Blog seorang psikiater di Kota Bogor yang membahas berbagai hal mengenai kesehatan jiwa. (Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ)

Gangguan Kepribadian Antisosial, Kepribadian Yang Menyulitkan dan Membahayakan

Saturday, January 12, 2019 Posted by Lahargo Kembaren No comments
Kita mungkin pernah mendengar tentang seseorang yang berkali-kali melanggar hukum/aturan, berurusan dengan polisi dan melakukan banyak perilaku yang merugikan orang lain. Atau mungkin di tempat kerja kita ada rekan kerja yang sangat sulit diajak kerja sama karena perilakunya yang mau menang sendiri saja. Ada juga seseorang yg tega melukai atau membunuh orang lain tanpa suatu alasan yg bisa dibenarkan. Bisa jadi orang itu adalah orang dengan gangguan kepribadian antisosial.
Mereka dengan gangguan kepribadian antisosial ini sulit untuk bisa beradaptasi dengan suatu lingkungan atau keadaan sosial yang baik dan cenderung menjadi ‘biang kerok’ dalam setiap masalah yang muncul.
Dalam menjalani kehidupannya sejak kecil, remaja, dewasa hingga lanjut usia, seseorang mempunyai kecenderungan atau kebiasaan menggunakan suatu pola yang relatif serupa dalam menyikapi masalah yang dihadapi. Bila diperhatikan, cara atau metode penyelesaian itu tampak sebagai sesuatu yang terpola tertentu dan dapat ditengarai sebagai ciri atau tanda untuk mengenal orang tersebut.
Kepribadian adalah adalah totalitas dari ciri perilaku dan emosi yang merupakan karakter atau ciri seseorang dalam kehidupan sehari-hari dalam kondisi yang biasa dan sifatnya stabil dan dapat diramalkan. Sedangkan orang dengan gangguan kepribadian adalah orang yang memiliki ciri kepribadian yang bersifat tidak fleksibel dan maladaptif yang menyebabkan disfungsi yang bermakna atau penderitaan subjektif. Pada seorang individu dengan Gangguan Kepribadian, terjadi disfungsi dalam hubungan keluarga, pekerjaan, fungsi sosial. Dapat pula berkaitan dengan tindakan kriminal, penyalahgunaan zat, pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan, perceraian, problem pemeliharaan anak, sering datang ke klinik gawat darurat. Terkadang Gangguan Kepribadian berkaitan dengan gangguan jiwa yang lain antara lain depresi, panik, dll
Salah satu gangguan kepribadian yang ada dalam DSM IV (diagnostic statistical manual) adalah gangguan kepribadian antisosial yang ditandai dengan ciri-ciri :
1. Tidak peduli dengan perasaan orang lain
2. Secara menetap tidak bertanggung jawab terhadap norma, peraturan, kewajiban sosial
3. Tidak mampu mempertahankan hubungan interpersonal walaupun tidak ada kesulitan
4. Mudah frustrasi dan bertindak agresif / kekerasan
5. Tidak mampu menerima kesalahan atau belajar dari pengalaman / hukuman
6. Bila ia mengalami konflik sosial, ia cenderung menyalahkan orang lain, atau memberikan rasionalisasi dari perbuatannya
Gangguan kepribadian ini sangat menyulitkan mereka yang mengalaminya dan juga menyulitkan bagi keluarga, tempat kerja dan lingkungannya. Mereka dengan gangguan kepribadian antisosial memiliki kesulitan untuk bisa beradaptasi dengan baik dalam suatu pola, sistem atau norma tertentu dan memiliki kecenderungan untuk melanggarnya. Tidak adanya rasa bersalah setelah melakukan suatu pelanggaran atau perilaku yang merugikan membuat gangguan ini sulit untuk diterapi. Gangguan kepribadian yang seperti ini terbentuk dari usia kecil, lingkungan dan pola asuh memegang peranan utama disamping memang ada juga faktor genetik yang berperan.
Melakukan konsultasi yang rutin dengan psikiater / psikolog/ perawat jiwa dapat menolong mereka yang mengalami gangguan kepribadian antisosial ini untuk lebih dapat mengendalikan perilakunya agar dapat lebih adaptif dan dapat diterima oleh masyarakat. Psikoterapi seperti psikoanalisis dan CBT (cognitive behaviour therapy) dapat mengurangi intensitas perilaku merugikan. Obat psikofarmaka seperti mood stabilizer dan Anti psikotik dapat mengontrol mood dan perasaan agar bisa tetap stabil.
《LaKe》
dr.Lahargo Kembaren, SpKJ
Psikiater
RS.Jiwa Dr. H.Marzoeki Mahdi Bogor
RS Siloam Bogor

STOP BULLYING!!!

Thursday, December 13, 2018 Posted by Lahargo Kembaren No comments
Mengenal Bullying
Bullying’ adalah salah satu bentuk perilaku kekerasan yang dengan disengaja dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa kuat/berkuasa dengan tujuan menyakiti atau merugikan seseorang atau sekelompok yang merasa tidak berdaya.‘Bullying’ bisa dilakukan dalam bentuk fisik maupun psikologis. Saat ini, banyak anak dan remaja yang menjadi korban bullying baik secara langsung di sekolah, tempat les, lingkungan maupun melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dll. Penelitian menunjukkan bahwa anak dan remaja yang menjadi korban bullying sangat rentan terhadap masalah yang serius pada kesehatan jiwa, fisik dan akademiknya.
Cook dkk pada tahun 2010 melaporkan bahwa korban ‘bullying’ lebih sering mengalami gejala depresi, menyakiti diri sendiri, pikiran untuk bunuh diri, dan pencapaian akademik yang rendah. Sedang mereka yang melakukan ‘bullying’ juga tidak lepas dari sikap dan perilaku yang kurang baik seperti : perilaku menentang, sering bolos sekolah, merokok dan memakai narkoba serta perilaku kekerasan lainnya. Mereka yang menjadi korban dan pelaku bullying juga sering mengalami sakit kepala, sakit punggung, sakit perut, masalah tidur, nafsu makan menurun dan sering mengompol (Gini & Pozzoli, 2009).
“Bullying” juga merupakan prediktor munculnya gangguan jiwa yang berat lainnya seperti ansietas, depresi dan psikotik. Masa depan generasi penerus menjadi terganggu dengan adanya bullying ini sehingga perlu ada usaha yang taktis dan sistematis untuk melakukan pencegahan dan penanganannya.
Orangtua, komunitas, sekolah, dan profesional di bidang kesehatan jiwa berperan penting dalam melakukan pencegahan dan penanganan masalah ‘bullying’ ini. Komunikasi yang baik dan pola asuh yang tepat yang dilakukan orangtua akan membuat anak dengan leluasa dan nyaman untuk bercerita mengenai hal yang dialaminya sehingga anak tetap bisa tenang menghadapi masalah tersebut.
Banyak anak yang tidak melaporkan bahwa mereka adalah korban perilaku ‘bullying’. Sekolah perlu menerapkan aturan yang tegas untuk mencegah masalah ‘bullying’ ini dengan menerapkan manajemen yang baik terhadap anak yang bertendensi melakukan perilaku agresif. Keluarga dan sekolah perlu melakukan pelatihan dan pendidikan keterampilan hidup (life skills) supaya anak dan remaja memiliki kemampuan dalam mengatasi masalah kehidupa mereka terutama dari teman sebayanya.
Setiap anak yang menjadi korban dan pelaku ‘bullying’ perlu ditangani secara profesional supaya perilaku dan dampak yang ditimbulkan tidak menimbulkan masalah psikologis lanjut di kemudian hari.

Bullying Menyakiti Perasaan Orang Lain
Saat seseorang melakukan bullying, baik secara fisik, verbal, sosial, ataupun cyber maka dia telah menyakiti perasaan orang lain.
Berbagai perasaan yang tidak nyaman yang bisa terjadi pada mereka yang di bully, di antaranya :
- sedih
- takut
- marah
- khawatir
- bingung
- malu
- sendirian
- lelah
- kacau
- gugup
- tidak berani keluar rumah
- tidak aman
- dll

Semua perasaan negatif ini dapat mengganggu aktivitas/kegiatan sehari hari. Mari mengenali teman teman atau orang orang di sekitar kita yg mengalami perasaan tersebut akibat di bully. Mari menjadi temannya dan menolongnya karena perasaan tersebut sungguh tidak enak dan mereka butuh teman yang menenangkan.

Jenis-Jenis Bullying
1. Fisik
Contohnya: memukul, mendorong, menendang, menjambak, mencubit dll
2. Verbal
Contohnya: mengancam, memanggil dengan kata yg tidak baik/kasar, berkomentar yg merendahkan, meledek, menjelek jelekkan, dll
3. Sosial
Contohnya : Menjauhi, memberitahu teman untuk tidak berteman dengannya, tidak diajak bergabung dalam kelompok, menceritakan hal yg buruk, rumor, gosip, dll
4. Cyber
Contohnya: mengata ngatai di media sosial, kata kata kasar, menyindir, dll

Semua jenis bullying tersebut bertujuan untuk menyakiti seseorang.
Berhentilah melakukan bullying karena tidak ada seorang pun yg mau tersakiti.
Mari lawan bullying!

Mengapa Seseorang Melakukan Bullying
Hampir semua pernah mengalami bullying dalam kehidupannya sebelum usia 20 tahun. Akibat yang ditimbulkan sering kali cukup sulit untuk ditangani, baik fisik maupun mental. Perbedaan yang dimiliki oleh seseorang seringkali dijadikan alasan untuk melakukan bullying, gara gara aneh, memiliki kekurangan, kelemahan, dll. Hal ini dipakai oleh pelaku Bullying untuk mengambil kontrol atas diri kita, menciptakan ketidakamanan (insecurity) dengan tujuan menyakiti kita secara fisik dan emosi. Sebagai korban bullying kita mulai menginternalisasikan hal tersebut dan mulai menyalahkan diri sendiri dengan keunikan yg kita miliki.
Tapi tahukah kita bahwa sebenarnya Perilaku Bullying itu lebih disebabkan karena ada Masalah Psikologis pada pelaku Bullying itu sendiri.

Beberapa penelitian menunjukkan, mereka yg melakukan bullying mengalami hal hal berikut ini :
1. Stres dan Trauma
Pelaku bullying mengalami stres dan trauma dalam kehidupan mereka, seperti: kehilangan orang yg mereka kasihi, perceraian orang tua, pengalaman hidup yg tidak baik, kekecewaan, dll. Beberapa orang bisa memberikan respon yang positif atas stres dan trauma yg dialaminya, tetapi mereka yg lain melakukan tindakan agresif seperti bullying sebagai respon mereka menghadapi itu.
2. Perilaku Kekerasan di Sekitar
Perilaku kekerasan baik secara verbal atau fisik mudah ditiru oleh seorang anak yang kemudian menjadi karakter dan kepribadiannya di kemudian hari. Seringnya menyaksikan kekerasan di rumah, lingkungan, film, sinetron, games, dll dapat memicu munculnya perilaku kekerasan seperti bullying ini.
3. Harga Diri Rendah (low self esteem)
Untuk menutupi kekurangan yg dimilikinya maka pelaku bullying melakukan tindakan agresif yg seolah olah menunjukkan bahwa mereka lebih hebat, lebih kuat dan lebih popular. Padahal mereka sebenarnya sedang menutupi atau menghindari perhatian orang lain terhadap kelemahan yg mereka miliki. Harga diri yg rendah memicu munculnya perilaku bullying.
4. Pernah Menjadi Korban Bullying
Menjadi korban bullying pada waktu sebelumnya memicu mereka menjadi pelaku bullying saat ini karena dendam yang dirasakan dan melampiaskannya pada orang lain. Ada juga pikiran bahwa dengan melakukan bullying maka mereka akan terhindar menjadi korban bullying yg sebenarnya dirasakan sangat menyakitkan.
5. Kehidupan di Rumah yang Sulit
Para pelaku bullying mengalami kehidupan di rumah yg sulit seperti kesibukan orang tua, kurang kasih sayang, kurang memiliki waktu bersama, perasaan tertolak dan diabaikan. Percekcokan dalam rumah sering terjadi pada pelaku bullying.

Dengan mengetahui hal ini maka kita menyadari bahwa pelaku bullying tersebut sebenarnya
- ingin menunjukkan mereka tangguh, hebat
- mencoba membuat orang lain menyukai mereka
- berusaha menutupi ketakutan, kekhawatiran mereka
- meniru pelaku bullying yg lain
- mereka tidak bahagia
- mereka tidak nyaman dengan hidup mereka

Marilah kita sama sama juga mendampingi para pelaku bullying ini agar tindakan tersebut tidak terulang lagi dan tidak ada korban bullying berikutnya. Bila diperlukan bawalah pelaku bullying ke profesional kesehatan jiwa seperti Psikiater, perawat jiwa dan psikolog untuk mendapatkan penanganan. Karena bila tidak ditangani dengan baik maka pelaku bullying dapat berkembang menjadi masalah/gangguan kejiwaan dan juga gangguan kepribadian.

Dr.Lahargo Kembaren, SpKJ
Psikiater
RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor
RS. Siloam Bogor

Psikosis Paska Melahirkan

Thursday, December 13, 2018 Posted by Lahargo Kembaren No comments
Pendahuluan
Psikosis paska persalinan adalah merupakan suatu gangguan kejiwaan yang ditandai ketika seorang ibu yang baru melahirkan mengalami kesulitan membedakan mana hal yang nyata dan mana yang tidak nyata. Gangguan ini sangat jarang, terjadi 1-2 kasus per 1000 persalinan. Ini adalah suatu gangguan  serius dan gawat darurat yang memerlukan penanganan segera. Mereka yang mengalami psikosis paska melahirkan biasanya memiliki riwayat gangguan jiwa sebelumnya seperti psikosis, skizofrenia atau bipolar, bisa juga memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan kejiwaan (faktor genetik).

Tanda dan Gejala
Psikosis paska melahirkan memiliki beberapa gejala yang dapat dikenali, diantaranya :
·         Halusinasi, gangguan persepsi panca indra :
o   Merasa mendengar suara-suara, bisikan yang berkomentar, mengajak ngobrol, menyuruh melakukan sesuatu. Pada keadaan yang berat, suara bisikan nya menyuruh untuk melakukan hal yang fatal seperti melukai diri sendiri, bayinya atau orang lain.
o   Melihat bayangan-bayangan, makhluk halus
o   Merasa di badan seperti ada sesuatu yang menempel, menjalar, seperti ada yang menindih, seperti ada binatang
o   Mencium bau bauan yang harus, busuk, bau sampah, kotoran
o   Merasakan di lidahnya seperti ada rasa rasa yang aneh
Semuanya tidak ada pemicu/pencetusnya
·         Delusi / waham, gangguan pada isi pikir, persepsi, keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
o   Waham kejar : merasa seperti ada yang mengejar ngejar, merasa ada yang ingin membunuh dan berbuat jahat sehingga merasa ketakutan, curiga berlebihan
o   Waham rujukan : merasa orang-orang seperti membicarakan dirinya atau memperhatikan dirinya
o   Waham kebesaran : merasa memiliki kehebatan, kekuatan yang tidak dimiliki orang lain, merasa dirinya nabi, Tuhan dan orang yang hebat
o   Waham nihilistik : merasa diri tidak berarti, tidak berguna, tidak layak hidup
·         Mudah tersinggung, sensitif dan gampang marah
·         Bicara tidak nyambung, pembicaraan kacau
·         Gelisah atau banyak diam
·         Menarik diri dari relasi dengan orang lain
·         Sulit tidur

Penyebab
Gangguan Psikosis Paska melahirkan disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia (neurotransmiter) dopamin di saraf otaknya. Hal ini dapat dicetuskan oleh :
·         Faktor genetik, ada riwayat gangguan jiwa sebelumnya atau anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
·         Riwayat sakit yang berat seperti kejang, demam tinggi, gangguan metabolisme, elektrolit dalam tubuh sebelumnya
·         Penggunaan narkoba
·         Trauma kepala, jatuh, terbentuk, kecelakaan sebelumnya
·         Stres kehidupan yang berat seperti keinginan  yang tidak tercapai, kekecewaan, kehilangan seseorang yang dikasihi, kesedihan yang mendalam.

Terapi / Penanganan
Gangguan ini harus cepat ditangani sebelum bertambah berat, segera berkonsultasi ke psikiater untu mendapatkan pertolongan. Terapi yang akan diberikan :
·         Medikasi / obat-obatan :
o   Obat anti psikotik : obat ini akan bekerja pada sel saraf otak sehingga gejala gejala akan berkurang dan hilang. Obat yang diberikan bisa dalam bentuk suntikan, obat tablet, obat tetes atau obat yang mudah larut di lidah.
o   Obat anti cemas : Obat ini bertujuan mengurangi dan menghilangkan kecemasan dan kegelisahan sehingga si ibu bisa istirahat. Pemberiannya dengan obat tablet atau suntikan
o   Mood stabilizer : ini adalah obat yang bertujuan menstabilkan mood yang naik turun sehingga si ibu bisa lebih tenang.
·         Konseling / terapi bicara : Yang diberikan adalah psikoterapi yang bersifat suportif yang bertujuan menguatkan kembali mental si ibu dan memberikan ibu kesempatan untuk menceritakan yang menjadi beban pikiran dan perasaannya.

Apa yang Dapat Dilakukan Keluarga
Ketika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan Psikosis Paska Melahirkan ini, maka harus segera di bawa ke IGD atau psikiater untuk segera mendapatkan pertolongan medis. Ini adalah penyakit medis dan bukan hal yang gaib atau supranatural. Penanganan yang cepat dan tepat akan membantu proses pemulihan. Hal yang bisa dilakukan keluarga yang lain adalah :
·         Memberikan dukungan psikologis dengan banyak mendengarkan, tidak berkonfrontasi, tidak berargumentasi
·         Menjauhkan benda-benda yang berbahaya seperti benda benda yang tajam
·         Menjaga bayi yang baru dilahirkan untuk melindungi dari perilaku agresif ibu yang tidak bisa diperkirakan
·         Memberikan obat-obatan yang diberikan psikiater secara teratur, tepat waktu dan berkelanjutan
·         Memberikan makanan dan minuman yang sehat dan bergizi
·         Mengajak melakukan aktivitas fisik yang ringan akan membantu membuat badan lebih segar dan fit, seperti jalan pagi, senam ringan, dll.

Gangguan psikosis paska melahirkan ini adalah gangguan yang berat sehingga pengenalan gejala yang cepat dan penanganan yang tepat diperlukan untuk pemulihan. Hindari membawanya ke tempat tempat alternatif yang akan memperlambat proses pemulihan.

Depresi Paska Melahirkan

Thursday, December 13, 2018 Posted by Lahargo Kembaren No comments
Pendahuluan
Pada hari-hari dan minggu minggu pertama setelah melahirkan, seorang ibu baru akan merasakan berbagai emosi atau perubahan perasaan. Rasa gembira, bahagia, terkejut  karena memiliki seorang anak yang baru dilahirkan akan bercampur juga dengan perasaan sedih yang tidak nyaman.  Perasaan sedih dan menangis yang dialami oleh seorang ibu baru pada 2 minggu pertama setelah persalinan disebut sebagai ‘baby blues’, ini disebabkan oleh terjadinya perubahan hormon yang mendadak setelah persalinan. Keadaan ‘baby blues’ secara berangsur angsur akan membaik dan seorang ibu akan siap untuk beraktivitas kembali dengan kondisi fisik dan psikis yang sudah membaik. Pada satu dari tujuh orang ibu yang baru melahirkan, perasaan sedih tersebut berlangsung lebih dari 2 minggu dan mulai mengganggu fungsi serta aktivitas sehari-hari. Kondisi ini disebut Depresi Paska Melahirkan (PPD = postpartum depression ).

Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala depresi paska melahirkan sama seperti pada depresi mayor, yaitu :
·        Perasaan sedih, kosong, tidak berdaya yang dirasakan sepanjang hari selama beberapa hari / minggu
·         Menangis tanpa ada sebab yang jelas lebih sering dari biasa
·         Rasa khawatir atau tegang
·         Perasaan tidak menentu, sensitif, mudah tersinggung
·         Terlalu banyak tidur atau sebaliknya tidak bisa tidur meskipun bayinya sedang tertidur
·         Sulit berkonsentrasi, mengingat dan membuat keputusan
·         Marah atau berkata/berbuat kasar
·         Kehilangan minat terhadap sesuatu yang sebelumnya disukai atau menjadi hobi
·      Terdapat berbagai keluhan fisik seperti : gatal, nyeri di badan, sakit kepala berulang, sakit perut dan nyeri otot
·         Makan lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya
·         Menarik diri dari teman dan keluarga
·         Mengalami kesulitan untuk melakukan kelekatan (bonding) dengan bayinya
·         Secara terus menerus meragukan kemampuannya dalam mengurus bayi
·      Terdapat pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya (ini keadaan serius, harus cepat dibawa ke profesional kesehatan jiwa seperti psikiater)

Faktor Penyebab
Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab keadaan ini antara lain adalah :
·     Perubahan hormon yang terjadi setelah persalinan (hormon estrogen dan progesteron yang menurun secara cepat sehingga memicu perubahan mood)
·         Perasaan lelah dan sulit tidur/tidak bisa tidur setelah melahirkan
·         Stres emosional yang dipicu oleh : masalah ekonomi, pekerjaan, anak yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, peristiwa penting kehidupan lainnya
·         Kurangnya dukungan dari keluarga dan orang-orang yang dekat, merasa sendirian
·      Bayi yang dilahirkan adalah bayi berkebutuhan khusus atau menderita penyakit yang sulit ditangani
·         Memiliki anggota keluarga yang memiliki masalah/gangguan kejiwaan (genetik)

Terapi / Penanganan
Apabila terdapat tanda dan gejala depresi paska melahirkan segeralah mencari pertolongan dari profesional kesehatan jiwa seperti : psikiater, psikolog, dokter umum terlatih, perawat jiwa, atau pekerja sosial. Terapi yang akan diberikan adalah
·         Konseling / terapi bicara : membantu mengenali pikiran dan perilaku negatif / distorsi kognitif yang terjadi dan bagaimana merubahnya, membantu mengenali masalah interpersonal dengan orang lain dan bagaimana mengatasinya
·         Medikasi / obat obatan : Obat anti depresan adalah obat yang efektif diberikan pada depresi karena bekerja secara langsung pada zat kimia (neurotransmiter) di dalam saraf otak sehingga gejala depresi dapat berkurang dan hilang. Obat anti depresan bekerja setelah 2 minggu, sebaiknya diminum secara rutin dan berkelanjutan. Setelah gejala depresi membaik maka obat anti depresan akan dikurangi secara bertahap.  Contoh obat anti depresan yang dapat diberikan adalah Sertraline.

Hal Apa yang Dapat Dilakukan Keluarga
Saat mendapatkan ada anggota keluarga yang mengalami depresi paska melahirkan, maka hal-hal dibawah ini perlu dilakukan oleh keluarga :
·         Segera membawa ke psikiater, atau profesional kesehatan jiwa lainnya untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat
·         Melakukan pendampingan lebih intensif, berbicara dari hati ke hati, lebih banyak mendengarkan
·         Memberikan bantuan dalam mengurus bayi yang baru lahir
·         Tidak memberikan tanggapan, komentar negatif tentang keadaan ibu yang baru melahirkan karena gangguan ini bukanlah tanda sebuah kelemahan tetapi suatu penyakit yang perlu diobati
·         Memberikan makanan dan minuman yang sehat dan cukup
·         Mengajak melakukan aktivitas fisik yang ringan akan membantu membuat badan lebih segar dan fit, seperti jalan pagi, senam ringan, dll.

Depresi paska persalinan bisa terjadi pada siapa saja, bahkan seorang ayah pun bisa mengalaminya. Mari kenali gejalanya dan segera berkonsultasi untuk mendapatkan pertolongan. Tidak usah merasa malu dan ragu karena lebih cepat ditangani maka gangguan ini lebih cepat dipulihkan.

dr.Lahargo Kembaren, SpKJ
Psikiater  
RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor
RS. SIloam Bogor

BERI RUANG PADA ANAK REMAJA

Saturday, September 01, 2018 Posted by Lahargo Kembaren No comments

“The hopes of the world rest on young people. Peace, economic dynamism, social justice, tolerance — all this and more, today and tomorrow, depends on tapping into the power of youth.”

“Harapan dunia bergantung pada orang-orang muda. Kedamaian, dinamisme ekonomi, keadilan sosial, toleransi - semua ini dan lebih banyak lagi, hari ini dan besok, bergantung pada kekuatan pemuda.
— UN Secretary-General António Guterres

Setiap tanggal 12 Agustus diperingati sebagai hari remaja sedunia (International Youth Day) yang tahun ini mengambil tema : “Safe Spaces for Youth” (berikan ruang pada anak remaja). Anak remaja adalah anak yang berumur 10 - 24 tahun, jumlahnya adalah proporsi terbesar dari populasi yang ada. Masa remaja adalah masa transisi, peralihan dari masa kanak kanak ke dewasa. Perubahan - perubahan banyak dialami oleh anak remaja :
- perubahan fisik
- perubahan psikologis
- perubahan hormonal
- perubahan masalah kehidupan
- perubahan kognitif (cara berpikir)
- dll

Untuk setiap perubahan tentunya memerlukan proses penyesuaian. Remaja butuh ruang dalam mereka melakukan penyesuaian terhadap berbagai perubahan yg terjadi pada dirinya. Saat ini banyak remaja yg merasa bahwa mereka mereka memiliki ruang yg sangat terbatas untuk dapat mengekspresikan apa yg ada dalam diri mereka. Kesibukan di sekolah, rumah, tugas tugas, dll menjadi rutinitas membosankan yg menghabiskan waktu dan masa remaja mereka. Anak remaja butuh ruang yg aman untuk dapat mengembangkan dirinya baik dalam berinteraksi dengan teman sebayanya, dengan orang tua, dalam mengekspresikan hobi dan talentanya dan dalam mencoba hal ha yg baru.

Menurut Erik Erickson dalam perkembangan psikososial, masa remaja adalah masa mencari identitas diri, yg bila tidak tercapai dapat menimbulkan kebingungan dalam peran di kehidupan. Bagian otak manusia mengalami perkembangan mulai dari bayi sampai usia dewasa (25 tahun). Pada anak remaja bagian otak pre frontal cortex belum matang perkembangannya. Hal ini menyebabkan:
- kemampuan anak remaja dalam membuat keputusan yg rasional belum cukup baik
- sangat sensitif terhadap tekanan teman sebaya (bullying)
- mudah melakukan perilaku berisiko atau impulsif, gampang marah, sensitif, baper
- sulit memahami ekspresi emosi seseorang sehingga terkesan cuek/tidak peduli

Perubahan hormon pubertas pada anak remaja pun memberikan berbagai perubahan dalam fisik, emosi, perilaku dan pikirannya. Ya... anak remaja butuh ruang untuk mengekspresikan semuanya itu dan satu lagi... mereka juga butuh dimengerti secara positif dan bukan dihakimi.

Orang tua, guru dan kita semua memegang peranan dalam perkembangan remaja yg sehat. Hal-hal yang bisa dilakukan adalah :
- menjaga komunikasi yg baik dan suportif dengan anak remaja, tdk berkomunikasi seperti kepada anak yg lebih kecil, beri ruang untuk berdiskusi
- Terima dan validasi berbagai ekspresi yg muncul pada anak remaja, dan menahan diri untuk menghakimi atau memberikan nasihat secara cepat. Dengarkan masalah yg mereka alami karena konflik dan masalah sering tdk dapat dihindari
- Berikan kepercayaan pada anak remaja untuk membuat keputusan. Sesekali mungkin mereka salah dalam melakukan keputusan, tetap dampingi dengan penuh kasih sayang
- Jangan memberikan hukuman secara fisik, memukul atau berteriak. Itu tidak membuat pesan kita lebih bisa didengar. Gunakan metode hukuman seperti: mengurangi uang saku, membatasi waktu bermain dengan teman atau mengambil hal hal yg nyaman dimiliki selama ini.

Mari berikan remaja ruang dalam perkembangan kehidupannya!

Most people do not really want freedom, because freedom involves responsibility, and most people are frightened of responsibility.
- Sigmund Freud

dr.Lahargo Kembaren,SpKJ
Psikiater

RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor
RS Siloam Bogor
Apotek Mulia Jl.Pandu Raya Bogor

DEPRESI PADA ANAK

Saturday, September 01, 2018 Posted by Lahargo Kembaren No comments

"Kesehatan jiwa pada anak sama penting dengan kesehatan fisiknya."

Sebagai orang tua tentunya kita sangat memperhatikan kesehatan fisik pada seorang anak, membawanya segera ke dokter dan memberikan obat bila anak sakit seperti demam, batuk, muntah, dll. Apakah kitapun peduli dengan kesehatan jiwa anak?

Depresi pada anak seringkali tersembunyi gejalanya, marilah coba mengenalinya dan melakukan pencegahan serta penanganannya.

Menurut DSM 5 (diagnostic statistical manual for mental disorder), depresi pada anak memiliki gejala gejala seperti di bawah ini:

- Suasana hati yang sedih atau mudah tersinggung

- Minat yang menurun, sulit menikmati keseharian

- Penurunan konsentrasi dan sulit membuat keputusan

- Insomnia (sulit tidur) atau hypersomnia (terlalu banyak tidur)

- Perubahan nafsu makan atau perubahan berat badan

- Kelelahan yang berlebihan, mudah capek, energi berkurang

- Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan

- Pikiran berulang tentang kematian atau keinginan bunuh diri

- Agitasi psikomotor (gelisah) atau malas bergerak (mager)

Gejala ini berlangsung selama 2 minggu berturut turut.

Semua gejala-gejala tersebut menyebabkan gangguan fungsi dalam kehidupan sehari hari di sekolah, lingkungan sosial, dan keluarga.

Ketika muncul gejala gejala depresi pada anak, segeralah berkonsultasi dengan profesional kesehatan jiwa seperti : Psikiater, Perawat jiwa, psikolog, dokter umum terlatih untuk segera mendapatkan pertolongan.

Depresi pada anak dapat dicegah dengan melakukan pola asuh yang tepat untuk mendukung kondisi mental anak.
Hal yg bisa dilakukan antara lain adalah:

- LOVE, berikan cinta kasih, perhatian bagi anak dan pastikan kita selalu ada untuk mereka
- CONVERSATION, dorong anak untuk mau bercerita tentang apa yg dialaminya, pastikan dia nyaman dan bebas bercerita
- LISTEN, pastikan kita mendengarkan apa yg anak ceritakan, iya mendengarkan, bukan terlalu cepat menasihati dan menghakimi
- FEELING, cari tahu apa yg anak sedang rasakan dan validasi perasaan tersebut
- SYMPTOMS, kenali tanda dan gejala depresi yg muncul
- BEHAVIOR, waspada terhadap berbagai perubahan perilaku yg ditunjukkan anak
- PATIENCE, sabar dalam menghadapi anak, jangan memberikan tekanan yg berat baginya
- EDUCATE, sampaikan pada anak pentingnya kesehatan jiwa
- COPING, bantu anak dalam mempelajari keterampilan koping yg efektif dalam menghadapi stres, misalnya melakukan relaksasi
- REST TIME, pastikan anak memiliki waktu istirahat dan tidur yg cukup
- PROBLEM SOLVING, bantu anak dalam mencari pemecahan masalah yg efektif dan realistis
- ENVIRONMENT, berikan anak lingkungan yg kondusif dan suportif untuk perkembangan mentalnya
- SUPPORT, secara reguler selalu berikan dukungan, motivasi dan pujian bagi anak
- EXERCISE, pastikan anak melakukan olah raga secara rutin untuk menjaga kesehatan fisik dan jiwanya tetap baik
- BE PROUD, sampaikan selalu pada anak bahwa kita bangga padanya, hal ini penting untuk membangun harga diri dan percaya dirinya
- HELP, datang dan berkonsultasi dengan profesional untuk mendapatkan pertolongan

"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Proverb)

Kesehatan jiwa anak jauh lebih penting dari nilainya di sekolah. Mari sediakan waktu lebih banyak untuk anak karena mereka perlukan itu!

LaKe

dr.Lahargo Kembaren,SpKJ
Psikiater
RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor
RS.Siloam Bogor
Apotek Mulia Pandu Raya Bogor

DISTORSI KOGNITIF (Pikiran Negatif)

Saturday, September 01, 2018 Posted by Lahargo Kembaren No comments

“Bagi beberapa orang, berpikiran negatif merupakan kebiasaan, yang sejalan dengan berlalunya waktu akan berubah menjadi sebuah kecanduan. Seperti penyakit, seperti kecanduan alkohol, berlebihan makan, atau kecanduan obat terlarang. Banyak orang yang menderita akibat penyakit ini karena berpikiran negatif merusak tiga hal berikut: jiwa, tubuh, dan perasaan.” – Peter Mc Williams

“Jangan habiskan energi untuk kekhawatiran atau pikiran-pikiran negatif.” – Bruce Lee

Berbeda pendapat dengan orang lain boleh saja karena sudut pandang nya mungkin berbeda. Enam ditambah tiga sama dengan sembilan, demikian juga empat ditambah lima. Tidak ada yg salah dengan perbedaan pendapat karena penghayatannya memang mungkin berbeda. Memaksakan pendapat kita pada orang lain pun sepertinya tak bijak karena cara berpikir dan sudut pandang melihatnya pun berbeda. Saling menerima dan menghargai adalah solusi terbaik saat ada perbedaan.

TAPI distorsi kognitif adalah suatu hal yg berbeda, ini adalah cara berpikir yg tidak rasional, yg muncul spontan, dan diulang ulang. Masyarakat secara umum menyebutnya dengan sebutan 'pikiran negatif'. Ada beberapa model cara berpikir yg tidak rasional / distorsi kognitif / pikiran negatif, yaitu :

1. Over generalization
Cara berpikir yg menggeneralisasi semua peristiwa adalah sama dari sebuah kejadian spesifik.
Contoh : pernah diputusin cowok saat sudah mau nikahan, dan berpikir: semua cowok sama aja brengseknya.

2. All or nothing thinking
Cara berpikir 'segalanya atau tidak sama sekali'. Cara berpikir perfeksionis berlebihan yg tidak menoleransi kesalahan sedikitpun, selalu ingin sempurna.
Contoh: suatu ketika ada mata pelajaran yg harus remedial, karena selama ini tdk pernah remedial, berpikir nya bahwa hidup sudah gagal total, tidak berguna dan merasa sia sia

3. Mental Filter
Cara berpikir yg selalu berhasil menemukan sisi negatif dari berbagai peristiwa meskipun sebenarnya banyak sisi positif yg bisa dipikirkan.
Contoh : Dari 100 soal yg dikerjakan, ternyata ada 13 jawaban yg salah, yg dipikirkan hanya 13 soal yg salah itu saja, meratapinya,menyalahkannya, meskipun sebenarnya asa 87 jawaban benar yg menyenangkan.

4. Should
Cara berpikir yg membuat Anda tidak nyaman, sedih, kecewa, marah karena Anda berpendapat bahwa orang lain seharusnya melakukan apa yg Anda pikirkan. Perasaan frustasi yg disebabkan karena dalam pikiran Anda yg ada adalah : harus...harus...harusnya...
Contoh : Harusnya dia tidak pakai baju warna itu. Harusnya saya tidak telat. Harus nya dia lebih perhatian.

5. Jump to the Conclusion
Cara berpikir loncat, seolah olah Anda sudah tahu apa yg akan terjadi meski belum dijalani.
Contoh : Dia pasti benci sama gue, tadi ketemu di jalan tidak menyapa sama sekali. (Padahal temannya tsb sedang terburu buru ke WC jadi tdk memperhatiakan sekitar). Aku pasti gagal ujian kali ini. (Padahal ujiannya belum dimulai).

Semua pikiran yg tidak rasional / distorsi kognitif / pikiran negatif di atas bila terus menerus diulang berkali kali akan menyebabkan terjadi nya RUMINASI (rumination) yang akan mengganggu fungsi otak sehingga menyebabkan munculnya gangguan kejiwaan seperti Cemas / Ansietas dan Depresi. Berpikir negatif tidak pernah menghasilkan kehidupan yang positif.

Berpikir Positif / Rasional
Sepertinya berpikir negatif terus menerus bukanlah pilihan yg harus dilakukan karena berbahaya bagi jiwa kita. Mencoba untuk berpikir positif/rasional memiliki banyak keuntungan, yaitu :
- panjang umur
- stres yg minimal
- imunitas tubuh lebih baik
- tidur lebih nyenyak
- hidup lebih menyenangkan
- harga diri dan percaya diri lebih baik
- kesuksesan lebih dekat

Bagaimana cara berpikir lebih POSITIF ?
- Berdoa, beribadah, meditasi agar kita menjadi insan yg senantiasa memiliki pikiran positif dalam memandang kehidupan
- Bersenang senang dan nikmatilah kehidupan dengan melakukan banyak hal yg menyenangkan, tertawalah, dan jangan terlalu serius
- Menerima pikiran negatif, menyadarinya sebagai suatu hal yg alamiah dan mulai merubahnya
- Fokus pada hal - hal yg positif. Saat ada hal yg negatif, cobalah untuk mencari pikiran alternatif positif sekecil apapun itu.
- Berolahraga, jalan santai, mendengarkan musik, nonton film, akan menjadi distraksi yg baik untuk pikiran negatif
- Kelilingi diri kita dengan orang orang yang memiliki pikiran positif

Saat Pikiran negatif / distorsi kognitif ini sulit untuk dihilangkan, silahkan untuk berkonsultasi ke profesional kesehatan jiwa seperti Psikiater, Perawat jiwa dan Psikolog untuk segera mendapatkan bantuan.

"Finally, brothers, whatever is true, whatever is honorable, whatever is just, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is commendable, if there is any excellence, if there is anything worthy of praise, think about these things."

"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. "
- Philippians

dr.Lahargo Kembaren,SpKJ
Psikiater
RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor
RS Siloam Bogor
Apotek Mulia, Jl.Pandu Raya Bogor