Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Gangguan Bipolar

Saturday, December 13, 2008 Posted by Lahargo Kembaren , 8 comments
PENDAHULUAN

Gangguan bipolar merupakan penyakit yang serius. Gangguan ini dapat membuat mood seseorang yang normal dapat menjadi sangat ekstrim sehingga disebut manik depresif. Orang dengan gangguan bipolar memiliki mood yang tidak menentu (mood swing). Moodnya dapat berayun dari yang paling rendah (depresi) ke yang paling tinggi (mania). Gangguan bipolar merupakan penyakit seumur hidup tetapi dengan terapi yang ada sekarang, orang dengan gangguan bipolar dapat hidup dan beraktivitas seperti orang normal lainnya bahkan mereka dapat menjadi sangat produktif dalam kehidupan mereka. 1
Gangguan bipolar merupakan penyakit biologi yang berat dengan prevalensi 1% dari populasi orang dewasa. Meskipun gejala dan keparahan dari gangguan ini bervariasi tetapi gangguan bipolar selalu memiliki dampak yang besar terhadap pasien sendiri keluarga, pasangan, dan teman, serta lingkungan.2 Gangguan bipolar merupakan penyakit yang sulit diterapi karena siklusnya yang berputar, gejala residual, dan kepatuhan minum obat yang buruk.4
Efek yang ditimbulkan akibat dari gangguan bipolar yang tidak diobati dapat sangat menghancurkan. Episode depresi dan mania yang merupakan karakteristik dari gangguan ini dapat membuat orang yang menderita gangguan ini tidak dapat hidup dengan stabil dan produktif. Pada fase mania, pasien dapat menjadi hiperaktif dan tidak bertanggung jawab. Pada fase depresi menjadi sangat sulit untuk mengerjakan apapun. Karena dampak dari gangguan bipolar dapat mengenai seluruh aspek kehidupan maka diagnosis dini dan terapi sesegera mungkin sangatlah dibutuhkan. 3
Dengan terapi, sebagian besar orang dengan gangguan bipolar menjadi mampu mendapatkan kesembuhan yang mendasar dari gejala yang mereka alami. Tetapi karena siklus mood pada pasien bipolar terjadi berulang maka pengobatan tidak hanya berfokus pada keadaan akut tetapi juga pada keadaan krisis tetapi juga perawatan jangka panjang. Rencana terapi yang komprehensif pada pasien dengan gangguan bipolar bertujuan untuk menekan gejala saat ini, mencegah episode mood berikutnya, dan mendata masalah dalam pekerjaan dan hubungan relasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini. Rencana terapi yang menggabungkan psikoterapi dengan obat-obatan merupakan strategi yang terbaik untuk meraih tujuan di atas 3


DIAGNOSIS GANGGUAN BIPOLAR 5

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode manik tunggal
A. Terdapat hanya satu episode manik dan tidak ada riwayat episode depresi
B. Episode manik ini bukan merupakan suatu gangguan skizoafektif dan bukan
merupakan superimpose pada skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau
gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode kini manik
A. Saat ini terdapat episode manik
B. Terdapat riwayat paling tidak 1 episode depresi mayor, manik atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode kini hipomanik
A. Saat ini terdapat episode hipomanik
B. Terdapat riwayat paling tidak episode manik atau campuran
C. Gejala mood menyebabkan distres dan gangguan yang nyata dalam fungsi
sosial, pekerjaan dan area lainnya.
D. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I episode kini depresi
A. Saat ini terdapat episode depresi mayor
B. Terdapat riwayat episode manik atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode kini campuran
A. Saat ini terdapat episode campuran
B. Terdapat riwayat satu episode depresi mayor, episode manik atau episode
campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode tidak tergolongkan
A. Kriteria kecuali durasi sesuai dengan eposide manik, hipomanik, campuran
atau depresi mayor
B. Terdapat riwayat episode manik atau campuran
C. Gejala mood menimbulkan distres dan gangguan yang secara klinis
bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan dan area penting lainnya
D. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.
E. Gejala mood pada kriteria A dan B tidak berhubungan secara langsung
dengan efek psikologis penggunaan obat atau kondisi medis umum.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar II
A. Saat ini terdapat atau riwayat satu atau lebih episode depresif
B. Saat ini terdapat atau riwayat paling tidak satu episode hipomanik
C. Tidak pernah ada episode manik atau campuran
D. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

PENATALAKSANAAN


Prinsip – Prinsip Umum

• Membangun dan mempertahankan hubungan kolaborasi dengan pasien dan keluarga.
• Menghargai pengetahuan dan pengalaman pasien tentang penyakitnya.
• Memotivasi pasien untuk melibatkan keluarga bila memungkinkan
• Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai diagnosis dan
terapi yang diberikan
• Menasehatkan pasien untuk melakukan ’self monitoring’ terhadap gejala,
pemicu, tanda-tanda awal, life style, sleep hygiene, bentuk pekerjaan, dan
strategi koping.
• Memperhatikan kebutuhan pasien dan juga keluarga mengenai masalah relasi,
keadaan fisik, sosial, dan mental
• Memberikan akses yang bisa dihubungi oleh pasien dan keluarga bila ada
keadaan krisis.


Terapi fase akut

Pada fase akut dari gangguan bipolar, tujuan terapi adalah untuk menghentikan episode manik, depresif, hipomanik atau campuran yang sedang terjadi3
• Obat : Mood stabiliser adalah merupakan obat utama yang perlu diberikan pada fase akut. Untuk manik akut, obat pilihannya adalah mood stabiliser dan anti psikotik atipikal. Sedatif dapat diberikan untuk waktu yang pendek untuk mengatasi ansietas dan insomnia. Pada episode depresi dapat diberikan kombinasi antidepresan dan mood stabiliser.
• Electroconvulsive Therapy (ECT). Penggunaan ECT pada episode depresi dan mania yang parah memberikan hasil yang bermakna. Ini adalah merupakan tindakan pilihan “life saving” pada pasien bipolar yang memiliki resiko bunuh diri termasuk pada pasien dengan gejala psikotik seperti waham dan halusinasi. ECT juga merupakan pilihan pada pasien yang tidak berespon terhadap pengobatan atau tidak dapat meminumnya karena sedang hamil atau kondisi medis
• Perawatan. Apabila terdapat keadaan yang berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain maka perawatan di rumah sakit perlu dipikirkan. Rumah sakit adalah lingkungan yang aman untuk perawatan sampai moodnya menjadi stabil. Mania dan depresi mempengaruhi penilaian dan tilikan sehingga pasien tidak menyadari bahwa dirinya butuh perawatan
• Psikoterapi. Selama fase mania akut, biasanya psikoterapi hanya sedikit memberikan keuntungan. Pasien manik memiliki kemampuan yang terbatas untuk duduk dan mendengarkan terapis. Tetapi pasien dalam fase depresi memperoleh dampak yang besar dengan psikoterapi.

Terapi fase preventif dan maintenance
Pada fase preventif dan maintenan dari gangguan bipolar, fokus adalah pada memepertahankan mood yang stabil dan mencegah munculnya episode mania dan depresi. Pada banyak kasus gangguan bipolar lebih baik terkontrol apabila terapi dilanjutkan dan tidak putus. 3
• Obat. Pengobatan dengan mood stabiliser hampir selalu dilanjutkan meski gejala mania dan depresinya sudah terkontrol. Ketika pengobatan dilanjutkan maka akan mengurangi frekuensi dan keparahan dari episode mood dan bahkan dapat mencegah
• Psikoterapi. Terapi yang diberikan selama fase maintenance perlu dilakukan untuk mengatasi masalah dengan perasaan yang tidak nyaman, bagaimana mekasnisme koping yang dapat dikerjakan, memperbaiki hubungan relasi, memanage stres, mengatur mood.
• Edukasi. Mengatur gejala dan mencegah komplikasi dimulai dengan pengetahuan akan penyakit yang diderita. Edukasi adalah kunci yang penting dalam proses terapi. Semakin banyak yang diketahui pasien tentang bipolar akan semakin efektif kemampuan pasien untuk mengenali gejala, mencegah munculnya gejala, dan segera mendapat pertolongan
• Dukungan. Hidup dengan gangguan bipolar tidak mudah. Harus ada dukungan dan motivasi yang terus menerus diberikan oleh grup suportif.


Terapi psikologis setelah episode akut

Perlu dipikirkan intervensi psikologis seperti CBT pada pasien yang telah stabil sebagai tambahan obat yang diberikan pada pasien yang memiliki gejala efektif ringan sampai sedang. Terapi ini secara normal berlangsung selama 16 sesi. Yang menjadi bagian dari terapi ini adalah : psikoedukasi, monitor mood secara rutin dapat menggunakan mood diary, mendeteksi gejala awal yang muncul

Meningkatkan pola hidup sehat dan pencegahan relaps

Memberikan pasien pengetahuan mengenai ‘good sleep hygiene’ dan pola hidup yang teratur, resiko bila bekerja dengan sistem sift, terbang malam, melewati zona waktu, dan bekerja dalam waktu yang lama. Memberikan dukungan setelah kejadian yang berarti seperti kehilangan pekerjaan, proses duka cita.



Ilustrasi Kasus


Seorang perempuan berumur 34 tahun, agama Kristen, belum menikah. Dari anamnesis didapatkan keluhan gampang teralihkan perhatiannya dan tidak bisa fokus pada pekerjaan. Mood pasien sering naik turun, kadang-kadang sering naik yang mengakibatkannya punya energi berlebih sehingga bisa melakukan apa saja, perilaku beresiko, belanja, membagikan barang, tidur yang tidak teratur. Bila mood sedang turun seperti sekarang ini, pasien merasa sangat sedih, tidak berdaya, tidak punya harapan, putus asa, nafsu makan kurang, lemas, ada ide bunuh diri. Keluhan yang dirasakan sudah sejak 8 tahun yang lalu. Dalam 1 hari dapat terjadi perubahan mood yang cepat.
Pada pemeriksaan status mental didapatkan mood depresif, preokupasi hidup yang sulit dan putus asa, tilikan derajat 4.
Pada pasien ini ditemukan adanya pola prilaku atau psikologis yang secara klinis bermakna dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala yang menimbulkan penderitaan dan hendaya dalam berbagai fungsi psikososial dan pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan pasien mengalami gangguan jiwa.
Pasien tidak pernah mengalami penyakit fisik yang berbahaya/serius sehingga gangguan mental organik dapat disingkirkan . Pada pasien tidak didapatkan adanya penggunaan zat psikoaktif (hanya penggunaan ganja 1x) sehingga kemungkinan adanya gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif juga dapat disingkirkan. Tidak ditemukan adanya halusinasi, waham, sehingga gangguan skizofrenia dapat disingkirkan
Pada pasien ini didapatkan adanya mood yang depresif dan episode depresif, riwayat episode manik dan dapat berlangsung dalam1 hari bergantian, sehingga pada pasien ini ditegakkan diagnosis : Gangguan Bipolar I episode kini campuran.
Pada pasien diberikan Asam Valproat ( Depakote ER) 250 mg 1x1 dan Cognitive Behaviour Therapy. Pada pasien dilakukan tes MMPI II dan kemudian diberikan terapi Depakote ER 250 mg dan CBT setiap minggu. Setelah 1 bulan dilakukan tes TKMI dan didapatkan terdapat perbaikan dalam gejala, kapasitas mental, dan indeks kepribadian dasar.

8 comments:

  1. jenis gangguan ini "obsesif kompulsif" sering ada di novel tetralogi "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata.

    Cukup komprehensif penjelasannya.
    Keep on writing bro!

    ReplyDelete
  2. Dokter saya mau konsultasi nih. saya wanita berumur 26 th. saya sekarang sedang kawatir, spertinya saya minum obat dengan dosis yg salah. bermula dr saya yg semula tinggal di yogya skrg pindah ke jkt untuk kerja. di yogya dgn resep dokter saya biasa minum Depakote warna orange 250 mg (tulisan tengah NR)kemudian bbrp waktu kemudian diganti menjadi Depakote ER warna putih (dgn tulisan tengah HF), yg skarang saya baru tahu jika itu adalah Depakote ER 250Mg. stelah pindah ke jakarta dengan resep yg sama saya diberi obat yg berbeda, Depakote ER warna abu2 (tulisan tengah HC)500mg.
    gambarnya kbetulan ada disini:http://www.drugs.com/pdr/depakote.html, saya bingung mana obat yg benar (karena swaktu di yogya kbetulan saya beli obatnya diluar apotik Rumahsakit, karena di rumahsakitnya sendiri obat tsb tdk tersedia, shingga saya beli di apotik luar dgn resep dokter dengan tulisan di resep "Depakote ER" dan diberi obat depakote ER 250 mg warna putih tulisan HF). Nah apotik yg di jkt bersikeras bahwa yg diberinya sudh benar yaitu Depakote ER sesuai dgn resep dokter tsb (warna abu2 tulisan HC). di katalog obatnya jg tertulis obat tsb dengan ciri2 yg sama, warna abu2, dan yg warna putih memang tdk ada di katalog. Bodohnya saya..ya sudah jadi waktu itu saya pikir sama saja. waktu itu saya jg terdesak karna obat saya hampir habis, sampai saya berkesempatan menelpon apotik di yogya katanya yg mreka biasa kasih sudah benar yaitu Depakote ER 250mg, mereka bilang klo minta 250mg ga ush nulis dosis, cukup Depakote ER saja, jika dokternya minta 500mg pasti dosisnya ditulis di resep. skrg saya sudah terlanjur minum depakote ER 500mg slama bbrp hari. pertanyaan saya:
    1. (sayang saya blm berhasil menelpon dokter saya yg di yogya). During the time, Apa yg harus saya lakukan dok? klo harus ganti ke depakote ER 250 Mg mencarinya di jkt jg tdk mudah mungkin memakan waktu karna katanya obatnya jenis ini jarang dikonsumsi sehingga jarang tersedia di apotik2.
    2. Bukankah berbahaya switch dosis obat seperti itu?
    3. apa sebaiknya saya hentikan dulu minum obat Depakote ER 500mg? (oya Dok , sbenarnya penyakit saya baru, bbrp bulan lalu gejalanya adalah malam hari sewaktu tidur saya mengalami sesak nafas dan kejang, kemudian diperiksa EEG, dan hasilnya syaraf otak saya abnormal. 3 kali sempat mengalami kejang dan sesak nafas sperti itu. Tapi sekarang sudah engga lg, tapi kata dokter waktu itu perlu di terapi obat selama kurang lebih 2 tahun)
    Mohon sharingnya ya Dok, untuk bahan masukan..terimakasih.. (email: jesika.jasmin@yahoo.com)

    ReplyDelete
  3. oya dok, satu tambahan lg. saya sudah minum depakote ER 500mg selama 13 hari. Dan tdk mengalami gangguan apa2 seperti gejala over dosis dan lainnya. thx..mohon masukannya dok

    ReplyDelete
  4. Depakote ada 2 macam ada yg immediate release dan ada yg extended release (ER) ... yang ER cukup diminum 1 kali sehari karena mekanisme kerjanya yang dilepaskan secara perlahan. Apabila sudah merasa nyaman dengan dosis 250mg sebaiknya tetap dengan dosis tsb. Dosis 500mg berarti 2 kali lipat dosis biasa. efek samping biasanya individual. Saya anjurkan coba kontrol ke dokter psikiater terdekat untuk melihat perkembangannya.

    ReplyDelete
  5. Saya salah satu penderita gangguan Bipolar II. Jika ada yang mau bertanya atau sharing bisa melalui blog di hypomaniadepression.blogspot.com

    ReplyDelete
  6. dokter, saya diberi depakote ER 500, diminum sehari sekali, tapi kok jantung saya jadi berdebar ya dok. mohon penjelasannya. sekedar informasi dok, saya tidak minum kopi

    ReplyDelete
  7. Setiap obat psikiatri memiliki 2 efek yaitu : efektivitas dan efek samping. Pada awal-awal minum obat efek samping bisa saja terjadi termasuk jantung yang berdebar. Tubuh akan beradaptasi dengan keadaan tersebut tetapi bila keluhan ini cukup mengganggu silahkan konsultasikan dengan psikiater Anda

    ReplyDelete
  8. Dok, bagaimana CBT dilakukan? Terima kasih dok.

    ReplyDelete