi, toksik, fisiologik, dan metabolik ) seharusnya bisa diidentifikasi karena membutuhkan terapi dan mungkin mempengaruhi pengobatan psikofarmakologik.

Benzodiazepine

Lorazepam adalah pilihan yang baik digunakan untuk mengobati pasien dengan agitasi dan prilaku kekerasan secara khusus apabila etiologi masih belum jelas. Obat ini aman dan efektif. Obat ini adalah satu – satunya obat benzodiazepine yang diserap dengan baik apabila diberikan intramuskular. Lorazepam juga dapat diberikan secara oral, sublingual, atau intravaskular. Pemberian obat ini harus hati-hati karena dapat menimbulkan depresi pernafasan. Pemberian Lorazepam juga dapat menimbulkan reaksi paradoksial. Benzodiazepine juga memiliki resiko disalahgunakan karena itu sebaiknya tidak diberikan secara regular.

Antipsikotik

Generasi pertama. Obat neuroleptik menyebabkan efek sedasi ketika diberikan dengan dosis yang tinggi. Haloperidol dapat diberikan secara intramuskular untuk mengatasi agitasi dan prilaku kekerasan pada pasien dengan variasi penyebab yang luas. Haloperidol tidak terlalu menyebabkan hipotensi dan hanya memiliki efek antikolinergik yang kecil dibandingkan dengan neuroleptik yang ‘low potency’ seperti Chlorpromazine. Tetapi kadang – kadang neuroleptik ‘low potency’ kadang-kadang digunakan karena dokter menginginkan efek sedasinya. Dengan mengobati psikosis yang menjadi penyebabnya, neuroleptik dapat memberikan efek jangka panjang terhadap agitasi dan prilaku kekerasannya. Mania akut dapat dengan cepat dan efektif diatasi dengan obat neuroleptik ini dan obat-obatan ini digunakan untuk mengatasi prilaku kekerasan yang terjadi. Meskipun demikian obat neuroleptik dosis tinggi dapat menyebabkan efek samping seperti akatisia ( tidak dapat duduk dengan tenang).
Generasi kedua / obat antipsikotik atipikal. Obat ini sekarang menjadi pilihan yang penting dalam penanganan prilaku kekerasan pada pasien psikosis. Obat-obat ini mempunyai efek samping yang lebih rendah dalam hal efek ekstrapiramidal, akatisia, dan tardive diskinesia ( repetitive, purposeless, involuntary movement), dan obat-obat ini memiliki efek antiagresif yang spesifik. Obat antipsikotik yang digunakan termasuk Ziprasidone, Clozapine, Risperidone, dan Olanzapine. Antipsikotik tidak dianjurkan diberikan pada pasien tanpa gangguan psikotik atau bipolar. Dalam hal ini Lorazepam dan obat sedatif non spesifik lain dapat diberikan. Suatu studi oleh Doskoch tahun 2001 menunjukkan bahwa Clozapine dapat mengurangi prilaku kekerasan dan pencideraan diri sendiri pada pasien dengan retardasi mental.

Antidepresan

Antidepresan dapat mengurangi ketakutan, irritabilitas, dan kecemasan. Emosi ini memiliki spektrum yang sama dengan agitasi. Penemuan sekarang menunjukkan bahwa obat ini dapat menurunkan mood yang negatif dan prilaku kekerasan seperti juga perubahan positif pada kepribadian. Pasien dengan gangguan kepribadian yang diberikan obat antidepresan serotonin ini dapat berkurang irritabilitas dan prilaku kekerasannya. Pasien dengan agitasi posttraumatik memiliki respon terhadap pemberian Amitriptilin.

Mood Stabilizer

Mood stabilizer digunakan untuk menangani pasien dengan gangguan bipolar dan sebagai terapi tambahan pada skizofrenia. Obat – obat ini digunakan juga untuk mengatasi prilaku kekerasan meskipun bukan merupakan protitipe untuk tujuan ini. Valproate ( Depakene) banyak digunakan untuk mengontrol prilaku kekerasan pada beberapa keadaan psikiatri seperti demensia, gangguan kepribadian ambang, sindrom mood organik, gangguan bipolar, skizofrenia, gangguan skizoafektif, dan retardasi mental. Divalproex ( Depakote ) dan Carbamazepine digunakan secara luas untuk mengatasi impulsitas dan prilaku kekerasan. Sayangnya Carbamazepine mempunyai efek samping seperti pusing, ataksia, kebingungan, agranulositosis dan hepatotoksis sehingga penggunaannya terbatas. Divalproex memiliki sedikit efek samping dan interaksi obat yang sedikit sehingga banyak digunakan sebagai mood stabilizer pada pasien demensia. Berkurangnya prilaku kekerasan pada episode manik merupakan peran yang penting dari Lithium Carbonate. Lithium juga digunakan untuk mengatasi prilaku kekerasan pada pasien dengan retardasi mental. Lithium juga digunakan untuk mengurangi prilaku kekerasan pada tahanan yang mengamuk. Meskipun efektif tetapi karena masalah tolerabilitasnya maka penggunaannya terbatas.

Beta Blocker

Beta adrenergik blocker khususnya Propranolol digunakan untuk mengatasi prilaku kekerasan pada banyak diagnosis termasuk retardasi mental, autisme, sindrom otak psttraumatik, demensia, Huntington disease, Wilson disease, psikosis postensefalitis, disfungsi sistem saraf pusat kronik yang ditandai ‘soft neurologic signs’, EEG abnormal atau epilepsi. Propranolol juga digunakan sebagai terapi tambahan untuk mengurangi gejala prilaku kekerasan pada pasien skizofrenia. Masalah utama yang timbul pada penggunaan propranolol untuk prilaku kekerasan adalah terjadinya gangguan kardiovaskular yang sering. Beta blocker yang lain yang digunakan untuk terapi prilaku kekerasan adalah Pindolol, Metoprolol, dan Nadolol.

Memilih Terapi Farmakologik yang terbaik

Sebelum memberikan pengobatan untuk prilaku kekerasan, dokter seharusnya yakin pasien telah dievaluasi secara medis untuk melihat ada tidaknya kontraindikasi terapi dan kemungkinan gejala prilaku kekerasan dapat berkurang dengan pengobatan yang tepat. Evaluasi psikiatri juga diperlukan untuk menentukan apakah terdapat psikosis, depresi, ansietas, penyalahgunaan zat, masalah psikiatri lainnya.

PENUTUP

Kita harus selalu siap menghadapi pasien dengan prilaku kekerasan karena kegawatdaruratan ini bisa muncul pada berbagai gangguan jiwa. Dengan mengetahui penatalaksanaan yang tepat maka kita dapat memanagement pasien dengan prilaku kekerasan dengan baik dan aman. Pengetahuan akan psikofarmaka untuk pasien dengan prilaku kekerasan sangat penting untuk tata laksana.

DAFTAR PUSTAKA

1. Brady KT. The Treatment and Prevention of Violence. Available at: http://www.medscape.com/viewarticle Accessed February 1, 2008
2. Kaplan HI, Sadock BJ. Pocket Handbook of Emergency Psychiatric Medicine, Violence, Maryland, USA, 1997: 369 – 372
3. Muscari M. What is the best pharmacotherapy for violent or aggressive behaviour? Available at: http://www.medscape.com/viewarticle Accessed February 1, 2008
4. Citrome LL. Aggression Available at: http: //www.medscape.com /viewarticle Accessed February 1, 2008
5. Rice ME, Harris GT, Quinsey VL. The Appraisal of Violence Risk. Curr Opin Psychiatry 15(6): 589-593, 2002. Lippincott Williams and Wilkins
6. Iverson GL, Hughes R. Monitoring Aggression and Problem Behaviours in Inpatient Neuropsychiatric Unit. Psychiaric Service Agust 2000 Vol 51: 1040-1042
7. Ramadan MI. Managing Psychiatric Emergencies. The Internet Journal of Emergency Medicine 2007. Volume 4 number 1. USA

Ketika karier istri lebih tinggi dari suami

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Seringkali masalah keluarga dipicu oleh masalah keuangan seperti gaji istri yang lebih tinggi dari suami dan ini bisa menjadi salah satu faktor pemicu banyaknya perceraian.dalam kehidupan perkawinan,suami menempati kedudukan tertinggi,sebagai kepala keluarga dan bertugas mencari nafkah.
Untuk menyiasatinya cobalah untuk melakukan kiat dibawah ini :

1.Bersyukur.
Penghasilan istri yang lebih tinggi harus disyukuri sebagai berkah bagi peningkatan kesejahteraan keluarga, sehingga suami tidak perlu minder atau malah menjadi bibit konflik

2.Tetap percaya diri.
Minder tidaknya suami sangat tergantung dari kepribadian suami-istri itu sendiri dan sikap serta perlakuan masing-masing terhadap pasangannya. Bila istri rajin mengomel dan gemar mencerca, suami yang normal pun lama-lama akan minder. Sementara suami yang kurang PD alias tak percaya diri tetap saja dibayangi rasa rendah diri, kendati istrinya sama sekali tak pernah mempersoalkan gajinya yang lebih tinggi.

3.Jangan membandingkan.
Istri jangan membandingkan atau malah memaksakan kesuksesan kita pada suami. Meski boleh jadi kita mengutarakan perbandingan itu untuk memotivasi atau memacu suami agar sama-sama berprestasi. Soalnya, baik istri maupun suami tak dibenarkan berpikir untuk mengubah pasangan, justru yg harus kita kembangkan adalah sikap menerima pasangan apa adanya. Kesediaan menerima pasangan apa adanya bisa menjadi perekat hubungan di antara suami-istri.

4.Saling Terbuka.
Untuk menepis kemungkinan timbulnya konflik spt ini sebaiknya masalah ini dibicarakan sebelum memutuskan untuk menikah.Jikapun kesadaran ini baru muncul setelah menikah,bukan merupakan kesalahan fatal yang tak bisa dikoreksi karena masih bisa dibicarakan dengan suami atau istri.


Kemungkinan munculnya konflik gara-gara istri bergaji lebih tinggi sudah disadari dan dibicarakan sejak awal, bahkan sebelum memutuskan untuk menikah. Dengan begitu masing-masing sudah punya visi bagaimana cara menghadapinya, semisal membuat komitmen-komitmen seputar hal itu. Apalagi bila (calon) istri memang berpendidikan tinggi, memiliki motivasi kuat dan berpeluang maju, sementara karir suami cenderung mentok. Belum lagi kenyataan bahwa wanita kini relatif lebih mudah mencari pekerjaan dibanding pria diberbagai bidang pekerjaan.
Jikapun kesadaran ini baru muncul setelah menikah, pun bukan merupakan kesalahan fatal yang tak bisa dikoreksi karena masih bisa dibicarakan. "Tapi ngomong-nya jangan langsung to the point, meski juga bukan sambil lalu. Melainkan dalam rangka membicarakan hal lain, misal, kala membicarakan pengelolaan pengeluaran." Contoh, "Buat belanja kebutuhan sehari-hari, sebaiknya gaji Mama, deh. Gaji Papa untuk tabungan, kebutuhan mendadak atau keperluan yang membutuhkan dana tak sedikit seperti beli rumah atau kendaraan." Komunikasi yang baik antara suami dan istri akan membuat segalanya menjadi lebih mudah dan ringan.

Ketika anak merasa ketakutan ...

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Anak-anak yang masih kecil sering sekali merasa takut apabila ditinggal oleh orang tuanya. Ini merupakan hal yang wajar, biasanya disebut sebagai cemas perpisahan (anxiety seperation). Kecemasan ini biasanya muncul pada anak-anak usia 6 - 7 bulan dan berakhir pada usia 12 - 18 bulan. Si anak biasanya merasa ketakutan apabila orang tuanya meninggalkan dirinya. Ini adalah suatu proses yang alami dalam perkembangan si anak. Ada hal-hal yang bisa dilakukan, pertama : minimalkan sebisa mungkin perpisahan dengan si anak sehingga kecemasannya bisa berkurang, pulang lebih cepat dari tempat kerja atau membawanya ke tempat kerja akan mengurangi kecemasan anak. Kedua : Apabila harus meninggalkan anak di rumah usahakan yang menjaganya adalah orang yang dikenalnya seperti nenek atau bibinya. Dengan demikian anak akan lebih mudah beradaptasi dan kecemasannya bisa lebih berkurang. Ketiga : apabila harus meninggalkan anak dengan orang yang tidak begitu dikenalnya seperti babysitter/prt, berikan waktu bagi si anak untuk mengenal penjaganya ini terlebih dahulu dengan mengenalkannya selama kita masih di rumah.
Pada anak-anak yang lebih besar, perasaan takut biasanya terhadap beberapa hal seperti kegelapan, angin, binatang tertentu, badut, dll. Takut adalah suatu emosi yang normal pada anak-anak dan harus ditanggapi dengan tepat agar anak mengalami perkembangan yang baik dalam hidupnya. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:
1. Kenalilah ketakutannya : Penting sekali kita mengatakan pada si anak bahwa kita mengerti ketakutannya dan mengatakan bahwa kita pun waktu kecil mengalami hal yang sama.
2. Jangan mengurangi arti ketakutannya : Jangan mengatakan : ”Itu adalah hal yang bodoh” atau “Anak besar tidak takut dong”. Itu akan membuat si anak mempunyai perasaan malu yang membuat tetap merasakan takut dalam hatinya.
3. Yakinkan si anak : Coba untuk menenangkan anak dengan mengatakan bahwa Anda akan melindunginya. Teruslah berkomunikasi dengan si anak sehingga ketakutannya bisa lebih berkurang.
4. Alihkan perhatian anak : Apabila si anak takut setelah menonton acara TV tertentu, alihkan perhatiannya dengan melakukan hal lain yang lebih menyenangkan buatnya seperti permainan, mewarnai, menyanyi, dll.

Tetapi apabila anak terlihat menjadi lebih sering menjadi takut, ketakutannya lebih berat, dan terlihat sangat mengganggu perkembangannya, segera konsultasikan ke psikiater setempat agar segera mendapatkan penanganan yang tepat.


dr.Lahargo Kembaren
PPDS Psikatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Dokter Jaga UGD Psikiatri RSJ Marzoeki Mahdi Bogor

Kenakalan anak balita

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Anak-anak, terutama balita, amat membutuhkan perhatian orangtuanya, coba saja perhatikan apabila orangtua sibuk melakukan sesuatu dan seperti mengabaikan balita, pasti ada saja ulah yang dilakukan balita untuk menarik perhatian ibu atau ayahnya.

Dan itu biasanya berupa kenakalan atau perbuatan yang menjengkelkan sehingga biasanya amarah si orangtua pun terpancing. Bila rangkaian proses ini selalu berulang, orangtua sibuk, anak berulah dan orangtua marah, lalu kembali ke kesibukan, apa yang mungkin dirasakan anak adalah kekecewaan yang berlipat. Belum lagi jika ucapan-ucapan yang bernada mengecap keluar dari mulut orangtua.

Misalnya "dasar anak nakal" atau "kamu ini memang tidak bisa dibilangin". Ucapan seperti itu, selain tak ada gunanya karena tak akan memperbaiki tingkah laku anak, juga membentuk konsep diri negatif pada anak. Ada beberapa cara bisa dilakukan untuk mengatasi terjadinya kenakalan anak yang berulang-ulang. Dengan mengekspresikan kasih sayang, misalnya, Balita selalu menginginkan perhatian lebih dari orangtuanya.

Mereka akan bahagia kalau orangtua menunjukkan ekspresi kasih sayang. Misalnya dengan memeluk, mengusap kepala atau sekadar berbicara dengan lemah lembut. Anda juga harus memiliki kesabaran menghadapi balita yang nakal. Kesabaran orangtua memang sangat dituntut ketika mendidik anak.

Kesabaran orangtua terkadang bisa membuat anak mengerti bahwa apa yang dilakukannya salah. Sebaliknya dengan cara kekerasan terkadang anak malah akan semakin melawan dan memberontak. Memang untuk urusan ini butuh kesabaran ekstra dari orang tua.

Walaupun yang dilakukan balita salah,jangan langsung membentak balita.Karena itu akan melukai perasaannya. Hal itu bisa menyebabkan dendam hingga anak dewasa nanti. Dendam pada anak juga akan memengaruhi sifat dia kelak ketika dewasa. Si kecil akan menjadi orang yang mudah marah dan suka melakukan kekerasan. Marahlah jika anak benar-benar telah salah, misalnya meludahi ibu atau ayahnya. Namun, sebelumnya berilah nasihat dengan lembut karena jiwa anak akan tersentuh dengan kelembutan.

Menjadi Ibu di Usia Muda : Risiko psikologis besar !

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Menjadi seorang ibu di usia muda menjadi suatu tantangan dan konflik yang sulit bagi seorang anak, terlepas dari apapun penyebab dari kehamilan tersebut. Konflik dimulai ketika si anak ini harus mengandung seorang bayi. Si anak yang belum matang secara fisik dan seksual harus menghadapi suatu kenyataan dia harus mengandung, tentunya hal ini dapat berdampak pada kemungkinan munculnya resiko-resiko dan komplikasi dalam kehamilan dan juga persalinan, baik bagi si bayi demikian juga bagi si calon ibu. Kemungkinan adanya perdarahan, kesulitan dalam persalinan, bayi yang beratnya rendah, dan kelahiran prematur menjadi lebih besar dibandingkan dengan mereka yang mengandung dan melahirkan pada usia dewasa. Kematangan secara psikologis yang belum tercapai membuat sia anak menghadapi suatu stresor yang cukup berat, di saat anak-anak seusianya masih asyik bermain-main dan belajar, dia sudah harus menghadapi suatu kehamilan yang pada orang dewasa sajapun sudah cukup memusingkan. Bayi yang lahir dari seorang ibu usia muda juga memiliki resiko untuk mendapatkan ”penganiayaan” dan ”pengabaian” karena kurangnya pendidikan, kemampuan, dan hubungan emosi yang cukup dari si ibu yang masih muda.
Ketika stresor yang cukup berat ini terus menerus dirasakan oleh si ibu muda ini dan tidak ada usaha penyelesaiannya maka kemungkinan untuk jatuh kepada keadaan depresi menjadi lebih besar. Si ibu muda inipun beresiko untuk tidak meneruskan pendidikannya karena waktunya habis untuk mengurus anaknya sehingga pendidikannya menjadi rendah. Lingkungan dan teman-temannya menjadi menjauh sehingga ada kemungkinan ibu muda ini menjadi terasing.
Menghadapi keadaan ini, perlu sekali dukungan dari keluarga dengan perhatian baik secara moril, fisik, dan material agar si ibu muda ini tidak merasa sendirian dan bebannya menjadi lebih ringan. Bantuan tenaga profesional seperti psikiater sangat dibutuhkan terutama menyangkut aspek psikologis dari si ibu muda ini sehingga diharapkan tidak terjadi gangguan jiwa yang berat.


dr. Lahargo Kembaren
PPDS Psikiatri FKUI
Dokter Jaga UGD Psikiatri RS.Marzoeki Mahdi Bogor

WASPADAI GEJALA TRAUMA SETELAH BENCANA

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Gempa yang baru saja mengguncang Sumatera Barat dan juga bencana bencana lain yang terjadi di Indonesia memberikan dampak penderitaan yang begitu besar bagi yang mengalaminya. Bukan hanya kerugian fisik dan material tetapi terlebih harus diwaspadai munculnya gangguan trauma akibat bencana ini. Trauma secara sederhana dapat diartikan sebagai luka yang sangat menyakitkan. Pengalaman Traumatis, secara psikologik berarti pengalaman mental yang mengancam kehidupan, dan melampaui ambang kemampuan rata rata orang untuk menanggungnya. Peristiwa tersebut dapat dialami sendiri atau menyaksikan (terlibat langsung) dalam peristiwa tersebut. Pengalaman traumatis mengakibatkan perubahan yang drastis dalam kehidupan seseorang. Pengalaman traumatis mengubah persepsi seseorang terhadap kehidupannya. Pengalaman traumatis dapat mengubah perilaku dan kehidupan emosi seseorang. Reaksi individu dalam menghadapi pengalaman traumatis berbeda beda tergantung dari berbagai faktor yaitu:
- Berat dan jenis paparan trauma
- Ciri Kepribadian
- Dukungan dari keluarga
- Respons komunitas/budaya
Seseorang yang mengalami peristiwa traumatis, kehilangan dan duka cita yang luar biasa, menurut Kubler Rose akan melampau beberapa pentahapan respons mental, yaitu:
1. Keterkejutan dan penyangkalan
2. Kemarahan
3. Tawar menawar
4. Keputusasaan
5. Penerimaan
Termasuk dalam peristiwa traumatis adalah:
- Bencana alam (gempa bumi, banjir, tsunami, dll)
- Konflik berkekerasan
- Penyiksaan
- Pemerkosaan
- Kecelakaan yang mengerikan
- Peristiwa peristiwa yang mengancam kelangsungan hidup

Peristiwa peristiwa traumatik yang mengerikan dan mengancam kelangsungan hidup merupakan pengalaman traumatis yang menimbulkan distres dan gejala gejala pasca trauma. Perubahan berbagai aspek kehidupan, kerusakan harta benda, kehilangan orang orang yang dicintai, membutuhkan daya adaptasi yang luar biasa. Guncangan psikososial yang dialami sebagian besar dari masyarakat korban bencana/peristiwa traumatis bersifat sementara dan akan pulih secara alamiah dalam waktu yang singkat.
Gejala gejala distres mental yang muncul, seperti ketakutan, gangguan tidur, mimpi buruk, siaga berlebihan, panik, berduka, dsb. Adalah respon psikologik yang “normal” terhadap peristiwa yang “sangat tidak normal”.

Sekitar 10 – 20% korban bencana akan mengalami gangguan mental bermakna, seperti; Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD), Depresi, Gangguan Panik, dan berbagai gangguan Anxietas terkait trauma. Mereka ini membutuhkan pertolongan ahli kesehatan jiwa. Gejala-gejala PTSD antara lain :
 Re-experiencing (seperti mengalami kembali)
 Avoidance (penghindaran)
 Hyper-arousal (keterjagaan)

Re-experiencing :
• Terbayang bayang selalu akan pengalaman traumatisnya
• Terganggu mimpi buruk akan pengalaman traumatisnya
• Seperti mengalami kembali peristiwa traumatisnya(flash back)
• Merasakan ketegangan psikologis yang terus menerus bila terapar kejadian yang mengingatkan akan pengalaman traumatisnya
Avoidance :
• Senantiasa berusaha untuk menghindari hal hal yang mengingatkannya pada pengalaman traumatisnya
• Amnesia psikogenik
• Hilang minat terhadap berbagai aktivitas
• Perilaku menarik diri
• Afek/kehidupan emosi menumpul
• Takut memikirkan masa depan
Hyper-arousal :
• Gangguan tidur
• Mudah marah dan tersinggung
• Sulit berkonsentrasi
• Gampang kaget
• Kewaspadaan berlebihan
Gejala-gejala tambahan lainnya adalah :
• Rasa berdosa dan menyalahkan diri
• Depresi, anxietas, marah, berduka
• Perilaku impulsif (compulsive shopping, eating, changes in sexual behavior)
• Keluhan somatik kronis (sakit kepala, gangguan lambung)
• Perilaku destruktif terhadap diri sendiri
• Perubahan kepribadian

Prinsip dalam pemulihan trauma :
• Mengundang memori traumatik dan menghadapi respons emosi yang muncul
• Melakukan koreksi terhadap pemikiran yang salah tentang persepsi diri dan kehidupannya
• Belajar menghadapi memori yang ditakutinya
• Membedakan antara memori yang menakutkan dan keberbahayaan

Aspek psikologis pernikahan dini

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Tahun 2008, sekitar 690.000 kasus perceraian dari 2 juta perkawinan telah terjadi. Demikian data Bappenas yang terungkap. Salah satu penyebabnya adalah pernikahan dini. Kondisi psikologis pasangan yang belum matang menjadi faktor utama penyebab persoalan ini.
Dari perspektif psikologis, pernikahan dini dapat menimbulkan disharmoni keluarga. Disharmoni bisa terjadi karena emosi yang bersangkutan masih labil dan pola pikir yang masih belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatifnya.
Pernikahan dini juga berkorelasi dengan tingkat kematian ibu melahirkan, aborsi, perdagangan manusia, jumlah anak terlantar dan pengangguran, oleh karena itu hal ini perlu diperhatikan.
Supaya masalah ini terminimalisasi maka pemerintah diharap mengawal ketat UU Perkawinan yang mengatur batas usia perkawinan. "Berdasar UU Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 yang diizinkan kawin sudah berusia 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan.
Pernikahan dini setidaknya melanggar lima hak anak. Ironisnya, pernikahan dini masih banyak terjadi di Indonesia.
Hak-hak anak yang dilanggar, yaitu pertama, hak untuk mendapatkan pendidikan. Dengan kasus pernikahan dini itu, anak tidak melanjutkan sekolah. Kedua, hak untuk berpikir dan berekspresi. Sesuai UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan setiap anak berhak untuk berpikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya dalam bimbingan orangtuanya. Dengan kasus pernikahan dini tentunya anak sudah tidak lagi bisa mengekspresikan dan berpikir sesuai usianya karena dia dituntut dengan berbagai kewajiban sebagai seorang istri. Ketiga, hak untuk menyatakan pendapat dan didengar pendapatnya. Perlu dipertanyakan apakah dalam kasus pernikahan dini anak telah dimintai pendapatnya dan didengar pendapatnya. Sebab, pada kenyataannya orang dewasa cenderung memandang anak belum mampu menentukan keputusan sendiri. Akhirnya, orang dewasalah yang mengambil keputusan dan mengatasnamakan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak. Padahal, banyak motif berdasarkan kepentingan orang dewasa atau orangtua, seperti motif ekonomi. Keempat, hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan teman sebaya, bermain, berekspresi, dan berkreasi. Kelima, hak perlindungan. Anak seharusnya dilindungi dari pernikahan dini yang berdampak pada perkembangan anak, baik secara fisik maupun psikis.
Ketika si anak yang melakukan pernikahan dini tidak dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungan dan situasi barunya maka dapat mengakibatkan timbulnya stres yang berdampak tidak baik bagi dirinya dan juga bayi yang nantinya dia lahirkan.

dr.Lahargo Kembaren
PPDS Psikiatri FKUI / RSCM
Dokter Jaga UGD Psikiatri RS.Marzoeki Mahdi Bogor

Komunikasi Ibu dengan anak remaja

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pikiran dan perasaan melalui bahasa, pembicaraan, pendengaran, gerak tubuh atau ungkapan emosi. Beberapa tujuan dilakukannya komunikasi efektif dengan remaja:
a. Membangun hubungan yang harmonis dengan remaja
b. Membentuk suasana keterbukaan dan mendengar
c. Membuat remaja mau bicara pada saat mereka menghadapi masalah
d. Membuat remaja mau mendengar dan menghargai orang tua dan orang
dewasa saat mereka berbicara
e. Membantu remaja menyelesaikan masalah yang mereka hadapi
Hal apa yang sering dilakukan orang tua dan orang dewasa dalam
berkomunikasi dengan remaja?

Dalam berkomunikasi, orang tua dan orang dewasa biasanya ingin segera
membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi remaja, sehingga cenderung :
􀂃 lebih banyak bicara daripada mendengar
􀂃 merasa tahu lebih banyak
􀂃 seringkali memberi arahan dan nasihat
􀂃 tidak berusaha untuk mendengar dulu apa yang sebenarnya terjadi dan
Yang dialami para remaja
􀂃 tidak memberi kesempatan kepada remaja untuk mengemukakan pendapat
􀂃 tidak mencoba menerima dahulu kenyataan yang dialami remaja dan
memahaminya
􀂃 merasa putus asa dan marah karena tidak tahu lagi apa yang harus
Dilakukan terhadap remaja

Apa kunci pokok dalam berkomunikasi dengan remaja?
Dalam berkomunikasi dengan remaja ada beberapa kunci pokok yang harus
diperhatikan. Pertama, orang tua dan orang dewasa perlu terlebih dulu mendengarkan apa yang mau dikemukakan oleh remaja supaya mereka mau
berbicara. Kedua menerima dan mecoba memahami terlebih dahulu perasaan remaja. Ketiga, berbicara dengan cara tertentu supaya didengarkan oleh remaja. Untuk mencapai tujuan tersebut, orang tua dan orang dewasa harus mau belajar dan berubah dalam cara berbicara dan cara mendengarkan bila berhadapan dengan remaja. Dalam mencapai tujuan berkomunikasi, perlu diingat bahwa orang tua dan orang dewasa juga harus lebih dahulu siap dan mau berubah, sehingga remaja dapat menjalin komunikasi yang efektif dengan mereka.
Dalam berkomunikasi terutama dengan remaja penting bagi orang tua dan orang dewasa harus mengenal
a. kemampuan dan kelebihan yang dimilikinya
b. kelemahan atau kekurangan yang dirasa mengganggu
c. cara memanfaatkan kelebihan dan mengatasi kekurangan diri.

Dengan pengenalan diri, orang tua bisa menerima diri apa adanya, sehingga tahu apa yang harus diubah. Selain itu sebagai orang tua akan lebih percaya diri dan mudah menerima remajanya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.
Terdapat 6 (enam) kemampuan yang perlu dikembangkan oleh orang tua dan orang dewasa agar dapat menjalin komunikasi efektif dengan remaja, yaitu:
􀂃 mengenal diri sendiri
􀂃 mengenal diri remaja melalui pemahaman akan perasaan remaja dan
bahasa tubuh remaja
􀂃 mendengar Aktif
􀂃 memahami Pesan Kamu dan Pesan Saya
􀂃 menentukan Masalah Siapa
􀂃 mengenal dan menghindari Gaya Penghambat Komunikasi

Ada beberapa cara agar orang tua dan orang dewasa dapat menerima diri mereka sendiri yaitu melalui:
1. Menghargai diri sendiri.
Biasakan tidak membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap orang
itu unik.Kita dan orang lain pasti memiliki perbedaan.
2. Menghargai upaya yang sudah kita lakukan.
Walaupun mungkin belum berhasil, tetapi tetap berusaha menghargai niat
dan upaya yang telah kita lakukan
3. Menentukan tujuan hidup kita.
Sebagai orang tua ataupun orang dewasa , tentukan tujuan dalam mendidik
anak. Ingin menjadi ibu yang menjadi panutan bagi anakanaknya. Ingin
menjadi ayah yang sukses dalam mendidik anak.
4. Berpikir positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Memandang dirinya maupun remaja dari sisi yang positif
5. Mengembangkan minat dan kemampuan diri.
Bersedia menghabiskan waktu dan tenaga untuk belajar dan melakukan
tugas sampai tujuan tercapai
6. Mengendalikan perasaan.
Tidak mudah marah, menghadapi kesedihan secara wajar tidak berlebihan.
Tidak mudah terpengaruh keadaan sesaat, dan bisa menerima penjelasan
remaja dengan tenang.


dr.Lahargo Kembaren
L_kembaren@yahoo.com

Bertahan sebagai "single parent"

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Menjadi orang tua tunggal bukanlah pilihan yang terbaik yang kita inginkan tetapi kadang itu keputusan yang harus kita ambil dari berbagai pilihan yang ada. Tidak pernah mudah menjadi orang tua tunggal, ketika sebelumnya semua dipikirkan dan dilakukan berdua, kini hanya seorang diri menghadapi permasalahan anak dan keluarga. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh orang tua tunggal :

1. Memaafkan meskipun tidak dapat melupakan

Biarkan pergi semua dendam yang masih ada di hati pada mantan pasangan Anda yang sekarang sudah tidak ada lagi dalam kehidupan Anda. Tetap merasa marah dan dendam tidak akan merubah situasi, hal tersebut hanya akan menggerogoti energi Anda. Energi yang Anda punya sebaiknya digunakan untuk menciptakan situasi yang positif bagi Anda dan anak Anda

2. Lihat apa yang Anda punya sekarang dan bukan yang tidak ada

Meskipun Anda tidak memiliki banyak uang, Anda masih memiliki anak, kasih sayang, dan waktu yang dapat membuat hidup Anda lebih baik. Materi bukanlah hal yang paling penting yang dibutuhkan oleh seorang anak. Kasih sayang , dukungan, dan waktu bersama dengan anak akan sangat berarti buat mereka. Banyak hal yang bisa dilakukan seperti jalan jalan, naik sepeda, bermain di taman, mewarnai, melukis, bernyanyi bersama, dll akan membuat anak bergembira tanpa harus mengeluarkan uang yang banyak.

3. Jadilah orang tua yang terbaik yang Anda bisa

Anda memiliki potensi untuk melakukan sesuatu. Berikan yang terbaik dari diri Anda bagi anak Anda. Tentukan tujuan hidup yang realistik yang sesuai dengan keadaan Anda dan berjuanglah untuk mencapainya.
4. Ciptakan keluarga Anda yang baru
Keluarga bukan hanya terkait hubungan biologi. Kelilingi diri Anda dan anak dengan teman-teman yang Anda kenal dan percaya, orang – orang yang peduli pada Anda. Oom dan Tante bahkan Opa atau Oma yang tidak memiliki hubungan darah dengan Anda akan menguntungkan bagi anak Anda. ”Keluarga” yang Anda ciptakan tersebut dapat memberikan dukungan kasih dan perhatian yang berguna bagi pertumbuhan anak Anda.
5. Jadilah orang yang bertanggung jawab
Apapun yang membuat Anda masuk pada situasi Anda saat ini adalah tanggung jawab Anda. Anak Anda belum mengerti untuk diajak memahami rumitnya kehidupan ini. Anak sangat potensial dan aset bagi masa depan. Bertanggung jawablah akan kehidupan mereka, membuat mereka senang, produktif dan sukses mencapai cita citanya. Hal itu akan memberikan perasaan puas dan bangga pada akhirnya.
6. Buatlah sesuatu yang rutin
Seorang anak membutuhkan stabilitas dan keamanan. Salah satu cara nya adalah dengan membuat sesuatu yang rutin setiap harinya, contohnya pergi ke taman bermain setiap hari minggu, makan malam bersama setiap hari, membaca buku cerita setiap malam, menonton film anak bersama setiap hari sabtu, dll akan menjadi aktivitas yang rutin yang akan membuat seorang anak merasa lebih tenang dan stabil.
7. Tetap konsisten dan dapat diandalkan
Anda adalah orang paling penting dalam kehidupan anak Anda. Tetap konsisten dengan perilaku yang sudah baik Anda lakukan. Apabila anak Anda melihat bahwa Anda dapat diandalkan dalam segala maka mereka akan selalu mencari Anda untuk membantunya mengerjakan pekerjaan pekerjaannya. Betapapun lelahnya Anda dalam satu hari itu, ingat anak Anda membutuhkan Anda.
Selamat menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal yang tentu saja tetap dapat bergembira dan produktif.

Dampak psikologis perceraian bagi anak

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Saat ini memang banyak sekali perceraian yang terjadi sekarang ini dan keluarga yang bercerai tersebut rata-rata sudah memiliki anak. Ketika orang tua sudah dapat mengerti dan pulih dari dampak sebuah perceraian, seorang anak sering kali merasakan adanya ketakutan, kebingungan dan perasaan tidak aman. Sebuah perceraian dapat menimbulkan perasaan depresi dan cemas bagi si anak dan juga munculnya masalah masalah di sekolah serta masalah dalam suatu hubungan nantinya. Seorang anak yang yang besar dari keluarga yang bercerai memiliki kemungkinan lebih besar untuk bercerai juga nantinya. Sebuah perceraian adalah suatu masa transisi yang harus dilalui oleh si anak, kehilangan salah satu orang tua mereka menjadi bagian yang penting dalam memahami apa yang terjadi pada psikologis anak. Kadang-kadang anak merasa bahwa dirinya lah yang menyebabkan orang tuanya harus berpisah sehingga anak merasa bersalah.
Memberitahukan masalah perceraian pada seorang anak adalah momen yang sangat sulit. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan :
 Jangan menyimpan rahasia ini dengan cara membohongi si anak
 Beritahukan masalah perpisahan tersebut berdua dengan pasangan Anda
 Buat pembicaraan tersebut sederhana dan langsung pada pokok masalah
 Beritahukan anak bahwa perceraian ini bukan kesalahan si anak
 Beritahukan bahwa hal ini membuat sedih bagi semuanya
 Yakinkan si anak bahwa kalian berdua akan selalu menyayangi dan selalu menjadi orang tua bagi mereka
 Jangan diskusikan kesalahan/masalah salah satu orang dengan anak
Apabila setelah perceraian terdapat tanda-tanda pada si anak, seperti kesedihan yang mendalam, menjadi agresif, tidak menurut, menarik diri, nilai-nilai di sekolah yang menurun dan adanya perubahan perilaku yang tidak baik maka mungkin dibutuhkan bantuan profesional di masalah kejiwaan seperti psikater / psikolog untuk mendampingi mengatasi masalah tersebut.

dr.Lahargo Kembaren
l_kembaren@yahoo.com

Selingkuh : bagaimana menyikapinya ?

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Perselingkuhan menyebabkan perasaan emosional yang tidak menyenangkan, seperti perasaan marah, takut, bersalah, malu. Tetapi perselingkuhan bukanlah akhir dari sebuah perkawinan. Sebuah perkawinan dapat dibangun kembali setelah terjadinya sebuah perselingkuhan. Perceraian kadang bukanlah solusi dari suatu perselingkuhan yang terjadi. Secara umum perselingkuhan terjadi ketika seseorang merasakan ketertarikan seksual yang lebih kuat kepada orang lain dibandingkan dengan pasangannya, merasakan kebutuhan untuk menjaga kerahasiaan hubungan itu sehingga seringkali menggunakan kebohongan untuk menutupinya, dan merasakan kedekatan emosional yang lebih dekat dengan selingkuhannya dibanding dengan pasangannya. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang menjadi tujuan ketika hendak menghentikan suatu perselingkuhan adalah bagaimana membangun dan menguatkan kembali suatu hubungan dan menghindari terjadinya perceraian. Mengetahui mengapa perselingkuhan itu terjadi adalah langkah penting pertama untuk menyelamatkan sebuah perkawinan. Perselingkuhan dapat terjadi pada keluarga yang bahagia dan juga yang berantakan. Alasan terjadinya sebuah perselingkuhan antara lain adalah :
 Kurang adanya komunikasi yang baik dengan pasangan
 Rasa rendah diri
 Adiksi terhadap seks dan romantisme
 Ketidakdewasaan
 Transisi kehidupan : seperti kelahiran anak, kekosongan dalam rumah tangga
 Pengaruh alkohol dan obat terlarang
 Pembalasan karena pasangan juga melakukan perselingkuhan

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengakhiri perselingkuhan dan membangun kembali keluarga yang bahagia adalah :
 Akhiri perselingkuhan tersebut dengan segera, putuskan semua hubungan interaksi dan komunikasi dengan pasangan selingkuh
 Bertanggung jawab dengan perbuatan yang dilakukan dan jangan membohongi pasangan lagi
 Tentukan tujuan bersama dalam perkawinan, tentunya butuh waktu, energi, dan komitmen untuk meraih tujuan bersama ini. Tidak mudah tapi bisa dikerjakan.
 Menemui konselor perkawinan/psikiater yang dapat membantu untuk membangun kembali sebuah keluarga yang bahagia.
 Mengidentifikasi bersama faktor penyebab terjadinya perselingkuhan, ini bisa dari diri anda, pasangan anda, dan juga lingkungan. Ini penting untuk dilakukan sehingga bisa dilakukan pencegahan agar hal tersebut tidak terulang
 Bangun kembali kepercayaan antar pasangan
 Selalu bicara dengan pasangan tentang hal apapun yang terjadi sehingga terjadi suatu keterbukaan dan komunikasi yang lancar
 Cari aktivitas yang bisa menjadi sarana untuk menyalurkan impuls dan mengisi waktu seperti olah raga dan pertemuan keluarga.

Menjadi Korban Pemerkosaan bukanlah akhir segalanya

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Pemerkosaan adalah tindakan kejahatan yang kejam di mana seseorang dipaksa untuk melakukan suatu hubungan seksual yang tidak diinginkannya. Pemerkosaan ini bisa berbentuk sesama orang dewasa, terhadap anak-anak, kepada saudara atau keluarga yang ada hubungan darah (incest) ataupun terhadap sesama jenis. Kebanyakan kasus pemerkosaan tidak dilaporkan karena alasan malu, takut balas dendam dari pelaku, penolakan oleh anggota keluarga dan masyarakat, harga diri, serta masalah psikologis sehingga sulit mengetahui jumlah pasti yang menjadi korban pemerkosaan.
Penulis beberapa kali menemukan pasien yang terganggu jiwanya ternyata adalah korban pemerkosaan yang tidak pernah diberitahukan pada siapapun.
Pemerkosaan menimbulkan efek baik fisik maupun psikologis bagi korbannya.
Efek secara fisik adalah :
• Luka akibat pukulan, cekikkan, cakaran, sampai pada patah tulang
• Luka di daerah kemaluan atau anus
• Penyakit menular seksual
• Kemungkinan kehamilan

Sedang efek psikologis yang muncul adalah :
• Kecemasan yang berat
• Depresi
• Sulit berkonsentrasi
• Sulit tidur
• Perasaan bersalah
• Mudah tersinggung
• Flashback (teringat kembali kejadian traumatik tersebut )
• Mimpi buruk berulang kali
• Ketakutan yang luar biasa


Bagaimana korban pemerkosaan mendapatkan pertolongan ?
Apabila ada korban pemerkosaan sebaiknya jangan mandi atau mencuci badan terlebih dahulu, segera ke polisi untuk melaporkan dan kemudian ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Dokter di rumah sakit akan melakukan pemeriksaan secara keseluruhan termasuk bagian kelamin dan mengambil spesimen cairan yang menempel di tubuh yang dibutuhkan untuk diperiksa di laboratorium. Hal ini akan berguna sebagai data yang dibutuhkan nanti pada saat pemeriksaan lebih lanjut. Rumah sakit juga mungkin akan memberikan antibiotik untuk mencegah penularan penyakit menular dan pemberian obat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
Setelah melakukan pemeriksaan maka dianjurkan untuk melakukan konseling dengan tenaga profesional seperti psikiater, psikolog, atau konselor untuk mengantisipasi dan mengatasi kemungkinan gangguan kejiwaan yang timbul. Jangan mengisolasi diri, banyak bertemu teman dan sahabat serta keluarga yang memperhatikan akan sangat membantu mempercepat pemulihan diri
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya perkosaan adalah dengan mengajari anak untuk tidak berbicara dan menanggapi orang asing, mengajari anak bagaimana cara menghindar dan melindungi diri dari bahaya dan kemana mencari pertolongan ketika ada orang yang akan melakukan tindakan perkosaan.
Bagi para korban pemerkosaan, hidup belum berakhir, masih banyak hal yang berguna yang masih bisa dikerjakan dan membuat hidup lebih bermakna. Profesional medis dan psikologis akan selalu siap memberikan pertolongan yang dibutuhkan, tidak usah khawatir, karena kerahasiaan pasien akan selalu dijaga



dr.Lahargo Kembaren
( l_kembaren@yahoo.com )

Patah hati ? ... segeralah bangkit !

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Menjadi orang yang patah hati memang tidak mengenakkan. Tapi tidak akan mengubah apa-apa bila kita hanya murung, merenungi nasib, dan bersedih. Hey … bangkitlah … masih banyak hal lain yang butuh perhatian kita. Berikut beberapa tips mengatasi patah hati :
• Tendang semua pikiran negatif : Orang yang patah hati sering sekali punya pikiran negatif seperti : ” Aku tidak dapat hidup tanpanya”, ” Aku tidak dapat hidup tanpa dia”, dll. Stop pikiran seperti itu dan gantikan dengan pikiran yang lebih positif dan realistik seperti : “Lelaki kan bukan Cuma dia saja”, “Aku rasa aku masih tetap bisa mengerjakan semua aktivitasku kok tanpa dia”, dll.
• Masukkan dalam kotak semua kenangan : Di setiap akhir sebuah hubungan selalu ada benda-benda yang menjadi kenangan, entah itu fotonya, hadiah/pemberiannya … yah setiap hal yang membawa seuntai memori di dalamnya. Setiap kita berjalan di dalam rumah, kamar, selalu ada “reminders” yang mengingatkan kita padanya sehingga dapat membuat kita lebih sedih lagi. Sekarang masukkan kotak semua benda-benda kenangan yang punya nilai sentimentil itu dan jauhkan dari pandangan kita. Hal ini akan membuat “reminders” itu tidak akan lagi bisa membajak pikiran kita.

Patah hati boleh saja ... tapi jangan lama-lama ... segeralah bangkit!

Skizofrenia !

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown , 2 comments
Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang ditandai dengan ketidakmampuan individu menilai kenyataan yang terjadi (realitas).

Gambaran utama perilaku yang diperlihatkan oleh pasien yang menderita skizofrenia yaitu :
• Halusinasi (persepsi indera yang salah atau yang dibayangkan : misalnya, mendengar suara yang tak ada sumbernya atau melihat sesuatu yang tidak ada bendanya)
• Waham (ide yang dipegang teguh yang nyata salah dan tidak dapat diterima oleh kelompok sosial pasien, misalnya pasien percaya bahwa mereka diracuni oleh tetangga, menerima pesan dari televisi, merasa diamati/diawasi oleh orang lain, merasa ada pikiran asing yg keluar masuk otaknya, merasa pikirannya tersiar sehingga orang lain tahu, merasa memiliki kehebatan tertentu yg tdk masuk akal).
• Perubahan perilaku; menjadi aneh seperti menyendiri, kecurigaan berlebihan, mengancam diri sendiri, orang lain atau lingku ngan, bicara dan tertawa sendiri, serta marah-marah atau memukul tanpa alasan.
• Pembicaraan aneh atau kacau (tidak nyambung)
• Keadaan emosional yang labil dan ekstrim ( iritabel )

Hal yang perlu diketahui juga adalah bahwa, bila skizofrenia (bahkan semua gangguan jiwa yang lain) diketahui sejak dini dan cepat berobat ke psikiater, maka kesembuhannya bisa lebih cepat dan tidak menjadi semakin parah.

Kleptomania ... suatu penyakit

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Klepto atau kleptomania adalah suatu gangguan pengontrolan impuls yang ditandai dengan kegagalan untuk menahan diri untuk tidak ‘mencuri’. Jadi orang yang klepto tidak bisa menahan dirinya dari melakukan tindakan tersebut dan perilaku ‘mencuri’ ini berlangsung berulang-ulang meskipun sudah berusaha menghentikannya. Biasanya setelah melakukan perilaku ‘mencuri’ tersebut, yang bersangkutan akan merasa bersalah. Penyebab dari kleptomania adalah masalah psikologis pada yang bersangkutan, pengasuhan orang tua yang kurang baik, adanya konflik dengan seseorang, kecemasan, dan depresi. Perilaku klepto ini biasanya terbatas pada benda-benda tertentu meskipun yang bersangkutan tidak bisa memberitahu alasan kenapa benda tersebut yang dicurinya. Tentu saja klepto ini bisa disembuhkan. Beberapa terapi yang bisa dilakukan antara lain adalah Terapi kognitif perilaku, terapi emotif rasional, dan beberapa obat bisa membantu meredakan impuls yang tinggi untuk melakukan perilaku klepto tersebut. Disamping itu, memiliki suatu hubungan yang sehat dengan seseorang, ketrampilan mengatasi stres (stress management) akan sangat membantu mencegah munculnya perilaku tsb berulang. Hubungi psikiater terdekat untuk segera mendapatkan bantuan atas masalah yang dialami.

Apakah anak saya waria ?

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Perubahan gender seseorang tidak bisa ditentukan begitu saja dengan melihat hobinya dan juga teman bergaulnya yang tidak sesuai dengan dirinya. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan tes yang disebut TKMI (Tes Kesehatan Mental Indonesia) atau bisa juga dengan COGIATI (Combined Gender Identity and Transsexuality Inventory). Dengan tes tsb dapat dilihat orientasi gender seseorang, lebih ke arah laki-laki atau perempuan.

Hal yang perlu diketahui adalah : Gender dan sex (jenis kelamin) adalah dua hal yang berbeda meskipun sering digunakan secara bergantian. Jenis kelamin adalah suatu bentuk fisik dan fungsi sedangkan gender adalah komponen dari identitas. Ada yang disebut transseksual yaitu orang yang dilahirkan dengan jenis kelamin tertentu tetapi pada perkembangannya dia tidak merasa nyaman dengan jenis kelamin tersebut dan ingin menjadi orang dengan jenis kelamin yang berbeda. Penyebabnya bisa dari faktor psikologis bisa juga memang karena adanya hormon tertentu yang tidak seimbang dalam tubuhnya. Diagnosis yang akurat perlu dilakukan untuk bisa dilakukannya management yang tepat.

Ada juga yang disebut sebagai ”cross-gender behavior” yaitu perilaku yang lebih suka melakukan hal- hal dilakukan oleh gender yang lain, misalnya anak laki – laki yang senang masak-masakan atau anak perempuan yang senang otomotif. Hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Tetapi apabila sudah ada tanda – tanda seperti : keinginan untuk berubah kelamin, tidak suka / benci menjadi seorang laki-laki/perempuan, dan adanya ketertarikan secara erotis terhadap sesama jenis, maka hal ini perlu diwaspadai ke arah transseksual.

Konsultasikan ke psikiater / psikolog akan membantu memecahkan masalah ini.

Wanita karir : pilihan terbaik ...

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Terdapat pergeseran trend dari para wanita saat ini, bila kita kembali ke tahun 50 an sampai 70, seorang ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang selalu ada di rumah, mereka memasak, membersihkan rumah, menyiapkan semua kebutuhan keluarga sehingga ketika anak dan suami mereka pulang dari sekolah dan tempat kerja, mereka mendapatkan keadaan rumah yang nyaman dan semua sudah beres. Tetapi memasuki tahun 80 an, para wanita sudah mulai memasuki juga dunia pekerjaan. Hal ini menyebabkan para wanita memiliki peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai wanita karir yang tentunya saja masing-masing memiliki tuntutan yang berbeda. Hal ini sering sekali menimbulkan konflik dalam kehidupan seorang wanita, ada perasaan stres dalam pekerjaan dan juga dalam mengurus anak, ada perasaan bersalah meninggalkan anak, dan ada juga perasaan tidak adil. Konflik ini seringkali menimbulkan dampak yang kurang baik dalam kehidupan keluarga, mulai dari kehidupan pribadi wanita tersebut, perkembangan anak yang tidak optimal, hubungan dengan suami, dan bahkan masalah di tempat kerja.
Apa yang menjadi alasan seorang wanita yang sudah berkeluarga dan memiliki anak memilih untuk bekerja ? Biasanya wanita tersebut sudah bekerja sebelum menikah dan punya anak sehingga alasan mereka bekerja adalah karena merasa sudah nyaman dengan pekerjaan sebelumnya dan meneruskan pekerjaannya tersebut. Masalah finansial yang kurang juga menjadi alasan seorang wanita bekerja
Beberapa orang berpikir bahwa ibu yang baik adalah ibu yang selalu berada di rumah beserta dengan anak-anaknya. Tetapi tidak ada bukti ilmiah bahwa anak yang ibunya bekerja akan menjadi anak yang bermasala. Perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh kesehatan emosi dalam keluarga, bagaimana sikap dan perasaan keluarga terhadap ibu yang bekerja, dan bagaimana kualitas perawatan si anak. Seorang anak yang secara emosi stabil, cukup disayangi, dan diperhatikan akan bertumbuh dengan baik meskipun ibunya bekerja. Bahkan ibu yang sukses bekerja di luar dan menjadi orang tua yang baik merupakan ’role model’ yang baik untuk si anak. Anak tersebut bahkan dapat menjadi mandiri dengan ikut membantu pekerjaan rumah.
Masalah akan muncul apabila seorang wanita bekerja di tempat yang dia tidak suka, atau di tempat yang bermasalah sehingga dia membawa masalah di tempatnya bekerja ke rumah sehingga mengganggu hubungannya dengan anak dan suami. Demikian juga dengan wanita karir yang hanya memikirkan masalah pekerjaannya saja tanpa memikirkan juga masalah keluarga, anak, dan suaminya. Yang paling tepat adalah seorang wanita karir sebisa mungkin menjadi 100 % ibu dan istri bagi keluarganya dan mengerjakan yang terbaik di pekerjaannya.
Seringnya waktu bertemu dengan anak dan keluarga tidak menjamin kebahagian keluarga tersebut. Pertemuan yang sedikit tetapi berkualitas jauh lebih baik dalam meningkatkan keharmonisan dalam sebuah keluarga. Membuat anak mengerti mengapa ibunya harus bekerja membuat si anak sadar dan ikut mendukung ibunya yang bekerja dengan sikap dan perbuatannya yang baik dan tidak menyusahkan.
Anak adalah masa depan keluarga dan harta yang tak ternilai. Memikirkan yang terbaik bagi kehidupannya adalah pemikiran yang bijaksana. Ibu yang bekerja masih tetap bisa memiliki anak yang berpotensi dan baik jika ia mampu mengatur waktunya dengan baik. Seorang ibu rumah tangga yang ingin bekerja sebaiknya memilih pekerjaan yang fleksibel dan tidak terlalu mengikat, lebih baik lagi apabila itu ada merupakan usaha sendiri / wiraswasta sehingga dapat dengan fleksibel mengatur waktunya untuk anak anak dan keluarga.

Kondisi kejiwaan korban perdagangan manusia (Trafficking)

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan atau penerimaan seseorang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk lain dari pemaksanaan, penculikan, penipuan, kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan agar dapat memperoleh persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas orang lain, untuk tujuan exploitasi. Exploitasi termasuk, paling tidak, exploitasi untuk melacurkan orang lain atau bentuk bentuk lain dari exploitasi seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik-praktik serupa perbudakan, perhambaan atau pengambilan organ tubuh.
Trafficking Victims Protection Act menyebutkan “bentuk-bentuk perdagangan berat” didefinisikan sebagai:
a. perdagangan seks dimana tindakan seks komersial diberlakukan secara paksa, dengan cara penipuan, atau kebohongan, atau dimana seseorang diminta secara paksa melakukan suatu tindakan demikian belum mencapai usia 18 tahun; atau
b. merekrut, menampung, mengangkut, menyediakan atau mendapatkan seseorang untuk bekerja atau memberikan pelayanan melalui paksaan, penipuan, atau kekerasan untuk tujuan penghambaan, peonasi, penjeratan hutang (ijon) atau perbudakan.

Dalam definisi-definisi ini, para korban tidak harus secara fisik diangkut dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Definisi ini juga secara jelas berlaku pada tindakan merekrut, menampung, menyediakan, atau mendapatkan seseorang untuk maksud-maksud tertentu.


Para korban Perdagangan Manusia mengalami banyak hal yang mengerikan. Luka fisik dan psikologis, termasuk penyakit dan pertumbuhan yang terhambat, seringkali meninggalkan pengaruh permanen yang mengasingkan para korban dari keluarga dan masyarakat mereka. Para korban Perdagangan Manusia seringkali kehilangan kesempatan penting mereka untuk mengalami perkembangan sosial, moral, dan spiritual. Dalam banyak kasus eksploitasi pada korban Perdagangan Manusia terus meningkat: seorang anak yang diperjualbelikan dari satu kerja paksa dapat terus diperlakukan dengan kejam di tempat lain. Di Nepal, para anak gadis yang direkrut untuk bekerja di pabrik-pabrik karpet, hotel-hotel, dan restoran kemudian dipaksa untuk bekerja di industri seks di India. Di Filipina dan banyak negara lain, anak-anak yang awalnya berimigrasi atau direkrut untuk hotel dan industri pariwisata, seringkali berakhir dengan terjebak di dalam rumah-rumah pelacuran. Suatu kenyataan kejam mengenai perdagangan budak moderen adalah para korbannya seringkali dibawa dan dijual.
Para korban perdagangan seringkali mengalami kondisi yang kejam yang mengakibatkan trauma fisik, seksual dan psikologis. Infeksi-infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual, penyakit inflammatori pelvic, dan HIV/AIDS seringkali merupakan akibat dari prostitusi yang dipaksakan. Kegelisahan, insomnia, depresi dan penyakit pasca traumatis stres adalah wujud psikologis umum di antara para korban. Kondisi hidup yang tidak sehat dan sesak, ditambah makanan yang miskin nutrisi, membuat korban dengan mudah mengalami kondisi kesehatan yang sangat merugikan seperti kudis, TBC, dan penyakit menular lainnya. Anak-anak menderita masalah pertumbuhan dan perkembangan dan menanggung derita psikologi kompleks dan syaraf akibat kekurangan makanan dan hak-haknya serta mengalami trauma.
Kekejaman yang paling buruk seringkali ditanggung oleh anak-anak yang lebih mudah dikendalikan dan dipaksa menjadi pelayan rumah, dilibatkan dalam konflik bersenjata, dan bentuk lain pekerjaan. Anak-anak dapat menjadi sasaran eksploitasi yang progresif, misalnya dijual beberapa kali dan menjadi sasaran pertunjukan kekerasan fisik, seksual dan mental. Kekerasan ini memperumit rehabilitasi psikologis dan fisik mereka dan membahayakan reintegrasi mereka.
Posttraumatic stress disorder (PTSD) dapat terjadi pada korban perdagangan manusia. PTSD adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berkembangnya berbagai gejala menyusul suatu peristiwa traumatis, termasuk gejala pikiran dan ingatan yang mengganggu (intrusive), penghindaran ingatan tentang trauma, penumpulan emosi, dan kewaspadaan tinggi (hyper-arousal). PTSD terjadi pada sekitar 8% dari populasi dan 50% dari mereka menjadi kronis. Kriteria diagnosis untuk PTSD adalah :
A. Stresor traumatik
• Satu atau banyak peristiwa yang membuat seseorang mengalami, menyaksikan, atau menghadapi bahaya yang mengancam hidupnya, kematian, luka parah, atau ancaman serius bagi diri sendiri atau orang lain; dan
• Tanggapan individu terhadap pengalaman tersebut dengan ketakutan, kengerian, atau ketidakberdayaan yang sangat kuat.
B. Mengalami ulang gejalanya (satu atau lebih)
• Kenangan yang mengganggu; mimpi yang mencemaskan; kilas balik peristiwa trauma; gejala disosiatif; kecemasan psikologis dan fisik bersamaan dengan kenangan akan peristiwa trauma.
C. Gejala penghindaran dan penumpulan perasaan (tiga atau lebih)
• Menghindari pikiran, perasaan, atau percakapan yang berhubungan dengan peristiwa trauma; menghindari tempat, situasi, atau orang yang mengingatkan kepada peristiwa itu; tidak mampu mengingat aspek penting peristiwanya; minat yang berkurang; terasing dari orang sekitar; terbatasnya rentang emosi; perasaan bahwa masa depan menjadi lebih pendek.
D. Gejala sensitifitas yang sangat / hyper-arousal (dua atau lebih)
• Gangguan tidur; konsentrasi yang terganggu; rasa kesal atau ledakan amarah; hypervigilance (kewaspadaan yang berlebih); reaksi kaget yang berlebihan
E. Gejala berlangsung sedikitnya1 bulan
F. Gejala menyebabkan kecemasan atau gangguan fungsional

Spesifikasi:
Akut: Gejala berlangsung 1 sampai 3 bulan
Kronis: Gejala berlangsung lebih dari 3 bulan
Awal gejala (onset) yang tertunda: gejala dimulai sedikitnya 6 bulan setelah ada stresor

Kalahkan perasaan Minder

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown 2 comments
Perasaan minder adalah merupakan bagian dari adanya perasaan harga diri yang rendah. Satu waktu dalam kehidupan kita pernah kita merasa lemah, bodoh, tidak terlalu baik, kalah dibanding orang lain, tidak berguna, tidak menarik, jelek, tidak dicintai, dan gagal. Setiap orang menggunakan kata-kata itu untuk menggambarkan dirinya ketika menghadapi suatu tantangan hidup / stres dalam kehidupan mereka. Tetapi apabila orang tersebut terus menerus memikirkan hal tersebut maka dia memiliki masalah dengan harga diri yang rendah. Harga diri yang rendah / minder adalah pikiran negatif tentang diri kita sendiri dan menempatkan nilai negatif pada diri kita sendiri. Belum tentu orang lain berpikir hal yang sama dengan kita. Ada beberapa tips untuk mengatasi harga diri yang rendah, yaitu dengan memikirkan :
• Saya memiliki hak untuk berada di sini
• Saya cukup berharga
• Saya bermakna
• Saya senang menjadi diri saya sendiri
• Saya memiliki kekuatan saya sendiri
• Adalah hal yang baik memikirkan hal yang baik tentang diri sendiri

Gantikan pikiran yang negatif tentang diri sendiri dengan hal yang positif. Apabila Anda merasa bahwa hal tersebut sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu-ragu datang ke psikiater / psikolog yang tentunya akan memberikan pertolongan secara profesional.

Homoseksual dan Lesbi

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Seksualitas adalah hal yang sangat penting bagi manusia. Di samping fungsinya sebagai reproduksi, seksualitas juga menunjukkan bagaimana seseorang melihat dirina dan bagaimana dia berhubungan secara fisik dengan orang lain. Orientasi seksual adalah suatu istilah yang menggambarkan suatu bentuk emosi, romantisme, dan ketertarikan seksual seseorang terhadap gender tertentu ( pria atau wanita)

Secara umum orientasi seksual dibagi menjadi 3 kategori yaitu :
1. Heteroseksual : tertarik pada orang yang jenis kelaminnya berlawanan (contoh: pria tertarik pada wanita atau sebaliknya)
2. Biseksual : tertarik pada orang baik dia pria maupun wanita
3. Homoseksual : tertarik pada orang yang jenis kelaminnya sama
(contoh: pria tertarik pada pria atau wanita tertarik pada wanita/lesbi)

Orientasi seksual ini meliputi juga perasaan dan identitas seseorang yang terlihat pada penampilan dan perilaku seseorang. Faktor – faktor yang mempengaruhi orientasi seksual seseorang adalah kombinasi dari faktor lingkungan, emosional, hormonal, dan biologi dari orang tersebut. Dengan kata lain banyak faktor yang berkontribusi yang menyebabkan seseorang mempunya orientasi seksual yang berbeda dan faktor ini berbeda antara orang yang satu dan yang lain. Ada juga yang berpendapat bahwa orientasi seksual seseorang seperti homoseksual / biseksual terjadi karena orang tersebut mengalami pengalaman seksual dengan orang yang sama jenis kelaminnya atau karena si anak sejak kecil diperlakukan oleh orang tuanya sebagai anak dengan jenis kelamin berbeda ( misalnya : karena orang tua ingin anaknya perempuan maka orang tua ini memperlakukan anak lelaki mereka seperti anak perempuan). Pendapat ini tidak selalu benar karena ternyata banyak faktor yang menyebabkan seseorang memiliki orientasi seksual tertentu. Menjadi seorang homoseksual / lesbi / biseksual bukanlah berarti orang itu mengalami gangguan jiwa / tidak normal, meskipun di masyarakat sekarang ini hal tersebut masih menimbulkan masalah sosial karena adanya norma – norma dan nilai – nilai yang berlaku di masyarakat.

Sesorang yang masih bingung dengan orientasi seksualnya sebaiknya berkonsultasi dengan psikiater yang akan membantu mereka tentang apa yang harus dilakukan. Apabila orang ini nyaman dengan orientasi seksualnya tetapi lingkungan sekitar tidak setuju tentunya dia harus mengambil sikap tertentu dengan konsekuensi yang harus dihadapinya.

Setiap perilaku dan aktivitas seksual memiliki resiko terhadap kesehatan bila tidak dilakukan dengan sehat. Perilaku seksual yang sehat harus memperhatikan Penyakit kelamin merupakan penyakit yang sering muncul akibat perilaku seksual yang sehat. Tetap setia pada pasangan merupakan cara yang paling aman dalam menjalin suatu hubungan.

Fobia bisa diatasi !

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Ada sebuah gangguan yang disebut fobia, yang ditandai dengan ketakutan yang spesifik terhadap obyek, lingkungan, atau situasi tertentu. Ada orang yang fobia terhadap kucing, fobia berada di ruangan tertutup, fobia terhadap serangga, dll. Pada ibu sepertinya mengalami fobia terhadap ketinggian yang disebut sebagai akrofobia. Pada mereka yang mengalami fobia maka orang ini terpapar dengan keadaan / obyek yang dia takuti maka akan muncul kecemasan yang luar biasa yang tidak bisa dijelaskan apa sebabnya. Terdapat juga suatu kecemasan antisipatif pada orang yang mengalami fobia ini yaitu dia akan mengalami kecemasan sebelum mengalami langsung kejadiannya, misalnya sebelum berada di tempat yang tinggi, ketakutan dan kecemasan itu sudah muncul terlebih dahulu sehingga terdapat perilaku menghindari hal/ situasi yang membuatnya takut. Hal ini tentu saja sangat mengganggu dalam hubungan/relasi dan terlebih dalam pekerjaan.
Terapi yang bisa dilakukan adalah dengan terapi kognitif dan perilaku (CBT = cognitive behavioral therapy ). Teknik terapi ini akan mengajarkan orang yang mengalami fobia untuk terpapar dengan situasi yang ditakutinya itu secara bertahap, mulai dari yang tidak begitu ditakuti sampai kepada situasi yang paling ditakuti (desensitisasi sistemik). Tentunya klien ini akan diajarkan bagaimana mengontrol emosi dan pikirannya serta teknik relaksasi untuk mengatasi perasaan takutnya. Sebaiknya segeralah menghubungi psikiater terdekat untuk segera mendapatkan terapi. Beberapa obat-obatan untuk mengatasi rasa cemas/takut juga bisa diberikan.

Autisme : Apa dan bagaimana?

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Autisme dan hiperaktif adalah dua hal yang berbeda baik dalam hal gejala maupun pengobatannya. Pada anak autisme tanda dan gejala yang ditemukan adalah gangguan pada bidang :
 Komunikasi
o Keterlambatan perkembangan bicara & tak ada usaha untuk berkomunikasi nonverbal (bahasa tubuh/ isyarat)
o Yg dpt berbicara: sulit utk memulai atau mempertahankan percakapan dgn orang lain
o Bahasa strereotipik, pengulangan, aneh: mis meracau, echolalia (membeo)
o Tak memahami pembicaraan orang lain
o Kurang variasi & spontanitas dlm bermain pura2/ permainan imitasi sosial
 Interaksi sosial
o Hendaya perilaku nonverbal:
 Tidak berespons saat dipanggil.
 Tidak mau mengadakan kontak mata.
 Ekspresi wajah dan postur tubuh kaku
o Gagal membangun relasi dgn sebaya, lebih suka asyik sendiri.
o Tak ada keinginan utk berbagi kesenangan dgn orang lain.
o Tak ingin mengadakan hubungan emosional & sosial timbal balik.
o Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.
 Perilaku
o Acuh tak acuh terhadap lingkungan.
o Preokupasi dg 1 pola perilaku ttt atau minat strereotipik: terpukau oleh benda bergerak atau berputar, kelekatan thd benda tertentu
o Manerisme motorik yg strereotipik & repetitif, mis: mondar-mandir, lari2 lompat2, manjat2, mengepak-ngepak, teriak2
o Agresif atau menyakiti diri sendiri.
o Melamun atau bengong.
 Emosi
o Tertawa-tawa, menangis, marah-marah tanpa sebab.
o Emosi tak terkendali: temper tantrum
o Rasa takut yang tidak wajar

Sedangkan pada gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPPH) / ADHD akan tampak gejala – gejala seperti :

Inatensi
(a) Sering gagal memberikan perhatian cermat terhadap detail atau membuat kesalahan yang ceroboh dalam tugas sekolah, pekerjaan, atau aktivitas lain
(b) Sering kesulitan mempertahankan perhatian dalam tugas-tugas atau aktivitas bermain
(c) Sering tampak tidak mendengarkan bila diajak bicara secara langsung
(d) Sering tidak memenuhi instruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah, tugas di rumah, atau tugas-tugas pekerjaan (bukan akibat perilaku oposisional atau kegagalan untuk mengerti instruksi)
(e) Sering kesulitan mengorganisasikan tugas dan aktivitas
(f) Sering menghindari, tidak menyukai, atau enggan melakukan tugas yang membutuhkan usaha mental yang berkesinambungan (seperti tugas sekolah atau pekerjaan rumah)
(g) Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas atau aktivitas (misalnya mainan, tugas sekolah, pensil, buku, atau peralatan)
(h) Sering teralihkan perhatiannya oleh stimulus eksternal
(i) Sering pelupa dalam aktivitas sehari-hari
(1) Enam (atau lebih) dari gejala-gejala hiperaktivitas-impulsivitas berikut bertahan selama sedikitnya 6 bulan hingga derajat yang maladaptif dan tidak sesuai dengan tahapan perkembangan:
Hiperaktivitas
(a) Sering fidgeting dengan tangan atau kaki atau squirming di tempat duduknya
(b) Sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau dalam situasi lain yang mengharuskan anak untuk duduk diam
(c) Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak sesuai (pada remaja atau dewasa, dapat terbatas pada perasaan restlessness yang subjektif)
(d) Sering kesulitan bermain atau melakukan aktivitas senggang dengan tenang
(e) Sering “on the go” atau bertindak seolah-olah “dikendalikan sebuah motor”
Sering menginterupsi atau menyela orang lain (misalnya menyela pembicaraan atau

Untuk memastikannya, bila ada kecurigaan akan autisme maka perlu memeriksakan anak nya ke psikiater supaya diagnosis bisa segera ditegakkan dan terapi bisa segera diberikan bila diperlukan.

Aspek kejiwaan Aborsi

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown No comments
Prosedur aborsi dapat dilihat dari 2 aspek. Dari sisi medis hal ini dapat dilakukan apabila dokter melihat bahwa proses kehamilan membahayakan si ibu yang mengandung. Tetapi ada juga proses aborsi yang dilakukan di luar medis dengan tujuan memang untuk menggugurkan kandungan karena berbagai alasan. Pada saat seorang perempuan kehilangan bayinya pada suatu proses aborsi maka akan menimbulkan proses berduka yang normal. Tetapi ketika proses aborsi itu dilakukan untuk mengatasi masalah yang lainnya seperti masalah kesehatan ibu yang mengandungnya maka biasanya perempuan tersebut akan lebih cepat pulih dari proses duka kehilangan yang dia alami, sehingga penting sekali untuk memberitahukan mengenai tujuan dari aborsi itu.
Perubahan hormonal yang terjadi selama proses kehamilan membuat perempuan itu menjadi lebih emosional dari biasanya. Beberapa perasaan yang biasanya muncul adalah : sedih, marah, kecewa, dan merasa bersalah. Bahkan ada beberapa perempuan yang menjadi depresi, cemas, tidak punya harapan, gangguan makan. Gangguan ini bisa berlangsung berminggu-minggu atau bulan bila tidak ditangani segera. Dampak psikologis lain yang juga biasanya muncul adalah adanya ingatan masa yang lalu (flashback) dan juga mimpi buruk terkait dengan aborsi yang dilakukannya.
Apabila perempuan ini bukanlah sosok perempuan yang bermental kuat atau bila tidak ditangani segera maka dia dapat jatuh ke gangguan kejiwaan yang lebih berat. Melakukan konseling sebelum prosedur aborsi akan mencegah seorang perempuan tersebut untuk jatuh pada masalah kejiwaan lebih lanjut. Konseling akan menolong mengidentifikasi perasaan dan motivasi ketika memilih untuk melakukan aborsi sehingga resiko permasalahan kejiwaan di kemudian hari dapat dikurangi.
Bagi mereka yang melakukan aborsi tanpa pertolongan profesional maka resikonya menjadi lebih besar, mulai dari masalah medis seperti perdarahan dan infeksi yang dapat terjadi dan juga masalah hukum serta masalah kejiwaan karena adanya ambivalensi antara ingin menggugurkan kandungan dan nilai/norma yang dianut.

Berbicara saat tidur : Gangguan jiwa ?

Friday, November 13, 2009 Posted by Unknown , No comments
Anak yang berbicara sendiri pada waktu menjelang tidur perlu ditelusuri lebih lanjut terlebih dahulu apakah saat tidur berbicaranya atau pada saat sedang tersadar penuh dia bicara sendiri ? Pada anak ada yang namanya somniloquy (sleep talking) yaitu gangguan tidur yang terjadi pada anak di mana seorang anak berbicara ketika dia sedang tidur. Gangguan ini tidak berbahaya dan biasanya hilang pada saat anak berusia dewasa. Penyebab dari “sleep talking” ini adalah ketika anak itu tidak masuk pada fase tidur yang komplit atau istilahnya tidurnya tidak terlalu pulas. Bentuk dari “sleep talking “ ini bermacam macam mulai dari hanya bergumam sampai ke percakapan yang panjang. Terdapat 5 fase tidur pada manusia, biasanya ‘sleep talking’ terjadi ketika seorang anak masuk pada fase REM (rapid eye movement) ketika dia mengalami mimpi yang jelas. Ada beberapa hal yang dapat mencetuskan gangguan tidur seperti “sleep talking” ini yaitu : situasi stres yang dialami sebelum tidur, kondisi tubuh yang kurang sehat, dan makan dekat dengan waktu tidur. Untuk mengatasi gangguan ini sebaiknya seorang anak berada dalam keadaan yang tenang dan senang sebelum dia tidur, jangan memarahinya atau membuat hatinya sedih, berdoa sebelum tidur akan membuat tidurnya juga lebih tenang. Apabila ternyata anak tersebut berbicara sendiri ketika dia sadar, sebaiknya segera di bawa ke psikiater untuk dilakukan pemeriksaan untuk memastikan keadaannya.