Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Gangguan Obsesif Kompulsif

Sunday, December 14, 2008 Posted by Unknown , 4 comments
Rangkuman

Gangguan obsesif kompulsif diketahui sebagai satu dari gangguan psikiatri yang umum dan juga sebagai gangguan yang paling membuat orang tidak berdaya dari semua gangguan medis yang lain. Gangguan yang berhubungan dengan gangguan obsesif kompulsif (obsessive compulsive related disorders/OCRDs) biasanya komorbid dengan gangguan obsesif kompulsif termasuk di dalamnya beberapa gangguan psikiatri seperti gangguan somatoform, gangguan makan, gangguan pengontrolan impuls, dan beberapa keadaan neurologis, yang mempunya gejala yang bertumpang tindih dan memiliki kualitas kompulsif. Meskipun terapi yang efektif telah eksis tetapi gangguan obsesif kompulsif dan gangguan yang berhubungan sering tidak terdiagnosis dan tidak terterapi. Serotonin reuptake inhibitor dan CBT merupakan lini pertama terapi GOK. Sebagai tambahan, remisi bukan merupakan keadaan yang umum terjadi pada pasien GOK dan gangguan yang berhubungan dalam praktek klinis. Pasien yang refrakter mungkin bisa mendapatkan perbaikan dengan strategi terapi yang berbeda termasuk terapi yang terintegrasi, augmentasi farmakologi dan teknik stimulasi otak.

Pendahuluan

Gangguan obsesif kompulsif ditandai dengan obsesi dan kompulsi yang rekuren yang ditandai dengan adanya distres dan gangguan fungsional yang bermakna. Gangguan-gangguan yang berhubungan dengan dengan obsesif kompulsif (OCRDs) adalah kelompok gangguan-gangguan yang memiliki gejala tumpang tindih dan kualitas kompulsif meskipun merupakan gangguan yang berbeda dengan GOK. Setelah beberapa dekade dan penelitian yang dilakukan akhirnya dipandang perlu untuk memisahkan GOK dengan gangguan cemas dan menempatkannya secara otonom yaitu OCRDs (dalam DSM V).
Pada OCRDs sering sekali terjadi ”underdiagnosis and undertreatment” dan studi yang terkini mengindikasikan bahwa 59,5% pasien GOK tidak menerima terapi seperti yang mereka butuhkan. Konsekuensi ekonomi karena GOK sangat dramatis, diperkirakan 5 triliun dollar per tahun merupakan biaya langsung yang disebabkan oleh terapi GOK di USA. Dapat dipahami bahwa biaya per pasien akibat dari terapi yang tidak efektif karena ’misdoagnosis’ secara bermakna lebih tinggi daripada terapi yang spesifik, tepat, dan efektif. OCRDs dapat mengenai 10 % dari populasi rakyat USA. Terapi bagi OCRDs telah berkembang secara dramatis dalam tahun-tahun terakhir dan dokter di pelayanan primer merupakan profesional kesehatan pertama yang didatangi oleh pasien. Mereka seharusnya mampu memberikan terapi farmakologi yang tepat dan melakukan konsultasi kepada psikiater ketika menemukan kasus yang refrakter atau kasus yang terdapat komplikasi dengan komorbid kondisi psikiatri lain.

Karakteristik dan Bagian Gangguan Obsesif Kompulsif

Gangguan obsesif kompulsif dianggap sebagai kondisi kronik dan tidak berdaya dengan morbiditas yang bermakna dan dengan prevalensi 2% meskipun terdapat perbedaan beberapa laporan prevalensi . Pasien yang menderita GOK, obsesi terdiri dari pikiran-pikiran yang berulang, dorongan-dorongan yang dialami secara asing, intrusif dan menyebabkan distres. Kompulsif adalah perilaku berulang (ritual) yang pasien rasakan sebagai dorongan untuk dikerjakan. Obsesif dan kompulsif yang paling sering adalah :

Obsesif Kompulsif
Kontaminasi Mencuci dan membersihkan
Perhatian terhadap kotoran, kuman, debu. Termasuk perhatian mengenai menjadi sakit atau membuat orang lain sakit Mencuci tangan, merapikan, mandi yang berlebihan dan ritual. Membersihkan objek secara berlebihan, menghindari menyentuh objek yang diyakini terkontaminasi
Keraguan yang patologis Mengecek
Ketakutan membuat keputusan yang salah. Preokupasi mengenai belum menyelesaikan tugas sampai benar-benar selesai Mengecek berulang kompor, keran air, lampu, kunci.
Tidak nyaman ketika benda-benda tidak simetris tersusun di tempatnya Mengatur dan mengatur ulang, memperbaiki susunan karena kebutuhan akan simetri, ketepatan, dan perfeksionis
Ketakutan tidak mempunyai, kehilangan atau barang tertentu tidak sengaja terlempar Mengkoleksi benda-benda yang tidak berguna seperti koran usang. Tidak bisa menghapus pesan di telepon yang lama
Pikiran dan bayangan tentang kekerasan; takut melakukan sesuatu yang tidak diinginkan yang dapat menyakiti orang lain secara tidak sengaja; takut menimbulkan kerusakan; takut harus bertanggung jawab terhadap suatu kejadian yang buruk Menghitung tindakan-tindakan yang dilakukan atau kebutuhan untuk melakukan sesuatu dalam jumlah tertentu bisa ganjil atau genap
Pikiran-pikiran seksual yang tidak bisa diterima Melakukan kembali tindakan-tindakan sampai betul-betul sempurna atau sampai diselesaikan dengan pikiran atau perasaan yang tepat atau sampai dirasakan benar
Ketakutan melanggar kesucian, secara berlebihan memperhatikan masalah benar dan salah Kadang-kadang penghindaran akan benda atau situasi tertentu yang kompleks dan merupakan suatu ritual. Dapat berhubungan dengan berbagai obsesi

Kejadian dari pikiran pikiran yang tidak diinginkan dan perilaku yang berulang atau takhyul disertai dengan kecemasan sementara yang tidak patologis dan diagnosis GOK membutuhkan gejala-gejala tersebut yang menyebabkan distres yang nyata, memakan waktu ( > 1 jam per hari) dan secara bermakna mengganggu fungsional. Obsesif yang paling sering terjadi adalah : takut pada kontaminasi diikuti dengan keraguan yang patologis, obsesif somatik, dan kebutuhan akan simetri. Kompulsif yang paling umum adalah : mengecek, diikuti dengan mencuci, menghitung, kebutuhan untuk bertanya atau bersaksi dan simetri serta presisi. Mayoritas pasien yang menderita GOK memiliki multipel obsesif dan kompulsif selama sakitnya dengan ketakutan atau perhatian yang khusus yang mendominasi gambaran klinis pada satu waktu. Meskipun kebanyakan pasien GOK mengakui bahwa perilaku mereka berlebihan, beberapa subpopulasi pasien memiliki tilikan yang kurang baik dan menyatakan bahwa obsesif dan kompulsif mereka adalah hal yang beralasan. Onset dari GOK secara umum pada masa remaja akhir atau dewasa muda, meskipun dapat juga terjadi pada berbagai usia tetapi kejadian pada fase anak-anak sangat jarang. Sebagai tambahan, onset lebih dahulu pada laki-laki daripada perempuan. Penyakit ini kronis yang bertambah dan berkurang dalam keparahannya sebagai respon terhadap stres.

Gangguan yang berhubungan dengan gangguan obsesif kompulsif (obsessive compulsive related disorders/OCRDs)

Variasi kemiripan telah diobservasi dari berbagai kondisi psikiatri dan neuropsikiatri dan GOK. OCRDs memiliki gambaran GOK dalam profil gejala dan fenomenologi, gambaran yang berhubungan, respons terhadap terapi. Secara fenomenologi, pasien dengan OCRDs memiliki gambaran obsesif dan kompulsif yang merupakan suatu tanggapan terhadap kebutuhan untuk menurunkan ketidaknyamanan dengan ritual dan kebutuhan untuk meningkatkan kesenangan. Dari sudut pandang klinis, onset dari OCRDs pada masa remaja, komorbiditas antara GOK dan OCRDs dan respon yang istimewa dari OCRDs terhadap agen serotonin menggambarkan hubungan yang penting antara GOK dan gangguan yang berhubungan. Akhirnya seperti juga GOK, OCRDs mungkin disebabkan oleh disregulasi dari jalur 5-HT pada area otak yang berbeda.


Penatalaksanaan Gangguan Obsesif Kompulsif

Sebelum tahun 1980, prognosis dari GOK buruk dan penemuan obat yang efektif secara revolusioner memberikan harapan bagi para penderita. Penelitian yang intensif di bidang farmakologi menunjukkan bahwa GOK berrespon secara selektif terhadap obat yang menghambat reuptake serotonin dari celah sinaps ( SRIs) yaitu clomipramine dan SRIs selective. Obat-obat seperti antidepresan trisiklik dan monoamine oxidase inhibitors menunjukkan hasil yang tidak efektif pada penelitian. Penelitian yang melihat efek dari obat benzodiazepine, lithium dan ECT memberikan hasil yang tidak konsisten.
Pemberian satu macam obat SRI memberikan kesembuhan klinis pada 40-60% pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Medikasi sangat jarang membawa pasien pada remisi. Respons pada penelitian GOK didefinisikan sebagai pengurangan gejala GOK 25-35 %. Tidak ada SRI yang terbukti lebih efektif dibanding dengan lainnya dalam penanganan kasus GOK. Meskipun demikian pasien sebagai seorang individu dapat berrespon dengan baik terhadap satu macam obat dibanding dengan yang lain dan sulit untuk menduga SRI yang mana yang bisa efektif diberikan pada pasien. Dengan demikian perlu mempertimbangkan faktor-faktor dalam menseleksi obat yaitu : Profil efek samping, waktu paruh, formulasi yang tersedia, dan harga.
Gangguan obsesif kompulsif menunjukkan perbaikan yang lambat, berangsur-angsur yang dimulai dari beberapa hari setelah pemberian obat dan berlanjut beberapa bulan kemudian. Obat SRI yang sudah disetujui oleh FDA untuk terapi GOK pada orang dewasa adalah : Clomipramine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Sertraline, dan Paroxetine. Obat ini bersamaan dengan psikoterapi merupakan intervensi lini pertama pada pasien GOK.

Clomiperamine

Meskipun banyak obat antiobsesi yang muncul tetapi Clomiperamine suatu antidepresan trisiklik tetap merupakan terapi GOK yang efektif dan dapat ditoleransi dengan baik. Clomiperamine merupakan obat pertama yang disetujui FDA untuk GOK menunjukkan hasil yang superior pada penelitian RCT. Pada beberapa penelitian perbandingan dan metaanalisis RCT ditunjukkan bahwa tidak ada pengobatan yang lebih superior dibandingkan dengan Clomiperamine dalam menangani GOK. Bahkan lebih lanjut, Clomiperamine lebih efektif dibandingkan dengan SSRI dalam menangani GOK meskipun dengan profil tolerabilitas yang lebih buruk. Pada kebanyakan pasien, Clomiperamine dengan dosis 250mg/hari dan diberikan minimun 10 minggu menghasilkan efikasi yang cukup. Apabila didapatkan respon yang tidak adekuat atau intoleransi terhadap Clomiperamine oral maka dapat diberikat Clomiperamine intravena sebagai alternatif. Seperti obat trisiklik yang lain, Clomiperamine memiliki efek samping yang berhubungan dengan efek antikolinergik dan alfaadrenergik yaitu : mulut kering, konstipasi, pandangan kabur, hipotensi ortostatik, pusing dan nausea. Clomiperamine toksik pada overdose dan berpotensi mengakibatkan keadaan fatal yaitu kematian karena aritmia jantung, hipotensi, kejang. Setelah memberikan dosis akut pada pasien dan gejala obesesif kompulsif sudah terkontrol maka mengurangi dosis maintenance direkomendasikan untuk mecegah relaps dan meminimalkan efek samping.


Selective Serotonin Reuptake Inhibitors

SSRI merupakan terapi lini pertama pada GOK dengan bukti yang meyakinkan mengenai efikasi dari beberapa penelitian yang luas. Tolerabilitas dan penerimaan yang lebih baik dari Clomiperamine membuat SSRI menjadi terapi yang cocok pada GOK dan Clomiperamine menjadi terapi lini kedua pada mereka yang tidak dapat mentoleransi SSRI dan yang tidak berespon dengan SSRI. Pemilihan SSRI antara Fluoxetine, Fluvoxamine, Citalopram, Paroxetine, dan Sertraline cukup sulit tetapi pada umumnya tergantung pada masing-masing individu karena efeknya mirip satu dengan yang lain. Dosis yang direkomendasikan adalah :

Nama Generik Dosis terendah (mg/hari) Dosis tertinggi (mg/hari)
Paroxetine 20 60
Sertraline 50 200
Fluvoxamine 150 300
Fluoxetine 40 80
Citalopram 20 60
Clomiperamine 150 250

Pada kebanyakan pasien, terapi dengan SSRI memberikan perbaikan yang lambat dan berangsur-angsur. Terapi berlangsung jangka lama dan dosis dinaikkan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pada pasien yang tidak berrespon dengan SSRI yang pertama maka dapat dirubah dengan menggunakan SSRI yang lain karena 25% pasien yang gagal dengan obat SSRI yang pertama dapat memberikan respon dengan obat SSRI lainnya. SSRI secara umum ditoleransi lebih baik dibandingkan dengan Clomiperamine karena efek samping yang lebih kurang pada antikolinergik dan anti alfaadenergik. Meski demikian SSRI dapat juga menyebabkan astenia, insomnia, nausea, dan gangguan fungsi seksual.

Psikoterapi

Cognitive behavioural therapy (CBT) merupakan terapi untuk GOK yang bisa sejajar bahkan lebih superior dibandingkan dengan farmakologi. Dalam CBT, pasien dihadapkan pada objek dan aktivitas yang menakutkan tanpa melakukan ritual kompulsif. Kunci dasar pada intervensi ini adalah exposure dan pencegahan respons atau ritual. CBT dapat digunakan sebagai tambahan pengobatan dengan SSRI. CBT juga berguna bagi pasien yang tidak mau meneruskan obat dan dapat berguna untuk mencegah terjadinya relaps.

Management pasien yang resisten terhadap terapi

Terdapat beberapa bentuk intervensi yang dapat diberikan pada pasien GOK yang berespon parsial dan tidak berespon terhadap pengobatan. Pada pasien yang memiliki respon parsial dapat dilakukan peningkatan dosis dan augmentasi dengan antipsikotik atipikal. Pada pasien yang tidak berespon setelah 2 atau 3 SSRI dan paling tidak 1 SNRI dan augmentasi dengan anti psikotik atipikal (risperidone atau olanzapine), strategi augmentasi lain perlu dipikirkan. Hal ini termasuk augmentasi dengan mood stabilisers (lithium, valproate), benzodiazepine (clonazepam) atau clomiperamine intravena. Pada kasus yang refrakter terhadap pengobatan perlu dipikirkan teknik stimulasi otak yaitu transcranial magnetic stimulation (TMS) dan deep brain stimulation (DBS). TMS adalah teknik non invasif menggunakan stimulasi elektrik pada area otak yang spesifik dengan induksi magnetik. DBS merupakan teknik yang agak invasif, reversible dan memerlukan prosedur neurosurgical dengan cara mengimplant 2/4 elektroda di anterior limb kapsula interna dihubungkan dengan kabel subkutan ke pulse generator di dada anterior.

Terapi gangguan yang berhubungan dengan obsesif kompulsif

Terapi dengan menggunakan SSRI memberikan hasil yang istimewa pada gangguan : body dysmorphic disorders, hypocondriasis, gangguan depersonalisasi, anoreksia nervosa, judi patologis, perilaku seksual obsesif kompulsif, perilaku melukai diri dan trikotilomania. Pasien dengan gangguan impulsif seperti binge eating disorders dan compulsive buying memiliki respons yang cepat pada pemberian SSRI tetapi kemudian semakin berkurang. Pasien ini membutuhkan obat lain untuk stabilisasi seperti mood stabiliser. Lebih lanjut beberapa gangguan pengendalian gangguan impuls berhasil diterapi secara monoterapi dengan mood stabiliser dan anti konvulsan seperti lithium, valproate. Terapi perilaku juga bermanfaat pada terapi gangguan yang berhubungan dengan GOK.

Kesimpulan

Gangguan obsesif kompulsif dan gangguan lain yang berhubungan merupakan kondisi yang sering dan menimbulkan ketidakberdayaan dapat memberikan respon pada terapi farmakologi dan psikoterapi. Pilihan terapi ini tergantung pada berbagai faktor termasuk : keparahan gejala, penyakit komorbiditas, pilihan pasien. Kebanyakan klinisi secara konservatif menggabungkan farmakoterapi dengan psikoterapi. Pemberian obat SSRI secara umum dapat dilakukan di pelayanan primer kecuali apabila dibutuhkan dosis yang tinggi atau strategi augmentasi. Apabila pengobatan akan dihentikan maka penghentiannya sebaiknya dilakukan berangsur angsur dan bertahap. Pada pasien yang parah dan tidak memberikan respon dengan pengobatan bisa mendapat manfaat dengan pendekatan stimulasi otak (TMS dan DBS ) atau neurosurgery.

Gangguan Bipolar

Saturday, December 13, 2008 Posted by Unknown , 8 comments
PENDAHULUAN

Gangguan bipolar merupakan penyakit yang serius. Gangguan ini dapat membuat mood seseorang yang normal dapat menjadi sangat ekstrim sehingga disebut manik depresif. Orang dengan gangguan bipolar memiliki mood yang tidak menentu (mood swing). Moodnya dapat berayun dari yang paling rendah (depresi) ke yang paling tinggi (mania). Gangguan bipolar merupakan penyakit seumur hidup tetapi dengan terapi yang ada sekarang, orang dengan gangguan bipolar dapat hidup dan beraktivitas seperti orang normal lainnya bahkan mereka dapat menjadi sangat produktif dalam kehidupan mereka. 1
Gangguan bipolar merupakan penyakit biologi yang berat dengan prevalensi 1% dari populasi orang dewasa. Meskipun gejala dan keparahan dari gangguan ini bervariasi tetapi gangguan bipolar selalu memiliki dampak yang besar terhadap pasien sendiri keluarga, pasangan, dan teman, serta lingkungan.2 Gangguan bipolar merupakan penyakit yang sulit diterapi karena siklusnya yang berputar, gejala residual, dan kepatuhan minum obat yang buruk.4
Efek yang ditimbulkan akibat dari gangguan bipolar yang tidak diobati dapat sangat menghancurkan. Episode depresi dan mania yang merupakan karakteristik dari gangguan ini dapat membuat orang yang menderita gangguan ini tidak dapat hidup dengan stabil dan produktif. Pada fase mania, pasien dapat menjadi hiperaktif dan tidak bertanggung jawab. Pada fase depresi menjadi sangat sulit untuk mengerjakan apapun. Karena dampak dari gangguan bipolar dapat mengenai seluruh aspek kehidupan maka diagnosis dini dan terapi sesegera mungkin sangatlah dibutuhkan. 3
Dengan terapi, sebagian besar orang dengan gangguan bipolar menjadi mampu mendapatkan kesembuhan yang mendasar dari gejala yang mereka alami. Tetapi karena siklus mood pada pasien bipolar terjadi berulang maka pengobatan tidak hanya berfokus pada keadaan akut tetapi juga pada keadaan krisis tetapi juga perawatan jangka panjang. Rencana terapi yang komprehensif pada pasien dengan gangguan bipolar bertujuan untuk menekan gejala saat ini, mencegah episode mood berikutnya, dan mendata masalah dalam pekerjaan dan hubungan relasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini. Rencana terapi yang menggabungkan psikoterapi dengan obat-obatan merupakan strategi yang terbaik untuk meraih tujuan di atas 3


DIAGNOSIS GANGGUAN BIPOLAR 5

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode manik tunggal
A. Terdapat hanya satu episode manik dan tidak ada riwayat episode depresi
B. Episode manik ini bukan merupakan suatu gangguan skizoafektif dan bukan
merupakan superimpose pada skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau
gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode kini manik
A. Saat ini terdapat episode manik
B. Terdapat riwayat paling tidak 1 episode depresi mayor, manik atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode kini hipomanik
A. Saat ini terdapat episode hipomanik
B. Terdapat riwayat paling tidak episode manik atau campuran
C. Gejala mood menyebabkan distres dan gangguan yang nyata dalam fungsi
sosial, pekerjaan dan area lainnya.
D. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I episode kini depresi
A. Saat ini terdapat episode depresi mayor
B. Terdapat riwayat episode manik atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode kini campuran
A. Saat ini terdapat episode campuran
B. Terdapat riwayat satu episode depresi mayor, episode manik atau episode
campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar I, episode tidak tergolongkan
A. Kriteria kecuali durasi sesuai dengan eposide manik, hipomanik, campuran
atau depresi mayor
B. Terdapat riwayat episode manik atau campuran
C. Gejala mood menimbulkan distres dan gangguan yang secara klinis
bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan dan area penting lainnya
D. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.
E. Gejala mood pada kriteria A dan B tidak berhubungan secara langsung
dengan efek psikologis penggunaan obat atau kondisi medis umum.

Kriteria diagnostik Gangguan Bipolar II
A. Saat ini terdapat atau riwayat satu atau lebih episode depresif
B. Saat ini terdapat atau riwayat paling tidak satu episode hipomanik
C. Tidak pernah ada episode manik atau campuran
D. Episode mood pada kriteria A dan B bukan merupakan suatu gangguan
skizoafektif dan bukan merupakan superimpose pada skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan psikotik.

PENATALAKSANAAN


Prinsip – Prinsip Umum

• Membangun dan mempertahankan hubungan kolaborasi dengan pasien dan keluarga.
• Menghargai pengetahuan dan pengalaman pasien tentang penyakitnya.
• Memotivasi pasien untuk melibatkan keluarga bila memungkinkan
• Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai diagnosis dan
terapi yang diberikan
• Menasehatkan pasien untuk melakukan ’self monitoring’ terhadap gejala,
pemicu, tanda-tanda awal, life style, sleep hygiene, bentuk pekerjaan, dan
strategi koping.
• Memperhatikan kebutuhan pasien dan juga keluarga mengenai masalah relasi,
keadaan fisik, sosial, dan mental
• Memberikan akses yang bisa dihubungi oleh pasien dan keluarga bila ada
keadaan krisis.


Terapi fase akut

Pada fase akut dari gangguan bipolar, tujuan terapi adalah untuk menghentikan episode manik, depresif, hipomanik atau campuran yang sedang terjadi3
• Obat : Mood stabiliser adalah merupakan obat utama yang perlu diberikan pada fase akut. Untuk manik akut, obat pilihannya adalah mood stabiliser dan anti psikotik atipikal. Sedatif dapat diberikan untuk waktu yang pendek untuk mengatasi ansietas dan insomnia. Pada episode depresi dapat diberikan kombinasi antidepresan dan mood stabiliser.
• Electroconvulsive Therapy (ECT). Penggunaan ECT pada episode depresi dan mania yang parah memberikan hasil yang bermakna. Ini adalah merupakan tindakan pilihan “life saving” pada pasien bipolar yang memiliki resiko bunuh diri termasuk pada pasien dengan gejala psikotik seperti waham dan halusinasi. ECT juga merupakan pilihan pada pasien yang tidak berespon terhadap pengobatan atau tidak dapat meminumnya karena sedang hamil atau kondisi medis
• Perawatan. Apabila terdapat keadaan yang berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain maka perawatan di rumah sakit perlu dipikirkan. Rumah sakit adalah lingkungan yang aman untuk perawatan sampai moodnya menjadi stabil. Mania dan depresi mempengaruhi penilaian dan tilikan sehingga pasien tidak menyadari bahwa dirinya butuh perawatan
• Psikoterapi. Selama fase mania akut, biasanya psikoterapi hanya sedikit memberikan keuntungan. Pasien manik memiliki kemampuan yang terbatas untuk duduk dan mendengarkan terapis. Tetapi pasien dalam fase depresi memperoleh dampak yang besar dengan psikoterapi.

Terapi fase preventif dan maintenance
Pada fase preventif dan maintenan dari gangguan bipolar, fokus adalah pada memepertahankan mood yang stabil dan mencegah munculnya episode mania dan depresi. Pada banyak kasus gangguan bipolar lebih baik terkontrol apabila terapi dilanjutkan dan tidak putus. 3
• Obat. Pengobatan dengan mood stabiliser hampir selalu dilanjutkan meski gejala mania dan depresinya sudah terkontrol. Ketika pengobatan dilanjutkan maka akan mengurangi frekuensi dan keparahan dari episode mood dan bahkan dapat mencegah
• Psikoterapi. Terapi yang diberikan selama fase maintenance perlu dilakukan untuk mengatasi masalah dengan perasaan yang tidak nyaman, bagaimana mekasnisme koping yang dapat dikerjakan, memperbaiki hubungan relasi, memanage stres, mengatur mood.
• Edukasi. Mengatur gejala dan mencegah komplikasi dimulai dengan pengetahuan akan penyakit yang diderita. Edukasi adalah kunci yang penting dalam proses terapi. Semakin banyak yang diketahui pasien tentang bipolar akan semakin efektif kemampuan pasien untuk mengenali gejala, mencegah munculnya gejala, dan segera mendapat pertolongan
• Dukungan. Hidup dengan gangguan bipolar tidak mudah. Harus ada dukungan dan motivasi yang terus menerus diberikan oleh grup suportif.


Terapi psikologis setelah episode akut

Perlu dipikirkan intervensi psikologis seperti CBT pada pasien yang telah stabil sebagai tambahan obat yang diberikan pada pasien yang memiliki gejala efektif ringan sampai sedang. Terapi ini secara normal berlangsung selama 16 sesi. Yang menjadi bagian dari terapi ini adalah : psikoedukasi, monitor mood secara rutin dapat menggunakan mood diary, mendeteksi gejala awal yang muncul

Meningkatkan pola hidup sehat dan pencegahan relaps

Memberikan pasien pengetahuan mengenai ‘good sleep hygiene’ dan pola hidup yang teratur, resiko bila bekerja dengan sistem sift, terbang malam, melewati zona waktu, dan bekerja dalam waktu yang lama. Memberikan dukungan setelah kejadian yang berarti seperti kehilangan pekerjaan, proses duka cita.



Ilustrasi Kasus


Seorang perempuan berumur 34 tahun, agama Kristen, belum menikah. Dari anamnesis didapatkan keluhan gampang teralihkan perhatiannya dan tidak bisa fokus pada pekerjaan. Mood pasien sering naik turun, kadang-kadang sering naik yang mengakibatkannya punya energi berlebih sehingga bisa melakukan apa saja, perilaku beresiko, belanja, membagikan barang, tidur yang tidak teratur. Bila mood sedang turun seperti sekarang ini, pasien merasa sangat sedih, tidak berdaya, tidak punya harapan, putus asa, nafsu makan kurang, lemas, ada ide bunuh diri. Keluhan yang dirasakan sudah sejak 8 tahun yang lalu. Dalam 1 hari dapat terjadi perubahan mood yang cepat.
Pada pemeriksaan status mental didapatkan mood depresif, preokupasi hidup yang sulit dan putus asa, tilikan derajat 4.
Pada pasien ini ditemukan adanya pola prilaku atau psikologis yang secara klinis bermakna dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala yang menimbulkan penderitaan dan hendaya dalam berbagai fungsi psikososial dan pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan pasien mengalami gangguan jiwa.
Pasien tidak pernah mengalami penyakit fisik yang berbahaya/serius sehingga gangguan mental organik dapat disingkirkan . Pada pasien tidak didapatkan adanya penggunaan zat psikoaktif (hanya penggunaan ganja 1x) sehingga kemungkinan adanya gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif juga dapat disingkirkan. Tidak ditemukan adanya halusinasi, waham, sehingga gangguan skizofrenia dapat disingkirkan
Pada pasien ini didapatkan adanya mood yang depresif dan episode depresif, riwayat episode manik dan dapat berlangsung dalam1 hari bergantian, sehingga pada pasien ini ditegakkan diagnosis : Gangguan Bipolar I episode kini campuran.
Pada pasien diberikan Asam Valproat ( Depakote ER) 250 mg 1x1 dan Cognitive Behaviour Therapy. Pada pasien dilakukan tes MMPI II dan kemudian diberikan terapi Depakote ER 250 mg dan CBT setiap minggu. Setelah 1 bulan dilakukan tes TKMI dan didapatkan terdapat perbaikan dalam gejala, kapasitas mental, dan indeks kepribadian dasar.

Gangguan Jiwa Ada di Sekitar Kita

Tuesday, December 09, 2008 Posted by Unknown , No comments
Gangguan jiwa ada begitu dekat dengan kita, bahkan mungkin orang-orang terdekat dengan kita.

Menurut WHO, orang dikatakan sehat jiwanya bila memenuhi kriteria :

· Merasa sehat dan bahagia
· Mampu menghadapi tantangan hidup
· Dapat menerima orang lain sebagaimana adanya ( dapat berempati / tidak secara apriori berpandangan negatif terhadap orang atau kelompok yang berbeda )
· Mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain
( Buku Pedoman Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan R.I. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat,
Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat, 2003 )

Sehingga mereka yang tidak memiliki kriteria seperti di atas tidak bisa dikatakan memilliki jiwa yang sehat.

Lalu apa yang dimaksud dengan gangguan jiwa ?
Gangguan jiwa adalah suatu kelompok gejala atau perilaku yang secara klinis bermakna dan yang disertai dengan penderitaan (distress) pada kebanyakan kasus, dan yang berkaitan dengan terganggunya fungsi (disfungsi/hendaya) seseorang.

Secara garis besar fenomena perilaku manusia bermanifestasi dalam tiga aspek besar, yaitu perilaku, pikiran dan perasaan. Manifestasinya berbeda beda sesuai dengan taraf kesadaran, perkembangan, pendidikan, latar belakang budaya, tradisi, agama, nilai, motivasi / intensionalitas, dan pelbagai ciri khas lain yang spesifik bagi orang itu. Pendekatan deskriptif fenomenologis dan multikultural mengajak kita untuk mengerti bahwa manifestasi perilaku manusia adalah sangat luas dan bervariasi sehingga perlu sekali kita berempati dan tidak bersikap praduga, apriori, atau menghakimi dalam upaya mengerti perilaku manusia. Dengan perkataan lain: kita perlu untuk menerima orang lain sebagaimana adanya, termasuk apabila orang itu menderita gangguan jiwa sekalipun.